Cinta Yang Buta
Oleh : Ayy Dara
Langit mendung. Awan
hitam mulai berarak pelan-pelan. Seperinya sebantar lagi akan turun hujan. Dani
terlihat sangat cemas. Satu tangannya ia letakkan di dahi sambil memijitnya,
sementara satunya lagi tengah memegang ponsel yang ditempelkan di telinga
kirinya.
“Lana, tolong
kasih tau aku sekarang Cinta ada dimana! Aku mohon!” Ucap Dani kepada seseorang
di seberang sambungan telfon.
“Baiklah. Aku
akan kasih tahu kamu Cinta dimana. Tapi kamu harus janji, kamu Cuma lihat dia
dari jauh aja. Dia sekarang sedang gak mau diganggu sama siapa-siapa. Termasuk kamu!”
Jelas Lana.
“Tapi alasannya
apa Lana?”
“Nanti kamu akan
tahu sendiri alasannya Dan.” Jawab Lana sebelum menyebutkan nama sebuah rumah
sakit yang ada di kota mereka.
* * *
Dani segera menuju
rumah sakit yang disebutkan Lana. Ia tidak ingin membuang waktu. Setelah ia
kehilangan kabar Cinta selama tiga minggu terakhir, ia ingin segera melihat
keadaan Cinta. Jujur saja Dani tidak mengerti apa yang terjadi. Jika Cinta yang
dirawat di rumah sakit itu, sakit apa dia? Sehingga Cinta tidak ingin ditemui
oleh siapapun? Bahkan oleh dirinya sekalipun.
Dani berdiri di
sebuah lorong panjang. Di depannya kini terlihat sebuah pintu ruang rawat
dengan nomor 330 –Ruang rawat Cinta. Setidaknya itulah informasi yang didapatkannya
di resepsionis rumah sakit ketika ia baru tiba tadi.
Ruangan itu
gelap. lampunya terlihat tidak menyala. Dani maju dua langkah mendekati pintu
kamar untuk melihat isi kamar tersebut. Kamar itu sepi, -sunyi. Tidak ada siapapun
yang dapat diilihat Dani kecuali seorang gadis yang duduk di atas kursi roda di
depan jendela yang terbuka lebar. Meskipun posisi gadis itu memunggunginya,
tapi Dani tahu gadis itu adalah Cinta ‘si mata indah’. Dani sangat mengenalnya.
Rambut panjangnya. Lehernya yang jenjang. Pipinya yang tirus –Meski saat ini ia
hanya dapat melihat pipi tirus itu ketika angin berhembus dan menyibak rambut
Cinta.
Entah berapa lama
Dani berdiri di depan pintu dan memandangi Cinta yang hanya terdiam. Ia tidak
bergerak sedikitpun dari posisinya semula. Sejujurnya hati kecil Dani ingin sekali
berlari dan masuk ke kamar Cinta dan memeluknya. Lalu bertanya kemana ia selama
ini. Tidak ada kabar. Tidak menjawab telfon. Tidak membalas pesan. Juga tentang
pesannya kepada Lana untuk tidak ingin ditemui oleh siapapun, termasuk dirinya.
Tapi Dani ingat akan janjinya kepada Lana, dan ia tidak mungkin mengingkarinya.
Perlahan Dani
mengambil ponsel di saku jaketnya dan menghubungi sebuah kontak yang ada di
ponselnya sambil tetap memandangi Cinta dari balik pintu. Setelah nada tunggu
terdengar tiga kali, Dani melihat Dara sedikit meraba-raba mengambil ponsel
yang ada di atas meja disampingnya. Setelah menekan satu tombol, Cinta
menempelkan ponselnya di telinga.
“Cinta,” panggil
Dani setelah ponsel tersambung.
Beberapa saat
hening. Cinta tidak menjawab sapaan Dani.
“Cinta, kamu gak
mau bicara sama aku?” Sekali lagi Dani bersuara.
“Dani,” Hanya itu
yang diucapkan Cinta.
“Kamu ada dimana?
Aku khawatir sudah tiga minggu ini kamu gak ada kabar” Dani berusaha menahan
suaranya.
“Aku baik-baik
aja Dan. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu!”
“Apa Cinta? Kamu
mau kita ketemu dimana?” Jawab Dani penuh semangat.
“Kita gak usah
ketemu. Sekarang aja lewat telfon ini.” Jawab Cinta cepat.
“Oh, oke. Kamu mau
ngomong apa?” Tanya Dani.
“Dani, tolong
lupain aku. Mulai sekarang kamu gak usah cari aku lagi. Gak usah khawatirin aku
lagi!” Ucap Cinta pelan.
“Tapi kenapa
Cinta? Salah aku apa?”
“Kamu gak salah
apa-apa Dani. Ini permintaan aku. Aku harap kamu ngerti. Aku mau sendiri.
“Tapi Cinta,”
“Please Dan. Penuhi
permintaan aku. Dan sekarang aku sedang sibuk. Aku matiin telfonnya yaa. Kamu jaga
diri baik-baik.” Cinta mematikan sambungan telfon.
Ponsel Dani masih
menempel di telinga. Ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja
didengarnya. Cinta meminta ia untuk melupakannya.
Sementara di hadapannya Cinta kembali
mematung menghadap jendela. Tidak bergerak. Tidak terganggu sedikitpun meski
kini angin mulai kencang bertiup. Dan Cinta tetap tidak tahu bahwa sedari tadi
Dani memperhatikan dari balik pintu kamarnya.
---------------------------------------000---------------------------------------
Kamar 330 itu
terlihat gelap dan sunyi. Lampunya tidak menyala dan di kamar itu tidak ada
siapapun selain Cinta. Tapi ia tidak peduli. Baginya sekarang gelap dan terang
sama saja. Lagi pula ia lebih suka begini. Suasana yang sepi dapat menenangkan
dirinya dari fikiran-fikiran buruk tentang hidupnya.
Cinta sedang
duduk di atas sebuah kursi roda di depan sebuah jendela besar yang terbuka
lebar. Sore ini langit mendung. Sepertinya sebentar lagi akan hujan. Berkali-kali
angin bertiup dan menyibak rambut panjangnya yang tergerai, tapi Cinta juga
tidak peduli. Sekarang baginya pagi, siang, sore maupun malam sama saja. Panas,
mendung, hujan dan meskipun badai sekalipun, baginya tidak ada beda. Yang ia
tahu hanya satu. Ia akan tetap berada di kamar ini entah sampai kapan.
Sebuah kecelakaan
yang dialaminya tiga minggu lalu telah mengubah hidup Cinta. Kini senyum manis
itu sudah tidak terlihat lagi. Pun tawa manja itu, sudah lama tidak ada. Bahkan
terkadang Cinta sendiri lupa bagaimana cara membuka mata.
Beberapa jam yang
lalu Lana sahabatnya menelfon Cinta dan memberitahu bahwa Dani terus saja
menanyakan bagaimana kabarnya. Ahh, Dani. Cinta tahu laki-laki itu pasti
khawatir dengan keadaannya. Cinta belum mengabari Dani mengenai kecelakaan yang
dialaminya. Cinta bingung. Ia tidak tahu harus mulai bercerita darimana. Ia tidak
ingin Dani sedih melihat keadaannya saat ini.
“Biarlah dia tahu aku baik-baik
aja Lana. Kamu jangan kasih tahu yang sebenarnya terjadi sama dia!” Cinta
memohon kepada Lana dan Lana menyetujuinya.
Cinta kembali terisak memikirkan
Dani dan dirinya. Ia ingin sekali menangis tapi tidak bisa. Semakin ia mencoba
menangis, semakin sakit yang ia rasakan.
Tiba-tiba terdengar suara ponsel berdering.
Cinta meraba-raba mencari ponsel yang diletakkan di atas meja disamping tempat
duduknya. Tanpa melihat layar ponselnya, Cinta menjawab telfon tersebut.
“Cinta,” Terdengar seseorang
memanggil namanya di seberang sambungan telfon. Suara itu terdengar seperti
suara Dani. Tapi Cinta ragu, apakah suara itu memang milik Dani atau karena ia
sedang memikirkan laki-laki itu maka ia berfikir bahwa yang menelfonnya ini
adalah Dani.
“Cinta, kamu gak
mau bicara sama aku?” Kali ini Cinta sangat yakin bahwa suara itu benar-benar
milik Dani.
“Dani,” Hanya itu
yang diucapkannya.
“Kamu ada dimana?
Aku khawatir sudah tiga minggu ini kamu gak ada kabar” mendengar kata-kata Dani
membuat hati nya perih.
“Aku baik-baik
aja Dan. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu!” Cinta berkata pelan sembari
mengatur nafasnya.
“Apa Cinta? Kamu
mau kita ketemu dimana?” Jawab Dani penuh semangat.
“Kita gak usah
ketemu. Sekarang aja lewat telfon ini.” Jawab Cinta cepat.
“Oh, oke. Kamu mau
ngomong apa?” Tanya Dani.
“Dani, tolong
lupain aku. Mulai sekarang kamu gak usah cari aku lagi. Gak usah khawatirin aku
lagi!” Ucap Cinta pelan.
“Tapi kenapa
Cinta? Salah aku apa?”
“Kamu gak salah
apa-apa Dani. Ini permintaan aku. Aku harap kamu ngerti. Aku mau sendiri.”
“Tapi Cinta,”
suara Dani terdengar panik.
“Please Dan. Penuhi
permintaan aku. Dan sekarang aku sedang sibuk. Aku matiin telfonnya yaa. Kamu jaga
diri baik-baik.” Cinta mematikan sambungan telfon dan menutup mulutnya dengan
kedua tangan menahan tangis.
Cinta benar-benar
ingin menangis saat ini. Ia sendiri tidak pernah membayangkan dirinya akan
mengucapkan kalimat-kalimat itu kepada Dani, seseorang yang sangat dicintainya.
Cinta masih
mematung. Kedua tangannya perlahan mengusap pipinya yang mulai dingin karena
angin yang bertiup semakin kencang. Kemudian kedua tangan itu bergerak keatas
menyentuh kedua matanya yang kini ditutupi perban. Sudah tiga minggu mata Cinta
tertutup perban dan tidak bisa melihat apapun. Kecelakaan itu telah merusak
kedua matanya. Membuat dunia Cinta menjadi gelap.
“Maafin aku Dani.
Aku bukan Cinta yang dulu lagi. Aku bukan Cinta ‘si mata indah’. Sekarang aku
buta Dani,” Ucap Cinta pelan sambil memegangi kedua matanya.
Sore itu Cinta
menangis sendirian di kamarnya di rumah sakit. Ia menangis mengingat Dani dan juga
menangis menahan sakit di kedua matanya. Tidak ada yang tahu Cinta menangis
sore itu. Bahkan Dani pun tidak.
* * *
