Kamis, 04 Desember 2014

Super Heru




Super Heru
Oleh : Ayy Dara dan Delvi Al-Atas

Suasana menjadi riuh. Terlihat semua orang berlari untuk mencari tempat berlindung. Mereka saling menabrak satu sama lain untuk menyelamatkan diri. Berlari kemana saja mereka bisa berlari. Karena malam ini badai besar akan segera menyerang kota.

Langit telah menghitam sempurna. Tidak ada bintang apalagi cahaya bulan yang menerangi. – gelap, gulita. Angin mulai bertiup pelan. Dari utara ke selatan, dari barat ke timur. Namun beberapa saat kemudian angin semakin tidak beraturan. Ia berputar-putar tanpa arah dan tiba-tiba terdengar suara halilintar yang sangat keras. Disusul dengan sebuah cahaya menyilaukan yang berasal dari langit. Lalu cahaya itu jatuh di tepi hutan, - di pinggir kota.

 Dari balik kilatan cahaya tersebut muncullah dua orang – Laki-laki dan perempuan. Sejenak mereka hanya memperhatikan sisi-sisi di sekitar tempat mereka berdiri, lalu salah satu dari mereka melirik pada arloji di tangan kirinya. Arloji itu mengeluarkan cahaya berwarna hijau, dan itu berarti mereka telah tiba di tempat tujuannya, - Bumi tahun 711.

Mereka adalah manusia dari masa depan. Masa dimana teknologi semakin canggih. Di masa depan para profesor berhasil menemukan teknologi yang dapat menciptakan manusia. Seperti profesor lainnya, profesor Jimy juga telah menciptakan manusia, - Heru dan Yora. Karena itu mereka dikirim ke masa lalu untuk menjalani pengujian. Bila mereka berhasil melewati ujian tersebut, maka mereka dapat hidup menjadi manusia seutuhnya.

Sebelum berhasil melewati ujian yang dilakukan, manusia ciptaan hanya memiliki usia selama 2 tahun. Bila dalam waktu 2 tahun mereka dapat melewati ujian, maka mereka dapat hidup seperti manusia pada umumnya. Malah mereka dapat hidup lebih baik daripada manusia aslinya. Karena mereka adalah manusia yang sengaja diciptakan, maka profesor menciptakan mereka dengan sempurna. Fisik yang sempurna, serta kecerdasan diatas rata-rata manusia. Namun selama ini belum ada manusia ciptaan yang berhasil hidup. Mereka selalu gagal melewati masa ujian, dan akhirnya mati.

Profesor Jimy berfikir keras bagaimana cara agar manusia ciptaannya dapat melewati ujian tersebut. Lalu menjadi manusia ciptaan pertama yang mampu melewati ujian dan hidup sebagai manusia seutuhnya. Kemudian profesor Jimy menemukan suatu ide yang tidak pernah terfikirkan oleh profesor lain. “Mungkin selama ini manusia ciptaan tidak dapat melewati ujian karena ia diuji di zaman sekarang ini. Di saat zaman sudah sangat canggih. Segala hal dapat dilakukan dengan teknologi. Bagaimana jika aku mengirim manusia ciptaanku ke masa lalu. Masa dimana teknologi belum berkembang. Dan manusia ciptaanku akan menjadi manusia tercerdas pada masa itu. Dengan begitu bukankah ia dapat dengan mudah melewati ujiannya” Profesor tua itu bergumam. Kemudian ia mempersiapkan segala hal untuk mengirim Heru dan Yora ke masa lalu, dengan keyakinan bahwa idenya ini akan berjalan lancar.

Sebenarnya mudah saja. Untuk dapat lulus dari ujian itu, seluruh manusia ciptaan hanya perlu membuat sebuah sistem yang dapat membantu manusia. Dengan begitu profesor Jimy berharap dengan mengirim mereka ke masa lalu, itu berarti seharusnya mereka akan dapat melewati ujiannya dengan mudah. Karena ia telah melengkapi manusia ciptaannya dengan kecerdasan yang luar biasa. Meskipun begitu, ada larangan yang harus dipatuhi manusia ciptaan selama masa ujian ini berlangsung. Mereka dilarang jatuh cinta kepada manusia sesungguhnya. Jika mereka melanggar, maka hukuman yang harus mereka terima adalah usia mereka akan dipotong satu minggu setiap kali mereka jatuh cinta. Profesor Jimy tidak mungkin melupakan ini. Ia telah memikirkan segala kemungkinan terburuk yang mungkin saja terjadi. Untuk itu ia menciptakan Heru dan Yora berpasangan, agar manusia ciptaannya tidak akan jatuh cinta kepada manusia lain.

