Pinjami Aku,
Satu Hari Milikmu!
Oleh : Ayy Dara
Aku
baru saja memasuki kamarku ketika kudengar ponselku berdering, -sebuah pesan.
Sedikit malas aku meraih ponsel yang kuletakkan dengan asal-asalan di atas
tempat tidurku dan membaca sebuah nama yang tertera di layarnya. “Kafka”.
“Dara,
kamu di rumah?” Hanya kalimat itu yang dikirimnya.
“Iya,
ada apa Ka?” Aku membalasnya.
“Aku
di dekat rumah kamu nih. Mau makan bareng gak?” Aku hanya bisa memandangi pesan
itu selama beberapa detik sebelum aku kembali tersadar oleh pesan Kafka
berikutnya, “Kalau kamu mau, aku ke rumah kamu 10 menit lagi!”
Ada
apa dengan dia? Seingatku, ini adalah pertama kalinya Kafka mengajakku pergi
hanya berdua saja. Selama hampir sepuluh tahun aku mengenalnya, dia tidak
pernah mengajakku pergi kemanapun, apalagi hanya makan di luar seperti ini. Dan
hanya berdua saja.
Butuh waktu
untukku bisa menerka apa yang sebenarnya telah terjadi pada Kafka hari ini.
Namun karena tidak juga kutemukan jawabannya, maka kuputuskan untuk menerima
ajakannya. Aku akan menanyakan jawaban dari pertanyaanku ini langsung padanya
saat kami telah bertemu nanti. “Oke, aku siap-siap dulu.” Aku membalas pesannya
tiga menit kemudian
* * *
“Hai,
Dara!” Sapanya ketika aku telah berdiri di hadapannya.
Aku
tidak menjawab, hanya memandanginya sambil memiringkan wajahku ke kiri dan ke
kanan seolah tengah berfikir keras.
“Ada
apa?” Kafka pun ikut memirinngkan wajahnya mengikuti gerakanku. “Ada yang
aneh?”
“Kamu
yang ada apa? Tiba-tiba ngajak aku makan!”
Setelah
menyadari kebingunganku, Kafka tersenyum, “Aku baik-baik aja. Cuma lagi pengen
makan sama kamu!”
Aku
kembali tidak menjawab kalimatnya, hanya memandanginya lamat-lamat.
Memperhatikan rambutnya yang terlihat berbeda. Senyumnya yang lebih merekah
dari biasanya. Dan matanya lebih bersinar seperti........
“Kamu
mau makan atau gak sih Ra? Aku udah laper loh ini!” Aku tersentak dari
lamunanku. Kulihat Kafka kini memandangiku dengan wajah bingung. Matanya
membulat, seolah bertanya ‘Apakah aku membutuhkan waktu lebih lama untuk naik
ke sepeda motornya’.
“Dara...”
Sekali lagi aku mendengar suaranya. Namun kali ini cepat-cepat aku mengambil
posisi untuk naik ke boncengan sepeda motor Kafka, sebelum dia mulai
mengomeliku karena kebiasaan melamun yang aku miliki.
Kafka
melajukan sepeda motornya ke sebuah gerai makanan yang berjarak sekitar tiga
kilometer dari rumahku. Tempat itu cukup ramai namun terlihat sangat nyaman
untuk menghabiskan malam setelah melalui hari yang begitu melelahkan. Aku dan
Kafka memasuki tempat itu dan memilih salah satu meja yang terletak di tepi
jendela.
“Kamu
sering kesini Ka?” Aku bertanya setelah melepas jaket dan meletakkannya di
sandaran kursi.
“Eh,
apa Ra? Kamu nanya apa?” Tanya Kafka yang mulai terlihat sibuk dengan
ponselnya.
“Kamu,
sering kesini yaa?”
“Ehm,
baru 2 kali.” Jawabnya sekilas, lalu kembali sibuk membalas chat di ponselnya.
Ketika
aku baru saja akan mengangkat tangan untuk memanggil salah seorang pelayan yang
sedang membersihkan meja yang berada tidak jauh dari pintu, pandanganku menangkap
bayangan seseorang yang sangat kukenal tengah memasuki ruangan.
