Aku
Menyayangimu Tanpa Kata
Oleh : Ayy Dara
Dear
adikku,
Bagaimana
kabarmu? Apa maagmu masih sering kambuh? Dan bagaimana dengan amandelmu yang
terakhir kali kau ceritakan masih sangat menyakitkan? Ahh, bagaimanapun
keadaanmu, aku harap kau masih bisa tersenyum sekarang. Karena sungguh, hanya
itu yang bisa membuatku tenang.
Adikku,
Aku tahu
akan terasa aneh jika kau tahu aku menulis surat ini untukmu. Tapi kau sendiri tahu kan,
bahwa aku bukan seorang yang dengan mudah bercerita tentang perasaan. Kau
bahkan sangat tahu bahwa aku adalah orang yang tertutup. Karena itu sampai saat
ini aku masih saja sendiri –Hikz.., menyedihkan-. Ahh, mengapa aku jadi bercerita
tentang diriku. Kau juga tahu kan, bahwa aku seringkali tanpa sadar
menceritakan tentang diriku sendiri. Mungkin karena terlalu banyak yang aku
fikirkan, sedangkan aku tidak mempunyai orang untuk membaginya. Bukan, bukan
aku tidak percaya kepada orang lain. Hanya saja aku belum menemukan orang yang
bisa membuatku nyaman untuk menceritakan beban yang sedang membelenggu di hatiku.
Baiklah,
sepertinya aku semakin banyak menceritakan diriku sendiri. Mungkin karena kita
akhir-akhir ini sering mengobrol panjang tentang apapun, jadi aku mulai bisa
membagi apa yang aku rasakan padamu. –Ahh, mungkin saja-. Tapi bukan sekarang,
bukan disini. Lain kali aku akan menceritakannya.
Kembali
ke tujuanku menulis surat ini adikku,
Kau tahu
kan, bahwa tidak ada seorang kakakpun di dunia ini yang tidak menyayangi
adiknya –Ehm, mungkin juga ada-. Tapi aku sungguh sangat menyayangimu. Sangat-sangat
menyayangimu! Apa kali ini kau percaya?? Jangan karena aku tidak pernah
megatakannya, maka kau berfikir aku tidak menyayangimu. Aku malah sering
diam-diam merindukanmu. Tapi aku hanya merindukanmu tanpa bisa memberitahumu. Kenapa?
Kau kan sudah tahu bahwa aku tidak bisa mengatakan apapun tentang perasaan.
Termasuk rasa rindu ini.
Aku tahu,
dari kecil hubungan kita tidak penah baik. Bahkan tiga puluh hari dalam sebulan
tidak pernah satu haripun kita lewatkan untuk bertengkar. Tujuh hari dalam
seminggu, tidak pernah satu haripun kita lupa untuk saling menyakiti. Bahkan
dalam 24 jam sehari, pasti kita selalu menyempatkan waktu untuk saling bersitegang.
Benar-benar masa kecil yang buruk. Benar kan??? Untuk itu aku meminta maaf bila
selama ini aku banyak salah kepadamu. Tapi sepertinya kau yang lebih banyak
salah kepadaku! Hehe.
Karena
hal itu juga, mama dan papa kita memilih untuk memisahkan kita selama
bertahun-tahun. Agar kita tidak hobi bertengkar lagi. Tapi apa mau dikata,
sudah menjadi kebiasaan kita setiap bertemu seperti tom dan jery yang selalu
tidak akur. Apa kau ingat? Bahkan dulu kita sering bertengkar ketika papa
mengatakan bahwa kita ini seperti tom dan jery. Saat itu kita sama-sama memilih
untuk menjadi jery yang cerdik dan tidak ingin disamakan dengan tom yang malang.
Padahal setelah aku fikir-fikir, mereka berdua sama saja. Jika saat ini aku
disuruh memilih, aku tidak akan memilih keduanya. Bagaimana denganmu? Apa kau
masih memilih untuk disamakan dengan jery?
Ya sudah,
kita tinggalkan saja cerita tom dan jery. Bagaimana kalau kita menggantinya
dengan masha dan beruang?? Ohh, tidak tidak. Aku rasa itu bukan ide yang bagus.
Baiklah, kali ini kita benar-benar harus meninggalkan cerita tentang masa kecil
kita yang sangat berantakan itu.
Adikku,
sekarang aku dan kau sama-sama sudah tumbuh dewasa. Kau tidak keberatan kan
jika aku mengatakan bahwa 18 tahun itu sudah dewasa? Ahh, aku yakin kau tidak
keberatan. Bukankah sudah sangat banyak yang kau lalui dalam hidupmu. Aku rasa
semua itu cukup untuk menjadikanmu seorang yang dewasa. Bahkan mungkin sebelum
remaja-remaja seusiamu.
Mungkin
kisah hidupmu lebih menyedihkan dariku. Sungguh aku tidak bermaksud membuatmu
sedih. Hanya karena aku lebih tertutup dan pendiam, seringkali mereka
membandingkan aku lebih baik darimu. Sungguh aku tidak bermaksud begitu. Aku
benar-benar tidak merasa bangga ketika kau dimarahi dan disuruh meniru aku yang
tidak banyak bicara dan selalu menurut. Ketika aku mendengar itu semua, tahukah
kau apa yang aku fikirkan? Aku hanya tidak ingin kau membenciku. Aku tahu
bagaimana rasanya dibanding-bandingkan dengan orang lain dan itu benar-benar
dan sangat-sangat tidak enak. Tapi tenanglah, bagiku kau tetap adik yang
terbaik, -meskipun saat menulis ini aku perlu menghapusnya berkali-kali untuk
meyakinkan diriku bahwa kau benar-benar adik yang baik- Hehe,
Kau harus
tahu Adikkku,
Aku
mungkin bukanlah kakak yang sempurna. Aku juga bukanlah kakak yang terbaik di
seluruh dunia. Tapi aku selalu mencoba untuk melakukan yang terbaik. Apakah kau
ingat? Pernah dulu saat kau mengadu padaku tentang ini dan itu tapi aku hanya
diam? Saat itu aku menahan tangisku. Aku tidak mau kau tahu bahwa saat itu aku
menangis. –walaupun pada akhirnya kau tahu karena kau mendengar isakanku-. Aku
hanya bisa menyuruhmu sabar. Karena hanya itu yang bisa aku lakukan. Aku tidak
punya kekukatan untuk menghajar orang-orang yang telah menyakitimu. Tapi
setelah itu apakah kau tahu? Aku segera mengambil wudhu dan memohon kepada
Tuhan agar selalu menjagamu. Agar kau tidak lagi menangis. Agar kau tidak lagi
tersakiti. Agar kau tersenyum. Agar kau melewati hidupmu dengan mudah dan
bahagia. Tapi aku hanya meminta. Dan keputusan terakhir ada pada Dia.
Adikku,
Percayalah,
meskipun aku tidak pernah mengtakan apapun, tapi aku sangat menyayangimu. Berjanjilah
untuk baik-baik saja. Jangan sakit lagi! Karena aku tidak ingin melihatmu
sakit.
Dan satu
lagi adikku,
Aku ingin
memberitahu satu hal penting lagi kepadamu. Percayalah pada saat aku menulis
surat ini aku tidak sedang menangis. Aku baik-baik saja. Bahkan sangat baik.
Baiklah
adikku. Di kosku saat ini sudah menunjukkan pukul 23.10 WIB. Sudah saatnya aku
tidur karena besok aku harus bekerja. Jaga dirimu baik-baik. Jaga kesehatan,
jangan terlambat makan!
Oh iya,
aku hampir lupa. “Happy Birthday”. Semoga kau selalu mendapatkan yang terbaik
dalam hidupmu. Sukses di ujian nasionalmu nanti dan sampai bertemu di bulan Mey
tahun depan.
Wassalam.
Kakak
yang selalu menyayangimu tanpa kata. {{}}

Makasih kakak, Delvi sayang kakak sampai kapanpun{}
BalasHapus