Mengapa Kamu Kembali?
Oleh : Ayy Dara
-November-
Hujan lagi. Sudah lebih dari
seminggu ini hujan selalu hadir menemani sang sore. Aku merapatkan jaket dan
bergabung diantara puluhan orang yang sedang berteduh di sebuah halte di depan
kantorku. “Ahh, hujan seperti ini selalu menyesakkan!” aku menghembuskan nafas
dengan berat.
Tiga puluh menit sudah aku
berdiri di sini, sedang orang-orang disekelilingku telah berganti sejak tadi.
Ada yang memilih untuk pulang menaiki bus meski harus berdesak-desakan di
dalamnya. Ada juga yang lebih memilih taksi untuk mengantarkan mereka pulang.
Namun aku masih mematung. Tanpa peduli terang ini akan segera berganti gelapnya
malam. Aku masih ingin berada disini, -sebentar lagi.
Hujan, dulu aku sangat
menyukainya. Setiap tetes yang dijatuhkannya di bumi, aku selalu merasa
bahagia. Bahkan tak pernah sekalipun aku melewati hujan tanpa menari di bawah
deraiannya. “Ahh, masa lalu yang indah!” Sekali lagi aku menghembuskan napas
dengan berat, berusaha menghalau segala beban yang ada didalamnya.
Perlahan kutangkupkan sebelah
tanganku di bawah deraian hujan dan aku berusaha menggenggamnya dengan erat.
–Dingin- Tapi aku terus melakukannya. Bahkan sesekali aku melakukannya sambil
memejamkan mata.
“Hai Dara!” Aku tersentak,
mendengar seseorang memanggil namaku.
“Masih suka hujan?” Ucapnya
sambil tersenyum ramah.
Namun aku masih tak bergeming.
Otakku masih sibuk berfikir bagaimana mungkin seseorang di sampingku ini dapat
tersenyum seramah itu tanpa rasa bersalah sedikitpun setelah apa yang dia
lakukan padaku selama ini.
“Hei, kamu baik-baik saja kan?”
Tanyanya sekali lagi.
“Menurutmu, apa aku baik-baik
saja?”Jawabku.
Kali ini ia terdiam. Sibuk
memainkan air hujan di telapak tangannya.
-Dia- seseorang yang pernah aku
cintai dengan sepenuh hatiku. Dia yang sekuat tenaga aku pertahankan meski
setiap inchi dunia ini tak pernah memberi restu. Dia yang pernah berjanji akan
menjagaku, berjanji tidak akan pernah menggenangkan sedikitpun air mata di
pipiku.
Namun pada akhirnya, ketika seisi
dunia tak memberikan jalan untuk kami bersama, dia menyerah. Pergi, berlari
jauh meninggalkanku sendiri. Tanpa sebuah kata pisah, ataupun janji akan
kembali lagi. Dan kini, setelah tahun berganti ia benar-benar datang kembali.
Membangkitkan semua ingatan yang telah sekuat tenaga coba untuk aku lupakan.
“Dara…!” Aku kembali mendengar
suaranya, kali ini ia benar-benar lekat menatap mataku. Namun aku segera
mengalihkan pandangan, membuang jauh-jauh perasaan yang tiba-tiba kembali muncul
di sudut hatiku.
Kali ini ia terdiam cukup lama.
Mungkin kehabisan kata untuk mengajakku berbicara ataupun sekedar mencairkan
suasana. Kulirik jam dipergelangan tanganku, 17.30. Aku membuka tas dan
mengaduk-aduk isinya, mencari suatu benda yang aku yakin telah membawanya.
Setelah menemukan payung lipat itu, aku segera mengeluarkannya dan bersiap
untuk menembus hujan sore ini.
Namun
laki-laki itu kali ini ia berhasil menghentikan gerakanku setelah ia menahan
payungku yang ingin aku kembangkan.
“Biar aku yang
mengantarmu pulang. Bukankah kita dulu sering menghabiskan waktu di bawah hujan
seperti ini?” Ucapnya.
“Tidak. Aku
sudah tidak menyukai hujan!” Jawabku sambil menarik payung dari genggaman
tangannya.
Ia terdiam
sejenak sebelum kembali bersuara.
“Apa kamu
juga sudah tidak menyukaiku, Dara?” Bisiknya pelan, namun terdengar sangat
jelas di telingaku.
Mendengar
pertanyaannya, aku menegakkan kepala dan menatap tepat di matanya. “Mengapa
kamu kembali? Setelah sekian lama kamu menghilang dan meninggalkan aku sendiri
tanpa kepastian. Mengapa sekarang kamu datang? Setelah bertahun-tahun kamu
pergi tanpa sekalipun berjanji untuk pulang. Sekarang jawab pertanyaanku,
mengapa kamu kembali?”
Laki-laki
itu kembali terdiam, kemudian tanpa kata-kata perlahan ia menundukkan kepala.
Aku kembali menghembuskan nafas dengan berat, membuang segala sisa kekesalan di
hatiku.
Aku menarik
payung dan mulai mengembangkannya. Langit sudah mulai gelap dan aku tahu bahwa
sudah saatnya aku harus pulang. Ketika aku bersiap untuk mulai berjalan, aku
kembali mendengar laki-laki itu bersuara.
“Hujan masih
sangat deras, tunggulah sebentar lagi dan biarkan aku yang mengantarmu nanti!”
Ucapnya.
“Tidak. Sudah
kukatakan aku tidak suka berlama-lama berada di bawah hujan seperti ini. Aku
membencinya!” Jawabku.
“Apakah kamu
juga membenciku?” Ucapnya sekali lagi.
“Sayang
sekali aku tidak bisa. Meskipun ingin sekali aku untuk melakukannya!”
Hujan masih
sangat deras, namun hujan di mataku lebih deras mengalir. Aku terus berjalan
cepat menembus dinginnya sore itu. Pertemuan dengannya tadi semakin membuat
hatiku kelu. Meski bukan sore ini pertemuan kami pertama kali setelah
bertahun-tahun berpisah. Sebelumnya aku sempat bertemu dengannya beberapa kali
sejak tujuh bulan yang lalu, tapi sampai detik ini belum juga kutemukan alasan sebenarnya
mengapa dia kembali.
* * *