Intan.
Dia adalah salah seorang sahabatku. Kami bersahabat sejak aku dan Intan
sama-sama tergabung dalam kelas menulis yang diadakan di kampus kami.
“Dara!”
Intan kini terlihat melambaikan tangan sambil terseyum ke arahku. Aku juga
membalas senyumnya. “Maaf yaa, aku telat. Kalian udah lama?” Ucapnya ketika ia
sampai dihadapanku.
Telat?
Apa maksudnya? Sepertinya aku tidak mengajak siapapun untuk datang kesini. Lalu
mengapa Intan berkata seperti itu?
“Gak
apa-apa kok Tan. Kami juga baru aja datang!” Kafka yang terdengar menjawab
pertanyaan Intan.
Apa?
Intan? Kafka? Mereka? Sejak kapan? Bagaimana bisa? Sekelebat pertanyaan silih
berganti hadir dalam fikiranku.
* * *
Intan
sudah duduk di sampingku ketika pelayan datang membawakan daftar menu. Tidak
perlu berfikir lama, kami bertiga telah memesan makan sesuai dengan selera kami
masing-masing. Kamudian waktu kuhabiskan dengan memperhatian mereka saling
berbicara. Sesekali kulihat mereka saling tersenyum dan tertawa, seakan mereka
telah saling mengenal dalam waktu yang lama.
“Kalian?”
Ucapku sedikit pelan, namun cukup mampu menghentikan pembicaraan hangat
diantara mereka. Kini mereka berdua sama-sama mengalihkan pandangannya padaku.
Sedangkan aku tetap memandangi mereka secara bergantian dengan tatapan penuh
tanya.
“Oh,
iya. Kamu belum tahu ya Ra kalau aku dan Intan saling kenal?” Terdengar Kafka
yang lebih daluhu bersuara.
Aku
hanya menggelengkan kepala.
“Kamu
ingat gak sekitar satu tahun yang lalu waktu aku sama anak-anak sibuk nyariin
kamu karena kamu menghilang gak jelas setelah patah hati ditinggalkan gebetan
kamu? Siapa itu namanya? Arif, yaa Arif yang jurusan Hukum itu. Waktu itu
seharian ponsel kamu gak bisa dihubungi. Kami semua kebingungan nyariin kamu ke
semua tempat. Kami fikir kamu udah bunuh diri atau apalah itu.” Kafka berhenti
sejenak untuk menarik napas dan tersenyum menggodaku.
Disisi lain
kulihat Intan juga tengah menahan senyumnya karena kalimat-kalimat Kafka. “Waktu
itu aku ketemu Intan di depan rumah kamu, karena dia juga lagi nungguin kamu.
Sejak itulah kami kenal!”
“Satu
tahun?” Hanya dua kata itu yang berhasil kuucapkan.
Kafka
dan Intan mengangguk bersamaan.
“Kok
aku gak tahu?”
“Gimana
kamu bisa tahu. Kamu kan sibuk galau terus satu tahun ini!” Kali ini Kafka
tidak lagi bisa menahan tawanya, dan kulihat Intanpun ikut tertawa renyah.
“Eh,
aku gak galau! Dan waktu itu aku juga gak lagi patah hati. Aku cuma pengen
sendiri aja. Kalian aja yang lebay!” Protesku kepada Kafka yang semakin membuat
tawanya terdengar lebih renyah.
Aku
masih ingin melanjutkan protes pada Kafka ketika tiba-tiba pelayan datang
mengantarkan pesanan kami. Aroma dari sup yang diletakkan di atas meja seakan
mengingatkanku bahwa sebelum aku bertengkar dengan Kafka tadi, perutku sudah
sangat lapar.
Bertengkar
dengan Kafka benar-benar membuat energiku terkuras. Selama makan dia tidak
berhenti menggangguku dengan mengingatkan kejadian yang terjadi setahun yang
lalu itu. Dia juga meyakinkan Intan bahwa semua yang diceritakannya benar-benar
terjadi setahun yang lalu.
* * *
Diperjalanan
pulang menuju rumahku Kafka sudah tidak lagi membahas kejadian setahun yang
lalu. Dia terasa lebih pendiam. Kami hanya berbicara beberapa kali. Selain itu
yang terdengar hanya suara siulan darinya.
“Dara...”
Ucap Kafka ketika kami sudah memasuki belokan terakhir sebelum tiba di rumahku.
“Yaa?”
Jawabku ragu-ragu. Takut jika dia kembali menggodaku.
“Menurut
kamu Intan itu orangnya gimana?”
“Ehm, dia baik.
Sabar. Ramah. Memangnya kenapa? Hayoo, jangan-jangan kamu suka sama dia yaa?”
Aku merasa menang karena berhasil memiliki kesempatan untuk menggodanya.
Kafka tidak
menjawab candaanku hingga akhirnya kami tiba di halaman rumahku. Setelah aku
turun dari boncengan, Kafka mematikan sepeda motornya.
“Ada apa?
Kamu gak langsung pulang?”Aku berdiri di hadapannya yang masih mematung.
“Dara,
kayaknya aku nyaman sama Intan. Menurut kamu aku sama dia cocok gak?” Kafka
mengangkat wajahnya, membuat pandangan kami bertemu. Aku melihat sorot matanya
yang serius. Dia terlihat berbeda dari biasanya. Tidak ada tanda-tanda bahwa
dia sedang bercanda.
Sementara
aku hanya menatapnya dengan tatapan kosong. Dalam hati aku mengulang-ulang
pertanyaannya. Apa yang dia bilang tadi? Dia nyaman sama Intan? Jujur, aku
senang akhirnya aku tahu bahwa ada seseoang yang mampu membuat Kafka bahagia.
Dan aku juga tahu bahwa orang itu adalah orang yang baik, -sahabatku sendiri.
Tapi di sisi
lain hatiku, aku merasa tidak suka. Aku tidak suka melihat Kafka tersenyum
lebih manis daripada senyumnya padaku. Aku tidak suka Kafka terlihat lebih
bahagia daripada saat dia sedang bercanda denganku.
Sesaat
sebelum aku mendengar langsung dari Kafka bahwa dia menyukai Intan, aku masih
terus mempertanyakan hal ini pada diriku sendiri. Sebenarnya perasaan apa yang
tengah kurasakan pada Kafka. Mengapa saat aku berada di dekatnya aku merasa
gugup? Aku ingin selalu terlihat sempurna di matanya. Aku selalu ingin melihat
senyumnya. Aku ingin melakukan apapun asalkan dia bahagia. Termasuk saat dia
menertawakanku karena kejadian satu tahun yang lalu. Aku tidak pernah bisa
marah padanya. Setiap kali aku marah, rasanya hatiku segera mengeluarkan
molekul-molekul kata maaf untuknya. Sebelum malam ini, aku masih ragu-ragu
untuk bertanya pada hatiku, apakah aku benar-benar menyukai Kafka?
“Dara...”
Aku tersentak. Suara Kafka menarikku kembali pada suasana canggung sebelumnya.
“Yaa?”
jawabku bingung.
“Kamu
baiknya cepat-cepat berobat deh. Mana tahu aja ada obat untuk menghilangkan
hoby melamun!” Jawab Kafka berpura-pura kesal.
Suasana
kembali hening. Aku tidak tahu harus mengatakan apa pada laki-laki yang
diam-diam telah kukagumi ini.
“Sudahlah.
Aku pulang aja. Kayaknya kamu udah capek banget. Besok aja kita bicara lagi
yaa!” Kafka bersiap memutar kunci motor untuk menyalakan mesin namun segera aku
menahannya.
“Tunggu!”
Ucapku sambil melihat ke sembarang arah.
“Ada apa?” Tanya
Kafka tidak jadi menyalakan sepeda motornya.
“Apa yang
dimiliki Intan yang bisa buat kamu nyaman sama dia?” Tanyaku masih tidak berani
menatapnya.
Kali ini
Kafka yang terdiam cukup lama. Ia terlihat berfikir, namun sesekali ia juga
terlihat tersenyum.
