Bukan
Yang Istimewa, Tapi Yang Selalu Ada
Oleh : Ayy Dara
Suatu sore di sebuah
bangku taman kota, aku duduk sendiri, - mematung - . Memikirkan apa saja yang
ingin difikirkan oleh otakku. Masa kecilku, masa remajaku, kisah hidupku dua
tahun ini, atau hari-hari yang kulalui dua minggu belakangan ini, bahkan aku
juga memikirkan bagaimana bisa aku duduk disini, saat ini. Jawabannya,
entahlah. Sore ini
aku hanya berfikir tanpa tahu jawabannya.
“Ttrrrrr” ponsel yang
sejak tadi kugenggam bergetar. Ragil. Teman kuliahku dulu. “Ada apa anak ini
mengirim sms sore-sore gini?” bisikku pada diri sendiri. Dengan satu sentuhan,
pesan itu terbuka.
“Dara, maukah kamu
menjadi pacarku? Jika kamu mau, aku tunggu kamu di tempat kita biasa ketemu jam
7 malam ini yaa...” Darahku berdesis begitu kencang! Anak ini bilang apa?
Mengapa? Kenapa baru sekarang?? Lama kutatap layar ponsel yang menampilkan
pesan dari Ragil. Yaa, Ragil.
Dia adalah salah
seorang dari teman sekelasku dulu di kampus. Hubungan kami cukup dekat, bahkan
boleh dikatakan sangat dekat. Aku sudah menganggapnya lebih dari sahabatku
sendiri. Lebih?? Yaa, aku merasakan hatiku mulai mencintainya. Sejak aku, Ragil
dan teman-teman sekelasku mengadakan camping
pada semester akhir perkuliahan kami. Sejak itu aku merasakan ada yang berbeda.
Hatiku selalu mencari-cari keberadaannya. Bila tak melihatya sehari saja, aku
merasa duniaku tidak lengkap. Hidupku benar-benar terasa sangat bergantung
padanya, keberadaannya, senyumnya, semua tentangnya! Jika seperti itu
tanda-tanda orang jatuh cinta, maka berarti benar bahwa aku telah jatuh cinta
padanya.
Dan Ragil??! Pada
awalnya aku mengira bahwa dia juga merasakan hal yang sama denganku. Sikapnya
selalu baik, ramah, dan dia selalu membantuku jika aku meminta bantuannya.
Hingga saat ini dia tetap seperti itu, baik dan selalu membantuku. Namun
ternyata persahabatan sudah cukup baginya. Meskipun aku telah dengan terang-terangan
menunjukkan perasaanku padanya, tapi dia tetap tidak menanggapi. Dia tetap
seperti biasa, layaknya seorang sahabat kepada sahabatnya.
Aku mulai kecewa, - sedih
-. Tapi aku menerima. Tak mungkin juga memaksa dia untuk mencintaiku, meskipun
sejujurnya itu yang aku inginkan.
Setahun berlalu. Aku dan
Ragil masih menjadi teman dekat. Perlahan perasaan di hatiku mulai pudar
dimakan waktu. - Yaa.. paling tidak kukira begitu - Hingga suatu hari kudengar
bahwa dia sudah punya pacar. - Ragil sudah punya pacar! - Aku kembali sakit.
Ternyata aku salah. Perasaan itu belum benar-benar pudar, apalagi mati. Aku
tetap cemburu mendengar Ragil mencintai orang lain. Tapi kali ini aku memilih
untuk menyimpannya sendiri. Rasa sakitku, biar hanya aku yang tahu. Yang perlu
dia tahu adalah aku juga bahagia bila dia bahagia.
Dari hari ke hari aku sibuk
menata hatiku. Meskipun seringkali aku masih terbayangkan rasa sakit itu bila
dia memintaku untuk membantunya.
Hingga pada akhirnya dia lulus enam bulan setelah aku lulus.
Setelah itu kami
jarang bertemu, berkirim kabar pun jarang. Hanya sesekali kami saling
berkomentar di akun sosial media. Meskipun tak secara detail, tapi aku tahu
bahwa dia telah bahagia dengan pilihannya, maka itu sudah lebih dari cukup
membuatku juga bahagia.
Suatu hari Aku dan Ragil tidak sengaja saling
berbalas komentar di akun sosial media miliknya. Kulihat ada yang tidak biasa
dengannya. Dengan sedikit mamaksanya bercerita, akhirnya aku tahu bahwa dia dan
– pacarnya – sudah putus. Apakah aku senang? Yaa... – sedikit -. Tapi juga
kasihan dengannya. Ia terlihat sangat terpukul. Aku tak dapat berbuat apa-apa
selain mencoba menghiburnya. Memberinya semangat bahwa di dunia ini masih
banyak perempuan yang lebih baik darinya –contohnya aku-. Tapi saat itu dia
malah menjawab, “Tapi bagiku cuma dia yang terbaik, dia yang terindah, Dara”.
