Kamis, 19 Juni 2014

Kisah Ini Harus Dimulai

















Kisah Ini Harus Dimulai
oleh : Ayy Dara
Matahari siang itu benar-benar menunjukkan keangkuhannya. Hingga sebagian orang memilih untuk berdiam diri di rumah atau kantor mereka agar tidak tersengat oleh keganasannya. Nara duduk di depan komputernya sambil memperhatikan satu persatu daftar temannya di facebook yang berbagi status tentang panasnya siang itu. Kemudian ia menoleh ke arah jendela yang menghadap ke barat. “Ahh, iyaa. Hari ini benar-benar panas!” gumamnya.

Setelah cukup lama menatap kosong ke luar jendela, Nara mengalihkan pandangannya ke bawah. Ke arah pintu gerbang sebuah Sekolah Dasar. Terlihat disana beberapa pedagang menjajakan dagangan mereka dibawah payung yang terbentang. Tiba-tiba saja ia menghembuskan nafasnya dengan berat.
“Kenapa Ra?” sapa Irma, rekan kerja Nara.
“Ahh, gak ada apa-apa! Cuma lagi buktiin status-status orang di facebook yang bilang kalau di luar panas banget!” jawabnya sambil tersenyum menunjuk layar komputernya.

Irma sudah membuka mulut hendak menjawab, tapi tiba-tiba ponselnya berbunyi.
“Hallo,....................Aku di kantor....................Apa? Mau mampir?.......................Oh, yaudah, Mampir aja!” setelah menutup ponselnya, ia melihat ke arah Nara. “Fahri, katanya dia mau mampir sebentar!” Jelasnya tanpa Nara perlu bertanya.

Degg, seketika senyum di wajah Nara memudar. Fahri?? Laki-laki itu lagi! Sebenarnya ia tidak suka bertemu dengan orang itu. Karena setiap bertemu dengannya, Nara tidak bisa berkonsentrasi dalam bekerja. Apapun yang dikerjakannya selalu berantakan. Dia membenci orang itu.

Tapi di sudut hati yang lain, hal yang berbeda tengah terjadi. Ada semangat baru yang tiba-tiba muncul. Meluap dan tampak terlihat jelas di kedua matanya. Hingga tanpa ia sadari hal itu sudah melengkungkan senyum kecil di wajahnya yang teduh.

“Hey Ra, kamu kenapa?” Tanya Irma begitu melihat sahabatnya itu menjadi melamun.
“Ohh, gak apa-apa. Aku ke toilet dulu yaa!” tanpa menunggu jawaban dari Irma, Nara telah melesat meninggalkan sahabatnya itu yang masih terdiam dengan wajahnya yang bertanya-tanya. Lima menit kemudian Nara kembali ke ruangannya. Tapi ia heran, karena tak melihat Irma disana.

“Kemana anak itu?” bisiknya lebih kepada diri sendiri.
Nara kembali duduk di tempatnya dan melihat beberapa notification yang sudah mengisi layar facebooknya.

Saat tengah asik berkomentar di status temannya, Nara mendengar sebuah langkah yang semakin mendekat. Sebelum ia sempat mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang datang, orang tersebut sudah lebih dulu bersuara.

“Irma kemana?” terdengar suara berat yang sangat dikenal oleh Nara. Bukan, bukan karena sudah lama saling mengenal maka Nara bisa tahu siapa pemilik suara berat itu. Tapi karena diam-diam hatinya memberi tempat kosong untuk laki-laki itu singgah dan menetap di dalamnya.

Mau tidak mau, Nara mengangkat kepalanya sambil meng-klik halaman data di komputernya. “Kayaknya lagi keluar sebentar” Ucapkan datar. Sangat datar.

Laki-laki yang baru dikenalnya kurang dari sebulan itu masuk dan mengambil kursi di depan tempat duduk Nara. Kini mereka hanya dipisahkan oleh sebuah monitor. Dan kesadaran Nara bahwa di ruangan itu hanya ada mereka berdua membuatnya mulai berkeringat dingin.