Aku menunggu
jawabannya dengan hati yang tidak menentu. Apakah aku harus terlihat bahagia
dengan berpura-pura menyutujui perasaan Kafka pada Intan? Atau aku harus
bersikap egois dengan mengungkapkan semua perasaanku ini pada Kafka dan
menerima segala resiko yang ada.
“Entahlah.
Rasanya aku suka semuanya. Bukannya kamu sendiri tadi yang bilang kalau Intan
itu orangnya baik, sabar, ramah. Yaa karena semua itu aku nyaman sama dia. Udah
ah, udah malam. Aku pulang dulu. Lebih baik kamu sekarang masuk sebelum hoby
melamun kamu datang lagi. Nanti kalau aku udah pergi, siapa yang bakalan nyadarin
kamu dari hoby aneh kamu itu?” Ucap Kafka sambil tertawa, kemudian perlahan
menyalakan sepeda motornya. “Ayo masuk sana!”
“Kafka, bisa
gak kamu kasih aku satu hari kamu?” Kali ini aku menatap lurus-lurus ke
matanya.
“Untuk apa?”
Jawab Kafka heran.
“Kali aja
kamu sadar kalau aku lebih baik dari Intan. Lebih sabar dari Intan. Lebih ramah
dari Intan. Dan lebih bisa buat kamu nyaman.” Akhirnya kalimat itu berhasil
kuucapkan. Beberapa detik setelahnya terasa sangat panjang. Waktu terasa
berhenti. Udara terasa kosong. Aku hampir tidak bisa bernapas hingga akhirnya
aku merasakan sakit di hidungku. Saat aku sadar, tangan Kafka sudah menarik
hidungku dengan keras.
“Makanya kan
udah aku bilang, kamu itu cepetan masuk. Liat nih mulai ngelantur ngomongnya.
Kesambet kan?!” Kafka masih menarik hidungku sambil tertawa.
Aku berusaha
melepaskan tangannya. Kemudian kuusap hidungku yang terasa begitu panas dan
terlihat memerah.
“Sakit
tauuu....” Aku masih mengusap hidungku sambil berpura-pura merajuk padanya.
“Kamu sih,
bercandanya gak lucu!” Kafka belum menghentikan tawa renyahnya sambil
menggeleng-gelengkan kepala. Dia mulai menggerakkan sepeda motornya bersiap
untuk pulang.
“Kafka, aku
serius!” Aku kembali menahan sepeda motornya.
“Dara...
Udah yaa. Aku udah bilang kan kalau becandaan kamu itu gak lucu. Lagian kamu
gak perlu minta satu hari aku untuk buktiin kalau kamu baik, kamu sabar, kamu
ramah. Aku udah tahu. Sejak awal kita kenal aku udah tahu. Dan kamu bilang apa
tadi? Kamu mau buktiin kalau kamu bisa buat aku nyaman?” Kafka kembali tertawa.
“Aku nyaman sama kamu Dara. Kalau aku gak nyaman, gak mungkin kita masih
sahabatan sampai sekarang. Kamu cemburu sama Intan yaa? Tenang aja. Apapun yang
terjadi antara aku sama Intan, kamu tetap sahabat terbaik aku. Kita akan tetap
jadi sahabat sampai kapanpun. Oke?! Aku pulang dulu yaa. Udah malam. Kamu juga
cepat masuk sana!”
Aku
merasakan tiba-tiba angin bertiup lebih kencang dari sebelumnya. Suasana terasa
semakin dingin. Meski Kafka masih berdiri di hadapanku sambil tersenyum,
suasana tetap terasa dingin. Akhirnya aku sadar, bahwa senyum itu tidak lagi
mampu menghangatkan hatiku.
* * *
“Kafka, kamu harus tahu, aku mencintaimu. Tapi
ternyata berteman saja sudah cukup untukmu!” Kalimat itu kuucapkan tepat ketika
Kafka menghilang di persimpangan jalan.
* * *
Malam ini,
bintang bersinar hangat, namun terasa begitu dingin di hatiku.
Malam ini,
langit cerah, namun ada hujan di kedua mataku.
