Kamis, 13 November 2014

Mengikuti Angin 2



Mengikuti Angin
Oleh : Ayy Dara

Aku melihatnya duduk mematung dengan sebuah kue tart di hadapannya. Aku juga melihat nomor meja yang sedang ditempatinya, - nomor 13. Gadis itu. Pasti ia telah mempersiapkan ini semua. Memesan meja sesuai dengan tanggal lahirku, membawa kue dan lilin sesuai dengan usiaku, dan mengajakku untuk bertemu. Sejujurnya ku akui, ia adalah gadis yang sempurna. Memperlakukanku lebih dari yang aku inginkan. Membuat aku selalu merasa spesial, meski sering yang kulakukan padanya adalah sebaliknya.

Aku masih menatapnya, - dari tempat dimana ia tidak dapat melihat keberadaanku. Ia masih duduk dengan sabar dan pandangannya menerawang. Sesekali kulihat ia tersenyum, mungkin membayangkan pertemuan ini akan menjadi pertemuan yang indah dalam hidupnya.
Yaa, hampir satu tahun tidak saling menatap wajah sejujurnya membuatku rindu padanya. Ia yang selalu ingin aku lupakan, malah kerap hadir dan menjelma sebagai kenangan. Bukan aku tidak menyayanginya, karena tentu saja aku sayang. Ia adalah gadis terbaik yang pernah kutemui. Tapi entah mengapa aku tidak bisa menyatakan atau hanya sekedar memperlihatkan rasa sayangku padanya.

“Arya, bisakah kita bertemu besok jam 7 malam di kafe?” Begitulah kalimatnya saat menelfonku semalam. Sejujurnya aku ingin mengatakan “Ya” saat itu juga. Tapi yang terjadi sebaliknya. Aku mengatakan bahwa aku sangat sibuk hingga tidak mungkin datang untuk menemuinya.

“Tidak apa-apa kalau kau sibuk, aku akan menunggumu. Datanglah kesana jika kau sudah tidak sibuk lagi!” Yaa Tuhan. Dari apa hati gadis ini Engkau ciptakan? Aku sudah menolak ajakannya tapi dia akan tetap menungguku? Baiklah, maka malam ini akan kubuktikan kata-kata gadis itu.

Kulirik jam di tanganku, sudah menunjukkan pukul 11 malam dan gadis itu masih duduk di tempatnya. Dia masih setia menunggu kedatanganku. Sepertinya hampir satu tahun tidak bertemu dengannya, aku mulai melupakan satu hal bahwa dia adalah gadis yang nekat. Dia bisa saja duduk disana hingga pagi jika aku tak kunjung menemuinya. Karena itu sudah kuputuskan untuk menemuinya sebentar dan menyuruhnya pulang.

Ia masih melamun saat aku tiba didepannya. Cukup lama hingga ia menyadari kehadiranku. Wajahnya yang teduh dan matanya yang sayu tampak sangat lelah malam ini.

“Apa-apaan ini semua?” Aku bertanya pada gadis itu.

“Hahh?” Ia tampak berusaha mencari maksud dari pertanyaanku.

“Untuk apa kau mempersiapkan ini semua?”

“Aku hanya ingin merayakan ulang tahunmu. Itu saja!” Jawabnya dengan seulas senyum manis dibibirnya.

Aku bingung harus berbuat apa. Di satu sisi aku bahagia karena kejutan yang dipersiapkan oleh gadis yang tengah duduk di hadapanku ini. Tapi disisi lain, aku tidak ingin membuatnya kecewa. Entah sudah berapa banyak air mata yang ia tumpahkan selama aku mengenalnya. Dan yang lebih menyakitkanku adalah ia menangis karena kesalahanku.

Seperti dua tahun yang lalu saat aku dan ia bertemu di kampus kami. Hari itu sungguh aku dan ia dalam suasana hati yang baik pada awalnya. Kami saling bercerita dan bercanda seperti orang-orang pada umumnya. Tapi apa yang terjadi kemudian, aku membuat ia bersedih dan hampir menangis hanya karena aku tidak bisa memberikan kepastian tentang hubungan kami. Yaa, saat itu aku belum yakin aku bisa membahagiakannya dan sekarangpun begitu.

Setelah saling terdiam untuk beberapa saat, aku mulai memandangnya. Ia tertunduk, -melamun.

“Pulanglah Dara! Ini sudah malam.” Ucapku pada akhirnya. Kulihat ia sedikit terkejut dan segera mengambil korek api untuk menyalakan lilin berlambang 23 yang telah tertancap di atas kue ulang tahun itu.

“Happy Birthday to you.. Happy Birthday to you….” Aku mendengarkan gadis itu bernyanyi dengan suara yang sangat pelan. Mungkin ia lelah setelah seharian bekerja, lalu setengah malam ia habiskan untuk menunggu kehadiranku di tempat ini.

“Sekarang ayo make a wish dulu, sebelum tiup lilinnya!” Pintanya sambil tersenyum manja padaku.

“Tak perlu seperti ini, Dara!” Jawabku.

“Apanya?” Ia bertanya heran.

“Kita bukan anak ABG lagi yang ulang tahunnya harus dirayakan seperti ini! Kita sudah dewasa, jadi seharusnya……”

“Jadi seharusnya aku bagaimana? Diam saja melihat orang yang aku cintai mulai menjauh? Atau membiarkan kau benar-benar pergi jauh dan melupakan aku?” Gadis itu memotong kalimatku dan kulihat dari sudut matanya mulai mengalir dua tetes air mata yang dengan cepat segera dihapusnya.