Ohh,, Tuhan.... apakah
semua orang yang putus cinta akan seperti itu fikirannya...
Sejak saat itu, aku
dan Ragil kembali dekat. Aku selalu ada untuknya jika dia membutuhkan seseorang
untuk berbagi cerita. Aku juga sering memberikannya motifasi untuk segera
melupakan mantan yang telah meninggalkannya begitu saja. Setidaknya aku
ingin membuktikan teori yang mengatakan bahwa yang terindah, yang istimewa,
dapat dikalahkan oleh yang selalu ada.
* * *
“Hayy, sayang! Maaf
yaa aku terlambat. Tadi ada urusan sebentar dengan bosku di kantor. Kamu udah lama?” Aku
mengangkat kepala. Sebuah suara yang beberapa hari ini mulai sering kudengar
membuyarkan lamunanku. Ketika mata kami saling bertemu, aku hanya bisa
tersenyum.
“Ohh iya.. Gak apa-apa
kan kalau aku panggil kamu sayang?” Tanyanya sekali lagi dengan wajah masih
tersenyum. Aku mengangkat satu telunjukku ke kepala, pura-pura berfikir keras.
Kemudian kulirik laki-laki yang kini telah duduk disampingku. Melihat aku yang
belum juga memberinya jawaban, dia mulai memasang wajah yang cemberut.
Melihat tingkahnya aku
tak bisa menahan tawa, “Iyaa... Boleh Alan sayang.... “ Jawabku akhirnya dan
membuat dia tersenyum kembali. Satu tangannya lalu mebelai kepalaku.
Alan. Laki-laki ini
baru aku kenal tiga minggu yang lalu melalui akun media sosialku. Meskipun baru
kenal, tapi aku tahu dia adalah laki-laki yang baik, bertanggung jawab, pekerja
keras, sayang pada keluarganya, dan dia juga sayang padaku. Bagaimana aku tahu?
Dia sendiri yang mengatakannya tiga hari yang lalu. Ketika aku menemaninya
mengunjungi sebuah pameran di salah satu tempat wisata di kota ini. Dan aku
telah menjawab “Iya” ketika dia bertanya apakah aku mau menjadi pacarnya. Hari
ini, adalah hari pertama kami bertemu setelah jadian. Kesibukan membuat kami
tidak punya banyak waktu untuk bertemu.
“Sayang, kamu
baik-baik aja kan? Kok ngelamun gitu?” Alan kembali bertanya, sekali lagi
membuyarkan lamunanku.
“Ahh, gak apa-apa kok
sayang” jawabku dengan sebuah senyum yang sedikit aku paksakan.
“Kamu marah karena aku
datangnya telat?” Kali ini Alan memasang wajah menyesalnya.
“Gak kok sayang. Aku
ngerti kamu sibuk. Kamu udah bisa datang aja aku senang. Jangan cemberut lagi
yaa! Mukanya jadi jelek kalau kamu cemberut!” Godaku sambil mencubit pipi
kirinya. Sekilas kilihat Alan tersenyum. Namun dengan cepat senyum itu hilang
dan berganti dengan wajah seriusnya.
“Kamu nyesal yaa
nerima aku jadi pacar kamu?”
Degg!! Aku terkejut
mendengar pertanyaan Alan. Karena aku sendiri juga tidak tahu apakah aku
menyesal atau tidak. Alan sangat baik padaku, dia selalu ada untukku, lalu apa
yang masih aku fikirkan? Apa ini ada kaitannya dengan sms dari Ragil tadi? Aku
masih bergelut dengan fikiranku sendiri.
“Sayang...” Terdengar
suara Alan, yang lagi-lagi berhasil mengusir lamunanku. Perlahan disentuhnya
bahuku, membuatku mengangkat kepala, membuat tatapan kami bertemu. “Kamu nyesal
kita jadian?” Ulangnya sekali lagi dengan nada suara yang semakin pelan. Namun
aku masih terdiam. Lidahku terlalu kaku bahkan hanya untuk mengelak dari
pertanyaannya.
Allahuakbar..
Allahuakbar... Terdengar suara Adzan maghrib dari salah satu Masjid yang
terletak tidak jauh dari taman tempat aku dan Alan saat ini duduk.
“Sayang, udah Adzan nihh,
kita shalat dulu yaa...” Pintaku padanya. Aku segera berdiri dan mulai menarik
tangannya. Kudengar Alan menghembuskan napas dengan berat, mungkin kecewa
karena aku tidak menjawab pertanyaannya. Setelah aku tersenyum padanya, Alan
lalu mengikutiku berdiri.
Aku dan Alan berjalan
beriringan menuju tempat Alan memarkirkan sepeda motornya. Dalam perjalanan
yang berjarak lebih kurang 200 meter itu aku dan Alan hanya diam, sibuk dengan
fikiran kami masing-masing. Beberapa kali kulihat Alan melirik kearahku, tapi
dia tidak mengatakan atau bertanya apapun. Mungkin dia juga tak tahu harus
berkata apa untuk mencairkan suasana ini.
