Kamis, 28 Agustus 2014

Bukan Yang Istimewa, Tapi Yang Selalu Ada



Bukan Yang Istimewa, Tapi Yang Selalu Ada
Oleh : Ayy Dara

Suatu sore di sebuah bangku taman kota, aku duduk sendiri, - mematung - . Memikirkan apa saja yang ingin difikirkan oleh otakku. Masa kecilku, masa remajaku, kisah hidupku dua tahun ini, atau hari-hari yang kulalui dua minggu belakangan ini, bahkan aku juga memikirkan bagaimana bisa aku duduk disini, saat ini. Jawabannya, entahlah. Sore ini aku hanya berfikir tanpa tahu jawabannya.

“Ttrrrrr” ponsel yang sejak tadi kugenggam bergetar. Ragil. Teman kuliahku dulu. “Ada apa anak ini mengirim sms sore-sore gini?” bisikku pada diri sendiri. Dengan satu sentuhan, pesan itu terbuka.

“Dara, maukah kamu menjadi pacarku? Jika kamu mau, aku tunggu kamu di tempat kita biasa ketemu jam 7 malam ini yaa...” Darahku berdesis begitu kencang! Anak ini bilang apa? Mengapa? Kenapa baru sekarang?? Lama kutatap layar ponsel yang menampilkan pesan dari Ragil. Yaa, Ragil.

Dia adalah salah seorang dari teman sekelasku dulu di kampus. Hubungan kami cukup dekat, bahkan boleh dikatakan sangat dekat. Aku sudah menganggapnya lebih dari sahabatku sendiri. Lebih?? Yaa, aku merasakan hatiku mulai mencintainya. Sejak aku, Ragil dan teman-teman sekelasku mengadakan camping pada semester akhir perkuliahan kami. Sejak itu aku merasakan ada yang berbeda. Hatiku selalu mencari-cari keberadaannya. Bila tak melihatya sehari saja, aku merasa duniaku tidak lengkap. Hidupku benar-benar terasa sangat bergantung padanya, keberadaannya, senyumnya, semua tentangnya! Jika seperti itu tanda-tanda orang jatuh cinta, maka berarti benar bahwa aku telah jatuh cinta padanya.

Dan Ragil??! Pada awalnya aku mengira bahwa dia juga merasakan hal yang sama denganku. Sikapnya selalu baik, ramah, dan dia selalu membantuku jika aku meminta bantuannya. Hingga saat ini dia tetap seperti itu, baik dan selalu membantuku. Namun ternyata persahabatan sudah cukup baginya. Meskipun aku telah dengan terang-terangan menunjukkan perasaanku padanya, tapi dia tetap tidak menanggapi. Dia tetap seperti biasa, layaknya seorang sahabat kepada sahabatnya.

Aku mulai kecewa, - sedih -. Tapi aku menerima. Tak mungkin juga memaksa dia untuk mencintaiku, meskipun sejujurnya itu yang aku inginkan.

Setahun berlalu. Aku dan Ragil masih menjadi teman dekat. Perlahan perasaan di hatiku mulai pudar dimakan waktu. - Yaa.. paling tidak kukira begitu - Hingga suatu hari kudengar bahwa dia sudah punya pacar. - Ragil sudah punya pacar! - Aku kembali sakit. Ternyata aku salah. Perasaan itu belum benar-benar pudar, apalagi mati. Aku tetap cemburu mendengar Ragil mencintai orang lain. Tapi kali ini aku memilih untuk menyimpannya sendiri. Rasa sakitku, biar hanya aku yang tahu. Yang perlu dia tahu adalah aku juga bahagia bila dia bahagia.

Dari hari ke hari aku sibuk menata hatiku. Meskipun seringkali aku masih terbayangkan rasa sakit itu bila dia memintaku untuk membantunya. Hingga pada akhirnya dia lulus enam bulan setelah aku lulus.

