Bukan Untuk Kita
Oleh : Ayy Dara dan Randi K
Ia bersembunyi dalam ruang hati
yang terdalam. Tak ada satu pun yang dapat melihatnya, bahkan aku pun tidak.
Meski bayanganmu kerap
hadir mengisi lamunan, namun aku segera menepisnya dengan tega dan membunuh segala
angan yang tercipta secara
tiba-tiba. Tapi tahukah kau, bahwa aku selalu kalah. Senyummu yang indah itu
tetap muncul dan menampakkan diri semakin jelas di pelupuk mata. Ahh, tolong katakan
apa yang harus aku lakukan?!
Kita, bahkan hingga memasuki hitungan
semester ketiga di
Universitas ini hanya saling mengetahui nama. Berjalan beriringan atau tertawa
bersama, tentu belum pernah kita lakukan
sebelumnya. Bagiku hanya dengan melihatmu tersenyum, itu sudah cukup
untuk menjamin kebahagiaanku hari ini. Semudah itukah? Tentu saja tidak. Untuk
melihatmu tersenyum aku harus melawan detak jantungku yang berdebar diluar
batas wajarnya. Aku juga harus menahan garis-garis wajahku agar tidak ikut
tersenyum saat melihatmu tersenyum. Aku sendiri tidak mengerti mengapa aku
segugup itu. Memangnya mengapa jika aku juga
tersenyum saat melihatmu tersenyum?
Aku sendiri tidak yakin ada yang peduli dengan itu. Tapi beginilah aku, terlalu malu bahkan hanya untuk sekedar tersenyum
kepadamu.
Bukan
tidak pernah kita terlibat dalam kesempatan yang sebenarnya dapat kumanfaatkan
untuk lebih dekat denganmu. Tapi entah mengapa gugup itu kembali menjelma.
Mengukungku penuh kaku. Memelukku penuh ragu, apakah aku yang harus terlebih
dulu menyapamu. Bukankah dengan melihat sikapku saja seharusnya kau dapat
mengetahui isi hatiku yang selalu diselimuti rindu? Ahh, mengapa aku kini
menyalahkanmu! Sudah jelas ini kesalahanku. Terlalu malu untuk mengakui rasa
yang mulai kusadari. Rasa bahagia bila kau ada. Rasa semangat bila aku dapat
melihatmu walau hanya sesaat.
Suatu
hari aku mendengar kabar bahwa kampus kita akan mengadakan kunjungan ke salah
satu kampus di provinsi tetangga kita. Pada awalnya aku tidak terlalu berminat
untuk mengikuti acara tersebut. Aku terlalu sibuk memikirkan tugas akhirku yang
belum kumulai sama sekali.
“Loh,
Randi gak ikut?” Tanyamu waktu itu. Saat kita tidak sengaja bertemu ketika melihat
papan pengumuman kampus.
Aku
terdiam, - masih memperhatikan pengumuman yang tertempel disana. “Daftar Nama
Peserta Study Tour 2012” Begitulah judul pengumuman yang sedang kubaca. Dan aku
melihat namamu ada diantara 30 nama mahasiswa yang tercantum disana. - Marelia
Aini, kulihat nama itu ada diurutan ke 21. “Kau akan pergi?” Bisikku pada diri
sendiri.
“Randii...”
Kali ini aku tersadar dari lamunanku. Kuputar tubuhku hingga kini posisi tubuh
kita berhadapan.
“Yaa?”
Hanya itu yang dapat kuucapkan ketika tatapan kita bertemu.
“Kamu
gak ikut study tour yaa? Kenapa?” Kau mengulang pertanyaanmu sekali lagi.
“Ohh,
tadinya aku malas ikut. Tapi sepertinya seru juga. Nanti aku akan daftar sama
panitianya” Entah mengapa aku dapat berubah fikiran semudah itu. Bahkan aku
tidak benar-benar berfikir dalam mengubah keputusanku. Aku hanya berfikir satu
hal, mungkin dengan begini aku dapat semakin dekat denganmu. Menghabiskan
beberapa hari bersama, mungkin akan menjadi kenangan terindah untukku. Ahh,
tidak. Aku tidak akan membiarkan perjalanan itu hanya menjadi kenangan terindah
untukku saja, tapi juga untukmu, - untuk kita.
Kulihat
kau tersenyum, “Oke, jangan lama-lama daftarnya. Kalau gak salah pendaftaran
terakhirnya besok loh!” Ucapmu sebelum kau berbalik dan meninggalkanku yang
masih mematung ditempatku.
“Aku
tidak akan membuang-buang waktu lagi Re...”
Segera
kuraih ponsel yang kuletakkan di saku bajuku. Mencari kontak ketua panitia
study tour itu dan menghubunginya. “An, aku daftar untuk acara study tour itu
yaa! ” Kataku.