Aku dan Alan
melaksanakan shalat maghrib di salah satu masjid terdekat dari taman itu.
Setelah shalat, kulirik jam yang terpasang di tangan kiriku - 18.40 WIB -. Dua
puluh menit lagi, Ragil akan menungguku. Apa yang harus aku lakukan? Sementara
diluar sana, Alan yang telah kupilih menjadi pacarku juga tengah menungguku.
Sejenak kupejamkan
mata, membayangkan dua laki-laki itu. Ragil adalah laki-laki yang baik, di
hatiku dia istimewa, dan aku masih – mencintainya -. Alan, dia adalah laki-laki
yang sederhana, dan selalu ada untukku. Dan dia – mencintaiku -. “Bukankah yang
istimewa dapat dikalahkan oleh yang selalu ada??!” Tiba-tiba sebuah kalimat
melintas dibenakkku. Yang istimewa akan dikalahkan oleh yang selalu ada!
Dengan cepat aku
mengeluarkan ponsel dari dalam tasku, mencari sebuah kontak dan menghubunginya.
“Maaf Dara, aku masih
di rumah. Sebentar lagi berangkat!” Terdengar suara Ragil di seberang sana.
“Ohh, baguslah kalau
kamu belum berangkat. Aku cuma mau bilang kalau aku gak bisa kesana malam ini.”
Jawabku.
“kenapa?” Tanya Ragil
was-was.
“Aku sudah ada janji
makan malam dengan - pacarku!”
“Kamu sudah punya
pacar?” Terdengar suara Ragil semakin pelan.
“Iya” jawabku singkat.
“Kapan?”
“Tiga hari yang lalu”
“Ohh, selamat yaa
Dara. Semoga kamu bahagia. Maaf kalau selama ini aku udah.....”
“Ehm, udah dulu yaa
Gil, pacarku udah nungguin aku di depan. Sampai ketemu lain waktu. Bye!” Aku
memotong kata-katanya. Karena aku tahu apa yang akan dia katakan. Aku tak mau
mendengar kata-katanya yang mungkin saja akan membuat hatiku kembali ragu dan
berpaling. Setelah memutuskan sambungan telfon, aku menonaktifkan ponselku dan
segera keluar.
Diluar, Alan sudah
menungguku. Duduk diatas motornya sambil melamun hingga dia tak menyadari
kedatanganku.
“Yukk...” Sapaku
ketika telah berdiri disampingnya.
Kulihat dia terkejut.
Menatapku, lalu dua detik kemudian dia tersenyum. “Mau makan dimana?” Tanyanya.
“Terserah aja, aku
ngikut!” Jawabku, masih berdiri disampingnya.
“Kebetulan aku tahu
tempat makan yang enak gak jauh dari sini. Kita makan disana aja, habis itu
kita langsung ke toko buku. Kamu jadi kan mau beli buku?” Jelas Alan.
“Iyaa, jadi”
“Kalau gitu kita berangkat
sekarang aja!” Alan mulai bergerak akan mengeluarkan motornya dari area parkir.
Ketika aku memegang lengannya yang terbungkus jaket.
“Tunggu” Ucapku.
Kemudian Alan menghentikan gerakannya dan memandangku penuh tanya.
“Aku, sayang sama
kamu. Aku cinta sama kamu. Aku gak nyesal nerima kamu jadi pacar aku. Aku
bahagia karena kita udah jadian!” Akhirnya kalimat itu keluar juga dari
mulutku, meski sedikit terbata-bata karena aku mengucapkannya sambil menahan
air mata.
Kulihat Alan sedikit
terkejut dengan pengakuanku yang tiba-tiba itu. Beberapa detik dia hanya
menatapku dengan mata teduhnya. Mungkin menyelidik kebenaran dari kedua mataku.
Kemudian kulihat Alan mengangkat tangan kanannya dan mengusap kepalaku, lalu
ujung mataku.
“Udah, jangan nangis!
Aku juga sayang dan cinta sama kamu” Alan mengusap air mataku yang mulai
menetes. Lalu dia memperhatikan penampilanku malam ini. Kulihat dia kembali
tersenyum sebelum membuka jaketnya dan memasangkannya kepadaku. “Kamu yaa, udah
tahu mau jalan malam, malah gak bawa jaket. Nanti sakit!” Dia mulai mengomeliku
lalu kemudian mencubit pipiku.
“Yuk, kita berangkat sekarang, nanti tempat makannya keburu tutup, atau kalau
gak tutup, makanannya keburu habis!” Katanya sambil tertawa. Sebelum menuntunku
untuk naik keboncengan sepeda motornya.
Sekarang hatiku puas.
Meskipun tidak mudah memilih antara mereka berdua. Antara yang istimewa dan
yang selalu ada. Tapi aku yakin, bagaimanapun kamu menganggap seseorang itu
istimewa, suatu hari nanti ia akan dikalahkan oleh seseorang yang selalu ada.
* * *

