Jumat, 20 Oktober 2017

Pinjami Aku, Satu Hari Milikmu!


Pinjami Aku, Satu Hari Milikmu!
Oleh : Ayy Dara

          Aku baru saja memasuki kamarku ketika kudengar ponselku berdering, -sebuah pesan. Sedikit malas aku meraih ponsel yang kuletakkan dengan asal-asalan di atas tempat tidurku dan membaca sebuah nama yang tertera di layarnya. “Kafka”.
            “Dara, kamu di rumah?” Hanya kalimat itu yang dikirimnya.
            “Iya, ada apa Ka?” Aku membalasnya.
         “Aku di dekat rumah kamu nih. Mau makan bareng gak?” Aku hanya bisa memandangi pesan itu selama beberapa detik sebelum aku kembali tersadar oleh pesan Kafka berikutnya, “Kalau kamu mau, aku ke rumah kamu 10 menit lagi!”
            Ada apa dengan dia? Seingatku, ini adalah pertama kalinya Kafka mengajakku pergi hanya berdua saja. Selama hampir sepuluh tahun aku mengenalnya, dia tidak pernah mengajakku pergi kemanapun, apalagi hanya makan di luar seperti ini. Dan hanya berdua saja.
Butuh waktu untukku bisa menerka apa yang sebenarnya telah terjadi pada Kafka hari ini. Namun karena tidak juga kutemukan jawabannya, maka kuputuskan untuk menerima ajakannya. Aku akan menanyakan jawaban dari pertanyaanku ini langsung padanya saat kami telah bertemu nanti. “Oke, aku siap-siap dulu.” Aku membalas pesannya tiga menit kemudian
* * *
            “Hai, Dara!” Sapanya ketika aku telah berdiri di hadapannya.
            Aku tidak menjawab, hanya memandanginya sambil memiringkan wajahku ke kiri dan ke kanan seolah tengah berfikir keras.
          “Ada apa?” Kafka pun ikut memirinngkan wajahnya mengikuti gerakanku. “Ada yang aneh?”
            “Kamu yang ada apa? Tiba-tiba ngajak aku makan!”
           Setelah menyadari kebingunganku, Kafka tersenyum, “Aku baik-baik aja. Cuma lagi pengen makan sama kamu!”
      Aku kembali tidak menjawab kalimatnya, hanya memandanginya lamat-lamat. Memperhatikan rambutnya yang terlihat berbeda. Senyumnya yang lebih merekah dari biasanya. Dan matanya lebih bersinar seperti........
          “Kamu mau makan atau gak sih Ra? Aku udah laper loh ini!” Aku tersentak dari lamunanku. Kulihat Kafka kini memandangiku dengan wajah bingung. Matanya membulat, seolah bertanya ‘Apakah aku membutuhkan waktu lebih lama untuk naik ke sepeda motornya’.
“Dara...” Sekali lagi aku mendengar suaranya. Namun kali ini cepat-cepat aku mengambil posisi untuk naik ke boncengan sepeda motor Kafka, sebelum dia mulai mengomeliku karena kebiasaan melamun yang aku miliki.
            Kafka melajukan sepeda motornya ke sebuah gerai makanan yang berjarak sekitar tiga kilometer dari rumahku. Tempat itu cukup ramai namun terlihat sangat nyaman untuk menghabiskan malam setelah melalui hari yang begitu melelahkan. Aku dan Kafka memasuki tempat itu dan memilih salah satu meja yang terletak di tepi jendela.
            “Kamu sering kesini Ka?” Aku bertanya setelah melepas jaket dan meletakkannya di sandaran kursi.
            “Eh, apa Ra? Kamu nanya apa?” Tanya Kafka yang mulai terlihat sibuk dengan ponselnya.
            “Kamu, sering kesini yaa?”
            “Ehm, baru 2 kali.” Jawabnya sekilas, lalu kembali sibuk membalas chat di ponselnya.
            Ketika aku baru saja akan mengangkat tangan untuk memanggil salah seorang pelayan yang sedang membersihkan meja yang berada tidak jauh dari pintu, pandanganku menangkap bayangan seseorang yang sangat kukenal tengah memasuki ruangan.
            Intan. Dia adalah salah seorang sahabatku. Kami bersahabat sejak aku dan Intan sama-sama tergabung dalam kelas menulis yang diadakan di kampus kami.
            “Dara!” Intan kini terlihat melambaikan tangan sambil terseyum ke arahku. Aku juga membalas senyumnya. “Maaf yaa, aku telat. Kalian udah lama?” Ucapnya ketika ia sampai dihadapanku.
            Telat? Apa maksudnya? Sepertinya aku tidak mengajak siapapun untuk datang kesini. Lalu mengapa Intan berkata seperti itu?
            “Gak apa-apa kok Tan. Kami juga baru aja datang!” Kafka yang terdengar menjawab pertanyaan Intan.
            Apa? Intan? Kafka? Mereka? Sejak kapan? Bagaimana bisa? Sekelebat pertanyaan silih berganti hadir dalam fikiranku.
* * *
            Intan sudah duduk di sampingku ketika pelayan datang membawakan daftar menu. Tidak perlu berfikir lama, kami bertiga telah memesan makan sesuai dengan selera kami masing-masing. Kamudian waktu kuhabiskan dengan memperhatian mereka saling berbicara. Sesekali kulihat mereka saling tersenyum dan tertawa, seakan mereka telah saling mengenal dalam waktu yang lama.
            “Kalian?” Ucapku sedikit pelan, namun cukup mampu menghentikan pembicaraan hangat diantara mereka. Kini mereka berdua sama-sama mengalihkan pandangannya padaku. Sedangkan aku tetap memandangi mereka secara bergantian dengan tatapan penuh tanya.
            “Oh, iya. Kamu belum tahu ya Ra kalau aku dan Intan saling kenal?” Terdengar Kafka yang lebih daluhu bersuara.
            Aku hanya menggelengkan kepala.
            “Kamu ingat gak sekitar satu tahun yang lalu waktu aku sama anak-anak sibuk nyariin kamu karena kamu menghilang gak jelas setelah patah hati ditinggalkan gebetan kamu? Siapa itu namanya? Arif, yaa Arif yang jurusan Hukum itu. Waktu itu seharian ponsel kamu gak bisa dihubungi. Kami semua kebingungan nyariin kamu ke semua tempat. Kami fikir kamu udah bunuh diri atau apalah itu.” Kafka berhenti sejenak untuk menarik napas dan tersenyum menggodaku.
Disisi lain kulihat Intan juga tengah menahan senyumnya karena kalimat-kalimat Kafka. “Waktu itu aku ketemu Intan di depan rumah kamu, karena dia juga lagi nungguin kamu. Sejak itulah kami kenal!”
            “Satu tahun?” Hanya dua kata itu yang berhasil kuucapkan.
            Kafka dan Intan mengangguk bersamaan.
            “Kok aku gak tahu?”
            “Gimana kamu bisa tahu. Kamu kan sibuk galau terus satu tahun ini!” Kali ini Kafka tidak lagi bisa menahan tawanya, dan kulihat Intanpun ikut tertawa renyah.
            “Eh, aku gak galau! Dan waktu itu aku juga gak lagi patah hati. Aku cuma pengen sendiri aja. Kalian aja yang lebay!” Protesku kepada Kafka yang semakin membuat tawanya terdengar lebih renyah.
            Aku masih ingin melanjutkan protes pada Kafka ketika tiba-tiba pelayan datang mengantarkan pesanan kami. Aroma dari sup yang diletakkan di atas meja seakan mengingatkanku bahwa sebelum aku bertengkar dengan Kafka tadi, perutku sudah sangat lapar.
Bertengkar dengan Kafka benar-benar membuat energiku terkuras. Selama makan dia tidak berhenti menggangguku dengan mengingatkan kejadian yang terjadi setahun yang lalu itu. Dia juga meyakinkan Intan bahwa semua yang diceritakannya benar-benar terjadi setahun yang lalu.
* * *
Diperjalanan pulang menuju rumahku Kafka sudah tidak lagi membahas kejadian setahun yang lalu. Dia terasa lebih pendiam. Kami hanya berbicara beberapa kali. Selain itu yang terdengar hanya suara siulan darinya.
“Dara...” Ucap Kafka ketika kami sudah memasuki belokan terakhir sebelum tiba di rumahku.
“Yaa?” Jawabku ragu-ragu. Takut jika dia kembali menggodaku.
“Menurut kamu Intan itu orangnya gimana?”
“Ehm, dia baik. Sabar. Ramah. Memangnya kenapa? Hayoo, jangan-jangan kamu suka sama dia yaa?” Aku merasa menang karena berhasil memiliki kesempatan untuk menggodanya.
Kafka tidak menjawab candaanku hingga akhirnya kami tiba di halaman rumahku. Setelah aku turun dari boncengan, Kafka mematikan sepeda motornya.
“Ada apa? Kamu gak langsung pulang?”Aku berdiri di hadapannya yang masih mematung.
“Dara, kayaknya aku nyaman sama Intan. Menurut kamu aku sama dia cocok gak?” Kafka mengangkat wajahnya, membuat pandangan kami bertemu. Aku melihat sorot matanya yang serius. Dia terlihat berbeda dari biasanya. Tidak ada tanda-tanda bahwa dia sedang bercanda.
Sementara aku hanya menatapnya dengan tatapan kosong. Dalam hati aku mengulang-ulang pertanyaannya. Apa yang dia bilang tadi? Dia nyaman sama Intan? Jujur, aku senang akhirnya aku tahu bahwa ada seseoang yang mampu membuat Kafka bahagia. Dan aku juga tahu bahwa orang itu adalah orang yang baik, -sahabatku sendiri.
Tapi di sisi lain hatiku, aku merasa tidak suka. Aku tidak suka melihat Kafka tersenyum lebih manis daripada senyumnya padaku. Aku tidak suka Kafka terlihat lebih bahagia daripada saat dia sedang bercanda denganku.
Sesaat sebelum aku mendengar langsung dari Kafka bahwa dia menyukai Intan, aku masih terus mempertanyakan hal ini pada diriku sendiri. Sebenarnya perasaan apa yang tengah kurasakan pada Kafka. Mengapa saat aku berada di dekatnya aku merasa gugup? Aku ingin selalu terlihat sempurna di matanya. Aku selalu ingin melihat senyumnya. Aku ingin melakukan apapun asalkan dia bahagia. Termasuk saat dia menertawakanku karena kejadian satu tahun yang lalu. Aku tidak pernah bisa marah padanya. Setiap kali aku marah, rasanya hatiku segera mengeluarkan molekul-molekul kata maaf untuknya. Sebelum malam ini, aku masih ragu-ragu untuk bertanya pada hatiku, apakah aku benar-benar menyukai Kafka?
“Dara...” Aku tersentak. Suara Kafka menarikku kembali pada suasana canggung sebelumnya.
“Yaa?” jawabku bingung.
“Kamu baiknya cepat-cepat berobat deh. Mana tahu aja ada obat untuk menghilangkan hoby melamun!” Jawab Kafka berpura-pura kesal.
Suasana kembali hening. Aku tidak tahu harus mengatakan apa pada laki-laki yang diam-diam telah kukagumi ini.
“Sudahlah. Aku pulang aja. Kayaknya kamu udah capek banget. Besok aja kita bicara lagi yaa!” Kafka bersiap memutar kunci motor untuk menyalakan mesin namun segera aku menahannya.
“Tunggu!” Ucapku sambil melihat ke sembarang arah.
“Ada apa?” Tanya Kafka tidak jadi menyalakan sepeda motornya.
“Apa yang dimiliki Intan yang bisa buat kamu nyaman sama dia?” Tanyaku masih tidak berani menatapnya.
Kali ini Kafka yang terdiam cukup lama. Ia terlihat berfikir, namun sesekali ia juga terlihat tersenyum.
Aku menunggu jawabannya dengan hati yang tidak menentu. Apakah aku harus terlihat bahagia dengan berpura-pura menyutujui perasaan Kafka pada Intan? Atau aku harus bersikap egois dengan mengungkapkan semua perasaanku ini pada Kafka dan menerima segala resiko yang ada.
“Entahlah. Rasanya aku suka semuanya. Bukannya kamu sendiri tadi yang bilang kalau Intan itu orangnya baik, sabar, ramah. Yaa karena semua itu aku nyaman sama dia. Udah ah, udah malam. Aku pulang dulu. Lebih baik kamu sekarang masuk sebelum hoby melamun kamu datang lagi. Nanti kalau aku udah pergi, siapa yang bakalan nyadarin kamu dari hoby aneh kamu itu?” Ucap Kafka sambil tertawa, kemudian perlahan menyalakan sepeda motornya. “Ayo masuk sana!”
“Kafka, bisa gak kamu kasih aku satu hari kamu?” Kali ini aku menatap lurus-lurus ke matanya.
“Untuk apa?” Jawab Kafka heran.
“Kali aja kamu sadar kalau aku lebih baik dari Intan. Lebih sabar dari Intan. Lebih ramah dari Intan. Dan lebih bisa buat kamu nyaman.” Akhirnya kalimat itu berhasil kuucapkan. Beberapa detik setelahnya terasa sangat panjang. Waktu terasa berhenti. Udara terasa kosong. Aku hampir tidak bisa bernapas hingga akhirnya aku merasakan sakit di hidungku. Saat aku sadar, tangan Kafka sudah menarik hidungku dengan keras.
“Makanya kan udah aku bilang, kamu itu cepetan masuk. Liat nih mulai ngelantur ngomongnya. Kesambet kan?!” Kafka masih menarik hidungku sambil tertawa.
Aku berusaha melepaskan tangannya. Kemudian kuusap hidungku yang terasa begitu panas dan terlihat memerah.
“Sakit tauuu....” Aku masih mengusap hidungku sambil berpura-pura merajuk padanya.
“Kamu sih, bercandanya gak lucu!” Kafka belum menghentikan tawa renyahnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Dia mulai menggerakkan sepeda motornya bersiap untuk pulang.
“Kafka, aku serius!” Aku kembali menahan sepeda motornya.
“Dara... Udah yaa. Aku udah bilang kan kalau becandaan kamu itu gak lucu. Lagian kamu gak perlu minta satu hari aku untuk buktiin kalau kamu baik, kamu sabar, kamu ramah. Aku udah tahu. Sejak awal kita kenal aku udah tahu. Dan kamu bilang apa tadi? Kamu mau buktiin kalau kamu bisa buat aku nyaman?” Kafka kembali tertawa. “Aku nyaman sama kamu Dara. Kalau aku gak nyaman, gak mungkin kita masih sahabatan sampai sekarang. Kamu cemburu sama Intan yaa? Tenang aja. Apapun yang terjadi antara aku sama Intan, kamu tetap sahabat terbaik aku. Kita akan tetap jadi sahabat sampai kapanpun. Oke?! Aku pulang dulu yaa. Udah malam. Kamu juga cepat masuk sana!”
Aku merasakan tiba-tiba angin bertiup lebih kencang dari sebelumnya. Suasana terasa semakin dingin. Meski Kafka masih berdiri di hadapanku sambil tersenyum, suasana tetap terasa dingin. Akhirnya aku sadar, bahwa senyum itu tidak lagi mampu menghangatkan hatiku.
* * *
“Kafka, kamu harus tahu, aku mencintaimu. Tapi ternyata berteman saja sudah cukup untukmu!” Kalimat itu kuucapkan tepat ketika Kafka menghilang di persimpangan jalan.
* * *
Malam ini, bintang bersinar hangat, namun terasa begitu dingin di hatiku.
Malam ini, langit cerah, namun ada hujan di kedua mataku.