Segala
hal yang dibutuhkan untuk acara study tour telah dipersiapkan. Tepat jam 8 pagi
seluruh peserta study tour telah berkumpul di gerbang kampus. Satu unit bus ukuran
besar telah terparkir tidak jauh dari tempatku berdiri. Diantara kerumunan peserta
yang bersorak gembira menyambut keberangkatan ini, kulihat kau sedang sibuk
menyusun barang bawaan ke bagasi bus.
“Sibuk
yaa?” Tanyaku ketika aku telah berdiri disampingmu.
Kau
menoleh lalu dua detik kemudian kulihat kau tersenyum. “Iya nih, anak-anak
bawaannya banyak banget, padahal pergi cuma 3 hari, tapi sampai berkoper-koper
gini” Ucapmu sambil menunjuk tumpukan koper yang tersusun di bagasi bus.
“Aku
bantu yaa!” Tanpa menunggu persetujuanmu, aku mulai merapikan koper dan tas
yang masih berserakan. Kudengar kau kembali mengomeli teman-teman kita yang
membawa barang terlalu banyak, lalu kulihat kau tertawa.
Jam
telah menunjukkan pukul 9, dan semua persiapan telah rampung. Semua peserta
mulai menaiki bus. Kulihat ketua panitia memintamu untuk mengabsen peserta yang
menaiki bus satu persatu.
“Udah
lengkap?” Tanyaku saat semua telah masuk ke dalam bus.
“Ehh,
Randi. Kok belum masuk?” Kau malah balik bertanya.
“Malas
aja masuknya desak-desakan kayak tadi!” Aku berbohong. Tidak mungkin aku
mengatakan hal yang sebenarnya bahwa aku belum masuk karena aku ingin
menemanimu. Aku ingin masuk bersamamu dan berharap ada sepasang bangku kosong
yang tersisa hingga kita dapat duduk bersama.
“Yaudah,
masuk yuk! Cuma kita aja kayaknya lagi nih yang diluar!”
Kau
menoleh kesekitar tempat kita berdiri, memastikan bahwa tidak ada yang
tertinggal. “Yaudah, yuk!” Jawabmu.
Aku
mempersilahkanmu masuk terlebih dulu. Saat tiba didalam bus, kau memberikan
absen peserta kepada ketua panitia. Kemudian kulihat kau berjalan beberapa
langkah sebelum kau membalikkan tubuhmu, “Kita duduk disana aja yaa Ran!
Teman-temanku yang cewek udah ada temannya semua” Kau memasang wajah yang
memelas meminta persetujuanku. Sungguh, kau tidak perlu melakukan hal itu. Aku akan
dengan senang hati memenuhi permintaanmu. Bukankah hal ini adalah harapanku
sebelum masuk kedalam bus tadi?!
Kulihat
kau memilih bangku di tepi jendela, “Gak dingin disitu?” Tanyaku.
“Gak
kok. Aku suka lihat pemandangan kalau lagi jalan-jalan gini!” Jawabmu sambil
tersenyum.
Sepanjang
perjalanan kau sibuk membidik apa saja yang menurutmu bagus. Awan, matahari,
gunung, rintik hujan, semuanya kau abadikan dalam kamera yang kau genggam. Kau
juga banyak menanyakan hal-hal yang tidak kau ketahui tentang kota tujuan kita.
Dengan sabar aku menjelaskan kepadamu seperti seorang tourguide yang sedang
menemani pengunjungnya.
Setelah
acara kunjungan ke kampus selesai, kita segera melesat menuju objek wisata yang
terkenal di kota ini, - pantai. Kau terlihat sangat bahagia. Kau berlari,
berteriak, menikmati indahnya pantai sore itu. Menyadari hal seperti ini
mungkin tidak akan pernah terulang kembali.
Aku
tidak percaya dengan waktu yang begitu cepat berlalu. Hari ini kita akan
kembali, pulang dan melanjutkan kehidupan kita seperti biasa. Setelah membeli berbagai
jenis buah tangan, bus membawa kita kembali ke kota yang telah tiga hari kita
tinggalkan. Semua orang terlihat sangat lelah malam ini, - termasuk kau. Kau
yang tertidur disampingku, merebahkan kepalamu dipundakku. Cukup lama aku hanya
terdiam memandangi wajahmu. Wajah yang mungkin akan sangat aku rindukan setelah
malam ini. Diam-diam kuminta waktu untuk berhenti. Kuharap Tuhan dapat
memberiku waktu sedikit lagi untuk menghabiskan detik demi detik didekatmu, -
bersamamu. Namun aku sadar, semua hanya tinggal harapan ketika aku harus turun
di depan rumahku dan memperhatikan bus yang berlalu membawamu.
Sejak
saat itu kita jarang bertemu, karena kau sibuk menyelesaikan tugas akhirmu. Kini
aku merasakan kita semakin jauh. Jarak ini membuatku merasakan kehilangan,
bahkan sebelum kau benar-benar kudapatkan. Kembali kusesalkan diriku sendiri,
yang tak mampu menemukan kesempatan untuk jujur padamu. Jujur tenang hati ini,
tentang rindu yang kini datang silih berganti. Juga tentang cinta yang telah
lama bersemi. Aku tak dapat mengatakannya.
Hingga
suatu hari aku mendengar dari salah seorang teman kita bahwa kau telah memiliki
seorang yang kau cintai, - dan orang itu bukan aku. Aku tak tahu harus berbuat
apa. Yang ingin aku lakukan hanyalah melupakan semua rasa ini dan mendoakan kau
bahagia.
Setahun
terlewati begitu saja. Tanpa disadari kini aku telah mencoba untuk kembali
mencinta. Aku tidak ingin jatuh terlalu lama. Aku juga ingin merasakan bahagia,
seperti yang selalu kubisikkan dalam doaku, semoga kau selalu diselimuti
bahagia.
Suatu
hari kita bertemu tanpa sengaja. Saat itu aku melihatmu berdiri di depan papan
pengumuman kampus kita. Dimana kita pernah bertemu setahun yang lalu, sebelum
kita melakukan perjalanan yang membuatku menyadari bahwa aku telah jatuh cinta,
- padamu. Entah perasaan apa yang membuatku melangkahkan kaki mendekatimu.
Kulihat papan itu kosong. Tidak ada selembar kertas pun yang tertempel disana.
Namun mengapa kau terus menatapnya? Seakan ada yang sangat berarti terpajang
disana, dan kau tidak ingin melewatkannya.
“Kamu
baik-baik aja Re?” Tanyaku setelah berdiri tepat disampingmu.
Kau
tersentak. Mungkin terkejut dengan kehadiranku yang tiba-tiba. Kemudian kulihat
kau mengusap sudut matamu. Apakah kau habis menangis??
“Ngapain
sendirian disini Re?” Tanyaku sekali lagi. Kali ini aku yang menatap papan
kosong itu. Seakan ada yang aku rindukan disana. Yaa, mungkin aku memang
merindukan sesuatu. Namun bukan yang tertempel disana. Aku merindukan suatu
kenangan yang pernah terjadi disni - setahun yang lalu. Kulihat kau ingin
membalikkan tubuhmu, namun dengan cepat tangan kananku meraih tangan kirimu dan
membuat lengkahmu terhenti.
“Gak
mau cerita sama aku?” Kupandangi wajahmu yang terlihat sangat lelah. Ada banyak
beban yang tersimpan disana. Dan pemandangan itu membuatku sakit.
“Dia
ninggalin aku Ran. Aku fikir dia yang terbaik buat aku. Ternyata aku salah!”
Katamu pada akhirnya.
“Dia
gak ngasih alasannya?”
“Mungkin
karena dia tahu aku masih cinta sama kamu!” Aku terdiam, takut untuk
menyimpulkan sendiri maksud kalimatmu. Kemudian kau mengangkat wajahmu membuat
pandangan kita bertemu. “Kamu gak sadar yaa kalau selama ini aku sayang sama
kamu?! Aku selalu nungguin kamu datang dan meminta aku untuk jadi seseorang
yang spesial di hidup kamu! Aku capek Ran nunggu terlalu lama!” kau menyapu
sudut matamu lalu kembali menundukkan wajah.
Aku
hanya bisa terdiam, tidak tahu harus berbuat apa untuk menenangkanmu. Karena
aku sendiri tidak tahu cara untuk menenangkan hatiku ketika Syani yang kufikir
mencintaiku malah pergi meninggalkanku seminggu yang lalu karena dia tahu aku
masih sering memikirkanmu. - Karena aku masih mencintaimu.
“Jadi
apa yang harus kit.......”
“Maaf
Ran, aku mau sendiri dulu!” Kau memotong kalimatku.
“Gak
mau aku temenin juga?” Aku mulai merenggangkan pegangan tanganku, meskipun tak
benar-benar melepaskannya.
Kau
terdiam, - cukup lama. Hingga kulihat kau mengangguk kemudian menatapku.
“Makasih Ran, tapi sekarang aku benar-benar ingin sendiri dulu! Aku ingin memikirkan apa yang harus aku lakukan dengan cinta ini. Tetap memeliharanya
atau malah membunuhnya!”
Perlahan
aku melepaskan tanganmu, mungkin juga sekali lagi - melepaskan dirimu.
Ada
sakit yang tiba-tiba muncul kembali ketika menyadari bahwa selama ini kau juga
merasakan hal yang sama denganku, - Kau juga mencintaiku. Tapi aku tidak dapat
berbuat apa-apa saat ini selain memperhatikanmu yang semakin jauh
meninggalkanku.
“Marelia,
kamu harus tahu. Cinta itu adalah sebuah rasa yang lahir dari hati, maka
biarkan ia tetap tumbuh dan hidup di dalam hati. Yaa hatimu, hatiku. Untukmu,
untukku. Meski – Bukan Untuk Kita!”
* * *

Tidak ada komentar:
Posting Komentar