Laki-laki itu mulai mengeluarkan ponsel dan headset dari tasnya. Menghubungkan keduanya dan meletakkan headset ke telinga. Kemudian hening. Tak ada satu kata pun yang keluar dari keduanya. Mereka seperti diselimuti oleh es yang begitu tebal. Tanpa tahu cara mencairkannya.

Nara meliriknya sejenak. Dilihatnya mata laki-laki itu terpejam. “Memangnya darimana anak ini? Mengapa ia tampak begitu lelah.” Batinnya. Kemudian ia berfikir, haruskah ia bertanya? Lalu bagaimana jika tidak dijawab? Bagaimana kalau ia terkesan ikut campur dengan urusan laki-laki ini. Ahh, hanya untuk bertanya saja ia harus mengalami konflik batin begini. Apakah jatuh cinta selalu begini? Membingungkan. Meragukan.

Ketika sudah diputuskannya untuk bertanya, ia segera membuka mulut. Namun tiba-tiba Irma masuk dan membuat Nara mengurungkan niat untuk bertanya.

“Hey, darimana aja Ri?” tanya Irma sambil mencabut sebelah headset Fahri yang terpasang ditelinganya. Membuat laki-laki itu terbangun dan menoleh kearah Nara dan berganti ke arah Irma.

“Sorry, kamu nanya apa tadi?” tanya Fahri sambil membenarkan posisi duduknya.

“Kamu dari mana?” Ulang Irma sambil memeriksa notification di fabebooknya.

“Ohh, dari keliling-keliling nganterin undangan rapat. Karena diluar panas, boleh kan aku istirahat sebentar disini?” tanya Fahri sambii menoleh ke Irma, tapi yang dipandang tidak menoleh. Ia masih asik dengan layar facebooknya. Kemudian laki-laki itu beralih melihat ke arah Nara, dan Nara – juga tengah menatapnya. Untuk kesekian kalinya tatap mereka bertemu. Hanya beberapa detik. Setelah memberikan sebuah senyum, Nara kembali memusatkan pandangannya kepada layar yang ada dihadapannya, - layar yang memisahkan mereka berdua.

Beberapa menit hening. Irma kembali sibuk dengan laporan keuangan yang sudah dikerjakannya sejak beberapa jam yang lalu. Nara kembali menatap layar kosong di depannya, namun sesungguhnya hati dan fikirannya tidak berada disana. Hati dan fikirannya sepenuhnya berada pada seseorang yang berada tepat dihadapannya saat ini. Tapi orang itu? Ahh, nampaknya ia tertidur. Duduk bersandar di kursi dengan kedua tangan terlipat dan sepasang headset yang tergantung di telinganya. Pemandangan itu benar-benar membuat Nara beku. Jika ia tidak ingat bahwa di ruangan itu bukan hanya ada mereka berdua, pastilah Nara sudah dengan senang hati hanya duduk bertopang dagu menatap laki-laki yang telah mencuri seluruh hati dan fikirannya itu. Tapi ia sadar ia tak boleh melakukannya. Disana juga ada Irma yang sewaktu-waktu dapat menoleh ke arahnya dan menangkap basah apa yang sedang ia lakukan.

Dengan hati-hati Nara hanya memuaskan hatinya dengan melirik laki-laki itu dari atas layar komputernya. Ahh, baginikah rasanya jika sedang jatuh cinta??? Bahkan hanya memandangnya saja hati ini sudah bahagia?!

* * *

Fahri merasakan gerah yang amat sangat siang itu. Matahari benar-benar tengah menunjukkan kekuatannya. Berada seharian di bawah teriknya, cukup membuat Fahri lelah. Ia sadar saat ini ia butuh istirahat sebentar. Dengan cepat ia mengeluarkan ponsel di saku jeansnya.

“Hallo, Ir kamu dimana?...................... Aku boleh mampir sebentar? .............................. Oke, aku kesana sekarang!” Dengan sedikit senyum ia kembali meletakkan ponsel ke dalam saku. Ia tersenyum bukan karena baru saja dapat tempat untuk berteduh. Lebih dari itu ia ingin sekali melihat seseorang yang beberapa hari ini ia rindukan. – Nara - Gadis itu adalah rekan kerja Irma yang baru satu bulan ini masuk. Fahri mengenalnya sebulan yang lalu ketika ia berkunjung ke kantor Irma.

Tanpa membuang waktu, Fahri segera melajukan motornya ke sebuah gedung berlantai dua yang terletak tidak jauh dari tempat kini ia berada. Setelah memarkir motornya, Fahri segera menyusuri anak tangga gedung itu dan mencari sebuah ruangan yang sudah sangat ia kenal.

Dari depan pintu Fahri dapat melihat seseorang yang sangat ia rindui itu sedang duduk di meja kerjanya sambil menatap komputer. Sesekali ia berkomat-kamit mengucapkan barisan kalimat – yaa, ia selalu begitu. Mengeja kalimat sebelum ia tuliskan di komputernya. Lalu gadis itu tersenyum setelah kalimat itu berhasil ia tulis. Berulangkali Fahri hanya menyaksikan tingkah gadis itu dari depan pintu yang tidak tertutup rapat. Mengeja lagi, menulis lagi dan – tersenyum lagi. 

Jika ia tidak segera sadar bahwa mulai ada orang yang melihatnya dengan tatapan aneh karena hanya mematung di depan pintu, mungkin ia sanggup berdiri lebih lama untuk memperhatikan gadis itu. Sungguh ia sangat suka melihat gadis itu. Senyumnya mampu menghapus lelah yang ia kumpulkan setengah hari ini. Perlahan diberanikannya untuk membuka pintu. Tapi gadis itu – masih sibuk dengan komputernya. “Apa dia tidak dengar aku masuk?” Bisik Fahri pada dirinya sendiri.

“Irma mana?” Ucapnya ketika menyadari bahwa disana hanya ada gadis itu sendiri. Spontan gadis itu mengangkat kepalanya dan dengan gerakan cepat ia menutup halaman facebook yang dari tadi ditatapnya menjadi halaman data.

“Kayaknya lagi keluar sebentar” Jawab gadis itu datar. Lalu kembali menatap komputernya. Fahri masih berdiri di posisinya. Belum bergerak sedikitpun. “Apakah aku sudah mengganggunya?” Bisik Fahri dalam hati.

Kemudian Fahri menuju satu kursi yang biasa ia tempati jika berkunjung ke tempat ini. Satu kursi dimana ia bisa dengan puas menatap orang yang mulai berarti di hatinya.

Beberapa menit hening mengikat mereka berdua. Gadis itu tetap sibuk dengan komputernya. Sesekali Fahri dapat mendengar suara tawanya, dan ketika Fahri meliriknya ia melihat gadis itu – tersenyum. Senyum yang sangat indah. “Siapa orang yang telah membuatmu larut dalam dunia maya itu, hingga kau tak melihat seseorang yang nyata ada di depanmu saat ini? Disini!” Hati Fahri mulai membatin menyaksikan apa yang dilihatnya saat ini.

Tapi ia segera membuang segala firasat buruk yang datang merasuki logikanya. Segera ia duduk dan mengambil ponsel serta headset yang ada di dalam tasnya. Mendengarkan lagu-lagu favoritenya seringkali mampu mengubah moodnya menjadi lebih baik. Perlahan ditutupnya mata, tapi suasana masih terasa mencekam dirinya. Cukup lama dia menikmati suasana dingin yang menyelimuti mereka berdua hingga akhirnya Irma datang dan mencabut headset yang tergantung di telinga kirinya.

Fahri mulai membuka mata, lalu menoleh ke Nara. Tapi yang dilihat tidak menatapnya. Kemudian Fahri beralih memandang Irma. Irma mengeryitkan dahi dan Fahri tahu bahwa itu pertanda bahwa Irma sedang menunggu jawaban.

“Sorry, kamu nanya apa tadi?” Tanya Fahri sambil membenarkan posisi duduknya.

“Kamu darimana?” Ulang Irma. Kali ini tanpa menatap Fahri, karena ia sudah sibuk menatap layar komputernya.

“Ohh, dari keliling-keliling nganterin undangan rapat! Karena diluar panas, boleh kan aku istirahat sebentar disini?” Fahri menjelaskan. Dipandangnya Irma menunggu tanggapan, tapi yang dipandang tidak menoleh. Masih asik memperhatikan layar komputernya. Ragu-ragu Fahri mengalihkan pandangannya pada Nara, dan – gadis itu juga tengah menatapnya. Untuk beberapa detik Fahri merasa waktu berhenti. Tatapan mereka saling beradu. Tenang, damai. Kemudian dilihatnya – gadis itu tersenyum – sebelum akhirnya kembali menundukkan wajahnya menatap komputer.

Ahh, begini saja sudah cukup. Bahkan ia hanya perlu datang ke ruangan ini, duduk di kursi yang sedang ia duduki, dan sesekali melirik ke arah gadis itu. Jika kebetulan ia dapat bersitatap dengannya, apalagi jika ia tersenyum, - itu adalah bonus dari usahanya dalam mencintai. Cinta ini, sangat sederhana. Bahkan hanya melihatnya tersenyum saja hati ini sudah bahagia.

* * *

Panas. Itulah kata yang paling sesuai untuk menggambarkan suasana hari ini. Karena itu Irma sudah berkali-kali mengatur suhu AC di ruangannya agar terasa lebih sejuk. Ketika Irma hendak menanyakan pendapat Nara tentang suhu yang baru saja diaturnya, Irma malah melihat sahabatnya itu melamun sambil melihat keluar jendela.

“Kenapa Ra?” Sapa Irma mengurungkan niat awalnya untuk bertanya tentang suhu ruangan kerjanya.

“Ahh, gak ada apa-apa! Cuma lagi buktiin status-status orang di facebook yang bilang kalau di luar panas banget!” jawab Nara sambil tersenyum menunjuk layar komputernya. Irma sempat melirik sedikit ke arah yang ditunjuk Nara, tapi karena posisinya berdiri cukup jauh dari Nara, ia tidak bisa melihat dengan jelas tulisan di komputer itu. Dan ketika ia sudah membuka mulut hendak menjawab, tiba-tiba ponselnya berbunyi.

“Hallo,....................Aku di kantor....................Apa? Mau mampir?.......................Oh, yaudah, Mampir aja!” ia menutup ponselnya lalu melihat Nara. Yang dilihat hanya terdiam. “Fahri, katanya dia mau mampir sebentar” jelasnya lebih dulu sebelum Nara bertanya.

Tiba-tiba dilihatnya raut wajah sahabatnya itu berubah - tegang dan cemas. Sebenarnya Irma tidak perlu bertanya apa yang telah terjadi. Karena ia sudah paham benar apa yang tengah terjadi pada sahabatnya itu. Meskipun Nara tidak pernah menceritakan apapun kepadanya, namun Irma tahu bahwa Nara diam-diam menyukai Fahri. Dan Fahri, sepertinya laki-laki yang sangat cuek itu juga menyukai Nara. Karena itulah Irma mengizinkan Fahri untuk mampir ke kantornya. Padahal ia tahu bahwa pekerjaannya yang menumpuk tidak memungkinkan bagi dirinya untuk menemani Fahri bercerita panjang lebar hari ini. Ia hanya ingin membuat mereka berdua memiliki waktu untuk bertemu dan – melepaskan rindu.

“Hey Ra, kamu kenapa?” Tanya Irma begitu melihat sahabatnya itu masih melamun.

“Ohh, gak apa-apa. Aku ke toilet dulu yaa!” Irma hanya melihatnya sambil tersenyum.

Sementara Nara masih di toilet, Irma memutuskan untuk pergi ke ruangan sebelah. Ia tahu pasti sebentar lagi Fahri datang. Ia hanya ingin memberikan waktu untuk mereka berdua. Tentu saja tidak lama, karena tugasnya sudah menumpuk harus segera diselesaikan.

Dari pintu ruangan tempat ia berdiri, ia bisa melihat Nara kembali ke ruangan mereka setalah pergi ke toilet tadi. Tidak lama setelah itu, Fahri pun terlihat sudah berdiri di depan pintu. – cukup lama.

“Ngapain lagi anak bodoh itu cuma berdiri di pintu? Bukannya masuk!” Gerutunya dalam hati. Hampir saja ia keluar dari tempat persembunyiannya untuk menunju anak bodoh yang sedang berdiri di depan pintu ruangannya itu, ketika ia melihat Fahri mulai melangkah dan masuk ke ruangannya.  “Dasar bodoh! Udah dikasih kesempatan malah disia-siain!” Ia masih mengomel sendiri di belakang pintu dengan tangan yang terkepal.

Dua puluh menit berlalu, ia pun menjadi penasaran apa yang telah terjadi pada dua sahabatnya itu. Diintipnya mereka dari luar ruangan. Tapi apa yang dilihatnya? Nara, tengah sibuk memperhatikan status-status yang tersusun di beranda facebooknya. Dan Fahri? Dia hanya duduk di kursi tepat di depan Nara. Terpejam. Tertidur? Ahh, tidak mungkin. Ia pasti tidak tidur. Irma sangat kenal sahabatnya yang satu itu. Ia pasti tidak tahu cara untuk memulai pembicaraan dengan Nara. “Idiot! Gitu aja gak bisa!” lagi-lagi dia mengomeli sahabat yang telah dikenalnya bertahun-tahun lalu itu.

Dengan sedikit menahan emosinya, ia masuk ke dalam ruangan yang sepi itu. Ia berjalan melawati Fahri yang masih terpejam, sambil mencabut satu headset yang tergantung di telinga Fahri.

“Hey, darimana aja Ri?” tanyanya yang membuat laki-laki itu terbangun dan menoleh kearah Nara lalu berganti ke arah Irma. Saat itu Irma hanya mendengus kesal. Kenapa yang pertama dilihat Fahri adalah Nara? Jelas saja dia yang bertanya, bukan Nara. Tapi setelah ia ingat apa yang tengah terjadi pada dua sahabatnya itu, logikanya segera memaklumi. “Ahh, bahkan cinta bisa membuat orang secuek kamu terlihat sangat rapuh teman” hati Irma berbisik dengan tulus sembari menatap Fahri.

“Sorry, kamu nanya apa tadi?” tanya Fahri sambil membenarkan posisi duduknya.

“Kamu dari mana?” Ulang Irma setelah ia duduk di meja kerjanya sambil memeriksa notification di fabebooknya.

“Ohh, dari keliling-keliling nganterin undangan rapat. Karena diluar panas, boleh kan aku istirahat sebentar disini?” tanya Fahri sambii menoleh ke arahnya. Tapi ia masih asik membuka satu persatu notification yang masuk ke facebooknya. Ketika akhirnya Ia mengangkat kepalanya untuk bertanya kepada Fahri, ia melihat sahabatnya itu tengah bersitatap dengan Nara. Entah sudah berapa lama, ia pun tidak tahu. Setelah melemparkan sedikit senyum kepada Fahri, pandangan Nara kembali pada layar komputernya.

Beberapa menit hening. Meskipun Irma telah membuka kembali lembar kerja yang sudah dikerjakannya sejak beberapa jam yang lalu, namun keheningan ini terasa begitu tidak nyaman untuknya. Diliriknya Nara yang duduk di sebelahnya, - melamun lagi. Matanya memang tertuju kepada komputer di depannya. Namun tatapan itu kosong. Yang terlihat malah tatapan itu seakan menembus layar komputer dan jatuh pada seseorang yang sedang duduk bersandar sambil kedua tangan terlipat di dada dan headset di kedua sisi telinganya. Dia tertidur?! Ahhh, tidak. Irma tahu itu hanya cara Fahri untuk menutupi kegelisahan hatinya. Gelisah menyimpan rindu dan cinta, untuk gadis yang kini tengah duduk di hadapannya, - menatapnya. Yahh, Irma tahu betul semua itu.

Irma hanya geleng kepala melihat dua sahabatnya itu.

“Kenapa kalian menyiksa diri kalian begini? Bukankah yang perlu kalian lakukan hanyalah berterus terang dan jujur dengan perasaan kalian sendiri. Bahagia itu sudah ada di depan mata, tapi bagaimana kalian bisa melihatnya jika kalian terus memejamkan mata.?!”

Setelah menuliskan kalimat itu, Irma segera mencari dua kontak di ponselnya. Nara. Fahri. Lalu kirim! “Kisah cinta ini harus dimulai!” Bisiknya dalam hati.

* * *

Jumat, 06 Juni 2014

Karena Aku Yang Lebih Dulu Mencintaimu



Karena Aku Yang Lebih Dulu Mencintaimu
Oleh : Ayy Dara


Kisah ini berawal ketika kita masih tercatat sebagai mahasiswa semester empat di sebuah Universitas Negeri di kota kelahiranku, Pekanbaru. Perkenalan yang singkat, pembicaraan yang hangat membuat kita semakin hari semakin dekat. Hingga suatu hari aku mengajakmu bertemu. Dengan sedikit terpaksa, kau setuju dengan permintaanku, tapi dengan syarat aku yang harus datang ke tempatmu. Aku sungguh sangat tidak keberatan. Kenapa? Mungkin karena aku yang lebih dulu mencintaimu.
Yahh, kau adalah seorang mahasiswa fakultas teknik yang mempunyai jadwal kuliah cukup padat. Selain kuliah dan hobimu merakit robot, kau juga selalu menyempatkan diri untuk berolahraga. Dan jadilah aku dinomorsekiankan olehmu. Tapi aku sungguh tidak keberatan. Kenapa? Mungkin karena aku yang lebih dulu mencintaimu.
Sedangkan aku? Aku adalah seorang mahasiswi fakultas hukum yang mempunyai jadwal kuliah cukup santai. Malah boleh dikatakan sangat santai. Aku memiliki benyak waktu luang setiap hari. Selain kuliah dan tugas-tugas yang tidak seberapa, aku selalu menghabiskan waktu dengan browsing di kamarku dan ..... memikirkanmu - . Memangnya apalagi yang akan aku lakukan di waktu senggangku selain memikirkanmu?? Kenapa? Mungkin karena aku yang lebih dulu mencintaimu.
Suatu hari kita bertemu –tentu saja aku yang saat itu datang menemuimu, ke tempatmu-. Saat itu kita duduk di teras fakultasmu dengan perdebatan-perdebatan hangat yang biasa kita lakukan. Dan seperti biasa kau tidak mau mengalah sedikkitpun kepadaku.
Katamu waktu itu, “Jangankan kalah, imbang aja aku nggak mau!” - Egois – tapi tak mengapa. Aku dengan sangat rela mengalah demi kamu. Kenapa? Mungkin karena aku yang lebih dulu mencintaimu.
Namun tiba-tiba tawa yang ada diantara kita ketika itu lenyap. Kenapa? Apa mungkin karena aku mencintaimu? Mungkin juga, tapi entahlah. Saat itu aku hanya bertanya. “kita udah sebulan dekat, tapi sampai sekarang enggak jelas status kita apa. Sebenarnya kamu anggap aku ini apa?”
Kau terdiam. Tak terlihat sedikitpun dari garis wajahmu ingin menjawab pertanyaanku. Setelah sekian lama hening menyelimuti kita, akhirnya kau bertanya, “kenapa nanya gitu?” 
Ahh, entahlah, yang jelas aku hanya bertanya. Hanya itu saja. Jika pertanyaan itu mengganggumu, maka anggap saja aku tidak pernah menanyakannya.
“Kok nggak jawab?” tanyamu lagi.
Lho, tadi kan aku udah jawab! Ahh, ternyata tadi itu hanya kukatakan di dalam hati. Aku tidak benar-benar berani mengatakannya.
Kudengar kau menghela nafas dengan berat. Lalu kau mulai berkata. “Sebenarnya begini, aku hanya merasa kita masih sangat muda untuk mengikat diri. Lagipula, aku bukan tipe orang yang suka diikat. Aku adalah orang yang bebas!”
Degg, hatiku ngilu mendengar jawabanmu. Mungkin lebih baik kau tidak menjawabnya daripada kau harus mengatakan ini padaku. Seketika rasanya mataku berat. Bukan, bukan aku mengantuk karena menemanimu mengerjakan tugas hingga jam tiga subuh tadi. Tapi karena tiba-tiba aku merasakan ada bendungan yang akan jebol di balik mataku. Aku hanya menunduk. Tak berani untuk benar-benar menantangmu dengan tatapanku. Aku hanya takut air mata yang sudah mendesak ingin keluar ini akan tumpah di hadapanmu.
Untuk beberapa lama kita hanya terdiam. Sibuk dengan fikiran kita masing-masing. Mungkin kau sibuk dengan perasaan bersalahmu. Dan aku sibuk dengan perasaan kecewaku. Namun waktu tetap berlalu, meski diam yang menyesakkan ini masih menyelimuti kita.
“Aku harus masuk kelas. Sebentar lagi dosenku masuk!” ucapmu.
Aku masih tak bergeming. Tak tahu apa yang harus aku lakukan. Menahanmu dan menumpahkan segala air mata ini atau membiarkanmu pergi.
“Ayoolah, kan sudah kukatakan, kita masih terlalu muda untuk mengenal cinta. Aku tak mau nanti bila kau mencintaiku, maka aku akan menyakitimu!” Kau berusaha menjelaskan.
Bukankah sudah kau lakukan! Kau sudah menyaitiku tanpa kau sadari!
“Pergilah, nanti kau terlambat!” Akhirnya kutemukan juga suaraku yang tiba-tiba menghilang. Dan tanpa memandangmu, aku bangkit dari tempat dudukku dan mulai berjalan –menjauhimu-.
“Mau langsung pulang?” tanyamu.
“Iya, ada tugas yang harus aku selesaikan. Besok harus dikumpul”. Aku berbohong. Tak peduli kau percaya atau tidak. Aku hanya ingin cepat pulang dan menumpahkan segala air mata yang sudah tak tertahankan lagi. 

“Hati-hati!” ucapmu pada akhirnya sebelum aku melihat dari ekor mataku kau berbalik dan berlari menuju kelasmu.
Aku melirik jam di tanganku, pukul 13. 10 menit. Yaahh, mungkin kau sudah benar-benar terlambat masuk ke kelasmu. Kubalikkan badanku memastikan bahwa kau benar-benar sudah tak ada lagi disana. Aku berjalan gontai menuju asramaku sambil memegangi dada. Terasa  sangat sakit. Pedih seperti ditusuk-tusuk. Kenapa rasanya saperti ini? Apa mungkin karena aku yang terlebih dulu mencintaimu.
Setelah kejadian itu, kau mulai menjauh dariku. Dengan berbagai alasan kau tak mau lagi menjawab telfonku. Kau juga hanya sesekali membalas smsku. Aku benar-benar kehilanganmu. Bersusah payah aku meyakinkan dirimu bahwa aku tidak apa-apa. Aku bisa mengerti dengan apa yang kau jelaskan waktu itu. Aku bisa menerima bahwa kau belum bisa membentuk ikatan antara kita berdua. Sungguh, sudah kuyakinkan dirimu bahwa aku bisa menerimanya. Meskipun sebenarnya hati ini sangat tak bisa menerima. Dan aku berbohong lagi kepadamu. Saat itu aku hanya takut kehilanganmu. Kenapa? Mungkin karena aku telah sangat mencintaimu.
Hari-hari berikutnya kita lewati tanpa berbicara tentang cinta. Biarlah cinta itu hanya ada di hatiku , bukan di hatimu. Tak mengapa, aku bisa terima. Selama kau berada di dekatku, aku jamin hatiku akan baik-baik saja. Karena hatiku hanya butuh kau. Tak peduli status kita seperti apa. Kenapa? Ahh, haruskah kuulangi sekali lagi bahwa aku mencintaimu.
Perlahan, kita benar-benar mulai saling menjaga jarak. Kau memberi alasan karena kau ingin fokus dalam kuliahmu. Dan aku juga ingin fokus pada tugas akhirkku. –tentu saja aku berbohong-. Sebenarnya aku mulai letih menjaga hati ini sendiri, mencintai sendiri, setia sendiri! Aku sudah tidak ingin lagi menyakiti hatiku. Mungkin jika hatiku dapat berbicara, ia akan bertanya kesalahan apa yang telah ia lakukan hingga aku selalu menyakitinya. Tidak hatiku, kau tidak melakukan kesalahan. Hanya saja saat ini waktu tidak mengizinkanmu untuk melakukan satu hal -mencintainya-
Ternyata menyembuhkan luka yang tidak terlihat itu benar-benar jauh lebih sulit daripada menyembuhkan luka yang terlihat. Jika luka di tubuh kita ketika ia sembuh akan berbekas, namun kita tidak akan lagi marasakan sakit. Maka lain halnya dengan luka di hati. Meski tak terlihat bekasnya, tapi ia akan tetap sakit. Karena kapan saja dan dimana saja, luka itu bisa kembali terkoyak dan sakit itu akan kembali datang.

Jika kau bertanya bagaimana aku bisa mengetahuinya, akan aku jelaskan. Sebelumnya maaf, karena aku tidak dengan mudah dapat melupakanmu. Setelah kita memutuskan untuk saling menjauh, sejujurnya aku tidak benar-benar berusaha menjauhimu. Aku masih dengan setia membuka akun facebookmu meskipun hanya dari akun facebookku. Karena kita tidak pernah saling bertukar password facebook kita. Saat itu aku hanya ingin melihat kau sedang apa, apa yang kau lakukan, apakah kau baik-baik saja. Selain itu aku juga masih sering menikmati indahnya kenangan mengenalmu dengan membaca ulang semua pesan yang kita kirim melalui akun facebook. Konyol memang! Tapi apakah aku bisa melakukan hal lain untuk menebus rindu ini selain hanya mengenang masa-masa indah kita? Berkenalan melalui facebook, bertemu, bercanda, hingga kau mencuri seluruh hati dan hidupku.
Suatu hari pernah, - aku benar-benar rindu kepadamu. Aku sangat ingin menikmati malam yang sejuk karena hujan yang sangat deras itu dengan mengenangmu. Malam itu, kuputuskan untuk membuka pesan facebook yang pernah kita kirimkan. Tapi tahukah kau bagaimana terkejutnya aku saat aku tidak mendapati namamu di daftar inboxku? Aku panik. Apakah sudah waktunya untukku benar-benar kehilanganmu? Mungkin juga iyaa. Karena saat kubuka akun facebookmu, barulah aku sadari bahwa kau telah menghapus akunku dari pertemanan facebookmu. Tidak hanya itu, aku juga menemukan satu akun yang mengomentari statusmu, dan dia memanggilmu dengan sebutan itu. - Sebutan  yang biasa kulakukan padamu, - dan kau – juga memanggilnya dengan sebutan yang sama dengan yang kau sebut padaku dulu! Tidakkah kau merasa bersalah saat itu ketika – ia – memanggilmu dengan sebutan yang dulu ku gunakan padamu? Tapi aku hanya terdiam, menangis, mendapati diriku benar-benar sudah kehilanganmu. Bahkan di depan mataku sendiri – saat ini. Apakah harus sesakit ini hanya karena aku yang lebih dulu mencintamu?
 
jika kau ingin tahu apakah saat ini aku sudah berhasil menyembuhkan luka itu? Belum. Belum sepenuhnya! Tapi kau tidak perlu merasa bersalah. Karena ini sama sekali bukan salahmu. Kenapa? Bukankah sudah kukatakan dari tadi, mungkin semua ini terjadi karena aku yang terlebih dulu mencintaimu.
Dan inginkah kau tahu? Bahwa malam ini aku sedang ingin merindukanmu. Mengenang kisah-kisah yang pernah kita lalui bersama. Tidak, hari ini tidak ada sakit dan air mata. Aku hanya ingin memberi sedikit ruang di hatiku untuk merindu tanpa cerita-cerita duka kita. Dengan membiasakan diri mengingatmu, aku akan belajar memaafkan diriku. Memaafkan waktu yang tak mengizinkan kita untuk bersama. Karena hanya dengan memaafkan, aku dapat kembali mengenangmu tanpa luka, tanpa air mata.
Dan kau, bisakah kau memaafkan aku karena telah lebih dulu mencintaimu???
Salam Rindu,
Dari : Seseorang yang lebih dulu mencintaimu.
Pekanbaru, 05 Juni 2014 : 23.30 WIB