Selasa, 10 Maret 2015

Janjimu Dihapus Air Mata



Janjimu Dihapus Air Mata
Oleh : Ayy Dara

“Tiara....” Aku mendengar seseorang memanggil namaku. Perlahan kucoba untuk membuka mata, – Berat. Aku tahu telah terjadi sesuatu padaku. Ini bukan pertama kalinya aku mengalami hal seperti ini. Sejak kecelakaan itu, aku merasa hidupku berubah. Sakit dan Rumah sakit adalah sahabatku.
Aku membuka mata perlahan. Kulihat Tanteku, - Tante Lara - duduk disampingku. Ia menggenggam tanganku erat, seolah ia tidak ingin melepaskannya. “Tantee...” Aku memanggilnya dengan sisa tenaga yang kumiliki.
Aku melihat Tante Lara mengangkat kepalanya, “Kamu udah sadar sayang? Syukurlah! Tante panik sekali!” Yaa, aku bisa melihat kepanikan itu dari sinar matanya.
“Tiara kenapa Tante?” Ahh, aku benar-benar tidak perku menanyakannya. Tentu saja tadi aku tiba-tiba tidak sadarkan diri dan membuat Tante Lara panik, kemudian ia segera membawaku kesini. Sungguh sebenarnya aku sudah tahu semuanya.
“Tadi kamu jatuh, terus gak sadarkan diri. Makanya Tante langsung bawa kamu kesini. Gimana perasaan kamu sekarang?”
Tiara baik-baik aja kok Tante. Terus dokter bilang apa?”
“Kata dokter kamu harus dirawat, sayang!” kulihat Tante Lara terseyum.
“Tapi Tante...”
“Udah, sekarang kamu istirahat dan jangan mikirin yang lain dulu. Yang penting kamu sembuh. Tante mau pulang sebentar, kamu gak apa-apa kan Tante tinggal?”
“Iya Tan, Tiara gak apa-apa kok!” Jawabku pada akhirnya sebelum kulihat Tante Lara keluar dari ruanganku.
Tante Lara benar. Aku harus sembuh, demi Tante dan demi cita-cita orang tuaku yang menginginkan aku untuk menjadi dokter.
Kini hari demi hari berganti, tapi aku masih terbaring lemah disini tanpa memiliki daya untuk melakukan apapun.
Suatu hari aku merasakan suatu malam yang panjang. Sayup kudengar suara Tante Lara memanggilku. Aku mencoba menggapainya, tapi tanganku tidak bisa meraih tangannya. Perlahan aku dapat merasakan tetesan air membasahi tanganku. Ada apa denganku? Apa yang terjadi? Apa aku harus pergi sekarang?
Tapi seketika semuanya menjadi senyap. Sunyi tanpa suara. Aku merasakan genggaman tangan Tante Lara. Perlahan kubuka mata, lalu kulihat Tante memelukku dan menangis di bahuku. Namun aku masih terdiam, tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi.
Satu persatu orang yang berada di ruanganku keluar. Dokter, perawat, mereka tersenyum padaku. Aku semakin yakin telah terjadi sesuatu padaku. Kemudian aku menoleh kearah pintu, disana berdiri seorang laki-laki yang juga tengah menatapku sambil tersenyum. Aku kembali terdiam. Mencoba mengingat siapa laki-laki itu. Apa mungkin aku mengenalnya? Ahh tidak, aku tidak mengenalnya. Lalu mengapa dia ada di ruanganku?
Berselang beberapa jam aku kembali membuka mata dari tidurku. Aku mengarahkan pandangan ke seluruh ruangan mencari Tante Lara, tapi aku tidak melihatnya. Tiba-tiba aku tersentak karena melihat laki-laki di pintu tadi duduk di sofa yang terletak disudut ruangan. Pandangan kami bertemu, kemudian dia berdiri menghampiriku.
“Kamu haus? Mau aku ambilkan minum?” Kudengar suara laki-laki itu bertanya.
Aku menggeleng, lalu kemudian kulihat dia tersenyum. “Kamu siapa?”
Dia menarik kursi kemudian duduk disamping tempat tidurku. “Namaku Putra. Aku diminta Tantemu untuk jagain kamu karena dia pergi ke ruangan dokter sebentar. Kamu Tiara kan?”
“Iya, kamu yang dipintu tadi kan?”
“Iya” Jawabnya sambil tersenyum.
“Kenapa kamu di pintu kamarku tadi? Kamu kasihan yaa sama aku?”
“Aku....” Kulihat ia menjadi gugup. Mungkin tidak menyangka aku akan bertanya seperti itu padanya.
Kali ini aku yang tersenyum, “Aku gak perlu dikasihanin. Karena sebentar lagi aku juga bakalan pergi dari dunia ini!”
“Kamu gak boleh ngomong gitu Tiara!”
“Aku benci dengan hidupku yang selalu menyusahkan orang lain!”
“Kamu gak pernah menyusahkan Tante kok sayang. Tante sayang sama kamu!” Tiba-tiba saja Tante Lara datang dan menyambung pembicaraanlu dengan Putra. Kemudian Tante Lara memelukku dan kulihat Putra tersenyum. Senyum yang seolah-olah memberikan aku semangat untuk menjalani hidup ini.
Sejak saat itu Putra sering datang menjengukku. Dia selalu memberiku semangat untuk hidup.
Pada suatu malam Putra kembali datang menjengukku.
“Kita jalan-jalan yuk Ra!” Ucapnya tiba-tiba.
“Gimana caranya Put?”
“Tunggu sebentar yaa,” Ia berlari keluar dan tidak lama kemudian ia kembali dengan membawa sebuah kursi roda. Aku tersenyum melihatnya. Ia yang selalu berhasil membuatku merasa tidak sendiri melalui masa-masa sulitku ini.
“Kamu duduk disini yaa!” Putra memapahku untuk bangkit dan duduk di kursi roda yang dibawanya. Perlahan ia mendorong kursi roda itu menuju lantai paling atas dari rumah sakit. Disana aku bisa melihat seluruh kota yang sangat indah dengan hiasan lampu berwarna-warni. Kemudian aku mengadahkan kepalaku melihat langit. Tidak kalah indahnya. Bintang bertaburan menerangi malam ini.
“Wow, indah banget Put!” Aku bersorak melihat pemandangan yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Kulihat Putra berlutut di hadapanku. “Makanya kamu harus sembuh, supaya kamu bisa lihat keindahan lainnya!” Ucapnya dengan seulas senyum yang terkembang di wajahnya.
“Tapi Put, aku gak kuat!”
“Coba deh, kamu lihat bintang yang disana!” Putra menunjuk sebuah bintang yang tersudut, tidak ada bintang disekitarnya. “Bintang itu kecil, tapi indah. Bintang itu kesepian, tapi ia tetap bersinar. Harusnya kamu bisa seperti bintang itu! Kamu gadis yang cantik. Walaupun kamu sakit, bukan berarti kamu harus nyerah kan?”
Aku terdiam mendengar kata-katanya. Di satu sisi hatiku membenarkan, namun di sisi lain aku merasa aku tidak akan sanggup untuk melakukannya.
“Darimana kamu tahu ada tempat seindah ini di rumah sakit ini Put? Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Aku tahu tempat ini setahun yang lalu, saat adikku dirawat di rumah sakit ini. Suatu malam aku mengajaknya kesini untuk melihat bintang. Suasana malam itu sangat indah, sama seperti malam ini. Tapi...” Putra menghentikan ceritanya. Air matanya mengalir. Sinar matanya memancarkan cahaya kesedihan yang mendalam.
“Tapi kenapa? Kamu kok nangis?”
Putra tetap diam sambil menghapus air matanya. Aku tidak tahu mengapa ia menghentikan ceritanya lalu menangis. Aku berusaha menebak fikirannya dengan suara pelan.
“Apa itu malam terakhir bagi adikmu? Putra menatapku. Sepertinya ia terkejut dengan tebakanku. Aku menunduk menghindari sinar matanya yang menakutkanku. Saat aku kembali meliriknya, kulihat Putra kembali menangis.
“Putra, ada apa?” Aku mencoba menenangkannya.
“kamu benar Ra, malam itu adalah malam terakhir baginya. Saat aku sedang menceritakan sebuah dongeng tentang bintang, ternyata adikku sudah tidur untuk selama-lamanya”
“Maafin aku Put! Bukan maksudku buat kamu sedih!”
“Gak apa-apa kok Ra. Mungkin setahun yang lalu aku gagal menyelamatkan adikku. Sekarang aku akan mencoba menyelamatkan semangatmu dari putus asa!” Kali ini kulihat Putra kembali tersenyum.
“Aku gak yakin Put!”
“Kamu pasti bisa Tiara!” Putra kembali menyemangatiku.
“Kalau ternyata nasibku sama seperti adikmu gimana?”
“Kamu gak boleh ngomong gitu. Kamu harus sembuh demi orang-orang yang kamu sayangi!”
“Maksud kamu?”
“Yaa, kamu harus sembuh demi kedua orang tua kamu!”
“Buat apa aku sembuh. Meskipun aku sembuh, mereka juga gak akan hidup lagi untuk nemenin aku. Mereka udah ninggalin aku karena kecelakaan itu!”
“Jadi orang tua kamu udah meninggal?”
“Ya, sekarang aku tinggal sama tanteku. Makanya aku benci sama air mata. Karena air mata itu ngingetin aku sama mereka!” Putra hanya terdiam mendengar celotehanku.
Tiba-tiba dadaku sesak. Aku menggenggam tangan Putra erat dan membuat dia terkejut.
“Kamu kenapa Ra?” Tanya Putra panik.
“Aku gak apa-apa kok Put!”
“Kita masuk yaa!”
“Tunggu Put, kamu mau janji dua hal gak sama aku?”
“Apa Ra?”
“Kamu harus janji, apapun yang terjadi kamu gak akan nangis lagi di depan aku dan malam besok kamu harus ngajakin aku lihat bintang lagi yaa!”
“Oke, aku janji!”
Putra mengantarku ke kamar, lalu dia pulang.
* * *
Sebelum jam delapan pagi Putra telah berada di kamarku kembali.
“Kamu gak kuliah Put?” Tanyaku setelah melihatnya.
“Aku gak bisa tenang Ra. Aku ingat kamu terus. Kamu baik-baik aja kan? Entah kenapa aku rindu banget sama kamu. Aku mau nemenin kamu disini, boleh kan? Kita keluar yuk! Hari ini cuacanya cerah,
Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya yang berlebihan itu. Putra kembali mendorong kursi rodaku. Kali ini ia mengarahkannya ke sebuah taman.
“Nah, disini kamu bisa lihat bunga-bunga yang indah sambil nikmatin matahari pagi Ra!”
Kuhirup udara dalam-dalam. Tenang, damai kurasa dalam hatiku. Apalagi karena ada orang sebaik Putra disampingku.
“Kamu liat deh, tadi aku beli ini di toko depan rumah sakit ini. Gambarnya bintang. Aku harap bintang ini bisa jadi penyemangat kamu!” Putra memperlihatkanku sebuah kalung berliontin bintang yang sangat indah. Kemudian Putra memasangkan kalung itu di leherku.
“Put, aku mau tiduran!” Putra membantuku untuk duduk di kursi taman, lalu kusandarkan kepalaku di pundaknya.
Perlahan aku merasakan tubuhku ringan. Melayang dan kemudian terbang. Tanpa rasa sakit aku keluar dari jasadku. Kutatap mata laki-laki yang masih mebelai rambutku.
“Ra, kamu udah makan?” Putra bertanya pada jasadku yang hanya diam.
“Kamu ngantuk yaa? Memangnya semalam kamu tidur jam berapa?”
Putra kembali melanjutkan pertanyaannya, tapi tetap tanpa jawaban dariku. Ia mencoba membangunkanku. Tapi jasadku tetap diam. Putra mulai panik. Ia merasakan denyut nadiku, lalu wajahnya berubah. Air matanya jatuh. Ia menangis setelah menyadari bahwa yang ada di dekatnya hanyalah sebuah jasad tanpa nyawa. Putra berteriak memanggil namaku sambil tetap menangis.
Aku menatapnya dengan penuh benci. Ia melanggar janjinya untuk tidak menangis di depanku. Aku benci dengan air matanya yang terus membasahi jasadku yang kaku. Aku harus pergi menjauhi orang yang telah melanggar janjinya itu. Tapi saat aku berbalik, aku melihat dua orang yang sangat kukenal telah berdiri di depanku. Mereka adalah mama dan papa. Mereka mengajakku pergi, tapi aku menolaknya. Aku masih ingin bersama Putra. Aku berteriak memanggil Putra, namun ia tidak mendengar. Kini aku harus pergi untuk selamanya. Aku pergi membawa janji dari Putra. Janji yang telah dihapus oleh air mata.

* * *