Rabu, 14 Februari 2018

Cinta Yang Buta




Cinta Yang Buta
Oleh : Ayy Dara

            Langit mendung. Awan hitam mulai berarak pelan-pelan. Seperinya sebantar lagi akan turun hujan. Dani terlihat sangat cemas. Satu tangannya ia letakkan di dahi sambil memijitnya, sementara satunya lagi tengah memegang ponsel yang ditempelkan di telinga kirinya.
            “Lana, tolong kasih tau aku sekarang Cinta ada dimana! Aku mohon!” Ucap Dani kepada seseorang di seberang sambungan telfon.
            “Baiklah. Aku akan kasih tahu kamu Cinta dimana. Tapi kamu harus janji, kamu Cuma lihat dia dari jauh aja. Dia sekarang sedang gak mau diganggu sama siapa-siapa. Termasuk kamu!” Jelas Lana.
            “Tapi alasannya apa Lana?”
            “Nanti kamu akan tahu sendiri alasannya Dan.” Jawab Lana sebelum menyebutkan nama sebuah rumah sakit yang ada di kota mereka.
* * *
            Dani segera menuju rumah sakit yang disebutkan Lana. Ia tidak ingin membuang waktu. Setelah ia kehilangan kabar Cinta selama tiga minggu terakhir, ia ingin segera melihat keadaan Cinta. Jujur saja Dani tidak mengerti apa yang terjadi. Jika Cinta yang dirawat di rumah sakit itu, sakit apa dia? Sehingga Cinta tidak ingin ditemui oleh siapapun? Bahkan oleh dirinya sekalipun.
            Dani berdiri di sebuah lorong panjang. Di depannya kini terlihat sebuah pintu ruang rawat dengan nomor 330 –Ruang rawat Cinta. Setidaknya itulah informasi yang didapatkannya di resepsionis rumah sakit ketika ia baru tiba tadi.
            Ruangan itu gelap. lampunya terlihat tidak menyala. Dani maju dua langkah mendekati pintu kamar untuk melihat isi kamar tersebut. Kamar itu sepi, -sunyi. Tidak ada siapapun yang dapat diilihat Dani kecuali seorang gadis yang duduk di atas kursi roda di depan jendela yang terbuka lebar. Meskipun posisi gadis itu memunggunginya, tapi Dani tahu gadis itu adalah Cinta ‘si mata indah’. Dani sangat mengenalnya. Rambut panjangnya. Lehernya yang jenjang. Pipinya yang tirus –Meski saat ini ia hanya dapat melihat pipi tirus itu ketika angin berhembus dan menyibak rambut Cinta.
            Entah berapa lama Dani berdiri di depan pintu dan memandangi Cinta yang hanya terdiam. Ia tidak bergerak sedikitpun dari posisinya semula. Sejujurnya hati kecil Dani ingin sekali berlari dan masuk ke kamar Cinta dan memeluknya. Lalu bertanya kemana ia selama ini. Tidak ada kabar. Tidak menjawab telfon. Tidak membalas pesan. Juga tentang pesannya kepada Lana untuk tidak ingin ditemui oleh siapapun, termasuk dirinya. Tapi Dani ingat akan janjinya kepada Lana, dan ia tidak mungkin mengingkarinya.
            Perlahan Dani mengambil ponsel di saku jaketnya dan menghubungi sebuah kontak yang ada di ponselnya sambil tetap memandangi Cinta dari balik pintu. Setelah nada tunggu terdengar tiga kali, Dani melihat Dara sedikit meraba-raba mengambil ponsel yang ada di atas meja disampingnya. Setelah menekan satu tombol, Cinta menempelkan ponselnya di telinga.
            “Cinta,” panggil Dani setelah ponsel tersambung.
            Beberapa saat hening. Cinta tidak menjawab sapaan Dani.
            “Cinta, kamu gak mau bicara sama aku?” Sekali lagi Dani bersuara.
            “Dani,” Hanya itu yang diucapkan Cinta.
            “Kamu ada dimana? Aku khawatir sudah tiga minggu ini kamu gak ada kabar” Dani berusaha menahan suaranya.
            “Aku baik-baik aja Dan. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu!”
            “Apa Cinta? Kamu mau kita ketemu dimana?” Jawab Dani penuh semangat.
            “Kita gak usah ketemu. Sekarang aja lewat telfon ini.” Jawab Cinta cepat.
            “Oh, oke. Kamu mau ngomong apa?” Tanya Dani.
            “Dani, tolong lupain aku. Mulai sekarang kamu gak usah cari aku lagi. Gak usah khawatirin aku lagi!” Ucap Cinta pelan.
            “Tapi kenapa Cinta? Salah aku apa?”
            “Kamu gak salah apa-apa Dani. Ini permintaan aku. Aku harap kamu ngerti. Aku mau sendiri.
            “Tapi Cinta,”
            “Please Dan. Penuhi permintaan aku. Dan sekarang aku sedang sibuk. Aku matiin telfonnya yaa. Kamu jaga diri baik-baik.” Cinta mematikan sambungan telfon.
            Ponsel Dani masih menempel di telinga. Ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Cinta meminta ia untuk melupakannya.
Sementara di hadapannya Cinta kembali mematung menghadap jendela. Tidak bergerak. Tidak terganggu sedikitpun meski kini angin mulai kencang bertiup. Dan Cinta tetap tidak tahu bahwa sedari tadi Dani memperhatikan dari balik pintu kamarnya.

---------------------------------------000---------------------------------------

            Kamar 330 itu terlihat gelap dan sunyi. Lampunya tidak menyala dan di kamar itu tidak ada siapapun selain Cinta. Tapi ia tidak peduli. Baginya sekarang gelap dan terang sama saja. Lagi pula ia lebih suka begini. Suasana yang sepi dapat menenangkan dirinya dari fikiran-fikiran buruk tentang hidupnya.
            Cinta sedang duduk di atas sebuah kursi roda di depan sebuah jendela besar yang terbuka lebar. Sore ini langit mendung. Sepertinya sebentar lagi akan hujan. Berkali-kali angin bertiup dan menyibak rambut panjangnya yang tergerai, tapi Cinta juga tidak peduli. Sekarang baginya pagi, siang, sore maupun malam sama saja. Panas, mendung, hujan dan meskipun badai sekalipun, baginya tidak ada beda. Yang ia tahu hanya satu. Ia akan tetap berada di kamar ini entah sampai kapan.
            Sebuah kecelakaan yang dialaminya tiga minggu lalu telah mengubah hidup Cinta. Kini senyum manis itu sudah tidak terlihat lagi. Pun tawa manja itu, sudah lama tidak ada. Bahkan terkadang Cinta sendiri lupa bagaimana cara membuka mata.
            Beberapa jam yang lalu Lana sahabatnya menelfon Cinta dan memberitahu bahwa Dani terus saja menanyakan bagaimana kabarnya. Ahh, Dani. Cinta tahu laki-laki itu pasti khawatir dengan keadaannya. Cinta belum mengabari Dani mengenai kecelakaan yang dialaminya. Cinta bingung. Ia tidak tahu harus mulai bercerita darimana. Ia tidak ingin Dani sedih melihat keadaannya saat ini.
“Biarlah dia tahu aku baik-baik aja Lana. Kamu jangan kasih tahu yang sebenarnya terjadi sama dia!” Cinta memohon kepada Lana dan Lana menyetujuinya.
Cinta kembali terisak memikirkan Dani dan dirinya. Ia ingin sekali menangis tapi tidak bisa. Semakin ia mencoba menangis, semakin sakit yang ia rasakan.
Tiba-tiba terdengar suara ponsel berdering. Cinta meraba-raba mencari ponsel yang diletakkan di atas meja disamping tempat duduknya. Tanpa melihat layar ponselnya, Cinta menjawab telfon tersebut.
“Cinta,” Terdengar seseorang memanggil namanya di seberang sambungan telfon. Suara itu terdengar seperti suara Dani. Tapi Cinta ragu, apakah suara itu memang milik Dani atau karena ia sedang memikirkan laki-laki itu maka ia berfikir bahwa yang menelfonnya ini adalah Dani.
            “Cinta, kamu gak mau bicara sama aku?” Kali ini Cinta sangat yakin bahwa suara itu benar-benar milik Dani.
            “Dani,” Hanya itu yang diucapkannya.
            “Kamu ada dimana? Aku khawatir sudah tiga minggu ini kamu gak ada kabar” mendengar kata-kata Dani membuat hati nya perih.
            “Aku baik-baik aja Dan. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu!” Cinta berkata pelan sembari mengatur nafasnya.
            “Apa Cinta? Kamu mau kita ketemu dimana?” Jawab Dani penuh semangat.
            “Kita gak usah ketemu. Sekarang aja lewat telfon ini.” Jawab Cinta cepat.
            “Oh, oke. Kamu mau ngomong apa?” Tanya Dani.
            “Dani, tolong lupain aku. Mulai sekarang kamu gak usah cari aku lagi. Gak usah khawatirin aku lagi!” Ucap Cinta pelan.
            “Tapi kenapa Cinta? Salah aku apa?”
            “Kamu gak salah apa-apa Dani. Ini permintaan aku. Aku harap kamu ngerti. Aku mau sendiri.”
            “Tapi Cinta,” suara Dani terdengar panik.
            “Please Dan. Penuhi permintaan aku. Dan sekarang aku sedang sibuk. Aku matiin telfonnya yaa. Kamu jaga diri baik-baik.” Cinta mematikan sambungan telfon dan menutup mulutnya dengan kedua tangan menahan tangis.
            Cinta benar-benar ingin menangis saat ini. Ia sendiri tidak pernah membayangkan dirinya akan mengucapkan kalimat-kalimat itu kepada Dani, seseorang yang sangat dicintainya.
            Cinta masih mematung. Kedua tangannya perlahan mengusap pipinya yang mulai dingin karena angin yang bertiup semakin kencang. Kemudian kedua tangan itu bergerak keatas menyentuh kedua matanya yang kini ditutupi perban. Sudah tiga minggu mata Cinta tertutup perban dan tidak bisa melihat apapun. Kecelakaan itu telah merusak kedua matanya. Membuat dunia Cinta menjadi gelap.
            “Maafin aku Dani. Aku bukan Cinta yang dulu lagi. Aku bukan Cinta ‘si mata indah’. Sekarang aku buta Dani,” Ucap Cinta pelan sambil memegangi kedua matanya.
            Sore itu Cinta menangis sendirian di kamarnya di rumah sakit. Ia menangis mengingat Dani dan juga menangis menahan sakit di kedua matanya. Tidak ada yang tahu Cinta menangis sore itu. Bahkan Dani pun tidak.
* * *