Rabu, 14 Februari 2018

Cinta Yang Buta




Cinta Yang Buta
Oleh : Ayy Dara

            Langit mendung. Awan hitam mulai berarak pelan-pelan. Seperinya sebantar lagi akan turun hujan. Dani terlihat sangat cemas. Satu tangannya ia letakkan di dahi sambil memijitnya, sementara satunya lagi tengah memegang ponsel yang ditempelkan di telinga kirinya.
            “Lana, tolong kasih tau aku sekarang Cinta ada dimana! Aku mohon!” Ucap Dani kepada seseorang di seberang sambungan telfon.
            “Baiklah. Aku akan kasih tahu kamu Cinta dimana. Tapi kamu harus janji, kamu Cuma lihat dia dari jauh aja. Dia sekarang sedang gak mau diganggu sama siapa-siapa. Termasuk kamu!” Jelas Lana.
            “Tapi alasannya apa Lana?”
            “Nanti kamu akan tahu sendiri alasannya Dan.” Jawab Lana sebelum menyebutkan nama sebuah rumah sakit yang ada di kota mereka.
* * *
            Dani segera menuju rumah sakit yang disebutkan Lana. Ia tidak ingin membuang waktu. Setelah ia kehilangan kabar Cinta selama tiga minggu terakhir, ia ingin segera melihat keadaan Cinta. Jujur saja Dani tidak mengerti apa yang terjadi. Jika Cinta yang dirawat di rumah sakit itu, sakit apa dia? Sehingga Cinta tidak ingin ditemui oleh siapapun? Bahkan oleh dirinya sekalipun.
            Dani berdiri di sebuah lorong panjang. Di depannya kini terlihat sebuah pintu ruang rawat dengan nomor 330 –Ruang rawat Cinta. Setidaknya itulah informasi yang didapatkannya di resepsionis rumah sakit ketika ia baru tiba tadi.
            Ruangan itu gelap. lampunya terlihat tidak menyala. Dani maju dua langkah mendekati pintu kamar untuk melihat isi kamar tersebut. Kamar itu sepi, -sunyi. Tidak ada siapapun yang dapat diilihat Dani kecuali seorang gadis yang duduk di atas kursi roda di depan jendela yang terbuka lebar. Meskipun posisi gadis itu memunggunginya, tapi Dani tahu gadis itu adalah Cinta ‘si mata indah’. Dani sangat mengenalnya. Rambut panjangnya. Lehernya yang jenjang. Pipinya yang tirus –Meski saat ini ia hanya dapat melihat pipi tirus itu ketika angin berhembus dan menyibak rambut Cinta.
            Entah berapa lama Dani berdiri di depan pintu dan memandangi Cinta yang hanya terdiam. Ia tidak bergerak sedikitpun dari posisinya semula. Sejujurnya hati kecil Dani ingin sekali berlari dan masuk ke kamar Cinta dan memeluknya. Lalu bertanya kemana ia selama ini. Tidak ada kabar. Tidak menjawab telfon. Tidak membalas pesan. Juga tentang pesannya kepada Lana untuk tidak ingin ditemui oleh siapapun, termasuk dirinya. Tapi Dani ingat akan janjinya kepada Lana, dan ia tidak mungkin mengingkarinya.
            Perlahan Dani mengambil ponsel di saku jaketnya dan menghubungi sebuah kontak yang ada di ponselnya sambil tetap memandangi Cinta dari balik pintu. Setelah nada tunggu terdengar tiga kali, Dani melihat Dara sedikit meraba-raba mengambil ponsel yang ada di atas meja disampingnya. Setelah menekan satu tombol, Cinta menempelkan ponselnya di telinga.
            “Cinta,” panggil Dani setelah ponsel tersambung.
            Beberapa saat hening. Cinta tidak menjawab sapaan Dani.
            “Cinta, kamu gak mau bicara sama aku?” Sekali lagi Dani bersuara.
            “Dani,” Hanya itu yang diucapkan Cinta.
            “Kamu ada dimana? Aku khawatir sudah tiga minggu ini kamu gak ada kabar” Dani berusaha menahan suaranya.
            “Aku baik-baik aja Dan. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu!”
            “Apa Cinta? Kamu mau kita ketemu dimana?” Jawab Dani penuh semangat.
            “Kita gak usah ketemu. Sekarang aja lewat telfon ini.” Jawab Cinta cepat.
            “Oh, oke. Kamu mau ngomong apa?” Tanya Dani.
            “Dani, tolong lupain aku. Mulai sekarang kamu gak usah cari aku lagi. Gak usah khawatirin aku lagi!” Ucap Cinta pelan.
            “Tapi kenapa Cinta? Salah aku apa?”
            “Kamu gak salah apa-apa Dani. Ini permintaan aku. Aku harap kamu ngerti. Aku mau sendiri.
            “Tapi Cinta,”
            “Please Dan. Penuhi permintaan aku. Dan sekarang aku sedang sibuk. Aku matiin telfonnya yaa. Kamu jaga diri baik-baik.” Cinta mematikan sambungan telfon.
            Ponsel Dani masih menempel di telinga. Ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Cinta meminta ia untuk melupakannya.
Sementara di hadapannya Cinta kembali mematung menghadap jendela. Tidak bergerak. Tidak terganggu sedikitpun meski kini angin mulai kencang bertiup. Dan Cinta tetap tidak tahu bahwa sedari tadi Dani memperhatikan dari balik pintu kamarnya.

---------------------------------------000---------------------------------------

            Kamar 330 itu terlihat gelap dan sunyi. Lampunya tidak menyala dan di kamar itu tidak ada siapapun selain Cinta. Tapi ia tidak peduli. Baginya sekarang gelap dan terang sama saja. Lagi pula ia lebih suka begini. Suasana yang sepi dapat menenangkan dirinya dari fikiran-fikiran buruk tentang hidupnya.
            Cinta sedang duduk di atas sebuah kursi roda di depan sebuah jendela besar yang terbuka lebar. Sore ini langit mendung. Sepertinya sebentar lagi akan hujan. Berkali-kali angin bertiup dan menyibak rambut panjangnya yang tergerai, tapi Cinta juga tidak peduli. Sekarang baginya pagi, siang, sore maupun malam sama saja. Panas, mendung, hujan dan meskipun badai sekalipun, baginya tidak ada beda. Yang ia tahu hanya satu. Ia akan tetap berada di kamar ini entah sampai kapan.
            Sebuah kecelakaan yang dialaminya tiga minggu lalu telah mengubah hidup Cinta. Kini senyum manis itu sudah tidak terlihat lagi. Pun tawa manja itu, sudah lama tidak ada. Bahkan terkadang Cinta sendiri lupa bagaimana cara membuka mata.
            Beberapa jam yang lalu Lana sahabatnya menelfon Cinta dan memberitahu bahwa Dani terus saja menanyakan bagaimana kabarnya. Ahh, Dani. Cinta tahu laki-laki itu pasti khawatir dengan keadaannya. Cinta belum mengabari Dani mengenai kecelakaan yang dialaminya. Cinta bingung. Ia tidak tahu harus mulai bercerita darimana. Ia tidak ingin Dani sedih melihat keadaannya saat ini.
“Biarlah dia tahu aku baik-baik aja Lana. Kamu jangan kasih tahu yang sebenarnya terjadi sama dia!” Cinta memohon kepada Lana dan Lana menyetujuinya.
Cinta kembali terisak memikirkan Dani dan dirinya. Ia ingin sekali menangis tapi tidak bisa. Semakin ia mencoba menangis, semakin sakit yang ia rasakan.
Tiba-tiba terdengar suara ponsel berdering. Cinta meraba-raba mencari ponsel yang diletakkan di atas meja disamping tempat duduknya. Tanpa melihat layar ponselnya, Cinta menjawab telfon tersebut.
“Cinta,” Terdengar seseorang memanggil namanya di seberang sambungan telfon. Suara itu terdengar seperti suara Dani. Tapi Cinta ragu, apakah suara itu memang milik Dani atau karena ia sedang memikirkan laki-laki itu maka ia berfikir bahwa yang menelfonnya ini adalah Dani.
            “Cinta, kamu gak mau bicara sama aku?” Kali ini Cinta sangat yakin bahwa suara itu benar-benar milik Dani.
            “Dani,” Hanya itu yang diucapkannya.
            “Kamu ada dimana? Aku khawatir sudah tiga minggu ini kamu gak ada kabar” mendengar kata-kata Dani membuat hati nya perih.
            “Aku baik-baik aja Dan. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu!” Cinta berkata pelan sembari mengatur nafasnya.
            “Apa Cinta? Kamu mau kita ketemu dimana?” Jawab Dani penuh semangat.
            “Kita gak usah ketemu. Sekarang aja lewat telfon ini.” Jawab Cinta cepat.
            “Oh, oke. Kamu mau ngomong apa?” Tanya Dani.
            “Dani, tolong lupain aku. Mulai sekarang kamu gak usah cari aku lagi. Gak usah khawatirin aku lagi!” Ucap Cinta pelan.
            “Tapi kenapa Cinta? Salah aku apa?”
            “Kamu gak salah apa-apa Dani. Ini permintaan aku. Aku harap kamu ngerti. Aku mau sendiri.”
            “Tapi Cinta,” suara Dani terdengar panik.
            “Please Dan. Penuhi permintaan aku. Dan sekarang aku sedang sibuk. Aku matiin telfonnya yaa. Kamu jaga diri baik-baik.” Cinta mematikan sambungan telfon dan menutup mulutnya dengan kedua tangan menahan tangis.
            Cinta benar-benar ingin menangis saat ini. Ia sendiri tidak pernah membayangkan dirinya akan mengucapkan kalimat-kalimat itu kepada Dani, seseorang yang sangat dicintainya.
            Cinta masih mematung. Kedua tangannya perlahan mengusap pipinya yang mulai dingin karena angin yang bertiup semakin kencang. Kemudian kedua tangan itu bergerak keatas menyentuh kedua matanya yang kini ditutupi perban. Sudah tiga minggu mata Cinta tertutup perban dan tidak bisa melihat apapun. Kecelakaan itu telah merusak kedua matanya. Membuat dunia Cinta menjadi gelap.
            “Maafin aku Dani. Aku bukan Cinta yang dulu lagi. Aku bukan Cinta ‘si mata indah’. Sekarang aku buta Dani,” Ucap Cinta pelan sambil memegangi kedua matanya.
            Sore itu Cinta menangis sendirian di kamarnya di rumah sakit. Ia menangis mengingat Dani dan juga menangis menahan sakit di kedua matanya. Tidak ada yang tahu Cinta menangis sore itu. Bahkan Dani pun tidak.
* * *

Jumat, 20 Oktober 2017

Pinjami Aku, Satu Hari Milikmu!


Pinjami Aku, Satu Hari Milikmu!
Oleh : Ayy Dara

          Aku baru saja memasuki kamarku ketika kudengar ponselku berdering, -sebuah pesan. Sedikit malas aku meraih ponsel yang kuletakkan dengan asal-asalan di atas tempat tidurku dan membaca sebuah nama yang tertera di layarnya. “Kafka”.
            “Dara, kamu di rumah?” Hanya kalimat itu yang dikirimnya.
            “Iya, ada apa Ka?” Aku membalasnya.
         “Aku di dekat rumah kamu nih. Mau makan bareng gak?” Aku hanya bisa memandangi pesan itu selama beberapa detik sebelum aku kembali tersadar oleh pesan Kafka berikutnya, “Kalau kamu mau, aku ke rumah kamu 10 menit lagi!”
            Ada apa dengan dia? Seingatku, ini adalah pertama kalinya Kafka mengajakku pergi hanya berdua saja. Selama hampir sepuluh tahun aku mengenalnya, dia tidak pernah mengajakku pergi kemanapun, apalagi hanya makan di luar seperti ini. Dan hanya berdua saja.
Butuh waktu untukku bisa menerka apa yang sebenarnya telah terjadi pada Kafka hari ini. Namun karena tidak juga kutemukan jawabannya, maka kuputuskan untuk menerima ajakannya. Aku akan menanyakan jawaban dari pertanyaanku ini langsung padanya saat kami telah bertemu nanti. “Oke, aku siap-siap dulu.” Aku membalas pesannya tiga menit kemudian
* * *
            “Hai, Dara!” Sapanya ketika aku telah berdiri di hadapannya.
            Aku tidak menjawab, hanya memandanginya sambil memiringkan wajahku ke kiri dan ke kanan seolah tengah berfikir keras.
          “Ada apa?” Kafka pun ikut memirinngkan wajahnya mengikuti gerakanku. “Ada yang aneh?”
            “Kamu yang ada apa? Tiba-tiba ngajak aku makan!”
           Setelah menyadari kebingunganku, Kafka tersenyum, “Aku baik-baik aja. Cuma lagi pengen makan sama kamu!”
      Aku kembali tidak menjawab kalimatnya, hanya memandanginya lamat-lamat. Memperhatikan rambutnya yang terlihat berbeda. Senyumnya yang lebih merekah dari biasanya. Dan matanya lebih bersinar seperti........
          “Kamu mau makan atau gak sih Ra? Aku udah laper loh ini!” Aku tersentak dari lamunanku. Kulihat Kafka kini memandangiku dengan wajah bingung. Matanya membulat, seolah bertanya ‘Apakah aku membutuhkan waktu lebih lama untuk naik ke sepeda motornya’.
“Dara...” Sekali lagi aku mendengar suaranya. Namun kali ini cepat-cepat aku mengambil posisi untuk naik ke boncengan sepeda motor Kafka, sebelum dia mulai mengomeliku karena kebiasaan melamun yang aku miliki.
            Kafka melajukan sepeda motornya ke sebuah gerai makanan yang berjarak sekitar tiga kilometer dari rumahku. Tempat itu cukup ramai namun terlihat sangat nyaman untuk menghabiskan malam setelah melalui hari yang begitu melelahkan. Aku dan Kafka memasuki tempat itu dan memilih salah satu meja yang terletak di tepi jendela.
            “Kamu sering kesini Ka?” Aku bertanya setelah melepas jaket dan meletakkannya di sandaran kursi.
            “Eh, apa Ra? Kamu nanya apa?” Tanya Kafka yang mulai terlihat sibuk dengan ponselnya.
            “Kamu, sering kesini yaa?”
            “Ehm, baru 2 kali.” Jawabnya sekilas, lalu kembali sibuk membalas chat di ponselnya.
            Ketika aku baru saja akan mengangkat tangan untuk memanggil salah seorang pelayan yang sedang membersihkan meja yang berada tidak jauh dari pintu, pandanganku menangkap bayangan seseorang yang sangat kukenal tengah memasuki ruangan.
            Intan. Dia adalah salah seorang sahabatku. Kami bersahabat sejak aku dan Intan sama-sama tergabung dalam kelas menulis yang diadakan di kampus kami.
            “Dara!” Intan kini terlihat melambaikan tangan sambil terseyum ke arahku. Aku juga membalas senyumnya. “Maaf yaa, aku telat. Kalian udah lama?” Ucapnya ketika ia sampai dihadapanku.
            Telat? Apa maksudnya? Sepertinya aku tidak mengajak siapapun untuk datang kesini. Lalu mengapa Intan berkata seperti itu?
            “Gak apa-apa kok Tan. Kami juga baru aja datang!” Kafka yang terdengar menjawab pertanyaan Intan.
            Apa? Intan? Kafka? Mereka? Sejak kapan? Bagaimana bisa? Sekelebat pertanyaan silih berganti hadir dalam fikiranku.
* * *
            Intan sudah duduk di sampingku ketika pelayan datang membawakan daftar menu. Tidak perlu berfikir lama, kami bertiga telah memesan makan sesuai dengan selera kami masing-masing. Kamudian waktu kuhabiskan dengan memperhatian mereka saling berbicara. Sesekali kulihat mereka saling tersenyum dan tertawa, seakan mereka telah saling mengenal dalam waktu yang lama.
            “Kalian?” Ucapku sedikit pelan, namun cukup mampu menghentikan pembicaraan hangat diantara mereka. Kini mereka berdua sama-sama mengalihkan pandangannya padaku. Sedangkan aku tetap memandangi mereka secara bergantian dengan tatapan penuh tanya.
            “Oh, iya. Kamu belum tahu ya Ra kalau aku dan Intan saling kenal?” Terdengar Kafka yang lebih daluhu bersuara.
            Aku hanya menggelengkan kepala.
            “Kamu ingat gak sekitar satu tahun yang lalu waktu aku sama anak-anak sibuk nyariin kamu karena kamu menghilang gak jelas setelah patah hati ditinggalkan gebetan kamu? Siapa itu namanya? Arif, yaa Arif yang jurusan Hukum itu. Waktu itu seharian ponsel kamu gak bisa dihubungi. Kami semua kebingungan nyariin kamu ke semua tempat. Kami fikir kamu udah bunuh diri atau apalah itu.” Kafka berhenti sejenak untuk menarik napas dan tersenyum menggodaku.
Disisi lain kulihat Intan juga tengah menahan senyumnya karena kalimat-kalimat Kafka. “Waktu itu aku ketemu Intan di depan rumah kamu, karena dia juga lagi nungguin kamu. Sejak itulah kami kenal!”
            “Satu tahun?” Hanya dua kata itu yang berhasil kuucapkan.
            Kafka dan Intan mengangguk bersamaan.
            “Kok aku gak tahu?”
            “Gimana kamu bisa tahu. Kamu kan sibuk galau terus satu tahun ini!” Kali ini Kafka tidak lagi bisa menahan tawanya, dan kulihat Intanpun ikut tertawa renyah.
            “Eh, aku gak galau! Dan waktu itu aku juga gak lagi patah hati. Aku cuma pengen sendiri aja. Kalian aja yang lebay!” Protesku kepada Kafka yang semakin membuat tawanya terdengar lebih renyah.
            Aku masih ingin melanjutkan protes pada Kafka ketika tiba-tiba pelayan datang mengantarkan pesanan kami. Aroma dari sup yang diletakkan di atas meja seakan mengingatkanku bahwa sebelum aku bertengkar dengan Kafka tadi, perutku sudah sangat lapar.
Bertengkar dengan Kafka benar-benar membuat energiku terkuras. Selama makan dia tidak berhenti menggangguku dengan mengingatkan kejadian yang terjadi setahun yang lalu itu. Dia juga meyakinkan Intan bahwa semua yang diceritakannya benar-benar terjadi setahun yang lalu.
* * *
Diperjalanan pulang menuju rumahku Kafka sudah tidak lagi membahas kejadian setahun yang lalu. Dia terasa lebih pendiam. Kami hanya berbicara beberapa kali. Selain itu yang terdengar hanya suara siulan darinya.
“Dara...” Ucap Kafka ketika kami sudah memasuki belokan terakhir sebelum tiba di rumahku.
“Yaa?” Jawabku ragu-ragu. Takut jika dia kembali menggodaku.
“Menurut kamu Intan itu orangnya gimana?”
“Ehm, dia baik. Sabar. Ramah. Memangnya kenapa? Hayoo, jangan-jangan kamu suka sama dia yaa?” Aku merasa menang karena berhasil memiliki kesempatan untuk menggodanya.
Kafka tidak menjawab candaanku hingga akhirnya kami tiba di halaman rumahku. Setelah aku turun dari boncengan, Kafka mematikan sepeda motornya.
“Ada apa? Kamu gak langsung pulang?”Aku berdiri di hadapannya yang masih mematung.
“Dara, kayaknya aku nyaman sama Intan. Menurut kamu aku sama dia cocok gak?” Kafka mengangkat wajahnya, membuat pandangan kami bertemu. Aku melihat sorot matanya yang serius. Dia terlihat berbeda dari biasanya. Tidak ada tanda-tanda bahwa dia sedang bercanda.
Sementara aku hanya menatapnya dengan tatapan kosong. Dalam hati aku mengulang-ulang pertanyaannya. Apa yang dia bilang tadi? Dia nyaman sama Intan? Jujur, aku senang akhirnya aku tahu bahwa ada seseoang yang mampu membuat Kafka bahagia. Dan aku juga tahu bahwa orang itu adalah orang yang baik, -sahabatku sendiri.
Tapi di sisi lain hatiku, aku merasa tidak suka. Aku tidak suka melihat Kafka tersenyum lebih manis daripada senyumnya padaku. Aku tidak suka Kafka terlihat lebih bahagia daripada saat dia sedang bercanda denganku.
Sesaat sebelum aku mendengar langsung dari Kafka bahwa dia menyukai Intan, aku masih terus mempertanyakan hal ini pada diriku sendiri. Sebenarnya perasaan apa yang tengah kurasakan pada Kafka. Mengapa saat aku berada di dekatnya aku merasa gugup? Aku ingin selalu terlihat sempurna di matanya. Aku selalu ingin melihat senyumnya. Aku ingin melakukan apapun asalkan dia bahagia. Termasuk saat dia menertawakanku karena kejadian satu tahun yang lalu. Aku tidak pernah bisa marah padanya. Setiap kali aku marah, rasanya hatiku segera mengeluarkan molekul-molekul kata maaf untuknya. Sebelum malam ini, aku masih ragu-ragu untuk bertanya pada hatiku, apakah aku benar-benar menyukai Kafka?
“Dara...” Aku tersentak. Suara Kafka menarikku kembali pada suasana canggung sebelumnya.
“Yaa?” jawabku bingung.
“Kamu baiknya cepat-cepat berobat deh. Mana tahu aja ada obat untuk menghilangkan hoby melamun!” Jawab Kafka berpura-pura kesal.
Suasana kembali hening. Aku tidak tahu harus mengatakan apa pada laki-laki yang diam-diam telah kukagumi ini.
“Sudahlah. Aku pulang aja. Kayaknya kamu udah capek banget. Besok aja kita bicara lagi yaa!” Kafka bersiap memutar kunci motor untuk menyalakan mesin namun segera aku menahannya.
“Tunggu!” Ucapku sambil melihat ke sembarang arah.
“Ada apa?” Tanya Kafka tidak jadi menyalakan sepeda motornya.
“Apa yang dimiliki Intan yang bisa buat kamu nyaman sama dia?” Tanyaku masih tidak berani menatapnya.
Kali ini Kafka yang terdiam cukup lama. Ia terlihat berfikir, namun sesekali ia juga terlihat tersenyum.
Aku menunggu jawabannya dengan hati yang tidak menentu. Apakah aku harus terlihat bahagia dengan berpura-pura menyutujui perasaan Kafka pada Intan? Atau aku harus bersikap egois dengan mengungkapkan semua perasaanku ini pada Kafka dan menerima segala resiko yang ada.
“Entahlah. Rasanya aku suka semuanya. Bukannya kamu sendiri tadi yang bilang kalau Intan itu orangnya baik, sabar, ramah. Yaa karena semua itu aku nyaman sama dia. Udah ah, udah malam. Aku pulang dulu. Lebih baik kamu sekarang masuk sebelum hoby melamun kamu datang lagi. Nanti kalau aku udah pergi, siapa yang bakalan nyadarin kamu dari hoby aneh kamu itu?” Ucap Kafka sambil tertawa, kemudian perlahan menyalakan sepeda motornya. “Ayo masuk sana!”
“Kafka, bisa gak kamu kasih aku satu hari kamu?” Kali ini aku menatap lurus-lurus ke matanya.
“Untuk apa?” Jawab Kafka heran.
“Kali aja kamu sadar kalau aku lebih baik dari Intan. Lebih sabar dari Intan. Lebih ramah dari Intan. Dan lebih bisa buat kamu nyaman.” Akhirnya kalimat itu berhasil kuucapkan. Beberapa detik setelahnya terasa sangat panjang. Waktu terasa berhenti. Udara terasa kosong. Aku hampir tidak bisa bernapas hingga akhirnya aku merasakan sakit di hidungku. Saat aku sadar, tangan Kafka sudah menarik hidungku dengan keras.
“Makanya kan udah aku bilang, kamu itu cepetan masuk. Liat nih mulai ngelantur ngomongnya. Kesambet kan?!” Kafka masih menarik hidungku sambil tertawa.
Aku berusaha melepaskan tangannya. Kemudian kuusap hidungku yang terasa begitu panas dan terlihat memerah.
“Sakit tauuu....” Aku masih mengusap hidungku sambil berpura-pura merajuk padanya.
“Kamu sih, bercandanya gak lucu!” Kafka belum menghentikan tawa renyahnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Dia mulai menggerakkan sepeda motornya bersiap untuk pulang.
“Kafka, aku serius!” Aku kembali menahan sepeda motornya.
“Dara... Udah yaa. Aku udah bilang kan kalau becandaan kamu itu gak lucu. Lagian kamu gak perlu minta satu hari aku untuk buktiin kalau kamu baik, kamu sabar, kamu ramah. Aku udah tahu. Sejak awal kita kenal aku udah tahu. Dan kamu bilang apa tadi? Kamu mau buktiin kalau kamu bisa buat aku nyaman?” Kafka kembali tertawa. “Aku nyaman sama kamu Dara. Kalau aku gak nyaman, gak mungkin kita masih sahabatan sampai sekarang. Kamu cemburu sama Intan yaa? Tenang aja. Apapun yang terjadi antara aku sama Intan, kamu tetap sahabat terbaik aku. Kita akan tetap jadi sahabat sampai kapanpun. Oke?! Aku pulang dulu yaa. Udah malam. Kamu juga cepat masuk sana!”
Aku merasakan tiba-tiba angin bertiup lebih kencang dari sebelumnya. Suasana terasa semakin dingin. Meski Kafka masih berdiri di hadapanku sambil tersenyum, suasana tetap terasa dingin. Akhirnya aku sadar, bahwa senyum itu tidak lagi mampu menghangatkan hatiku.
* * *
“Kafka, kamu harus tahu, aku mencintaimu. Tapi ternyata berteman saja sudah cukup untukmu!” Kalimat itu kuucapkan tepat ketika Kafka menghilang di persimpangan jalan.
* * *
Malam ini, bintang bersinar hangat, namun terasa begitu dingin di hatiku.
Malam ini, langit cerah, namun ada hujan di kedua mataku.

Jumat, 13 November 2015

Mengapa Kamu Kembali?




Mengapa Kamu Kembali?
Oleh : Ayy Dara

               -November-
               Hujan lagi. Sudah lebih dari seminggu ini hujan selalu hadir menemani sang sore. Aku merapatkan jaket dan bergabung diantara puluhan orang yang sedang berteduh di sebuah halte di depan kantorku. “Ahh, hujan seperti ini selalu menyesakkan!” aku menghembuskan nafas dengan berat.

               Tiga puluh menit sudah aku berdiri di sini, sedang orang-orang disekelilingku telah berganti sejak tadi. Ada yang memilih untuk pulang menaiki bus meski harus berdesak-desakan di dalamnya. Ada juga yang lebih memilih taksi untuk mengantarkan mereka pulang. Namun aku masih mematung. Tanpa peduli terang ini akan segera berganti gelapnya malam. Aku masih ingin berada disini, -sebentar lagi.

               Hujan, dulu aku sangat menyukainya. Setiap tetes yang dijatuhkannya di bumi, aku selalu merasa bahagia. Bahkan tak pernah sekalipun aku melewati hujan tanpa menari di bawah deraiannya. “Ahh, masa lalu yang indah!” Sekali lagi aku menghembuskan napas dengan berat, berusaha menghalau segala beban yang ada didalamnya.

               Perlahan kutangkupkan sebelah tanganku di bawah deraian hujan dan aku berusaha menggenggamnya dengan erat. –Dingin- Tapi aku terus melakukannya. Bahkan sesekali aku melakukannya sambil memejamkan mata. 

               “Hai Dara!” Aku tersentak, mendengar seseorang memanggil namaku.

               “Masih suka hujan?” Ucapnya sambil tersenyum ramah.

               Namun aku masih tak bergeming. Otakku masih sibuk berfikir bagaimana mungkin seseorang di sampingku ini dapat tersenyum seramah itu tanpa rasa bersalah sedikitpun setelah apa yang dia lakukan padaku selama ini.

               “Hei, kamu baik-baik saja kan?” Tanyanya sekali lagi.

               “Menurutmu, apa aku baik-baik saja?”Jawabku.

               Kali ini ia terdiam. Sibuk memainkan air hujan di telapak tangannya.

               -Dia- seseorang yang pernah aku cintai dengan sepenuh hatiku. Dia yang sekuat tenaga aku pertahankan meski setiap inchi dunia ini tak pernah memberi restu. Dia yang pernah berjanji akan menjagaku, berjanji tidak akan pernah menggenangkan sedikitpun air mata di pipiku.

               Namun pada akhirnya, ketika seisi dunia tak memberikan jalan untuk kami bersama, dia menyerah. Pergi, berlari jauh meninggalkanku sendiri. Tanpa sebuah kata pisah, ataupun janji akan kembali lagi. Dan kini, setelah tahun berganti ia benar-benar datang kembali. Membangkitkan semua ingatan yang telah sekuat tenaga coba untuk aku lupakan.

               “Dara…!” Aku kembali mendengar suaranya, kali ini ia benar-benar lekat menatap mataku. Namun aku segera mengalihkan pandangan, membuang jauh-jauh perasaan yang tiba-tiba kembali muncul di sudut hatiku.

               Kali ini ia terdiam cukup lama. Mungkin kehabisan kata untuk mengajakku berbicara ataupun sekedar mencairkan suasana. Kulirik jam dipergelangan tanganku, 17.30. Aku membuka tas dan mengaduk-aduk isinya, mencari suatu benda yang aku yakin telah membawanya. Setelah menemukan payung lipat itu, aku segera mengeluarkannya dan bersiap untuk menembus hujan sore ini.

Namun laki-laki itu kali ini ia berhasil menghentikan gerakanku setelah ia menahan payungku yang ingin aku kembangkan.

“Biar aku yang mengantarmu pulang. Bukankah kita dulu sering menghabiskan waktu di bawah hujan seperti ini?” Ucapnya.

“Tidak. Aku sudah tidak menyukai hujan!” Jawabku sambil menarik payung dari genggaman tangannya.

Ia terdiam sejenak sebelum kembali bersuara.

“Apa kamu juga sudah tidak menyukaiku, Dara?” Bisiknya pelan, namun terdengar sangat jelas di telingaku.

Mendengar pertanyaannya, aku menegakkan kepala dan menatap tepat di matanya. “Mengapa kamu kembali? Setelah sekian lama kamu menghilang dan meninggalkan aku sendiri tanpa kepastian. Mengapa sekarang kamu datang? Setelah bertahun-tahun kamu pergi tanpa sekalipun berjanji untuk pulang. Sekarang jawab pertanyaanku, mengapa kamu kembali?”

Laki-laki itu kembali terdiam, kemudian tanpa kata-kata perlahan ia menundukkan kepala. Aku kembali menghembuskan nafas dengan berat, membuang segala sisa kekesalan di hatiku.

Aku menarik payung dan mulai mengembangkannya. Langit sudah mulai gelap dan aku tahu bahwa sudah saatnya aku harus pulang. Ketika aku bersiap untuk mulai berjalan, aku kembali mendengar laki-laki itu bersuara.

“Hujan masih sangat deras, tunggulah sebentar lagi dan biarkan aku yang mengantarmu nanti!” Ucapnya.

“Tidak. Sudah kukatakan aku tidak suka berlama-lama berada di bawah hujan seperti ini. Aku membencinya!” Jawabku.

“Apakah kamu juga membenciku?” Ucapnya sekali lagi.

“Sayang sekali aku tidak bisa. Meskipun ingin sekali aku untuk melakukannya!”

Hujan masih sangat deras, namun hujan di mataku lebih deras mengalir. Aku terus berjalan cepat menembus dinginnya sore itu. Pertemuan dengannya tadi semakin membuat hatiku kelu. Meski bukan sore ini pertemuan kami pertama kali setelah bertahun-tahun berpisah. Sebelumnya aku sempat bertemu dengannya beberapa kali sejak tujuh bulan yang lalu, tapi sampai detik ini belum juga kutemukan alasan sebenarnya mengapa dia kembali.

* * *