Keesokan harinya setelah Heru dan Yora tiba di masa lalu, semua kehidupan berjalan sebagaimana mestinya. Anak-anak dengan segaram mereka berangkat ke sekolah. Para ibu dengan keranjang di tangannya mulai berangkat ke pasar. Heru memperhatikan mereka dengan sangat teliti. “Mengapa mereka bersusah payah harus keluar rumah sepagi ini? Memenuhi jalanan hingga membuat macet disana-sini. Polusi dan suara berisik menghiasi pagi yang seharusnya dapat menyejukkan hati. Mungkin kita dapat memulai pekerjaan kita dari sini Yora!” Ucap Heru mantap. Yora yang sejak tadi berdiri disampingnya juga berfikir hal yang sama. Maka mulailah mereka merancang sistem untuk mengatasi permasalahan manusia saat itu.

Berbulan-bulan Heru dan Yora merakit sebuah sistem untuk kelulusan mereka. Kelulusan untuk menjadi manusia seutuhnya. Mereka sepakat untuk membuat satu alat yang dapat membantu para ibu dan anak-anak agar tidak perlu berdesakan setiap pagi untuk pergi ke pasar dan sekolah. Jika alat yang mereka ciptakan ini berhasil, berbelanja dan belajar dapat mereka lalukan kapan saja dari rumah mereka sendiri. Tidak perlu bangun pagi, turun ke jalanan, bersempit-sempitan di angkutan umum dan mencemari udara dengan polusi serta membuat kebisingan.

Satu tahun setelah itu alat tersebut berhasil mereka rakit. Mereka mendatangi pimpinan kota dan menyampaikan maksud serta tujuan mereka. Pimpinan kota menyambut penawaran mereka dengan senang hati. Ia tidak menyangka ada manusia secerdas Heru dan Yora. Mereka telah menciptakan alat bahkan ketika manusia lain belum memikirkannya. Hingga tibalah hari untuk meresmikan alat yang dirakit oleh Heru dan Yora.

Semua penduduk berkumpul untuk menyaksikan betapa hebatnya alat yang diciptakan Heru dan Yora. Setelah pimpinan kota memberikan sedikit sambutan, Heru dipersilahkan untuk memperkenalkan alat yang baru dirakitnya. Dengan penuh keyakinan Heru mempresentasikan alat tersebut di depan seluruh masyarakat kota. Kemudian masyarakat kota bertepuk tangan bukti kekaguman mereka pada Heru dan Yora. Beberapa dari mereka juga dengan gembira mengelu-elukan nama Heru dengan sebutan “Super Heru... Super Heru...”.Sebelum acara dibubarkan, pimpinan kota memberikan penghargaan kepada Heru dan Yora sebagai manusia super yang telah dianggap sebagai pahlawan bagi mereka.

Setiap warga secara bergantian menyalami Heru dan Yora sembari memberikan selamat atas penemuan hebat mereka. Namun Heru dan Yora tetap dengan rendah hati mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan bukanlah hal yang besar. Sudah seharusnya terjadi perubahan pada sistem yang ada selama ini.

Satu persatu warga meninggalkan tempat pertemuan. Mereka pulang ke rumah masing-masing dengan bahagia karena mulai besok mereka tidak perlu lagi melakukan rutinitas mereka yang melelahkan. Mulai sekarang semua dapat dilakukan hanya melalui satu alat yang diciptakan oleh Heru dan Yora. Mereka berduapun merasa bahagia dapat membantu masyaraat. Dan lebih dari itu, mereka bahagia karena itu berarti mereka telah melewati ujian dan mereka akan menjadi manusia seutuhnya. Saat hendak meninggalkan tempat pertemuan, Heru melihat seorang gadis berdiri tidak jauh darinya. Pandangan mereka saling bertemu untuk pertama kalinya. Gadis itu tersenyum dan Heru tahu bahwa senyumnya sangat manis. Yaa, senyum gadis itu sangat manis.

Heru menyadari telah terjadi sesuatu padanya karena arloji yang terpasang di tangan kirinya memancarkan sinar berwarna merah. Ia memperhatikan pesan yang disampaikan oleh arlojinya. Pesan itu berisi pemberitahuan bahwa usianya berkurang satu minggu. Dan itu berarti ia telah jatuh cinta, - pada gadis yang memiliki senyum indah itu.

Pada awalnya Heru tidak terlalu mengindahkan pesan tersebut. Ia segera mengirim pesan kepada profesor Jimy agar mempersiapkan segala sesuatu untuk kepulangannya dan Yora ke masa depan. Ia tidak sabar ingin menjadi manusia seutuhnya. Profesor Jimy yang menerima pesan Heru segera mempersiapkan segala hal untuk kembalinya Heru dan Yora. Serta mempersiapkan acara peresmian Heru dan Yora sebagai manusia ciptaan pertama yang berhasil melewati ujian.

