Jumat, 13 November 2015

Mengapa Kamu Kembali?




Mengapa Kamu Kembali?
Oleh : Ayy Dara

               -November-
               Hujan lagi. Sudah lebih dari seminggu ini hujan selalu hadir menemani sang sore. Aku merapatkan jaket dan bergabung diantara puluhan orang yang sedang berteduh di sebuah halte di depan kantorku. “Ahh, hujan seperti ini selalu menyesakkan!” aku menghembuskan nafas dengan berat.

               Tiga puluh menit sudah aku berdiri di sini, sedang orang-orang disekelilingku telah berganti sejak tadi. Ada yang memilih untuk pulang menaiki bus meski harus berdesak-desakan di dalamnya. Ada juga yang lebih memilih taksi untuk mengantarkan mereka pulang. Namun aku masih mematung. Tanpa peduli terang ini akan segera berganti gelapnya malam. Aku masih ingin berada disini, -sebentar lagi.

               Hujan, dulu aku sangat menyukainya. Setiap tetes yang dijatuhkannya di bumi, aku selalu merasa bahagia. Bahkan tak pernah sekalipun aku melewati hujan tanpa menari di bawah deraiannya. “Ahh, masa lalu yang indah!” Sekali lagi aku menghembuskan napas dengan berat, berusaha menghalau segala beban yang ada didalamnya.

               Perlahan kutangkupkan sebelah tanganku di bawah deraian hujan dan aku berusaha menggenggamnya dengan erat. –Dingin- Tapi aku terus melakukannya. Bahkan sesekali aku melakukannya sambil memejamkan mata. 

               “Hai Dara!” Aku tersentak, mendengar seseorang memanggil namaku.

               “Masih suka hujan?” Ucapnya sambil tersenyum ramah.

               Namun aku masih tak bergeming. Otakku masih sibuk berfikir bagaimana mungkin seseorang di sampingku ini dapat tersenyum seramah itu tanpa rasa bersalah sedikitpun setelah apa yang dia lakukan padaku selama ini.

               “Hei, kamu baik-baik saja kan?” Tanyanya sekali lagi.

               “Menurutmu, apa aku baik-baik saja?”Jawabku.

               Kali ini ia terdiam. Sibuk memainkan air hujan di telapak tangannya.

               -Dia- seseorang yang pernah aku cintai dengan sepenuh hatiku. Dia yang sekuat tenaga aku pertahankan meski setiap inchi dunia ini tak pernah memberi restu. Dia yang pernah berjanji akan menjagaku, berjanji tidak akan pernah menggenangkan sedikitpun air mata di pipiku.

               Namun pada akhirnya, ketika seisi dunia tak memberikan jalan untuk kami bersama, dia menyerah. Pergi, berlari jauh meninggalkanku sendiri. Tanpa sebuah kata pisah, ataupun janji akan kembali lagi. Dan kini, setelah tahun berganti ia benar-benar datang kembali. Membangkitkan semua ingatan yang telah sekuat tenaga coba untuk aku lupakan.

               “Dara…!” Aku kembali mendengar suaranya, kali ini ia benar-benar lekat menatap mataku. Namun aku segera mengalihkan pandangan, membuang jauh-jauh perasaan yang tiba-tiba kembali muncul di sudut hatiku.

               Kali ini ia terdiam cukup lama. Mungkin kehabisan kata untuk mengajakku berbicara ataupun sekedar mencairkan suasana. Kulirik jam dipergelangan tanganku, 17.30. Aku membuka tas dan mengaduk-aduk isinya, mencari suatu benda yang aku yakin telah membawanya. Setelah menemukan payung lipat itu, aku segera mengeluarkannya dan bersiap untuk menembus hujan sore ini.

Namun laki-laki itu kali ini ia berhasil menghentikan gerakanku setelah ia menahan payungku yang ingin aku kembangkan.

“Biar aku yang mengantarmu pulang. Bukankah kita dulu sering menghabiskan waktu di bawah hujan seperti ini?” Ucapnya.

“Tidak. Aku sudah tidak menyukai hujan!” Jawabku sambil menarik payung dari genggaman tangannya.

Ia terdiam sejenak sebelum kembali bersuara.

“Apa kamu juga sudah tidak menyukaiku, Dara?” Bisiknya pelan, namun terdengar sangat jelas di telingaku.

Mendengar pertanyaannya, aku menegakkan kepala dan menatap tepat di matanya. “Mengapa kamu kembali? Setelah sekian lama kamu menghilang dan meninggalkan aku sendiri tanpa kepastian. Mengapa sekarang kamu datang? Setelah bertahun-tahun kamu pergi tanpa sekalipun berjanji untuk pulang. Sekarang jawab pertanyaanku, mengapa kamu kembali?”

Laki-laki itu kembali terdiam, kemudian tanpa kata-kata perlahan ia menundukkan kepala. Aku kembali menghembuskan nafas dengan berat, membuang segala sisa kekesalan di hatiku.

Aku menarik payung dan mulai mengembangkannya. Langit sudah mulai gelap dan aku tahu bahwa sudah saatnya aku harus pulang. Ketika aku bersiap untuk mulai berjalan, aku kembali mendengar laki-laki itu bersuara.

“Hujan masih sangat deras, tunggulah sebentar lagi dan biarkan aku yang mengantarmu nanti!” Ucapnya.

“Tidak. Sudah kukatakan aku tidak suka berlama-lama berada di bawah hujan seperti ini. Aku membencinya!” Jawabku.

“Apakah kamu juga membenciku?” Ucapnya sekali lagi.

“Sayang sekali aku tidak bisa. Meskipun ingin sekali aku untuk melakukannya!”

Hujan masih sangat deras, namun hujan di mataku lebih deras mengalir. Aku terus berjalan cepat menembus dinginnya sore itu. Pertemuan dengannya tadi semakin membuat hatiku kelu. Meski bukan sore ini pertemuan kami pertama kali setelah bertahun-tahun berpisah. Sebelumnya aku sempat bertemu dengannya beberapa kali sejak tujuh bulan yang lalu, tapi sampai detik ini belum juga kutemukan alasan sebenarnya mengapa dia kembali.

* * *


Selasa, 10 Maret 2015

Janjimu Dihapus Air Mata



Janjimu Dihapus Air Mata
Oleh : Ayy Dara

“Tiara....” Aku mendengar seseorang memanggil namaku. Perlahan kucoba untuk membuka mata, – Berat. Aku tahu telah terjadi sesuatu padaku. Ini bukan pertama kalinya aku mengalami hal seperti ini. Sejak kecelakaan itu, aku merasa hidupku berubah. Sakit dan Rumah sakit adalah sahabatku.
Aku membuka mata perlahan. Kulihat Tanteku, - Tante Lara - duduk disampingku. Ia menggenggam tanganku erat, seolah ia tidak ingin melepaskannya. “Tantee...” Aku memanggilnya dengan sisa tenaga yang kumiliki.
Aku melihat Tante Lara mengangkat kepalanya, “Kamu udah sadar sayang? Syukurlah! Tante panik sekali!” Yaa, aku bisa melihat kepanikan itu dari sinar matanya.
“Tiara kenapa Tante?” Ahh, aku benar-benar tidak perku menanyakannya. Tentu saja tadi aku tiba-tiba tidak sadarkan diri dan membuat Tante Lara panik, kemudian ia segera membawaku kesini. Sungguh sebenarnya aku sudah tahu semuanya.
“Tadi kamu jatuh, terus gak sadarkan diri. Makanya Tante langsung bawa kamu kesini. Gimana perasaan kamu sekarang?”
Tiara baik-baik aja kok Tante. Terus dokter bilang apa?”
“Kata dokter kamu harus dirawat, sayang!” kulihat Tante Lara terseyum.
“Tapi Tante...”
“Udah, sekarang kamu istirahat dan jangan mikirin yang lain dulu. Yang penting kamu sembuh. Tante mau pulang sebentar, kamu gak apa-apa kan Tante tinggal?”
“Iya Tan, Tiara gak apa-apa kok!” Jawabku pada akhirnya sebelum kulihat Tante Lara keluar dari ruanganku.
Tante Lara benar. Aku harus sembuh, demi Tante dan demi cita-cita orang tuaku yang menginginkan aku untuk menjadi dokter.
Kini hari demi hari berganti, tapi aku masih terbaring lemah disini tanpa memiliki daya untuk melakukan apapun.
Suatu hari aku merasakan suatu malam yang panjang. Sayup kudengar suara Tante Lara memanggilku. Aku mencoba menggapainya, tapi tanganku tidak bisa meraih tangannya. Perlahan aku dapat merasakan tetesan air membasahi tanganku. Ada apa denganku? Apa yang terjadi? Apa aku harus pergi sekarang?
Tapi seketika semuanya menjadi senyap. Sunyi tanpa suara. Aku merasakan genggaman tangan Tante Lara. Perlahan kubuka mata, lalu kulihat Tante memelukku dan menangis di bahuku. Namun aku masih terdiam, tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi.
Satu persatu orang yang berada di ruanganku keluar. Dokter, perawat, mereka tersenyum padaku. Aku semakin yakin telah terjadi sesuatu padaku. Kemudian aku menoleh kearah pintu, disana berdiri seorang laki-laki yang juga tengah menatapku sambil tersenyum. Aku kembali terdiam. Mencoba mengingat siapa laki-laki itu. Apa mungkin aku mengenalnya? Ahh tidak, aku tidak mengenalnya. Lalu mengapa dia ada di ruanganku?
Berselang beberapa jam aku kembali membuka mata dari tidurku. Aku mengarahkan pandangan ke seluruh ruangan mencari Tante Lara, tapi aku tidak melihatnya. Tiba-tiba aku tersentak karena melihat laki-laki di pintu tadi duduk di sofa yang terletak disudut ruangan. Pandangan kami bertemu, kemudian dia berdiri menghampiriku.
“Kamu haus? Mau aku ambilkan minum?” Kudengar suara laki-laki itu bertanya.
Aku menggeleng, lalu kemudian kulihat dia tersenyum. “Kamu siapa?”
Dia menarik kursi kemudian duduk disamping tempat tidurku. “Namaku Putra. Aku diminta Tantemu untuk jagain kamu karena dia pergi ke ruangan dokter sebentar. Kamu Tiara kan?”
“Iya, kamu yang dipintu tadi kan?”
“Iya” Jawabnya sambil tersenyum.
“Kenapa kamu di pintu kamarku tadi? Kamu kasihan yaa sama aku?”
“Aku....” Kulihat ia menjadi gugup. Mungkin tidak menyangka aku akan bertanya seperti itu padanya.
Kali ini aku yang tersenyum, “Aku gak perlu dikasihanin. Karena sebentar lagi aku juga bakalan pergi dari dunia ini!”
“Kamu gak boleh ngomong gitu Tiara!”
“Aku benci dengan hidupku yang selalu menyusahkan orang lain!”
“Kamu gak pernah menyusahkan Tante kok sayang. Tante sayang sama kamu!” Tiba-tiba saja Tante Lara datang dan menyambung pembicaraanlu dengan Putra. Kemudian Tante Lara memelukku dan kulihat Putra tersenyum. Senyum yang seolah-olah memberikan aku semangat untuk menjalani hidup ini.
Sejak saat itu Putra sering datang menjengukku. Dia selalu memberiku semangat untuk hidup.
Pada suatu malam Putra kembali datang menjengukku.
“Kita jalan-jalan yuk Ra!” Ucapnya tiba-tiba.
“Gimana caranya Put?”
“Tunggu sebentar yaa,” Ia berlari keluar dan tidak lama kemudian ia kembali dengan membawa sebuah kursi roda. Aku tersenyum melihatnya. Ia yang selalu berhasil membuatku merasa tidak sendiri melalui masa-masa sulitku ini.
“Kamu duduk disini yaa!” Putra memapahku untuk bangkit dan duduk di kursi roda yang dibawanya. Perlahan ia mendorong kursi roda itu menuju lantai paling atas dari rumah sakit. Disana aku bisa melihat seluruh kota yang sangat indah dengan hiasan lampu berwarna-warni. Kemudian aku mengadahkan kepalaku melihat langit. Tidak kalah indahnya. Bintang bertaburan menerangi malam ini.
“Wow, indah banget Put!” Aku bersorak melihat pemandangan yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Kulihat Putra berlutut di hadapanku. “Makanya kamu harus sembuh, supaya kamu bisa lihat keindahan lainnya!” Ucapnya dengan seulas senyum yang terkembang di wajahnya.
“Tapi Put, aku gak kuat!”
“Coba deh, kamu lihat bintang yang disana!” Putra menunjuk sebuah bintang yang tersudut, tidak ada bintang disekitarnya. “Bintang itu kecil, tapi indah. Bintang itu kesepian, tapi ia tetap bersinar. Harusnya kamu bisa seperti bintang itu! Kamu gadis yang cantik. Walaupun kamu sakit, bukan berarti kamu harus nyerah kan?”
Aku terdiam mendengar kata-katanya. Di satu sisi hatiku membenarkan, namun di sisi lain aku merasa aku tidak akan sanggup untuk melakukannya.
“Darimana kamu tahu ada tempat seindah ini di rumah sakit ini Put? Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Aku tahu tempat ini setahun yang lalu, saat adikku dirawat di rumah sakit ini. Suatu malam aku mengajaknya kesini untuk melihat bintang. Suasana malam itu sangat indah, sama seperti malam ini. Tapi...” Putra menghentikan ceritanya. Air matanya mengalir. Sinar matanya memancarkan cahaya kesedihan yang mendalam.
“Tapi kenapa? Kamu kok nangis?”
Putra tetap diam sambil menghapus air matanya. Aku tidak tahu mengapa ia menghentikan ceritanya lalu menangis. Aku berusaha menebak fikirannya dengan suara pelan.
“Apa itu malam terakhir bagi adikmu? Putra menatapku. Sepertinya ia terkejut dengan tebakanku. Aku menunduk menghindari sinar matanya yang menakutkanku. Saat aku kembali meliriknya, kulihat Putra kembali menangis.
“Putra, ada apa?” Aku mencoba menenangkannya.
“kamu benar Ra, malam itu adalah malam terakhir baginya. Saat aku sedang menceritakan sebuah dongeng tentang bintang, ternyata adikku sudah tidur untuk selama-lamanya”
“Maafin aku Put! Bukan maksudku buat kamu sedih!”
“Gak apa-apa kok Ra. Mungkin setahun yang lalu aku gagal menyelamatkan adikku. Sekarang aku akan mencoba menyelamatkan semangatmu dari putus asa!” Kali ini kulihat Putra kembali tersenyum.
“Aku gak yakin Put!”
“Kamu pasti bisa Tiara!” Putra kembali menyemangatiku.
“Kalau ternyata nasibku sama seperti adikmu gimana?”
“Kamu gak boleh ngomong gitu. Kamu harus sembuh demi orang-orang yang kamu sayangi!”
“Maksud kamu?”
“Yaa, kamu harus sembuh demi kedua orang tua kamu!”
“Buat apa aku sembuh. Meskipun aku sembuh, mereka juga gak akan hidup lagi untuk nemenin aku. Mereka udah ninggalin aku karena kecelakaan itu!”
“Jadi orang tua kamu udah meninggal?”
“Ya, sekarang aku tinggal sama tanteku. Makanya aku benci sama air mata. Karena air mata itu ngingetin aku sama mereka!” Putra hanya terdiam mendengar celotehanku.
Tiba-tiba dadaku sesak. Aku menggenggam tangan Putra erat dan membuat dia terkejut.
“Kamu kenapa Ra?” Tanya Putra panik.
“Aku gak apa-apa kok Put!”
“Kita masuk yaa!”
“Tunggu Put, kamu mau janji dua hal gak sama aku?”
“Apa Ra?”
“Kamu harus janji, apapun yang terjadi kamu gak akan nangis lagi di depan aku dan malam besok kamu harus ngajakin aku lihat bintang lagi yaa!”
“Oke, aku janji!”
Putra mengantarku ke kamar, lalu dia pulang.
* * *
Sebelum jam delapan pagi Putra telah berada di kamarku kembali.
“Kamu gak kuliah Put?” Tanyaku setelah melihatnya.
“Aku gak bisa tenang Ra. Aku ingat kamu terus. Kamu baik-baik aja kan? Entah kenapa aku rindu banget sama kamu. Aku mau nemenin kamu disini, boleh kan? Kita keluar yuk! Hari ini cuacanya cerah,
Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya yang berlebihan itu. Putra kembali mendorong kursi rodaku. Kali ini ia mengarahkannya ke sebuah taman.
“Nah, disini kamu bisa lihat bunga-bunga yang indah sambil nikmatin matahari pagi Ra!”
Kuhirup udara dalam-dalam. Tenang, damai kurasa dalam hatiku. Apalagi karena ada orang sebaik Putra disampingku.
“Kamu liat deh, tadi aku beli ini di toko depan rumah sakit ini. Gambarnya bintang. Aku harap bintang ini bisa jadi penyemangat kamu!” Putra memperlihatkanku sebuah kalung berliontin bintang yang sangat indah. Kemudian Putra memasangkan kalung itu di leherku.
“Put, aku mau tiduran!” Putra membantuku untuk duduk di kursi taman, lalu kusandarkan kepalaku di pundaknya.
Perlahan aku merasakan tubuhku ringan. Melayang dan kemudian terbang. Tanpa rasa sakit aku keluar dari jasadku. Kutatap mata laki-laki yang masih mebelai rambutku.
“Ra, kamu udah makan?” Putra bertanya pada jasadku yang hanya diam.
“Kamu ngantuk yaa? Memangnya semalam kamu tidur jam berapa?”
Putra kembali melanjutkan pertanyaannya, tapi tetap tanpa jawaban dariku. Ia mencoba membangunkanku. Tapi jasadku tetap diam. Putra mulai panik. Ia merasakan denyut nadiku, lalu wajahnya berubah. Air matanya jatuh. Ia menangis setelah menyadari bahwa yang ada di dekatnya hanyalah sebuah jasad tanpa nyawa. Putra berteriak memanggil namaku sambil tetap menangis.
Aku menatapnya dengan penuh benci. Ia melanggar janjinya untuk tidak menangis di depanku. Aku benci dengan air matanya yang terus membasahi jasadku yang kaku. Aku harus pergi menjauhi orang yang telah melanggar janjinya itu. Tapi saat aku berbalik, aku melihat dua orang yang sangat kukenal telah berdiri di depanku. Mereka adalah mama dan papa. Mereka mengajakku pergi, tapi aku menolaknya. Aku masih ingin bersama Putra. Aku berteriak memanggil Putra, namun ia tidak mendengar. Kini aku harus pergi untuk selamanya. Aku pergi membawa janji dari Putra. Janji yang telah dihapus oleh air mata.

* * * 

Rabu, 18 Februari 2015

Rasa Yang Tertinggal


Rasa Yang Tertinggal
Oleh : Ayy Dara

Tahukah kau apa yang paling tega di dunia ini?
Penjahat? Bukan. Perampok? Bukan. Ibu tiri? Bukan.
Yang paling tega di dunia ini adalah waktu. Tahukah kau mengapa? Karena ia akan tetap berjalan, meskipun kau berteriak padanya untuk berhenti. Ia akan terus berlari, walaupun kau memohon padanya untuk kembali. Karena waktu, ada sebuah harapan yang harus terkubur sebelum ia benar-benar tumbuh. Dan karena waktu, ada sebuah rasa yang terpaksa harus tertinggal di masa lalu.
* * *
Langit mulai menurunkan butir-butir rahmatnya secara perlahan. Mendung yang sedari dari menggelayut manja mungkin sudah tidak tahan untuk menumpahkan beban yang sejak petang tadi dipikulnya. Tetes demi tetes gerimis jatuh membasuh jalanan yang tidak begitu ramai di hadapanku.
Tetesan hujan yang jatuh membentuk bulatan-bulatan bergelembung di depan cafe berhasil mencuri perhatianku. Kupandangi gelembung itu lamat-lamat. Entah apa yang menarik, tapi bagiku pemandangan itu sangat indah. Perlahan kuusap kaca besar yang memisahkan aku dengan teras cafe ini, menghapus embun yang semakin memudarkan pandanganku untuk menatap gelembung-gelembung kecil diluar sana.
“Maaf, aku terlambat. Udah lama nunggunya?” kualihkan pandangan untuk menatap seseorang yang baru saja menyapaku. Ia masih berdiri di tempatnya. Sebagian bajunya basah. Pasti ia kehujanan dalam perjalanan kesini.
“Gak apa-apa, aku udah terbiasa menunggu kok,” Jawabku sebelum kembali menatap ke luar jendela. Kini kaca besar didekatku kembali dipenuhi embun yang menghalangi pandanganku menatap tetesan air hujan yang turun di luar sana.
“Maafkan aku karena telah membuatmu menunggu terlalu lama,” Katamu.
Kalimatmu itu berhasil menarikku untuk kembali menatapmu. Kulihat kau masih berdiri di tempat semula. Tak ada senyum di wajahmu seperti biasa. Yang tergambar disana hanyalah garis-garis keseriusan. Aku mulai bertanya pada diriku sendiri apa yang telah terjadi denganmu. Hari ini kau berbeda, tak seperti kau yang biasa.
“Dara, malam ini sibuk tidak?” Katamu saat kau menelponku tadi siang.
“Memangnya ada apa Yan?” Jawabku.
“Bisa kita bertemu di cafe malam ini jam 7? Aku mau...”
“Ohh, boleh. Aku juga mau liatin sama kamu bukuku yang udah terbit itu. Kita ketemu jam 7 di cafe biasa yaa,” kataku memotong kalimatmu. Aku tidak begitu peduli dengan tujuan awalmu mengajak aku bertemu. Karena aku fikir kau memang ingin melihat buku yang pernah kujanjikan padamu agar kau adalah orang pertama yang melihatnya setelah buku itu terbit. Dan kau hanya meng-iyakan kata-kataku, tanpa membantahnya atau berusaha menjelaskan kembali kalimatmu yang kupotong sebelumnya.
“Hey, ada apa sih? Serius banget! Ayo duduk dulu!” kataku sambil menarik lengan kemejamu yang lembab terkena hujan saat diperjalanan tadi.
Kau tersentak, tersadar dari lamunan dan kemudian menatapku dengan memaksakan sedikit senyum. Sungguh, kau semakin terlihat aneh malam ini. Perlahan kau duduk di depanku dan melepaskan ransel yang sejak tadi bertengger di pundakmu. Kemudian kau mengambil beberapa helai tisue dan berusaha mengeringkan kemejamu yang terlihat masih sedikit basah. Aku hanya menatapmu tanpa bertanya apapun hingga kau mengangkat wajahmu dan membuat pandangan kita bertemu.
“Mau kupesankan cappucino hangat?” tanyaku, yang hanya kau jawab dengan anggukan kepala.
Aneh! Semua ini benar-benar aneh. Kau bukan seperti Aryan yang aku kenal 5 tahun lalu. Kau terlihat seperti orang lain, seseorang yang tidak kukenal. Sambil membawa segelas cappucino hangat untukmu, aku kembali duduk di tempatku.
“Ini, diminum dulu biar lebih hangat!” ucapku sambil meletakkan gelas itu di hadapanmu.
“Terima kasih,” jawabmu. Singkat. Padat. Dan membuatku tidak percaya. Tidak biasanya kau menjawab kata-kataku sesingkat itu. Tapi aku hanya membiarkanmu meneguk cappucino itu tanpa bertanya. Lalu beberapa detik kemudian kau melihat ke gelas yang ada di hadapanku. Gelas yang hanya berisi setengah, karena setengah lagi telah kuminum sejak setengah jam yang lalu. “Itu?”katamu menunjuk cappucino dingin milikku.
“Tadi waktu aku datang belum hujan begini, makanya aku pesan cappucino dingin!” jawabku.
“Ohh,” lalu kembali senyap. Hanya terdengar detakan high heels dari karyawan cafe yang berlalu lalang mengantar pesanan.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu dan membuka tas tangan yang aku letakkan di kursi samping tempat dudukku. “Ini, sesuai janjiku. Kamu adalah orang pertama yang aku liatin buku ini!” ucapku sambil memberikan buku bersampul biru itu padamu. Kau mengambilnya, dan untuk beberapa saat kau hanya memperhatikan cover buku yang bergambar seorang peri di atas bulan sabit dan seorang laki-laki di dalam sebuah gedung. Keduanya terlihat sama-sama tengah bersedih. Entahlah, aku tak tau apa yang menarik dari cover buku itu hingga kau lama sekali menatapnya.
Aku kembali mengaduk-aduk cappucino di hadapanku ketika kudengar kau memanggilku, “Dara...” katamu.
“Yaa?” jawabku sambil mengangkat kepala. kulihat kau masih manatap cover buku yang tadi kuberikan padamu.
“Kamu masih ingat janjiku beberapa bulan yang lalu?” katamu. Aku berusaha mengingat janji yang kau maksud hingga kudengar kau kembali bersuara, “Yang kubilang ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu!” kau melanjutkan.
Aku hanya diam, menunggu kau melanjutkan kalimatmu. Namun lebih dari tiga menit tak juga kudengar kau bersuara. “Jika kamu belum ingin memenuhinya sekarang, jangan dipaksakan!” kataku.
“Dara, kamu masih ingat tentang kisah yang pernah kuceritakan padamu? Tentang seorang laki-laki yang diam-diam menyukai perempuan tapi tidak berani untuk mengatakannya. Akhirnya setelah bertahun-tahun mereka bersahabat, perasaan itu belum juga pernah terungkap. Apa kamu masih ingat?” tanyamu, masih dengan tatapan menerawang.
Aku hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun. Aku tak yakin kau melihat aku mengangguk meng-iyakan pertanyaanmu, tapi kudengar kau kembali melanjutkan kalimatmu, “Laki-laki itu aku, Dara!” ucapmu sebelum hening beberapa saat diantara kita berdua. Kini yang terdengar hanya alunan musik dari pendengar suara cafe. “Maukah kau tau siapa perempuan itu?” kau bertanya dengan setengah berbisik hingga akupun nyaris tak bisa mendengarnya.
“Siapa?” aku bertanya ragu-ragu. Takut jika tiba-tiba kau tertawa dan menyadarkan aku bahwa sejak tadi kau hanya berpura-pura serius untuk menjahiliku, seperti yang biasa kau lakukan.
“Perempuan itu adalah kamu, Dara!” jawabmu seraya menegakkan kepala.
Degg. Aku terkejut. Aku hanya terdiam dan tak mampu melakukan apapun. Kali ini kulihat pandanganmu benar-benar serius, tak ada sedikitpun tanda-tanda sedang bercanda disana. Sementara tatapan kita bertemu, kurasakan ada getaran hangat yang mengalir memenuhi dadaku. Dan jantungku terasa berdegup lebih cepat dari biasanya. Ujung-ujung jemariku terasa kaku. Perasaan seperti ini, sepertinya aku pernah merasakannya. Yaa, aku pernah merasakannya dua tahun yang lalu.
Perjalanan singkat itu telah berhasil menumbuhkan sesuatu di hatiku. Aku tak tau pasti apa namanya. Yang kutahu sejak itu aku merasa nyaman ketika berada di dekatmu. Aku selalu mencari dimana keberadaanmu. Bila kau tak ada, aku merasakan ada titik-titik rindu yang memenuhi hati ini. Seringkali jika aku teringat dengan kisah perjalanan kita empat hari itu, aku marasakan ada aliran yang terasa hangat menyergap hatiku. Dulu aku tak tahu harus disebut apa yang aku rasakan. Dan hari ini, rasa yang pernah kulupakan itu mulai kurasakan kembali. Namun kali ini aku tetap tidak tahu harus kusebut apa perasaan ini.
Aku kembali tersadar. Kulihat kau hanya memandangi gelas cappucino milikmu. Entah sudah berapa lama kita menghabiskan waktu dengan berdiam diri seperti ini.
“Aku tau!” ucapku, sambil menatap kosong ke luar jendela. Hujan sudah mulai reda. Hanya satu-satu rintik gerimis yang masih membasahi jalanan di depan cafe. Kulihat dari ekor mataku kau menegakkan kepala. menungguku mengalihkan pandangan ke arahmu.
“Kau tau?” tanyamu.
“Ya, setiap orang pasti bisa merasakan jika ada seseorang yang menyukainya. Dan aku bisa merasakannya,” jawabku dengan pandangan masih tertuju ke luar jendela.
“Maafkan aku Dara, baru berani mengakuinya sekarang!” ucapmu, sebelum kulihat kau kembali menunduk.
“Kenapa dulu kamu menyukaiku?” aku bertanya.
Kulihat kau kembali menegakkan kepala, lalu ikut menatap ke luar jendela, “Karena aku merasa nyaman dengan kamu,” jawabmu.
“Setelah sekian lama, lalu mengapa sekarang kamu mengungkapkannya?” tanyaku lagi.
“Aku hanya ingin menyampaikannya. Aku hanya ingin kamu tau bagaimana perasaanku dulu. Tapi ternyata kamu sudah tau,”
Aku hanya tersenyum. Tidak tau lagi harus menjawab apa atau berkata apa kepadamu.
“Kenapa kamu pura-pura tidak tau?” tanyamu.
“Aku hanya takut kau menjauh jika kau tau bahwa aku sudah tau tentang perasaanmu padaku. Aku tidak mau kehilangan kamu sebagai sahabatku!”
“Kamu benar Dara, lagian lebih baik begini kan? Kita bersahabat saja,” ucapmu dengan sebuah senyum yang biasa kulihat terbingkai di wajahmu.
“Iya,” jawabku, juga dengan sebuah senyum.
“Tapi Dara, bolehkah aku bertanya sesuatu?”
“Apa?”
“Bagaimanakah perasaanmu waktu itu? Apakah kamu juga menyukaiku?”
Pertanyaanmu sontak membuatku beku. Butuh waktu lama untuk dapat mengembalikan kesadaranku. Bagaimanakah perasaanku? Ahh, mengapa kau harus menanyakannya.
“Aku bingung bagaimana menjelaskannya. Aku juga tidak tau harus mulai darimana,” ucapku sebelum terdiam sejenak. “Aku hanyalah seorang pemimpi. Aku hidup dalam empat sisi ruang sempit yang penuh dengan khayalan. Dan hal yang paling aku takutkan adalah kenyataan. Dulu, aku pernah melihat kita diantara empat sisi dunia yang kuciptakan. Namun dua detik kemudian aku segera menepisnya. Kau mau tau kenapa? Mungkin karena aku takut jika semua itu hanya ada di dalam mimpiku, dan tidak akan pernah menjadi nyata. Aku terlalu takut jika aku terus menumbuhkan rasa, aku akan bertemu kembali dengan deraian kecewa. Sedangkan kecewa yang lalu belum sepenuhnya mampu kuhapus dari ingatan. Jika sekarang kamu bertanya bagaimana perasaanku waktu itu, akupun tak dapat memahaminya,”
Aku menjawab pertanyaanmu sambil menatap kosong ke luar jendela. Kulihat kau pun begitu, kita melakukan hal yang sama. Kita hanya terdiam, sibuk dengan fikiran kita masing-masing. Entah apa yang kau fikirkan, aku tidak tau. Bahkan apa yang aku fikirkan, aku sendiri pun tidak mengerti. Satu kalimat terakhir yang tadi kukatakan padamu masih menari-nari di kepalaku. “Bagaimakah perasaanku waktu itu? akupun tak dapat memahaminya!”
Yaa. Hingga saat ini aku masih belum dapat memahaminya.