Setelah itu kami jarang bertemu, berkirim kabar pun jarang. Hanya sesekali kami saling berkomentar di akun sosial media. Meskipun tak secara detail, tapi aku tahu bahwa dia telah bahagia dengan pilihannya, maka itu sudah lebih dari cukup membuatku juga bahagia.

Suatu hari Aku dan Ragil tidak sengaja saling berbalas komentar di akun sosial media miliknya. Kulihat ada yang tidak biasa dengannya. Dengan sedikit mamaksanya bercerita, akhirnya aku tahu bahwa dia dan – pacarnya – sudah putus. Apakah aku senang? Yaa... – sedikit -. Tapi juga kasihan dengannya. Ia terlihat sangat terpukul. Aku tak dapat berbuat apa-apa selain mencoba menghiburnya. Memberinya semangat bahwa di dunia ini masih banyak perempuan yang lebih baik darinya –contohnya aku-. Tapi saat itu dia malah menjawab, “Tapi bagiku cuma dia yang terbaik, dia yang terindah, Dara”.

Ohh,, Tuhan.... apakah semua orang yang putus cinta akan seperti itu fikirannya...

Sejak saat itu, aku dan Ragil kembali dekat. Aku selalu ada untuknya jika dia membutuhkan seseorang untuk berbagi cerita. Aku juga sering memberikannya motifasi untuk segera melupakan mantan yang telah meninggalkannya begitu saja. Setidaknya aku ingin membuktikan teori yang mengatakan bahwa yang terindah, yang istimewa, dapat dikalahkan oleh yang selalu ada.

*  *  * 

“Hayy, sayang! Maaf yaa aku terlambat. Tadi ada urusan sebentar dengan bosku di kantor. Kamu udah lama?” Aku mengangkat kepala. Sebuah suara yang beberapa hari ini mulai sering kudengar membuyarkan lamunanku. Ketika mata kami saling bertemu, aku hanya bisa tersenyum.

“Ohh iya.. Gak apa-apa kan kalau aku panggil kamu sayang?” Tanyanya sekali lagi dengan wajah masih tersenyum. Aku mengangkat satu telunjukku ke kepala, pura-pura berfikir keras. Kemudian kulirik laki-laki yang kini telah duduk disampingku. Melihat aku yang belum juga memberinya jawaban, dia mulai memasang wajah yang cemberut.

Melihat tingkahnya aku tak bisa menahan tawa, “Iyaa... Boleh Alan sayang.... “ Jawabku akhirnya dan membuat dia tersenyum kembali. Satu tangannya lalu mebelai kepalaku.

Alan. Laki-laki ini baru aku kenal tiga minggu yang lalu melalui akun media sosialku. Meskipun baru kenal, tapi aku tahu dia adalah laki-laki yang baik, bertanggung jawab, pekerja keras, sayang pada keluarganya, dan dia juga sayang padaku. Bagaimana aku tahu? Dia sendiri yang mengatakannya tiga hari yang lalu. Ketika aku menemaninya mengunjungi sebuah pameran di salah satu tempat wisata di kota ini. Dan aku telah menjawab “Iya” ketika dia bertanya apakah aku mau menjadi pacarnya. Hari ini, adalah hari pertama kami bertemu setelah jadian. Kesibukan membuat kami tidak punya banyak waktu untuk bertemu.

“Sayang, kamu baik-baik aja kan? Kok ngelamun gitu?” Alan kembali bertanya, sekali lagi membuyarkan lamunanku.

“Ahh, gak apa-apa kok sayang” jawabku dengan sebuah senyum yang sedikit aku paksakan.

“Kamu marah karena aku datangnya telat?” Kali ini Alan memasang wajah menyesalnya.

“Gak kok sayang. Aku ngerti kamu sibuk. Kamu udah bisa datang aja aku senang. Jangan cemberut lagi yaa! Mukanya jadi jelek kalau kamu cemberut!” Godaku sambil mencubit pipi kirinya. Sekilas kilihat Alan tersenyum. Namun dengan cepat senyum itu hilang dan berganti dengan wajah seriusnya.

“Kamu nyesal yaa nerima aku jadi pacar kamu?”

Degg!! Aku terkejut mendengar pertanyaan Alan. Karena aku sendiri juga tidak tahu apakah aku menyesal atau tidak. Alan sangat baik padaku, dia selalu ada untukku, lalu apa yang masih aku fikirkan? Apa ini ada kaitannya dengan sms dari Ragil tadi? Aku masih bergelut dengan fikiranku sendiri.

“Sayang...” Terdengar suara Alan, yang lagi-lagi berhasil mengusir lamunanku. Perlahan disentuhnya bahuku, membuatku mengangkat kepala, membuat tatapan kami bertemu. “Kamu nyesal kita jadian?” Ulangnya sekali lagi dengan nada suara yang semakin pelan. Namun aku masih terdiam. Lidahku terlalu kaku bahkan hanya untuk mengelak dari pertanyaannya.

Allahuakbar.. Allahuakbar... Terdengar suara Adzan maghrib dari salah satu Masjid yang terletak tidak jauh dari taman tempat aku dan Alan saat ini duduk.

“Sayang, udah Adzan nihh, kita shalat dulu yaa...” Pintaku padanya. Aku segera berdiri dan mulai menarik tangannya. Kudengar Alan menghembuskan napas dengan berat, mungkin kecewa karena aku tidak menjawab pertanyaannya. Setelah aku tersenyum padanya, Alan lalu mengikutiku berdiri.

Aku dan Alan berjalan beriringan menuju tempat Alan memarkirkan sepeda motornya. Dalam perjalanan yang berjarak lebih kurang 200 meter itu aku dan Alan hanya diam, sibuk dengan fikiran kami masing-masing. Beberapa kali kulihat Alan melirik kearahku, tapi dia tidak mengatakan atau bertanya apapun. Mungkin dia juga tak tahu harus berkata apa untuk mencairkan suasana ini.

Aku dan Alan melaksanakan shalat maghrib di salah satu masjid terdekat dari taman itu. Setelah shalat, kulirik jam yang terpasang di tangan kiriku - 18.40 WIB -. Dua puluh menit lagi, Ragil akan menungguku. Apa yang harus aku lakukan? Sementara diluar sana, Alan yang telah kupilih menjadi pacarku juga tengah menungguku.

Sejenak kupejamkan mata, membayangkan dua laki-laki itu. Ragil adalah laki-laki yang baik, di hatiku dia istimewa, dan aku masih – mencintainya -. Alan, dia adalah laki-laki yang sederhana, dan selalu ada untukku. Dan dia – mencintaiku -. “Bukankah yang istimewa dapat dikalahkan oleh yang selalu ada??!” Tiba-tiba sebuah kalimat melintas dibenakkku. Yang istimewa akan dikalahkan oleh yang selalu ada!

Dengan cepat aku mengeluarkan ponsel dari dalam tasku, mencari sebuah kontak dan menghubunginya.

“Maaf Dara, aku masih di rumah. Sebentar lagi berangkat!” Terdengar suara Ragil di seberang sana.

“Ohh, baguslah kalau kamu belum berangkat. Aku cuma mau bilang kalau aku gak bisa kesana malam ini.” Jawabku.

“kenapa?” Tanya Ragil was-was.

“Aku sudah ada janji makan malam dengan - pacarku!”

“Kamu sudah punya pacar?” Terdengar suara Ragil semakin pelan.

“Iya” jawabku singkat.

“Kapan?”

“Tiga hari yang lalu”

“Ohh, selamat yaa Dara. Semoga kamu bahagia. Maaf kalau selama ini aku udah.....”

“Ehm, udah dulu yaa Gil, pacarku udah nungguin aku di depan. Sampai ketemu lain waktu. Bye!” Aku memotong kata-katanya. Karena aku tahu apa yang akan dia katakan. Aku tak mau mendengar kata-katanya yang mungkin saja akan membuat hatiku kembali ragu dan berpaling. Setelah memutuskan sambungan telfon, aku menonaktifkan ponselku dan segera keluar.

Diluar, Alan sudah menungguku. Duduk diatas motornya sambil melamun hingga dia tak menyadari kedatanganku.

“Yukk...” Sapaku ketika telah berdiri disampingnya.

Kulihat dia terkejut. Menatapku, lalu dua detik kemudian dia tersenyum. “Mau makan dimana?” Tanyanya.

“Terserah aja, aku ngikut!” Jawabku, masih berdiri disampingnya.

“Kebetulan aku tahu tempat makan yang enak gak jauh dari sini. Kita makan disana aja, habis itu kita langsung ke toko buku. Kamu jadi kan mau beli buku?” Jelas Alan.

“Iyaa, jadi”

“Kalau gitu kita berangkat sekarang aja!” Alan mulai bergerak akan mengeluarkan motornya dari area parkir. Ketika aku memegang lengannya yang terbungkus jaket.

“Tunggu” Ucapku. Kemudian Alan menghentikan gerakannya dan memandangku penuh tanya.

“Aku, sayang sama kamu. Aku cinta sama kamu. Aku gak nyesal nerima kamu jadi pacar aku. Aku bahagia karena kita udah jadian!” Akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulutku, meski sedikit terbata-bata karena aku mengucapkannya sambil menahan air mata.

Kulihat Alan sedikit terkejut dengan pengakuanku yang tiba-tiba itu. Beberapa detik dia hanya menatapku dengan mata teduhnya. Mungkin menyelidik kebenaran dari kedua mataku. Kemudian kulihat Alan mengangkat tangan kanannya dan mengusap kepalaku, lalu ujung mataku.

“Udah, jangan nangis! Aku juga sayang dan cinta sama kamu” Alan mengusap air mataku yang mulai menetes. Lalu dia memperhatikan penampilanku malam ini. Kulihat dia kembali tersenyum sebelum membuka jaketnya dan memasangkannya kepadaku. “Kamu yaa, udah tahu mau jalan malam, malah gak bawa jaket. Nanti sakit!” Dia mulai mengomeliku lalu kemudian mencubit pipiku. “Yuk, kita berangkat sekarang, nanti tempat makannya keburu tutup, atau kalau gak tutup, makanannya keburu habis!” Katanya sambil tertawa. Sebelum menuntunku untuk naik keboncengan sepeda motornya.

Sekarang hatiku puas. Meskipun tidak mudah memilih antara mereka berdua. Antara yang istimewa dan yang selalu ada. Tapi aku yakin, bagaimanapun kamu menganggap seseorang itu istimewa, suatu hari nanti ia akan dikalahkan oleh seseorang yang selalu ada.

*  *  *

Sabtu, 09 Agustus 2014

A Sad Story In My Month, August









“A Sad Story In My Month, August”
Oleh : Ayy Dara

Masih dalam posisi setengah sadar, aku meraih ponsel yang kuletakkan di atas meja disamping tempat tidurku sebelum aku tidur dua jam yang lalu. Sakit di kepala ini hampir membuatku melewatkan kewajiban Maghribku kalau saja adikku yang nakal itu tidak berteriak-teriak membangunkanku untuk menunaikan shalat Maghrib. “Yaaa, terimakasih dek, sudah membangunkan kakak. Tapi gak harus gini juga caranya!”

Setelah ponsel berhasil kuraih, hal pertama yang kuliat adalah akun facebook. kulihat ada tiga notifikasi yang belum terbuka. Dengan satu sentuhan, terbukalah daftar dari notifikasi itu. Dari tiga notifikasi itu, mataku langsung tertuju pada salah satu notifikasi yang memuat fotomu. Yaa, salah satu dari teman kita telah menandai aku pada komentarnya, - di fotomu. Sedikit ragu aku membuka notifikasi itu. Tapi karena prosesnya lumayan lama, aku jadi teringat bahwa aku belum shalat Maghrib, jadi kuputuskan untuk shalat terlebih dahulu.

Tiga rakaat berlalu dengan cepat, - sangat cepat. Selain karena memang aku tidak sanggup berlama-lama berdiri karena sakit kepala ini, juga notifikasi facebook yang belum terbuka itu membuatku tanpa sadar memilih surat pendek - yang peling pendek - untuk kubaca dalam dua rakaat pertama Maghrib itu.

Masih dalam posisi berdiri, kembali kuraih ponselku. Kini layar ponselku dipenuhi oleh foto close up-mu sambil memegang selembar kertas. Perlahan kudekatkan ponsel itu ke wajahku berharap tulisan yang ada di kertas itu akan terlihat semakin jelas. - Tapi ternyata tidak -. Tulisannya tetap terlihat kabur. Jempolku mulai menggeser layar ponselku ke bawah agar komentar – komentar yang ada di foto itu terlihat. Namun tiba-tiba tubuhku kaku, saat kubaca komentarmu yang mengatakan bahwa besok jam 8 pagi kau akan berangkat ke seberang samudra untuk mengejar cita-citamu mengabdi di sebuah pondok pesantren kecil disana. Dan saat itu baru kusadari bahwa kertas yang kau pegang difoto itu adalah tiket pesawatmu.

Sebuah tetesan bening tiba-tiba saja jatuh membasahi mukenah yang masih terpasang di tubuhku. “Kau akan pergi? Tanpa memberitahu aku?” hatiku mulai membatin dengan perasaan iba yang teramat sangat. Aku memang pernah mendengar bahwa kau akan pergi mengejar cita-citamu ke sebuah pulau kecil di provinsi tetangga kita, tapi aku tidak menyangka bahwa semua akan terjadi secepat ini, di saat ini, ketika aku sudah mulai merasakan ada getaran lain di hatiku ketika aku didekatmu.

Aku benar-benar tidak menyangka kau akan meninggalkan aku setelah semua yang kita lewati dan – tanpa memberitahu aku?? Aku tidak mengerti mengapa kau tidak memberitahukan secara langsung kepadaku tentang kepergianmu ini. Apa ada yang salah dengan aku? Dengan kita??   Yaa, aku tidak akan mengatakan bahwa empat bulan yang telah kita lalui bersama ini adalah moment yang indah. Karena memang kita berdua lebih sering menghabiskan waktu dengan bertengkar daripada terlihat akrab. Tapi disitulah letak kesalahanku. Aku selalu berusaha membohongi hatiku sendiri dan membunuh perasaan yang mulai hadir diantara kita. Aku yang tak pernah jujur. Tentang hatiku, tentang kekagumanku kepadamu, tentang betapa tidak inginnya aku berpisah denganmu.

Kini aku sadar, cintaku sedang ada diujung tanduk. Terhitung tujuh jam dari sekarang kau akan benar-benar pergi, - untuk sementara, atau mungkin untuk selamanya. Aku kembali mengutuk diriku dalam sunyinya malam ini. Kini kudapati diriku benar-benar sendiri. Jangankan bulan dan bintang, binatang malam seperti jangkrik pun enggan menemaniku. Mungkin di suatu tempat persembunyiannya, dia sedang menertawaiku sebagai pecundang paling hebat di dunia karena sebentar lagi aku akan kehilangan separuh jiwaku, bahkan mungkin juga seluruh hidupku.

Tidak seperti bulan dan bintang yang bersembunyi menertawakanku semalam, pagi ini matahari terlihat sangat gagah memancarkan sinarnya. Sinar keangkuhan yang semakin membuatku merasa tersudut dan menjadi orang paling bodoh di dunia. Dengan congkak sang mentari berkata padaku “Hahaha... Lihat dirimu sekarang Dara... Bahkan untuk menahan waktu sementara kau mencari cara agar dia tetap disini saja kau tidak bisa! Kau sudah kalah Dara! Kalah oleh keegoisan dirimu sendiri! Dan sekarang terimalah hadiah terindah yang telah dipersiapkan Tuhan untukmu! Kebersamaan itu pilihan, tapi perpisahan ini adalah nyata Dara! Hahaha....” kupejamkan mata menghindari cemoohan sang mentari yang tanpa sadar telah kubenarkan di dalam hatiku. Memang benar ini adalah kesalahanku, - keegoisanku. Jadi aku berhak menerima hukuman ini, bahkan di hari ketiga sebelum hari ulang tahunku. Sudah dapat kupastikan, ini adalah ulang tahun terburuk dan kado yang tak kan terlupakan di sepanjang hidupku. Di ulang tahunku yang ke 22, hadiah yang harus kuterima adalah kehilangan seseorang bahkan sebelum ia benar-benar kumiliki. – Menyedihkan.

Aku sendiri tidak menyadari sudah berapa lama aku duduk mematung di tepi jendela seperti ini. Satu jam? Dua jam? Ahh, baru aku ingat. Aku sudah duduk disini sejak aku selesai melaksanakan shalat Subuhku tadi. Bahkan mukenah putih ini masih terpasang di tubuhku. Namun hatiku belum ingin beranjak dari tempat ini. Aku masih ingin menikmati pagi ini, disini, - seperti ini -. Aku tersentak ketika kudengar suara pesawat dengan sangat keras melintas di atas rumahku. Aku dapat melihat pesawat itu bergerak ke arah Tenggara. “Ohh, apakah itu???!” aku segera melompat mencari ponsel yang aku sendiri lupa meletakkannya dimana. Meja, tempat tidur, lemari, aku tidak menemukan benda kecil itu. “Dimana aku meletakkannya??!” Batinku mulai mungutuk diriku kembali, untuk kesekian kalinya.

Aku tertunduk, terduduk lesu disamping tempat tidurku. Samar-samar kulihat sebuah benda yang sangat kukenal berada tidak jauh dari tempat aku duduk. – Ponselku -. Aku meraihnya. Aku sedikit berfikir bagaimana benda ini bisa ada di lantai. Padahal selama ini aku sangat berhati-hati meletakkannya. “Ahh, mungkin ponsel ini terjatuh saat aku melamun sangat lama di tepi jendela tadi”. Perlahan kubuka kunci layar ponsel itu, terlihat fotoku yang kau ambil ketika kita melakukan perjalanan ke sebuah air terjun menjadi wallpapernya. Selain itu aku juga melihat empat buah angka yang menghiasi layar ponsel itu, 08.20. Tiba-tiba hatiku perih. Menyadari bahwa mulai saat ini aku akan benar-benar kehilanganmu, mungkin sementara, mungkin juga untuk selamanya. Lalu sebuah butiran bening jatuh membasahi mukenah putihku.

Dalam kekecauan fikiranku saat ini, sebuah kalimat yang sering kau ucapkan tiba-tiba melintas di ingatanku. Sebuah kalimat yang sering kau ucapkan sebelum kau menutup pintu ruangan kerjaku bila kau hendak pulang setelah puas mengangguku di kantor. “Ada yang tinggal gak yaa???” Dulu, setiap kali kau menyanyakan itu, aku selalu memberi jawaban “meskipun kau pergi, kau tetap akan meninggalkan jejakmu, bayanganmu, dan segala keusilanmu!” Namun mulai saat ini berhentilah menanyakan apakah jika kau pergi kau akan meninggalkan sesuatu, karena sesungguhnya kau tidak meninggalkan apapun. Bahkan kau telah membawa segalanya, - hatiku, hidupku -.