“Bukan begitu Dara. Tapi…”

“Tapi apa?” Ia mengangkat wajahnya dan tatapan kami bertemu untuk pertama kalinya di malam ini. Sinar matanya memancarkan cahaya yang memilukan. Aku melihat ada rasa lelah yang teramat sangat di bola matanya. Dan kenyataan itu semakin membuatku merasa bersalah pada dirinya dan pada diriku sendiri.

“Aku merasa kita memang tidak akan pernah bisa bersama. Aku tidak bisa terus-menerus membuatmu bersedih seperti ini. Kau pantas untuk bahagia Dara” Kalimat itu mengalir begitu saja keluar dari bibirlku. Betapa menyesalnya aku ketika kulihat gadis itu benar-benar meneteskan air matanya, meski ia coba untuk menghapusnya beberapa kali.

“Kalau begitu, buatlah aku bahagia!” Ucapnya dengan tatapan penuh harap. Kini air matanya sudah memenuhi kedua pipi berlesung itu. Ingin sekali aku mengangkat tanganku dan menghapus air mata yang mengalir begitu deras di pipinya lalu berkata, “Kau tenang saja, mulai saat ini tidak akan kuizinkan pipi ini basah oleh air mata walau hanya setetes!”

Tapi lagi-lagi yang terjadi sebaliknya. Kuhindari tatapan gadis itu dan berkata, “Aku sudah berusaha, Dara. Selama dua tahun ini aku sudah berusaha membuatmu bahagia. Tapi aku tidak bisa. Seperti hari ini, aku kembali membuatmu menangis dan meneteskan air mata. Maafkan aku Dara!”

Mendengar jawabanku, tangis gadis itu semakin memilukan hatiku. Air matanya semakin deras mengalir. Disela isakan tangisnya ia berkata, “Lalu mengapa dulu kau hadir dikehidupanku? Membuatku membunuh cinta yang lain hanya untuk mempertahankanmu? Apa maksudmu saat kau mengatakan bahwa aku adalah awan dan kau adalah angin yang akan selalu mengarakku kemanapun kau pergi? Apa maksud dari semua itu?”

Kali ini aku yang dibuatnya terdiam. Kehabisan kata-kata untuk sekedar menjawab pertanyaannya.

“Jika begitu, berhentilah kau menjadi awan, agar kau tidak perlu lagi bergerak megikuti angin. Dan biarkanlah aku tetap menjadi angin, yang dapat pergi kemanapun aku ingin” Jawabku pada akhirnya yang satu detik setelah itu segera kusesali. Aku mulai memaki diriku sendiri yang terlihat sangat bodoh malam ini.

Kulirik gadis di depanku. Ia masih tertunduk, mungkin kaget dengan kata-kataku. Tapi kulihat air matanya masih terus mengalir. Kini suasana menjadi hening. Aku tidak bisa mendengar apapun. Bahkan isakan dari gadis yang hanya dipisahkan oleh sebuah meja didepanku, aku tidak bisa mendengarnya.

Perlahan aku bangkit dari tempat dudukku, namun gadis itu tetap mematung di tempatnya dan tidak bergerak sedikitpun. Kumulai melangkahkan kakiku menuju sebuah pintu besar di tengah ruangan. Dalam hati aku berharap gadis itu akan memanggilku. Jika benar begitu, maka sudah kuputuskan untuk menarik segala yang kukatakan padanya tadi. Jika benar ia memanggilku, aku akan segera berbalik dan berlari kepadanya. Jika semua itu terjadi, aku berjanji akan menggenggam tangannya dan menariknya kedalam dekapanku. Lalu akan kukatakan, “Maafkan aku. Lupakan saja semua kata-kataku tadi. Mulai saat ini kau hanya perlu mengingat satu hal, aku mencintaimu”.

Namun seperti yang terjadi sebelumnya, harapan dan kenyataan tetap saja berbeda. Hingga pintu besar itu berhasil kuraih, tidak kudengar suara gadis itu memanggilku. Ketika aku berbalik untuk melihatnya, ia masih berada pada posisinya semula, - menunduk, menangis.

Hampir satu jam aku duduk di sebuah bangku panjang di teras kafe. Merenungi betapa jahatnya aku pada gadis yang sangat mencintaiku itu hingga kulihat ia keluar dari kafe. Sepertinya ia sudah tidak menagis lagi. Dan kulihat ia hanya membawa sebuah tas tangan kecil di tangan kanannya. Aku memperhatikannya begitu lekat hingga ia berbelok dan hilang dari pandanganku.

Aku bangkit dari bangku panjang itu hendak pulang. Ketika aku melintasi pintu besar kafe, aku melihat kue dan sebuah box bersampul kertas berwarna biru masih berada di atas meja nomor 13. Akhirnya kuputuskan untuk masuk kedalam kafe dan segera menuju dua benda yang ditinggalkan Gadis itu. Kue tart yang tadinya begitu cantik kini terlihat menyedihkan. Terdapat bercak merah dan putih bekas lilin yang mencair di atas kue tersebut. Kemudian pandanganku beralih pada box biru disampingnya. Perlahan kubuka kertas pembungkus box dan aku menemukan sebuah syal rajutan bertuliskan “Dinda Sayang Kanda”. Mungkin ini adalah hasil rajutan gadis itu sendiri. Dan kenyataan itu semakin membuatku tersudut.

Setelah hampir setengah jam aku memperhatikan syal dan kue yang ada di meja itu silih berganti, akhirnya kuputuskan untuk membawa pulang keduanya.

“Terima kasih Dara, untuk semua yang telah kau berikan padaku selama ini, termasuk hadiah ulang tahun ini. Jika aku diberi satu kesempatan lagi untuk bertemu denganmu, maka dengan sepenuh hati akan kuminta kau untuk tetap menjadi awan, awan yang selalu mengikuti angin”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar