Sabtu, 06 Desember 2014

Bukan Untuk KIta


Bukan Untuk Kita
Oleh : Ayy Dara dan Randi K

Ia bersembunyi dalam ruang hati yang terdalam. Tak ada satu pun yang dapat melihatnya, bahkan aku pun tidak. Meski bayanganmu kerap hadir mengisi lamunan, namun aku segera menepisnya dengan tega dan membunuh segala angan yang tercipta secara tiba-tiba. Tapi tahukah kau, bahwa aku selalu kalah. Senyummu yang indah itu tetap muncul dan menampakkan diri semakin jelas di pelupuk mata. Ahh, tolong katakan apa yang harus aku lakukan?!

Kita, bahkan hingga memasuki hitungan semester ketiga di Universitas ini hanya saling mengetahui nama. Berjalan beriringan atau tertawa bersama, tentu belum pernah kita lakukan sebelumnya. Bagiku hanya dengan melihatmu tersenyum, itu sudah cukup untuk menjamin kebahagiaanku hari ini. Semudah itukah? Tentu saja tidak. Untuk melihatmu tersenyum aku harus melawan detak jantungku yang berdebar diluar batas wajarnya. Aku juga harus menahan garis-garis wajahku agar tidak ikut tersenyum saat melihatmu tersenyum. Aku sendiri tidak mengerti mengapa aku segugup itu. Memangnya mengapa jika aku juga tersenyum saat melihatmu tersenyum? Aku sendiri tidak yakin ada yang peduli dengan itu. Tapi beginilah aku, terlalu malu bahkan hanya untuk sekedar tersenyum kepadamu.

Bukan tidak pernah kita terlibat dalam kesempatan yang sebenarnya dapat kumanfaatkan untuk lebih dekat denganmu. Tapi entah mengapa gugup itu kembali menjelma. Mengukungku penuh kaku. Memelukku penuh ragu, apakah aku yang harus terlebih dulu menyapamu. Bukankah dengan melihat sikapku saja seharusnya kau dapat mengetahui isi hatiku yang selalu diselimuti rindu? Ahh, mengapa aku kini menyalahkanmu! Sudah jelas ini kesalahanku. Terlalu malu untuk mengakui rasa yang mulai kusadari. Rasa bahagia bila kau ada. Rasa semangat bila aku dapat melihatmu walau hanya sesaat.

Suatu hari aku mendengar kabar bahwa kampus kita akan mengadakan kunjungan ke salah satu kampus di provinsi tetangga kita. Pada awalnya aku tidak terlalu berminat untuk mengikuti acara tersebut. Aku terlalu sibuk memikirkan tugas akhirku yang belum kumulai sama sekali.

“Loh, Randi gak ikut?” Tanyamu waktu itu. Saat kita tidak sengaja bertemu ketika melihat papan pengumuman kampus.

Aku terdiam, - masih memperhatikan pengumuman yang tertempel disana. “Daftar Nama Peserta Study Tour 2012” Begitulah judul pengumuman yang sedang kubaca. Dan aku melihat namamu ada diantara 30 nama mahasiswa yang tercantum disana. - Marelia Aini, kulihat nama itu ada diurutan ke 21. “Kau akan pergi?” Bisikku pada diri sendiri.

“Randii...” Kali ini aku tersadar dari lamunanku. Kuputar tubuhku hingga kini posisi tubuh kita berhadapan.

“Yaa?” Hanya itu yang dapat kuucapkan ketika tatapan kita bertemu.

“Kamu gak ikut study tour yaa? Kenapa?” Kau mengulang pertanyaanmu sekali lagi.

“Ohh, tadinya aku malas ikut. Tapi sepertinya seru juga. Nanti aku akan daftar sama panitianya” Entah mengapa aku dapat berubah fikiran semudah itu. Bahkan aku tidak benar-benar berfikir dalam mengubah keputusanku. Aku hanya berfikir satu hal, mungkin dengan begini aku dapat semakin dekat denganmu. Menghabiskan beberapa hari bersama, mungkin akan menjadi kenangan terindah untukku. Ahh, tidak. Aku tidak akan membiarkan perjalanan itu hanya menjadi kenangan terindah untukku saja, tapi juga untukmu, - untuk kita.

Kulihat kau tersenyum, “Oke, jangan lama-lama daftarnya. Kalau gak salah pendaftaran terakhirnya besok loh!” Ucapmu sebelum kau berbalik dan meninggalkanku yang masih mematung ditempatku.

“Aku tidak akan membuang-buang waktu lagi Re...”

Segera kuraih ponsel yang kuletakkan di saku bajuku. Mencari kontak ketua panitia study tour itu dan menghubunginya. “An, aku daftar untuk acara study tour itu yaa! ” Kataku.

Segala hal yang dibutuhkan untuk acara study tour telah dipersiapkan. Tepat jam 8 pagi seluruh peserta study tour telah berkumpul di gerbang kampus. Satu unit bus ukuran besar telah terparkir tidak jauh dari tempatku berdiri. Diantara kerumunan peserta yang bersorak gembira menyambut keberangkatan ini, kulihat kau sedang sibuk menyusun barang bawaan ke bagasi bus.

“Sibuk yaa?” Tanyaku ketika aku telah berdiri disampingmu.

Kau menoleh lalu dua detik kemudian kulihat kau tersenyum. “Iya nih, anak-anak bawaannya banyak banget, padahal pergi cuma 3 hari, tapi sampai berkoper-koper gini” Ucapmu sambil menunjuk tumpukan koper yang tersusun di bagasi bus.

“Aku bantu yaa!” Tanpa menunggu persetujuanmu, aku mulai merapikan koper dan tas yang masih berserakan. Kudengar kau kembali mengomeli teman-teman kita yang membawa barang terlalu banyak, lalu kulihat kau tertawa.

Jam telah menunjukkan pukul 9, dan semua persiapan telah rampung. Semua peserta mulai menaiki bus. Kulihat ketua panitia memintamu untuk mengabsen peserta yang menaiki bus satu persatu.

“Udah lengkap?” Tanyaku saat semua telah masuk ke dalam bus.

“Ehh, Randi. Kok belum masuk?” Kau malah balik bertanya.

“Malas aja masuknya desak-desakan kayak tadi!” Aku berbohong. Tidak mungkin aku mengatakan hal yang sebenarnya bahwa aku belum masuk karena aku ingin menemanimu. Aku ingin masuk bersamamu dan berharap ada sepasang bangku kosong yang tersisa hingga kita dapat duduk bersama.

“Yaudah, masuk yuk! Cuma kita aja kayaknya lagi nih yang diluar!”

Kau menoleh kesekitar tempat kita berdiri, memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal. “Yaudah, yuk!” Jawabmu.

Aku mempersilahkanmu masuk terlebih dulu. Saat tiba didalam bus, kau memberikan absen peserta kepada ketua panitia. Kemudian kulihat kau berjalan beberapa langkah sebelum kau membalikkan tubuhmu, “Kita duduk disana aja yaa Ran! Teman-temanku yang cewek udah ada temannya semua” Kau memasang wajah yang memelas meminta persetujuanku. Sungguh, kau tidak perlu melakukan hal itu. Aku akan dengan senang hati memenuhi permintaanmu. Bukankah hal ini adalah harapanku sebelum masuk kedalam bus tadi?!

Kulihat kau memilih bangku di tepi jendela, “Gak dingin disitu?” Tanyaku.

“Gak kok. Aku suka lihat pemandangan kalau lagi jalan-jalan gini!” Jawabmu sambil tersenyum.

Sepanjang perjalanan kau sibuk membidik apa saja yang menurutmu bagus. Awan, matahari, gunung, rintik hujan, semuanya kau abadikan dalam kamera yang kau genggam. Kau juga banyak menanyakan hal-hal yang tidak kau ketahui tentang kota tujuan kita. Dengan sabar aku menjelaskan kepadamu seperti seorang tourguide yang sedang menemani pengunjungnya.

Setelah acara kunjungan ke kampus selesai, kita segera melesat menuju objek wisata yang terkenal di kota ini, - pantai. Kau terlihat sangat bahagia. Kau berlari, berteriak, menikmati indahnya pantai sore itu. Menyadari hal seperti ini mungkin tidak akan pernah terulang kembali.

Aku tidak percaya dengan waktu yang begitu cepat berlalu. Hari ini kita akan kembali, pulang dan melanjutkan kehidupan kita seperti biasa. Setelah membeli berbagai jenis buah tangan, bus membawa kita kembali ke kota yang telah tiga hari kita tinggalkan. Semua orang terlihat sangat lelah malam ini, - termasuk kau. Kau yang tertidur disampingku, merebahkan kepalamu dipundakku. Cukup lama aku hanya terdiam memandangi wajahmu. Wajah yang mungkin akan sangat aku rindukan setelah malam ini. Diam-diam kuminta waktu untuk berhenti. Kuharap Tuhan dapat memberiku waktu sedikit lagi untuk menghabiskan detik demi detik didekatmu, - bersamamu. Namun aku sadar, semua hanya tinggal harapan ketika aku harus turun di depan rumahku dan memperhatikan bus yang berlalu membawamu.

Sejak saat itu kita jarang bertemu, karena kau sibuk menyelesaikan tugas akhirmu. Kini aku merasakan kita semakin jauh. Jarak ini membuatku merasakan kehilangan, bahkan sebelum kau benar-benar kudapatkan. Kembali kusesalkan diriku sendiri, yang tak mampu menemukan kesempatan untuk jujur padamu. Jujur tenang hati ini, tentang rindu yang kini datang silih berganti. Juga tentang cinta yang telah lama bersemi. Aku tak dapat mengatakannya.

Hingga suatu hari aku mendengar dari salah seorang teman kita bahwa kau telah memiliki seorang yang kau cintai, - dan orang itu bukan aku. Aku tak tahu harus berbuat apa. Yang ingin aku lakukan hanyalah melupakan semua rasa ini dan mendoakan kau bahagia.

Setahun terlewati begitu saja. Tanpa disadari kini aku telah mencoba untuk kembali mencinta. Aku tidak ingin jatuh terlalu lama. Aku juga ingin merasakan bahagia, seperti yang selalu kubisikkan dalam doaku, semoga kau selalu diselimuti bahagia.

Suatu hari kita bertemu tanpa sengaja. Saat itu aku melihatmu berdiri di depan papan pengumuman kampus kita. Dimana kita pernah bertemu setahun yang lalu, sebelum kita melakukan perjalanan yang membuatku menyadari bahwa aku telah jatuh cinta, - padamu. Entah perasaan apa yang membuatku melangkahkan kaki mendekatimu. Kulihat papan itu kosong. Tidak ada selembar kertas pun yang tertempel disana. Namun mengapa kau terus menatapnya? Seakan ada yang sangat berarti terpajang disana, dan kau tidak ingin melewatkannya.

“Kamu baik-baik aja Re?” Tanyaku setelah berdiri tepat disampingmu.

Kau tersentak. Mungkin terkejut dengan kehadiranku yang tiba-tiba. Kemudian kulihat kau mengusap sudut matamu. Apakah kau habis menangis??

“Ngapain sendirian disini Re?” Tanyaku sekali lagi. Kali ini aku yang menatap papan kosong itu. Seakan ada yang aku rindukan disana. Yaa, mungkin aku memang merindukan sesuatu. Namun bukan yang tertempel disana. Aku merindukan suatu kenangan yang pernah terjadi disni - setahun yang lalu. Kulihat kau ingin membalikkan tubuhmu, namun dengan cepat tangan kananku meraih tangan kirimu dan membuat lengkahmu terhenti.

“Gak mau cerita sama aku?” Kupandangi wajahmu yang terlihat sangat lelah. Ada banyak beban yang tersimpan disana. Dan pemandangan itu membuatku sakit.

“Dia ninggalin aku Ran. Aku fikir dia yang terbaik buat aku. Ternyata aku salah!” Katamu pada akhirnya.

“Dia gak ngasih alasannya?”

“Mungkin karena dia tahu aku masih cinta sama kamu!” Aku terdiam, takut untuk menyimpulkan sendiri maksud kalimatmu. Kemudian kau mengangkat wajahmu membuat pandangan kita bertemu. “Kamu gak sadar yaa kalau selama ini aku sayang sama kamu?! Aku selalu nungguin kamu datang dan meminta aku untuk jadi seseorang yang spesial di hidup kamu! Aku capek Ran nunggu terlalu lama!” kau menyapu sudut matamu lalu kembali menundukkan wajah.

Aku hanya bisa terdiam, tidak tahu harus berbuat apa untuk menenangkanmu. Karena aku sendiri tidak tahu cara untuk menenangkan hatiku ketika Syani yang kufikir mencintaiku malah pergi meninggalkanku seminggu yang lalu karena dia tahu aku masih sering memikirkanmu. - Karena aku masih mencintaimu.

“Jadi apa yang harus kit.......”

“Maaf Ran, aku mau sendiri dulu!” Kau memotong kalimatku.

“Gak mau aku temenin juga?” Aku mulai merenggangkan pegangan tanganku, meskipun tak benar-benar melepaskannya.

Kau terdiam, - cukup lama. Hingga kulihat kau mengangguk kemudian menatapku. “Makasih Ran, tapi sekarang aku benar-benar ingin sendiri dulu! Aku ingin memikirkan apa yang harus aku lakukan dengan cinta ini. Tetap memeliharanya atau malah membunuhnya!”

Perlahan aku melepaskan tanganmu, mungkin juga sekali lagi - melepaskan dirimu.

Ada sakit yang tiba-tiba muncul kembali ketika menyadari bahwa selama ini kau juga merasakan hal yang sama denganku, - Kau juga mencintaiku. Tapi aku tidak dapat berbuat apa-apa saat ini selain memperhatikanmu yang semakin jauh meninggalkanku.

“Marelia, kamu harus tahu. Cinta itu adalah sebuah rasa yang lahir dari hati, maka biarkan ia tetap tumbuh dan hidup di dalam hati. Yaa hatimu, hatiku. Untukmu, untukku. Meski – Bukan Untuk Kita!”

* * *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar