Rabu, 18 Februari 2015

Rasa Yang Tertinggal


Rasa Yang Tertinggal
Oleh : Ayy Dara

Tahukah kau apa yang paling tega di dunia ini?
Penjahat? Bukan. Perampok? Bukan. Ibu tiri? Bukan.
Yang paling tega di dunia ini adalah waktu. Tahukah kau mengapa? Karena ia akan tetap berjalan, meskipun kau berteriak padanya untuk berhenti. Ia akan terus berlari, walaupun kau memohon padanya untuk kembali. Karena waktu, ada sebuah harapan yang harus terkubur sebelum ia benar-benar tumbuh. Dan karena waktu, ada sebuah rasa yang terpaksa harus tertinggal di masa lalu.
* * *
Langit mulai menurunkan butir-butir rahmatnya secara perlahan. Mendung yang sedari dari menggelayut manja mungkin sudah tidak tahan untuk menumpahkan beban yang sejak petang tadi dipikulnya. Tetes demi tetes gerimis jatuh membasuh jalanan yang tidak begitu ramai di hadapanku.
Tetesan hujan yang jatuh membentuk bulatan-bulatan bergelembung di depan cafe berhasil mencuri perhatianku. Kupandangi gelembung itu lamat-lamat. Entah apa yang menarik, tapi bagiku pemandangan itu sangat indah. Perlahan kuusap kaca besar yang memisahkan aku dengan teras cafe ini, menghapus embun yang semakin memudarkan pandanganku untuk menatap gelembung-gelembung kecil diluar sana.
“Maaf, aku terlambat. Udah lama nunggunya?” kualihkan pandangan untuk menatap seseorang yang baru saja menyapaku. Ia masih berdiri di tempatnya. Sebagian bajunya basah. Pasti ia kehujanan dalam perjalanan kesini.
“Gak apa-apa, aku udah terbiasa menunggu kok,” Jawabku sebelum kembali menatap ke luar jendela. Kini kaca besar didekatku kembali dipenuhi embun yang menghalangi pandanganku menatap tetesan air hujan yang turun di luar sana.
“Maafkan aku karena telah membuatmu menunggu terlalu lama,” Katamu.
Kalimatmu itu berhasil menarikku untuk kembali menatapmu. Kulihat kau masih berdiri di tempat semula. Tak ada senyum di wajahmu seperti biasa. Yang tergambar disana hanyalah garis-garis keseriusan. Aku mulai bertanya pada diriku sendiri apa yang telah terjadi denganmu. Hari ini kau berbeda, tak seperti kau yang biasa.
“Dara, malam ini sibuk tidak?” Katamu saat kau menelponku tadi siang.
“Memangnya ada apa Yan?” Jawabku.
“Bisa kita bertemu di cafe malam ini jam 7? Aku mau...”
“Ohh, boleh. Aku juga mau liatin sama kamu bukuku yang udah terbit itu. Kita ketemu jam 7 di cafe biasa yaa,” kataku memotong kalimatmu. Aku tidak begitu peduli dengan tujuan awalmu mengajak aku bertemu. Karena aku fikir kau memang ingin melihat buku yang pernah kujanjikan padamu agar kau adalah orang pertama yang melihatnya setelah buku itu terbit. Dan kau hanya meng-iyakan kata-kataku, tanpa membantahnya atau berusaha menjelaskan kembali kalimatmu yang kupotong sebelumnya.
“Hey, ada apa sih? Serius banget! Ayo duduk dulu!” kataku sambil menarik lengan kemejamu yang lembab terkena hujan saat diperjalanan tadi.
Kau tersentak, tersadar dari lamunan dan kemudian menatapku dengan memaksakan sedikit senyum. Sungguh, kau semakin terlihat aneh malam ini. Perlahan kau duduk di depanku dan melepaskan ransel yang sejak tadi bertengger di pundakmu. Kemudian kau mengambil beberapa helai tisue dan berusaha mengeringkan kemejamu yang terlihat masih sedikit basah. Aku hanya menatapmu tanpa bertanya apapun hingga kau mengangkat wajahmu dan membuat pandangan kita bertemu.
“Mau kupesankan cappucino hangat?” tanyaku, yang hanya kau jawab dengan anggukan kepala.
Aneh! Semua ini benar-benar aneh. Kau bukan seperti Aryan yang aku kenal 5 tahun lalu. Kau terlihat seperti orang lain, seseorang yang tidak kukenal. Sambil membawa segelas cappucino hangat untukmu, aku kembali duduk di tempatku.
“Ini, diminum dulu biar lebih hangat!” ucapku sambil meletakkan gelas itu di hadapanmu.
“Terima kasih,” jawabmu. Singkat. Padat. Dan membuatku tidak percaya. Tidak biasanya kau menjawab kata-kataku sesingkat itu. Tapi aku hanya membiarkanmu meneguk cappucino itu tanpa bertanya. Lalu beberapa detik kemudian kau melihat ke gelas yang ada di hadapanku. Gelas yang hanya berisi setengah, karena setengah lagi telah kuminum sejak setengah jam yang lalu. “Itu?”katamu menunjuk cappucino dingin milikku.
“Tadi waktu aku datang belum hujan begini, makanya aku pesan cappucino dingin!” jawabku.
“Ohh,” lalu kembali senyap. Hanya terdengar detakan high heels dari karyawan cafe yang berlalu lalang mengantar pesanan.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu dan membuka tas tangan yang aku letakkan di kursi samping tempat dudukku. “Ini, sesuai janjiku. Kamu adalah orang pertama yang aku liatin buku ini!” ucapku sambil memberikan buku bersampul biru itu padamu. Kau mengambilnya, dan untuk beberapa saat kau hanya memperhatikan cover buku yang bergambar seorang peri di atas bulan sabit dan seorang laki-laki di dalam sebuah gedung. Keduanya terlihat sama-sama tengah bersedih. Entahlah, aku tak tau apa yang menarik dari cover buku itu hingga kau lama sekali menatapnya.
Aku kembali mengaduk-aduk cappucino di hadapanku ketika kudengar kau memanggilku, “Dara...” katamu.
“Yaa?” jawabku sambil mengangkat kepala. kulihat kau masih manatap cover buku yang tadi kuberikan padamu.
“Kamu masih ingat janjiku beberapa bulan yang lalu?” katamu. Aku berusaha mengingat janji yang kau maksud hingga kudengar kau kembali bersuara, “Yang kubilang ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu!” kau melanjutkan.
Aku hanya diam, menunggu kau melanjutkan kalimatmu. Namun lebih dari tiga menit tak juga kudengar kau bersuara. “Jika kamu belum ingin memenuhinya sekarang, jangan dipaksakan!” kataku.
“Dara, kamu masih ingat tentang kisah yang pernah kuceritakan padamu? Tentang seorang laki-laki yang diam-diam menyukai perempuan tapi tidak berani untuk mengatakannya. Akhirnya setelah bertahun-tahun mereka bersahabat, perasaan itu belum juga pernah terungkap. Apa kamu masih ingat?” tanyamu, masih dengan tatapan menerawang.
Aku hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun. Aku tak yakin kau melihat aku mengangguk meng-iyakan pertanyaanmu, tapi kudengar kau kembali melanjutkan kalimatmu, “Laki-laki itu aku, Dara!” ucapmu sebelum hening beberapa saat diantara kita berdua. Kini yang terdengar hanya alunan musik dari pendengar suara cafe. “Maukah kau tau siapa perempuan itu?” kau bertanya dengan setengah berbisik hingga akupun nyaris tak bisa mendengarnya.
“Siapa?” aku bertanya ragu-ragu. Takut jika tiba-tiba kau tertawa dan menyadarkan aku bahwa sejak tadi kau hanya berpura-pura serius untuk menjahiliku, seperti yang biasa kau lakukan.
“Perempuan itu adalah kamu, Dara!” jawabmu seraya menegakkan kepala.
Degg. Aku terkejut. Aku hanya terdiam dan tak mampu melakukan apapun. Kali ini kulihat pandanganmu benar-benar serius, tak ada sedikitpun tanda-tanda sedang bercanda disana. Sementara tatapan kita bertemu, kurasakan ada getaran hangat yang mengalir memenuhi dadaku. Dan jantungku terasa berdegup lebih cepat dari biasanya. Ujung-ujung jemariku terasa kaku. Perasaan seperti ini, sepertinya aku pernah merasakannya. Yaa, aku pernah merasakannya dua tahun yang lalu.
Perjalanan singkat itu telah berhasil menumbuhkan sesuatu di hatiku. Aku tak tau pasti apa namanya. Yang kutahu sejak itu aku merasa nyaman ketika berada di dekatmu. Aku selalu mencari dimana keberadaanmu. Bila kau tak ada, aku merasakan ada titik-titik rindu yang memenuhi hati ini. Seringkali jika aku teringat dengan kisah perjalanan kita empat hari itu, aku marasakan ada aliran yang terasa hangat menyergap hatiku. Dulu aku tak tahu harus disebut apa yang aku rasakan. Dan hari ini, rasa yang pernah kulupakan itu mulai kurasakan kembali. Namun kali ini aku tetap tidak tahu harus kusebut apa perasaan ini.
Aku kembali tersadar. Kulihat kau hanya memandangi gelas cappucino milikmu. Entah sudah berapa lama kita menghabiskan waktu dengan berdiam diri seperti ini.
“Aku tau!” ucapku, sambil menatap kosong ke luar jendela. Hujan sudah mulai reda. Hanya satu-satu rintik gerimis yang masih membasahi jalanan di depan cafe. Kulihat dari ekor mataku kau menegakkan kepala. menungguku mengalihkan pandangan ke arahmu.
“Kau tau?” tanyamu.
“Ya, setiap orang pasti bisa merasakan jika ada seseorang yang menyukainya. Dan aku bisa merasakannya,” jawabku dengan pandangan masih tertuju ke luar jendela.
“Maafkan aku Dara, baru berani mengakuinya sekarang!” ucapmu, sebelum kulihat kau kembali menunduk.
“Kenapa dulu kamu menyukaiku?” aku bertanya.
Kulihat kau kembali menegakkan kepala, lalu ikut menatap ke luar jendela, “Karena aku merasa nyaman dengan kamu,” jawabmu.
“Setelah sekian lama, lalu mengapa sekarang kamu mengungkapkannya?” tanyaku lagi.
“Aku hanya ingin menyampaikannya. Aku hanya ingin kamu tau bagaimana perasaanku dulu. Tapi ternyata kamu sudah tau,”
Aku hanya tersenyum. Tidak tau lagi harus menjawab apa atau berkata apa kepadamu.
“Kenapa kamu pura-pura tidak tau?” tanyamu.
“Aku hanya takut kau menjauh jika kau tau bahwa aku sudah tau tentang perasaanmu padaku. Aku tidak mau kehilangan kamu sebagai sahabatku!”
“Kamu benar Dara, lagian lebih baik begini kan? Kita bersahabat saja,” ucapmu dengan sebuah senyum yang biasa kulihat terbingkai di wajahmu.
“Iya,” jawabku, juga dengan sebuah senyum.
“Tapi Dara, bolehkah aku bertanya sesuatu?”
“Apa?”
“Bagaimanakah perasaanmu waktu itu? Apakah kamu juga menyukaiku?”
Pertanyaanmu sontak membuatku beku. Butuh waktu lama untuk dapat mengembalikan kesadaranku. Bagaimanakah perasaanku? Ahh, mengapa kau harus menanyakannya.
“Aku bingung bagaimana menjelaskannya. Aku juga tidak tau harus mulai darimana,” ucapku sebelum terdiam sejenak. “Aku hanyalah seorang pemimpi. Aku hidup dalam empat sisi ruang sempit yang penuh dengan khayalan. Dan hal yang paling aku takutkan adalah kenyataan. Dulu, aku pernah melihat kita diantara empat sisi dunia yang kuciptakan. Namun dua detik kemudian aku segera menepisnya. Kau mau tau kenapa? Mungkin karena aku takut jika semua itu hanya ada di dalam mimpiku, dan tidak akan pernah menjadi nyata. Aku terlalu takut jika aku terus menumbuhkan rasa, aku akan bertemu kembali dengan deraian kecewa. Sedangkan kecewa yang lalu belum sepenuhnya mampu kuhapus dari ingatan. Jika sekarang kamu bertanya bagaimana perasaanku waktu itu, akupun tak dapat memahaminya,”
Aku menjawab pertanyaanmu sambil menatap kosong ke luar jendela. Kulihat kau pun begitu, kita melakukan hal yang sama. Kita hanya terdiam, sibuk dengan fikiran kita masing-masing. Entah apa yang kau fikirkan, aku tidak tau. Bahkan apa yang aku fikirkan, aku sendiri pun tidak mengerti. Satu kalimat terakhir yang tadi kukatakan padamu masih menari-nari di kepalaku. “Bagaimakah perasaanku waktu itu? akupun tak dapat memahaminya!”
Yaa. Hingga saat ini aku masih belum dapat memahaminya.