Beberapa hari sebelum kembalinya mereka ke masa depan, Heru berjalan mengelilingi kota. Sekarang kota ini terlihat sangat rapi dan teratur. Tidak ada anak-anak yang berdesakan serta suara-suara berisik yang memekakkan. Semuanya damai, indah. Tiba-tiba Heru bertemu dengan gadis yang dilihatnya kemarin di pusat kota. Gadis itu tersenyum, dan arloji di tangan kirinya kembali memancarkan sinar berwarna merah serta mengirim pesan bahwa usianya berkurang satu minggu. Heru merutuk dalam hati. Ingin sekali ia benci pada gadis itu, tapi semakin ia membenci maka semakin ia ingin melihat wajahnya, - senyumannya.

Berkali-kali, setiap Heru bertemu dengan gadis itu dan melihat senyumnya arloji di tangan kirinya memancarkan sinar berwarna merah, dan mengirim pesan bahwa usianya telah berkurang satu minggu. Ia sendiri pun tidak mengerti apa yang terjadi padanya. Bagaimana mungkin ia jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama hingga membuat usianya semakin hari semakin berkurang. Dan tidak menutup kemungkinan ia bisa mati karena terus jatuh cinta pada gadis yang bahkan ia sendiri tidak tahu siapa namanya. Profesor Jimy mengetahui apa yang telah terjadi pada Heru. Ia berupaya dengan sekuat tenaga untuk segera membawa Heru dan Yora kembali ke masa depan sebelum usia Heru habis.

Ketika semua persiapan telah rampung, profesor Jimy mengirim pesan pada Heru dan Yora untuk segera bersiap karena dalam waktu 15 menit sistem akan membawa mereka kembali ke masa depan. Yora membaca pesan itu dan tersenyum. “Akhirnya aku bisa kembali”, bisiknya. Namun tiba-tiba ia teringat sesuatu. “Heru, dimana dia? Apakah ia pergi berjalan-jalan keluar? Bagaimana jika ia bertemu gadis itu lagi? Yaa Tuhan, bukankah usianya hanya tinggal 1 bulan!” Yora panik. Ia segera berlari mencari Heru. Ia tidak ingin terlambat. Ia herus segera menemukan Heru. Jika tidak Heru bisa saja mati karena persediaan usianya yang semakin berkurang.

Yora menemukan Heru di ujung jalan menuju taman kota. “Heruu, ayo! Sudah waktunya kita kembali ke masa depan!” Ucap Yora cepat sambil menahan langkah Heru.

“Aku tidak ingin kembali” Jawaban Heru tersebut membuat Yora terkejut.

“Apa maksudmu Heru? Kita harus kembali!” Yora mulai membentak.

“Akuuu..” Kata-kata itu terhenti. Pandangannya menembus jauh ke belakang tubuh Yora lalu jatuh tepat pada gadis yang sedang berdiri di seberang jalan.

Arloji di tangan kiri Heru kembali memancarkan sinar berwarna merah dan mengirim pesan bahwa usianya telah berkurang satu minggu. Tapi ia tidak peduli. Pandangannya masih tertuju pada gadis yang memiliki senyum indah, - gadis yang telah membuatnya jatuh cinta. Hingga pada akhirnya arloji yang berada di tangan kiri Yora memancarkan cahaya berwarna hijau, pertanda bahwa ia akan segera kembali ke masa depan. Bertepatan dengan itu, arloji di tangan kiri Heru memancarkan cahaya berwarna merah dan sebuah pesan bahwa usianya telah habis. Ia akan segera mati.

Yora segera berlari untuk menggapai tangan Heru. Namun sebelum ia berhasil, Heru telah terjatuh. Cahaya yang sejak tadi memancar dari arlojinya tiba-tiba padam. Ia telah mati, sebelum ia sempat kembali. Dan Yora, tiba-tiba ia menghilang. Kembali ke masa depan dan menjadi manusia ciptaan pertama yang berhasil melalui ujian. Seharusnya ia bahagia, tapi ia tidak bisa melupakan orang yang selama ini diam-diam dicintainya. Super Heru yang telah mati hanya karena ia jatuh cinta kepada manusia, - bukan kepadanya.

Setelah acara peresmian selesai, Profesor Jimy mendapati Yora melamun di sudut ruangan. Ketika Profesor hendak menanyakan apa yang terjadi padanya, Yora terlebih dulu berkata pada Profesor Jimy.

“Prof, dapatkah kau memciptakan Super Heru sekali lagi? Super Heru yang tidak akan jatuh cinta kepada siapapun kecuali padaku?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar