Senin, 22 Desember 2014

Aku Menyayangimu Tanpa Kata


Aku Menyayangimu Tanpa Kata
Oleh : Ayy Dara

Dear adikku,
Bagaimana kabarmu? Apa maagmu masih sering kambuh? Dan bagaimana dengan amandelmu yang terakhir kali kau ceritakan masih sangat menyakitkan? Ahh, bagaimanapun keadaanmu, aku harap kau masih bisa tersenyum sekarang. Karena sungguh, hanya itu yang bisa membuatku tenang.

Adikku,
Aku tahu akan terasa aneh jika kau tahu aku menulis surat ini untukmu. Tapi kau sendiri tahu kan, bahwa aku bukan seorang yang dengan mudah bercerita tentang perasaan. Kau bahkan sangat tahu bahwa aku adalah orang yang tertutup. Karena itu sampai saat ini aku masih saja sendiri –Hikz.., menyedihkan-. Ahh, mengapa aku jadi bercerita tentang diriku. Kau juga tahu kan, bahwa aku seringkali tanpa sadar menceritakan tentang diriku sendiri. Mungkin karena terlalu banyak yang aku fikirkan, sedangkan aku tidak mempunyai orang untuk membaginya. Bukan, bukan aku tidak percaya kepada orang lain. Hanya saja aku belum menemukan orang yang bisa membuatku nyaman untuk menceritakan beban yang sedang membelenggu di hatiku.

Baiklah, sepertinya aku semakin banyak menceritakan diriku sendiri. Mungkin karena kita akhir-akhir ini sering mengobrol panjang tentang apapun, jadi aku mulai bisa membagi apa yang aku rasakan padamu. –Ahh, mungkin saja-. Tapi bukan sekarang, bukan disini. Lain kali aku akan menceritakannya.

Kembali ke tujuanku menulis surat ini adikku,
Kau tahu kan, bahwa tidak ada seorang kakakpun di dunia ini yang tidak menyayangi adiknya –Ehm, mungkin juga ada-. Tapi aku sungguh sangat menyayangimu. Sangat-sangat menyayangimu! Apa kali ini kau percaya?? Jangan karena aku tidak pernah megatakannya, maka kau berfikir aku tidak menyayangimu. Aku malah sering diam-diam merindukanmu. Tapi aku hanya merindukanmu tanpa bisa memberitahumu. Kenapa? Kau kan sudah tahu bahwa aku tidak bisa mengatakan apapun tentang perasaan. Termasuk rasa rindu ini.

Aku tahu, dari kecil hubungan kita tidak penah baik. Bahkan tiga puluh hari dalam sebulan tidak pernah satu haripun kita lewatkan untuk bertengkar. Tujuh hari dalam seminggu, tidak pernah satu haripun kita lupa untuk saling menyakiti. Bahkan dalam 24 jam sehari, pasti kita selalu menyempatkan waktu untuk saling bersitegang. Benar-benar masa kecil yang buruk. Benar kan??? Untuk itu aku meminta maaf bila selama ini aku banyak salah kepadamu. Tapi sepertinya kau yang lebih banyak salah kepadaku! Hehe.

Karena hal itu juga, mama dan papa kita memilih untuk memisahkan kita selama bertahun-tahun. Agar kita tidak hobi bertengkar lagi. Tapi apa mau dikata, sudah menjadi kebiasaan kita setiap bertemu seperti tom dan jery yang selalu tidak akur. Apa kau ingat? Bahkan dulu kita sering bertengkar ketika papa mengatakan bahwa kita ini seperti tom dan jery. Saat itu kita sama-sama memilih untuk menjadi jery yang cerdik dan tidak ingin disamakan dengan tom yang malang. Padahal setelah aku fikir-fikir, mereka berdua sama saja. Jika saat ini aku disuruh memilih, aku tidak akan memilih keduanya. Bagaimana denganmu? Apa kau masih memilih untuk disamakan dengan jery?

Ya sudah, kita tinggalkan saja cerita tom dan jery. Bagaimana kalau kita menggantinya dengan masha dan beruang?? Ohh, tidak tidak. Aku rasa itu bukan ide yang bagus. Baiklah, kali ini kita benar-benar harus meninggalkan cerita tentang masa kecil kita yang sangat berantakan itu.

Adikku, sekarang aku dan kau sama-sama sudah tumbuh dewasa. Kau tidak keberatan kan jika aku mengatakan bahwa 18 tahun itu sudah dewasa? Ahh, aku yakin kau tidak keberatan. Bukankah sudah sangat banyak yang kau lalui dalam hidupmu. Aku rasa semua itu cukup untuk menjadikanmu seorang yang dewasa. Bahkan mungkin sebelum remaja-remaja seusiamu.

Mungkin kisah hidupmu lebih menyedihkan dariku. Sungguh aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Hanya karena aku lebih tertutup dan pendiam, seringkali mereka membandingkan aku lebih baik darimu. Sungguh aku tidak bermaksud begitu. Aku benar-benar tidak merasa bangga ketika kau dimarahi dan disuruh meniru aku yang tidak banyak bicara dan selalu menurut. Ketika aku mendengar itu semua, tahukah kau apa yang aku fikirkan? Aku hanya tidak ingin kau membenciku. Aku tahu bagaimana rasanya dibanding-bandingkan dengan orang lain dan itu benar-benar dan sangat-sangat tidak enak. Tapi tenanglah, bagiku kau tetap adik yang terbaik, -meskipun saat menulis ini aku perlu menghapusnya berkali-kali untuk meyakinkan diriku bahwa kau benar-benar adik yang baik- Hehe,

Kau harus tahu Adikkku,
Aku mungkin bukanlah kakak yang sempurna. Aku juga bukanlah kakak yang terbaik di seluruh dunia. Tapi aku selalu mencoba untuk melakukan yang terbaik. Apakah kau ingat? Pernah dulu saat kau mengadu padaku tentang ini dan itu tapi aku hanya diam? Saat itu aku menahan tangisku. Aku tidak mau kau tahu bahwa saat itu aku menangis. –walaupun pada akhirnya kau tahu karena kau mendengar isakanku-. Aku hanya bisa menyuruhmu sabar. Karena hanya itu yang bisa aku lakukan. Aku tidak punya kekukatan untuk menghajar orang-orang yang telah menyakitimu. Tapi setelah itu apakah kau tahu? Aku segera mengambil wudhu dan memohon kepada Tuhan agar selalu menjagamu. Agar kau tidak lagi menangis. Agar kau tidak lagi tersakiti. Agar kau tersenyum. Agar kau melewati hidupmu dengan mudah dan bahagia. Tapi aku hanya meminta. Dan keputusan terakhir ada pada Dia.

Adikku,
Percayalah, meskipun aku tidak pernah mengtakan apapun, tapi aku sangat menyayangimu. Berjanjilah untuk baik-baik saja. Jangan sakit lagi! Karena aku tidak ingin melihatmu sakit.

Dan satu lagi adikku,
Aku ingin memberitahu satu hal penting lagi kepadamu. Percayalah pada saat aku menulis surat ini aku tidak sedang menangis. Aku baik-baik saja. Bahkan sangat baik.
Baiklah adikku. Di kosku saat ini sudah menunjukkan pukul 23.10 WIB. Sudah saatnya aku tidur karena besok aku harus bekerja. Jaga dirimu baik-baik. Jaga kesehatan, jangan terlambat makan!

Oh iya, aku hampir lupa. “Happy Birthday”. Semoga kau selalu mendapatkan yang terbaik dalam hidupmu. Sukses di ujian nasionalmu nanti dan sampai bertemu di bulan Mey tahun depan.

Wassalam.

Kakak yang selalu menyayangimu tanpa kata. {{}}

Sabtu, 06 Desember 2014

Bukan Untuk KIta


Bukan Untuk Kita
Oleh : Ayy Dara dan Randi K

Ia bersembunyi dalam ruang hati yang terdalam. Tak ada satu pun yang dapat melihatnya, bahkan aku pun tidak. Meski bayanganmu kerap hadir mengisi lamunan, namun aku segera menepisnya dengan tega dan membunuh segala angan yang tercipta secara tiba-tiba. Tapi tahukah kau, bahwa aku selalu kalah. Senyummu yang indah itu tetap muncul dan menampakkan diri semakin jelas di pelupuk mata. Ahh, tolong katakan apa yang harus aku lakukan?!

Kita, bahkan hingga memasuki hitungan semester ketiga di Universitas ini hanya saling mengetahui nama. Berjalan beriringan atau tertawa bersama, tentu belum pernah kita lakukan sebelumnya. Bagiku hanya dengan melihatmu tersenyum, itu sudah cukup untuk menjamin kebahagiaanku hari ini. Semudah itukah? Tentu saja tidak. Untuk melihatmu tersenyum aku harus melawan detak jantungku yang berdebar diluar batas wajarnya. Aku juga harus menahan garis-garis wajahku agar tidak ikut tersenyum saat melihatmu tersenyum. Aku sendiri tidak mengerti mengapa aku segugup itu. Memangnya mengapa jika aku juga tersenyum saat melihatmu tersenyum? Aku sendiri tidak yakin ada yang peduli dengan itu. Tapi beginilah aku, terlalu malu bahkan hanya untuk sekedar tersenyum kepadamu.

Bukan tidak pernah kita terlibat dalam kesempatan yang sebenarnya dapat kumanfaatkan untuk lebih dekat denganmu. Tapi entah mengapa gugup itu kembali menjelma. Mengukungku penuh kaku. Memelukku penuh ragu, apakah aku yang harus terlebih dulu menyapamu. Bukankah dengan melihat sikapku saja seharusnya kau dapat mengetahui isi hatiku yang selalu diselimuti rindu? Ahh, mengapa aku kini menyalahkanmu! Sudah jelas ini kesalahanku. Terlalu malu untuk mengakui rasa yang mulai kusadari. Rasa bahagia bila kau ada. Rasa semangat bila aku dapat melihatmu walau hanya sesaat.

Suatu hari aku mendengar kabar bahwa kampus kita akan mengadakan kunjungan ke salah satu kampus di provinsi tetangga kita. Pada awalnya aku tidak terlalu berminat untuk mengikuti acara tersebut. Aku terlalu sibuk memikirkan tugas akhirku yang belum kumulai sama sekali.

“Loh, Randi gak ikut?” Tanyamu waktu itu. Saat kita tidak sengaja bertemu ketika melihat papan pengumuman kampus.

Aku terdiam, - masih memperhatikan pengumuman yang tertempel disana. “Daftar Nama Peserta Study Tour 2012” Begitulah judul pengumuman yang sedang kubaca. Dan aku melihat namamu ada diantara 30 nama mahasiswa yang tercantum disana. - Marelia Aini, kulihat nama itu ada diurutan ke 21. “Kau akan pergi?” Bisikku pada diri sendiri.

“Randii...” Kali ini aku tersadar dari lamunanku. Kuputar tubuhku hingga kini posisi tubuh kita berhadapan.

“Yaa?” Hanya itu yang dapat kuucapkan ketika tatapan kita bertemu.

“Kamu gak ikut study tour yaa? Kenapa?” Kau mengulang pertanyaanmu sekali lagi.

“Ohh, tadinya aku malas ikut. Tapi sepertinya seru juga. Nanti aku akan daftar sama panitianya” Entah mengapa aku dapat berubah fikiran semudah itu. Bahkan aku tidak benar-benar berfikir dalam mengubah keputusanku. Aku hanya berfikir satu hal, mungkin dengan begini aku dapat semakin dekat denganmu. Menghabiskan beberapa hari bersama, mungkin akan menjadi kenangan terindah untukku. Ahh, tidak. Aku tidak akan membiarkan perjalanan itu hanya menjadi kenangan terindah untukku saja, tapi juga untukmu, - untuk kita.

Kulihat kau tersenyum, “Oke, jangan lama-lama daftarnya. Kalau gak salah pendaftaran terakhirnya besok loh!” Ucapmu sebelum kau berbalik dan meninggalkanku yang masih mematung ditempatku.

“Aku tidak akan membuang-buang waktu lagi Re...”

Segera kuraih ponsel yang kuletakkan di saku bajuku. Mencari kontak ketua panitia study tour itu dan menghubunginya. “An, aku daftar untuk acara study tour itu yaa! ” Kataku.

Segala hal yang dibutuhkan untuk acara study tour telah dipersiapkan. Tepat jam 8 pagi seluruh peserta study tour telah berkumpul di gerbang kampus. Satu unit bus ukuran besar telah terparkir tidak jauh dari tempatku berdiri. Diantara kerumunan peserta yang bersorak gembira menyambut keberangkatan ini, kulihat kau sedang sibuk menyusun barang bawaan ke bagasi bus.

“Sibuk yaa?” Tanyaku ketika aku telah berdiri disampingmu.

Kau menoleh lalu dua detik kemudian kulihat kau tersenyum. “Iya nih, anak-anak bawaannya banyak banget, padahal pergi cuma 3 hari, tapi sampai berkoper-koper gini” Ucapmu sambil menunjuk tumpukan koper yang tersusun di bagasi bus.

“Aku bantu yaa!” Tanpa menunggu persetujuanmu, aku mulai merapikan koper dan tas yang masih berserakan. Kudengar kau kembali mengomeli teman-teman kita yang membawa barang terlalu banyak, lalu kulihat kau tertawa.

Jam telah menunjukkan pukul 9, dan semua persiapan telah rampung. Semua peserta mulai menaiki bus. Kulihat ketua panitia memintamu untuk mengabsen peserta yang menaiki bus satu persatu.

“Udah lengkap?” Tanyaku saat semua telah masuk ke dalam bus.

“Ehh, Randi. Kok belum masuk?” Kau malah balik bertanya.

“Malas aja masuknya desak-desakan kayak tadi!” Aku berbohong. Tidak mungkin aku mengatakan hal yang sebenarnya bahwa aku belum masuk karena aku ingin menemanimu. Aku ingin masuk bersamamu dan berharap ada sepasang bangku kosong yang tersisa hingga kita dapat duduk bersama.

“Yaudah, masuk yuk! Cuma kita aja kayaknya lagi nih yang diluar!”

Kau menoleh kesekitar tempat kita berdiri, memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal. “Yaudah, yuk!” Jawabmu.

Aku mempersilahkanmu masuk terlebih dulu. Saat tiba didalam bus, kau memberikan absen peserta kepada ketua panitia. Kemudian kulihat kau berjalan beberapa langkah sebelum kau membalikkan tubuhmu, “Kita duduk disana aja yaa Ran! Teman-temanku yang cewek udah ada temannya semua” Kau memasang wajah yang memelas meminta persetujuanku. Sungguh, kau tidak perlu melakukan hal itu. Aku akan dengan senang hati memenuhi permintaanmu. Bukankah hal ini adalah harapanku sebelum masuk kedalam bus tadi?!

Kulihat kau memilih bangku di tepi jendela, “Gak dingin disitu?” Tanyaku.

“Gak kok. Aku suka lihat pemandangan kalau lagi jalan-jalan gini!” Jawabmu sambil tersenyum.

Sepanjang perjalanan kau sibuk membidik apa saja yang menurutmu bagus. Awan, matahari, gunung, rintik hujan, semuanya kau abadikan dalam kamera yang kau genggam. Kau juga banyak menanyakan hal-hal yang tidak kau ketahui tentang kota tujuan kita. Dengan sabar aku menjelaskan kepadamu seperti seorang tourguide yang sedang menemani pengunjungnya.

Setelah acara kunjungan ke kampus selesai, kita segera melesat menuju objek wisata yang terkenal di kota ini, - pantai. Kau terlihat sangat bahagia. Kau berlari, berteriak, menikmati indahnya pantai sore itu. Menyadari hal seperti ini mungkin tidak akan pernah terulang kembali.

Aku tidak percaya dengan waktu yang begitu cepat berlalu. Hari ini kita akan kembali, pulang dan melanjutkan kehidupan kita seperti biasa. Setelah membeli berbagai jenis buah tangan, bus membawa kita kembali ke kota yang telah tiga hari kita tinggalkan. Semua orang terlihat sangat lelah malam ini, - termasuk kau. Kau yang tertidur disampingku, merebahkan kepalamu dipundakku. Cukup lama aku hanya terdiam memandangi wajahmu. Wajah yang mungkin akan sangat aku rindukan setelah malam ini. Diam-diam kuminta waktu untuk berhenti. Kuharap Tuhan dapat memberiku waktu sedikit lagi untuk menghabiskan detik demi detik didekatmu, - bersamamu. Namun aku sadar, semua hanya tinggal harapan ketika aku harus turun di depan rumahku dan memperhatikan bus yang berlalu membawamu.

Sejak saat itu kita jarang bertemu, karena kau sibuk menyelesaikan tugas akhirmu. Kini aku merasakan kita semakin jauh. Jarak ini membuatku merasakan kehilangan, bahkan sebelum kau benar-benar kudapatkan. Kembali kusesalkan diriku sendiri, yang tak mampu menemukan kesempatan untuk jujur padamu. Jujur tenang hati ini, tentang rindu yang kini datang silih berganti. Juga tentang cinta yang telah lama bersemi. Aku tak dapat mengatakannya.

Hingga suatu hari aku mendengar dari salah seorang teman kita bahwa kau telah memiliki seorang yang kau cintai, - dan orang itu bukan aku. Aku tak tahu harus berbuat apa. Yang ingin aku lakukan hanyalah melupakan semua rasa ini dan mendoakan kau bahagia.

Setahun terlewati begitu saja. Tanpa disadari kini aku telah mencoba untuk kembali mencinta. Aku tidak ingin jatuh terlalu lama. Aku juga ingin merasakan bahagia, seperti yang selalu kubisikkan dalam doaku, semoga kau selalu diselimuti bahagia.

Suatu hari kita bertemu tanpa sengaja. Saat itu aku melihatmu berdiri di depan papan pengumuman kampus kita. Dimana kita pernah bertemu setahun yang lalu, sebelum kita melakukan perjalanan yang membuatku menyadari bahwa aku telah jatuh cinta, - padamu. Entah perasaan apa yang membuatku melangkahkan kaki mendekatimu. Kulihat papan itu kosong. Tidak ada selembar kertas pun yang tertempel disana. Namun mengapa kau terus menatapnya? Seakan ada yang sangat berarti terpajang disana, dan kau tidak ingin melewatkannya.

“Kamu baik-baik aja Re?” Tanyaku setelah berdiri tepat disampingmu.

Kau tersentak. Mungkin terkejut dengan kehadiranku yang tiba-tiba. Kemudian kulihat kau mengusap sudut matamu. Apakah kau habis menangis??

“Ngapain sendirian disini Re?” Tanyaku sekali lagi. Kali ini aku yang menatap papan kosong itu. Seakan ada yang aku rindukan disana. Yaa, mungkin aku memang merindukan sesuatu. Namun bukan yang tertempel disana. Aku merindukan suatu kenangan yang pernah terjadi disni - setahun yang lalu. Kulihat kau ingin membalikkan tubuhmu, namun dengan cepat tangan kananku meraih tangan kirimu dan membuat lengkahmu terhenti.

“Gak mau cerita sama aku?” Kupandangi wajahmu yang terlihat sangat lelah. Ada banyak beban yang tersimpan disana. Dan pemandangan itu membuatku sakit.

“Dia ninggalin aku Ran. Aku fikir dia yang terbaik buat aku. Ternyata aku salah!” Katamu pada akhirnya.

“Dia gak ngasih alasannya?”

“Mungkin karena dia tahu aku masih cinta sama kamu!” Aku terdiam, takut untuk menyimpulkan sendiri maksud kalimatmu. Kemudian kau mengangkat wajahmu membuat pandangan kita bertemu. “Kamu gak sadar yaa kalau selama ini aku sayang sama kamu?! Aku selalu nungguin kamu datang dan meminta aku untuk jadi seseorang yang spesial di hidup kamu! Aku capek Ran nunggu terlalu lama!” kau menyapu sudut matamu lalu kembali menundukkan wajah.

Aku hanya bisa terdiam, tidak tahu harus berbuat apa untuk menenangkanmu. Karena aku sendiri tidak tahu cara untuk menenangkan hatiku ketika Syani yang kufikir mencintaiku malah pergi meninggalkanku seminggu yang lalu karena dia tahu aku masih sering memikirkanmu. - Karena aku masih mencintaimu.

“Jadi apa yang harus kit.......”

“Maaf Ran, aku mau sendiri dulu!” Kau memotong kalimatku.

“Gak mau aku temenin juga?” Aku mulai merenggangkan pegangan tanganku, meskipun tak benar-benar melepaskannya.

Kau terdiam, - cukup lama. Hingga kulihat kau mengangguk kemudian menatapku. “Makasih Ran, tapi sekarang aku benar-benar ingin sendiri dulu! Aku ingin memikirkan apa yang harus aku lakukan dengan cinta ini. Tetap memeliharanya atau malah membunuhnya!”

Perlahan aku melepaskan tanganmu, mungkin juga sekali lagi - melepaskan dirimu.

Ada sakit yang tiba-tiba muncul kembali ketika menyadari bahwa selama ini kau juga merasakan hal yang sama denganku, - Kau juga mencintaiku. Tapi aku tidak dapat berbuat apa-apa saat ini selain memperhatikanmu yang semakin jauh meninggalkanku.

“Marelia, kamu harus tahu. Cinta itu adalah sebuah rasa yang lahir dari hati, maka biarkan ia tetap tumbuh dan hidup di dalam hati. Yaa hatimu, hatiku. Untukmu, untukku. Meski – Bukan Untuk Kita!”

* * *

Kamis, 04 Desember 2014

Super Heru




Super Heru
Oleh : Ayy Dara dan Delvi Al-Atas

Suasana menjadi riuh. Terlihat semua orang berlari untuk mencari tempat berlindung. Mereka saling menabrak satu sama lain untuk menyelamatkan diri. Berlari kemana saja mereka bisa berlari. Karena malam ini badai besar akan segera menyerang kota.

Langit telah menghitam sempurna. Tidak ada bintang apalagi cahaya bulan yang menerangi. – gelap, gulita. Angin mulai bertiup pelan. Dari utara ke selatan, dari barat ke timur. Namun beberapa saat kemudian angin semakin tidak beraturan. Ia berputar-putar tanpa arah dan tiba-tiba terdengar suara halilintar yang sangat keras. Disusul dengan sebuah cahaya menyilaukan yang berasal dari langit. Lalu cahaya itu jatuh di tepi hutan, - di pinggir kota.

 Dari balik kilatan cahaya tersebut muncullah dua orang – Laki-laki dan perempuan. Sejenak mereka hanya memperhatikan sisi-sisi di sekitar tempat mereka berdiri, lalu salah satu dari mereka melirik pada arloji di tangan kirinya. Arloji itu mengeluarkan cahaya berwarna hijau, dan itu berarti mereka telah tiba di tempat tujuannya, - Bumi tahun 711.

Mereka adalah manusia dari masa depan. Masa dimana teknologi semakin canggih. Di masa depan para profesor berhasil menemukan teknologi yang dapat menciptakan manusia. Seperti profesor lainnya, profesor Jimy juga telah menciptakan manusia, - Heru dan Yora. Karena itu mereka dikirim ke masa lalu untuk menjalani pengujian. Bila mereka berhasil melewati ujian tersebut, maka mereka dapat hidup menjadi manusia seutuhnya.

Sebelum berhasil melewati ujian yang dilakukan, manusia ciptaan hanya memiliki usia selama 2 tahun. Bila dalam waktu 2 tahun mereka dapat melewati ujian, maka mereka dapat hidup seperti manusia pada umumnya. Malah mereka dapat hidup lebih baik daripada manusia aslinya. Karena mereka adalah manusia yang sengaja diciptakan, maka profesor menciptakan mereka dengan sempurna. Fisik yang sempurna, serta kecerdasan diatas rata-rata manusia. Namun selama ini belum ada manusia ciptaan yang berhasil hidup. Mereka selalu gagal melewati masa ujian, dan akhirnya mati.

Profesor Jimy berfikir keras bagaimana cara agar manusia ciptaannya dapat melewati ujian tersebut. Lalu menjadi manusia ciptaan pertama yang mampu melewati ujian dan hidup sebagai manusia seutuhnya. Kemudian profesor Jimy menemukan suatu ide yang tidak pernah terfikirkan oleh profesor lain. “Mungkin selama ini manusia ciptaan tidak dapat melewati ujian karena ia diuji di zaman sekarang ini. Di saat zaman sudah sangat canggih. Segala hal dapat dilakukan dengan teknologi. Bagaimana jika aku mengirim manusia ciptaanku ke masa lalu. Masa dimana teknologi belum berkembang. Dan manusia ciptaanku akan menjadi manusia tercerdas pada masa itu. Dengan begitu bukankah ia dapat dengan mudah melewati ujiannya” Profesor tua itu bergumam. Kemudian ia mempersiapkan segala hal untuk mengirim Heru dan Yora ke masa lalu, dengan keyakinan bahwa idenya ini akan berjalan lancar.

Sebenarnya mudah saja. Untuk dapat lulus dari ujian itu, seluruh manusia ciptaan hanya perlu membuat sebuah sistem yang dapat membantu manusia. Dengan begitu profesor Jimy berharap dengan mengirim mereka ke masa lalu, itu berarti seharusnya mereka akan dapat melewati ujiannya dengan mudah. Karena ia telah melengkapi manusia ciptaannya dengan kecerdasan yang luar biasa. Meskipun begitu, ada larangan yang harus dipatuhi manusia ciptaan selama masa ujian ini berlangsung. Mereka dilarang jatuh cinta kepada manusia sesungguhnya. Jika mereka melanggar, maka hukuman yang harus mereka terima adalah usia mereka akan dipotong satu minggu setiap kali mereka jatuh cinta. Profesor Jimy tidak mungkin melupakan ini. Ia telah memikirkan segala kemungkinan terburuk yang mungkin saja terjadi. Untuk itu ia menciptakan Heru dan Yora berpasangan, agar manusia ciptaannya tidak akan jatuh cinta kepada manusia lain.

Keesokan harinya setelah Heru dan Yora tiba di masa lalu, semua kehidupan berjalan sebagaimana mestinya. Anak-anak dengan segaram mereka berangkat ke sekolah. Para ibu dengan keranjang di tangannya mulai berangkat ke pasar. Heru memperhatikan mereka dengan sangat teliti. “Mengapa mereka bersusah payah harus keluar rumah sepagi ini? Memenuhi jalanan hingga membuat macet disana-sini. Polusi dan suara berisik menghiasi pagi yang seharusnya dapat menyejukkan hati. Mungkin kita dapat memulai pekerjaan kita dari sini Yora!” Ucap Heru mantap. Yora yang sejak tadi berdiri disampingnya juga berfikir hal yang sama. Maka mulailah mereka merancang sistem untuk mengatasi permasalahan manusia saat itu.

Berbulan-bulan Heru dan Yora merakit sebuah sistem untuk kelulusan mereka. Kelulusan untuk menjadi manusia seutuhnya. Mereka sepakat untuk membuat satu alat yang dapat membantu para ibu dan anak-anak agar tidak perlu berdesakan setiap pagi untuk pergi ke pasar dan sekolah. Jika alat yang mereka ciptakan ini berhasil, berbelanja dan belajar dapat mereka lalukan kapan saja dari rumah mereka sendiri. Tidak perlu bangun pagi, turun ke jalanan, bersempit-sempitan di angkutan umum dan mencemari udara dengan polusi serta membuat kebisingan.

Satu tahun setelah itu alat tersebut berhasil mereka rakit. Mereka mendatangi pimpinan kota dan menyampaikan maksud serta tujuan mereka. Pimpinan kota menyambut penawaran mereka dengan senang hati. Ia tidak menyangka ada manusia secerdas Heru dan Yora. Mereka telah menciptakan alat bahkan ketika manusia lain belum memikirkannya. Hingga tibalah hari untuk meresmikan alat yang dirakit oleh Heru dan Yora.

Semua penduduk berkumpul untuk menyaksikan betapa hebatnya alat yang diciptakan Heru dan Yora. Setelah pimpinan kota memberikan sedikit sambutan, Heru dipersilahkan untuk memperkenalkan alat yang baru dirakitnya. Dengan penuh keyakinan Heru mempresentasikan alat tersebut di depan seluruh masyarakat kota. Kemudian masyarakat kota bertepuk tangan bukti kekaguman mereka pada Heru dan Yora. Beberapa dari mereka juga dengan gembira mengelu-elukan nama Heru dengan sebutan “Super Heru... Super Heru...”.Sebelum acara dibubarkan, pimpinan kota memberikan penghargaan kepada Heru dan Yora sebagai manusia super yang telah dianggap sebagai pahlawan bagi mereka.

Setiap warga secara bergantian menyalami Heru dan Yora sembari memberikan selamat atas penemuan hebat mereka. Namun Heru dan Yora tetap dengan rendah hati mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan bukanlah hal yang besar. Sudah seharusnya terjadi perubahan pada sistem yang ada selama ini.

Satu persatu warga meninggalkan tempat pertemuan. Mereka pulang ke rumah masing-masing dengan bahagia karena mulai besok mereka tidak perlu lagi melakukan rutinitas mereka yang melelahkan. Mulai sekarang semua dapat dilakukan hanya melalui satu alat yang diciptakan oleh Heru dan Yora. Mereka berduapun merasa bahagia dapat membantu masyaraat. Dan lebih dari itu, mereka bahagia karena itu berarti mereka telah melewati ujian dan mereka akan menjadi manusia seutuhnya. Saat hendak meninggalkan tempat pertemuan, Heru melihat seorang gadis berdiri tidak jauh darinya. Pandangan mereka saling bertemu untuk pertama kalinya. Gadis itu tersenyum dan Heru tahu bahwa senyumnya sangat manis. Yaa, senyum gadis itu sangat manis.

Heru menyadari telah terjadi sesuatu padanya karena arloji yang terpasang di tangan kirinya memancarkan sinar berwarna merah. Ia memperhatikan pesan yang disampaikan oleh arlojinya. Pesan itu berisi pemberitahuan bahwa usianya berkurang satu minggu. Dan itu berarti ia telah jatuh cinta, - pada gadis yang memiliki senyum indah itu.

Pada awalnya Heru tidak terlalu mengindahkan pesan tersebut. Ia segera mengirim pesan kepada profesor Jimy agar mempersiapkan segala sesuatu untuk kepulangannya dan Yora ke masa depan. Ia tidak sabar ingin menjadi manusia seutuhnya. Profesor Jimy yang menerima pesan Heru segera mempersiapkan segala hal untuk kembalinya Heru dan Yora. Serta mempersiapkan acara peresmian Heru dan Yora sebagai manusia ciptaan pertama yang berhasil melewati ujian.

Beberapa hari sebelum kembalinya mereka ke masa depan, Heru berjalan mengelilingi kota. Sekarang kota ini terlihat sangat rapi dan teratur. Tidak ada anak-anak yang berdesakan serta suara-suara berisik yang memekakkan. Semuanya damai, indah. Tiba-tiba Heru bertemu dengan gadis yang dilihatnya kemarin di pusat kota. Gadis itu tersenyum, dan arloji di tangan kirinya kembali memancarkan sinar berwarna merah serta mengirim pesan bahwa usianya berkurang satu minggu. Heru merutuk dalam hati. Ingin sekali ia benci pada gadis itu, tapi semakin ia membenci maka semakin ia ingin melihat wajahnya, - senyumannya.

Berkali-kali, setiap Heru bertemu dengan gadis itu dan melihat senyumnya arloji di tangan kirinya memancarkan sinar berwarna merah, dan mengirim pesan bahwa usianya telah berkurang satu minggu. Ia sendiri pun tidak mengerti apa yang terjadi padanya. Bagaimana mungkin ia jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama hingga membuat usianya semakin hari semakin berkurang. Dan tidak menutup kemungkinan ia bisa mati karena terus jatuh cinta pada gadis yang bahkan ia sendiri tidak tahu siapa namanya. Profesor Jimy mengetahui apa yang telah terjadi pada Heru. Ia berupaya dengan sekuat tenaga untuk segera membawa Heru dan Yora kembali ke masa depan sebelum usia Heru habis.

Ketika semua persiapan telah rampung, profesor Jimy mengirim pesan pada Heru dan Yora untuk segera bersiap karena dalam waktu 15 menit sistem akan membawa mereka kembali ke masa depan. Yora membaca pesan itu dan tersenyum. “Akhirnya aku bisa kembali”, bisiknya. Namun tiba-tiba ia teringat sesuatu. “Heru, dimana dia? Apakah ia pergi berjalan-jalan keluar? Bagaimana jika ia bertemu gadis itu lagi? Yaa Tuhan, bukankah usianya hanya tinggal 1 bulan!” Yora panik. Ia segera berlari mencari Heru. Ia tidak ingin terlambat. Ia herus segera menemukan Heru. Jika tidak Heru bisa saja mati karena persediaan usianya yang semakin berkurang.

Yora menemukan Heru di ujung jalan menuju taman kota. “Heruu, ayo! Sudah waktunya kita kembali ke masa depan!” Ucap Yora cepat sambil menahan langkah Heru.

“Aku tidak ingin kembali” Jawaban Heru tersebut membuat Yora terkejut.

“Apa maksudmu Heru? Kita harus kembali!” Yora mulai membentak.

“Akuuu..” Kata-kata itu terhenti. Pandangannya menembus jauh ke belakang tubuh Yora lalu jatuh tepat pada gadis yang sedang berdiri di seberang jalan.

Arloji di tangan kiri Heru kembali memancarkan sinar berwarna merah dan mengirim pesan bahwa usianya telah berkurang satu minggu. Tapi ia tidak peduli. Pandangannya masih tertuju pada gadis yang memiliki senyum indah, - gadis yang telah membuatnya jatuh cinta. Hingga pada akhirnya arloji yang berada di tangan kiri Yora memancarkan cahaya berwarna hijau, pertanda bahwa ia akan segera kembali ke masa depan. Bertepatan dengan itu, arloji di tangan kiri Heru memancarkan cahaya berwarna merah dan sebuah pesan bahwa usianya telah habis. Ia akan segera mati.

Yora segera berlari untuk menggapai tangan Heru. Namun sebelum ia berhasil, Heru telah terjatuh. Cahaya yang sejak tadi memancar dari arlojinya tiba-tiba padam. Ia telah mati, sebelum ia sempat kembali. Dan Yora, tiba-tiba ia menghilang. Kembali ke masa depan dan menjadi manusia ciptaan pertama yang berhasil melalui ujian. Seharusnya ia bahagia, tapi ia tidak bisa melupakan orang yang selama ini diam-diam dicintainya. Super Heru yang telah mati hanya karena ia jatuh cinta kepada manusia, - bukan kepadanya.

Setelah acara peresmian selesai, Profesor Jimy mendapati Yora melamun di sudut ruangan. Ketika Profesor hendak menanyakan apa yang terjadi padanya, Yora terlebih dulu berkata pada Profesor Jimy.

“Prof, dapatkah kau memciptakan Super Heru sekali lagi? Super Heru yang tidak akan jatuh cinta kepada siapapun kecuali padaku?”

Kamis, 13 November 2014

Mengikuti Angin 2



Mengikuti Angin
Oleh : Ayy Dara

Aku melihatnya duduk mematung dengan sebuah kue tart di hadapannya. Aku juga melihat nomor meja yang sedang ditempatinya, - nomor 13. Gadis itu. Pasti ia telah mempersiapkan ini semua. Memesan meja sesuai dengan tanggal lahirku, membawa kue dan lilin sesuai dengan usiaku, dan mengajakku untuk bertemu. Sejujurnya ku akui, ia adalah gadis yang sempurna. Memperlakukanku lebih dari yang aku inginkan. Membuat aku selalu merasa spesial, meski sering yang kulakukan padanya adalah sebaliknya.

Aku masih menatapnya, - dari tempat dimana ia tidak dapat melihat keberadaanku. Ia masih duduk dengan sabar dan pandangannya menerawang. Sesekali kulihat ia tersenyum, mungkin membayangkan pertemuan ini akan menjadi pertemuan yang indah dalam hidupnya.
Yaa, hampir satu tahun tidak saling menatap wajah sejujurnya membuatku rindu padanya. Ia yang selalu ingin aku lupakan, malah kerap hadir dan menjelma sebagai kenangan. Bukan aku tidak menyayanginya, karena tentu saja aku sayang. Ia adalah gadis terbaik yang pernah kutemui. Tapi entah mengapa aku tidak bisa menyatakan atau hanya sekedar memperlihatkan rasa sayangku padanya.

“Arya, bisakah kita bertemu besok jam 7 malam di kafe?” Begitulah kalimatnya saat menelfonku semalam. Sejujurnya aku ingin mengatakan “Ya” saat itu juga. Tapi yang terjadi sebaliknya. Aku mengatakan bahwa aku sangat sibuk hingga tidak mungkin datang untuk menemuinya.

“Tidak apa-apa kalau kau sibuk, aku akan menunggumu. Datanglah kesana jika kau sudah tidak sibuk lagi!” Yaa Tuhan. Dari apa hati gadis ini Engkau ciptakan? Aku sudah menolak ajakannya tapi dia akan tetap menungguku? Baiklah, maka malam ini akan kubuktikan kata-kata gadis itu.

Kulirik jam di tanganku, sudah menunjukkan pukul 11 malam dan gadis itu masih duduk di tempatnya. Dia masih setia menunggu kedatanganku. Sepertinya hampir satu tahun tidak bertemu dengannya, aku mulai melupakan satu hal bahwa dia adalah gadis yang nekat. Dia bisa saja duduk disana hingga pagi jika aku tak kunjung menemuinya. Karena itu sudah kuputuskan untuk menemuinya sebentar dan menyuruhnya pulang.

Ia masih melamun saat aku tiba didepannya. Cukup lama hingga ia menyadari kehadiranku. Wajahnya yang teduh dan matanya yang sayu tampak sangat lelah malam ini.

“Apa-apaan ini semua?” Aku bertanya pada gadis itu.

“Hahh?” Ia tampak berusaha mencari maksud dari pertanyaanku.

“Untuk apa kau mempersiapkan ini semua?”

“Aku hanya ingin merayakan ulang tahunmu. Itu saja!” Jawabnya dengan seulas senyum manis dibibirnya.

Aku bingung harus berbuat apa. Di satu sisi aku bahagia karena kejutan yang dipersiapkan oleh gadis yang tengah duduk di hadapanku ini. Tapi disisi lain, aku tidak ingin membuatnya kecewa. Entah sudah berapa banyak air mata yang ia tumpahkan selama aku mengenalnya. Dan yang lebih menyakitkanku adalah ia menangis karena kesalahanku.

Seperti dua tahun yang lalu saat aku dan ia bertemu di kampus kami. Hari itu sungguh aku dan ia dalam suasana hati yang baik pada awalnya. Kami saling bercerita dan bercanda seperti orang-orang pada umumnya. Tapi apa yang terjadi kemudian, aku membuat ia bersedih dan hampir menangis hanya karena aku tidak bisa memberikan kepastian tentang hubungan kami. Yaa, saat itu aku belum yakin aku bisa membahagiakannya dan sekarangpun begitu.

Setelah saling terdiam untuk beberapa saat, aku mulai memandangnya. Ia tertunduk, -melamun.

“Pulanglah Dara! Ini sudah malam.” Ucapku pada akhirnya. Kulihat ia sedikit terkejut dan segera mengambil korek api untuk menyalakan lilin berlambang 23 yang telah tertancap di atas kue ulang tahun itu.

“Happy Birthday to you.. Happy Birthday to you….” Aku mendengarkan gadis itu bernyanyi dengan suara yang sangat pelan. Mungkin ia lelah setelah seharian bekerja, lalu setengah malam ia habiskan untuk menunggu kehadiranku di tempat ini.

“Sekarang ayo make a wish dulu, sebelum tiup lilinnya!” Pintanya sambil tersenyum manja padaku.

“Tak perlu seperti ini, Dara!” Jawabku.

“Apanya?” Ia bertanya heran.

“Kita bukan anak ABG lagi yang ulang tahunnya harus dirayakan seperti ini! Kita sudah dewasa, jadi seharusnya……”

“Jadi seharusnya aku bagaimana? Diam saja melihat orang yang aku cintai mulai menjauh? Atau membiarkan kau benar-benar pergi jauh dan melupakan aku?” Gadis itu memotong kalimatku dan kulihat dari sudut matanya mulai mengalir dua tetes air mata yang dengan cepat segera dihapusnya.

“Bukan begitu Dara. Tapi…”

“Tapi apa?” Ia mengangkat wajahnya dan tatapan kami bertemu untuk pertama kalinya di malam ini. Sinar matanya memancarkan cahaya yang memilukan. Aku melihat ada rasa lelah yang teramat sangat di bola matanya. Dan kenyataan itu semakin membuatku merasa bersalah pada dirinya dan pada diriku sendiri.

“Aku merasa kita memang tidak akan pernah bisa bersama. Aku tidak bisa terus-menerus membuatmu bersedih seperti ini. Kau pantas untuk bahagia Dara” Kalimat itu mengalir begitu saja keluar dari bibirlku. Betapa menyesalnya aku ketika kulihat gadis itu benar-benar meneteskan air matanya, meski ia coba untuk menghapusnya beberapa kali.

“Kalau begitu, buatlah aku bahagia!” Ucapnya dengan tatapan penuh harap. Kini air matanya sudah memenuhi kedua pipi berlesung itu. Ingin sekali aku mengangkat tanganku dan menghapus air mata yang mengalir begitu deras di pipinya lalu berkata, “Kau tenang saja, mulai saat ini tidak akan kuizinkan pipi ini basah oleh air mata walau hanya setetes!”

Tapi lagi-lagi yang terjadi sebaliknya. Kuhindari tatapan gadis itu dan berkata, “Aku sudah berusaha, Dara. Selama dua tahun ini aku sudah berusaha membuatmu bahagia. Tapi aku tidak bisa. Seperti hari ini, aku kembali membuatmu menangis dan meneteskan air mata. Maafkan aku Dara!”

Mendengar jawabanku, tangis gadis itu semakin memilukan hatiku. Air matanya semakin deras mengalir. Disela isakan tangisnya ia berkata, “Lalu mengapa dulu kau hadir dikehidupanku? Membuatku membunuh cinta yang lain hanya untuk mempertahankanmu? Apa maksudmu saat kau mengatakan bahwa aku adalah awan dan kau adalah angin yang akan selalu mengarakku kemanapun kau pergi? Apa maksud dari semua itu?”

Kali ini aku yang dibuatnya terdiam. Kehabisan kata-kata untuk sekedar menjawab pertanyaannya.

“Jika begitu, berhentilah kau menjadi awan, agar kau tidak perlu lagi bergerak megikuti angin. Dan biarkanlah aku tetap menjadi angin, yang dapat pergi kemanapun aku ingin” Jawabku pada akhirnya yang satu detik setelah itu segera kusesali. Aku mulai memaki diriku sendiri yang terlihat sangat bodoh malam ini.

Kulirik gadis di depanku. Ia masih tertunduk, mungkin kaget dengan kata-kataku. Tapi kulihat air matanya masih terus mengalir. Kini suasana menjadi hening. Aku tidak bisa mendengar apapun. Bahkan isakan dari gadis yang hanya dipisahkan oleh sebuah meja didepanku, aku tidak bisa mendengarnya.

Perlahan aku bangkit dari tempat dudukku, namun gadis itu tetap mematung di tempatnya dan tidak bergerak sedikitpun. Kumulai melangkahkan kakiku menuju sebuah pintu besar di tengah ruangan. Dalam hati aku berharap gadis itu akan memanggilku. Jika benar begitu, maka sudah kuputuskan untuk menarik segala yang kukatakan padanya tadi. Jika benar ia memanggilku, aku akan segera berbalik dan berlari kepadanya. Jika semua itu terjadi, aku berjanji akan menggenggam tangannya dan menariknya kedalam dekapanku. Lalu akan kukatakan, “Maafkan aku. Lupakan saja semua kata-kataku tadi. Mulai saat ini kau hanya perlu mengingat satu hal, aku mencintaimu”.

Namun seperti yang terjadi sebelumnya, harapan dan kenyataan tetap saja berbeda. Hingga pintu besar itu berhasil kuraih, tidak kudengar suara gadis itu memanggilku. Ketika aku berbalik untuk melihatnya, ia masih berada pada posisinya semula, - menunduk, menangis.

Hampir satu jam aku duduk di sebuah bangku panjang di teras kafe. Merenungi betapa jahatnya aku pada gadis yang sangat mencintaiku itu hingga kulihat ia keluar dari kafe. Sepertinya ia sudah tidak menagis lagi. Dan kulihat ia hanya membawa sebuah tas tangan kecil di tangan kanannya. Aku memperhatikannya begitu lekat hingga ia berbelok dan hilang dari pandanganku.

Aku bangkit dari bangku panjang itu hendak pulang. Ketika aku melintasi pintu besar kafe, aku melihat kue dan sebuah box bersampul kertas berwarna biru masih berada di atas meja nomor 13. Akhirnya kuputuskan untuk masuk kedalam kafe dan segera menuju dua benda yang ditinggalkan Gadis itu. Kue tart yang tadinya begitu cantik kini terlihat menyedihkan. Terdapat bercak merah dan putih bekas lilin yang mencair di atas kue tersebut. Kemudian pandanganku beralih pada box biru disampingnya. Perlahan kubuka kertas pembungkus box dan aku menemukan sebuah syal rajutan bertuliskan “Dinda Sayang Kanda”. Mungkin ini adalah hasil rajutan gadis itu sendiri. Dan kenyataan itu semakin membuatku tersudut.

Setelah hampir setengah jam aku memperhatikan syal dan kue yang ada di meja itu silih berganti, akhirnya kuputuskan untuk membawa pulang keduanya.

“Terima kasih Dara, untuk semua yang telah kau berikan padaku selama ini, termasuk hadiah ulang tahun ini. Jika aku diberi satu kesempatan lagi untuk bertemu denganmu, maka dengan sepenuh hati akan kuminta kau untuk tetap menjadi awan, awan yang selalu mengikuti angin”