Mengikuti Angin
Oleh : Ayy Dara
Aku melihatnya duduk mematung dengan sebuah
kue tart di hadapannya. Aku juga melihat nomor meja yang sedang ditempatinya, -
nomor 13. Gadis itu. Pasti ia telah mempersiapkan ini semua. Memesan meja
sesuai dengan tanggal lahirku, membawa kue dan lilin sesuai dengan usiaku, dan
mengajakku untuk bertemu. Sejujurnya ku akui, ia adalah gadis yang sempurna.
Memperlakukanku lebih dari yang aku inginkan. Membuat aku selalu merasa
spesial, meski sering yang kulakukan padanya adalah sebaliknya.
Aku masih menatapnya, - dari tempat dimana ia
tidak dapat melihat keberadaanku. Ia masih duduk dengan sabar dan pandangannya
menerawang. Sesekali kulihat ia tersenyum, mungkin membayangkan pertemuan ini
akan menjadi pertemuan yang indah dalam hidupnya.
Yaa, hampir satu tahun tidak saling menatap
wajah sejujurnya membuatku rindu padanya. Ia yang selalu ingin aku lupakan,
malah kerap hadir dan menjelma sebagai kenangan. Bukan aku tidak menyayanginya,
karena tentu saja aku sayang. Ia adalah gadis terbaik yang pernah kutemui. Tapi
entah mengapa aku tidak bisa menyatakan atau hanya sekedar memperlihatkan rasa
sayangku padanya.
“Arya, bisakah kita bertemu besok jam 7 malam
di kafe?” Begitulah kalimatnya saat menelfonku semalam. Sejujurnya aku ingin
mengatakan “Ya” saat itu juga. Tapi yang terjadi sebaliknya. Aku mengatakan
bahwa aku sangat sibuk hingga tidak mungkin datang untuk menemuinya.
“Tidak apa-apa kalau kau
sibuk, aku akan menunggumu. Datanglah kesana jika kau sudah tidak sibuk lagi!”
Yaa Tuhan. Dari apa hati gadis ini Engkau ciptakan? Aku sudah menolak ajakannya
tapi dia akan tetap menungguku? Baiklah, maka malam ini akan kubuktikan
kata-kata gadis itu.
Kulirik jam di tanganku,
sudah menunjukkan pukul 11 malam dan gadis itu masih duduk di tempatnya. Dia
masih setia menunggu kedatanganku. Sepertinya hampir satu tahun tidak bertemu
dengannya, aku mulai melupakan satu hal bahwa dia adalah gadis yang nekat. Dia
bisa saja duduk disana hingga pagi jika aku tak kunjung menemuinya. Karena itu
sudah kuputuskan untuk menemuinya sebentar dan menyuruhnya pulang.
Ia masih melamun saat aku tiba didepannya.
Cukup lama hingga ia menyadari kehadiranku. Wajahnya yang teduh dan matanya
yang sayu tampak sangat lelah malam ini.
“Apa-apaan ini semua?” Aku
bertanya pada gadis itu.
“Hahh?” Ia tampak berusaha
mencari maksud dari pertanyaanku.
“Untuk apa kau
mempersiapkan ini semua?”
“Aku hanya ingin merayakan
ulang tahunmu. Itu saja!” Jawabnya dengan seulas senyum manis dibibirnya.
Aku bingung harus berbuat
apa. Di satu sisi aku bahagia karena kejutan yang dipersiapkan oleh gadis yang
tengah duduk di hadapanku ini. Tapi disisi lain, aku tidak ingin membuatnya
kecewa. Entah sudah berapa banyak air mata yang ia tumpahkan selama aku
mengenalnya. Dan yang lebih menyakitkanku adalah ia menangis karena
kesalahanku.
Seperti dua tahun yang
lalu saat aku dan ia bertemu di kampus kami. Hari itu sungguh aku dan ia dalam
suasana hati yang baik pada awalnya. Kami saling bercerita dan bercanda seperti
orang-orang pada umumnya. Tapi apa yang terjadi kemudian, aku membuat ia
bersedih dan hampir menangis hanya karena aku tidak bisa memberikan kepastian
tentang hubungan kami. Yaa, saat itu aku belum yakin aku bisa membahagiakannya
dan sekarangpun begitu.
Setelah saling terdiam
untuk beberapa saat, aku mulai memandangnya. Ia tertunduk, -melamun.
“Pulanglah Dara! Ini sudah
malam.” Ucapku pada akhirnya. Kulihat ia sedikit terkejut dan segera mengambil
korek api untuk menyalakan lilin berlambang 23 yang telah tertancap di atas kue
ulang tahun itu.
“Happy Birthday to you..
Happy Birthday to you….” Aku mendengarkan gadis itu bernyanyi dengan suara yang
sangat pelan. Mungkin ia lelah setelah seharian bekerja, lalu setengah malam ia
habiskan untuk menunggu kehadiranku di tempat ini.
“Sekarang ayo make a wish
dulu, sebelum tiup lilinnya!” Pintanya sambil tersenyum manja padaku.
“Tak perlu seperti ini,
Dara!” Jawabku.
“Apanya?” Ia bertanya
heran.
“Kita bukan anak ABG lagi
yang ulang tahunnya harus dirayakan seperti ini! Kita sudah dewasa, jadi
seharusnya……”
“Jadi seharusnya aku
bagaimana? Diam saja melihat orang yang aku cintai mulai menjauh? Atau
membiarkan kau benar-benar pergi jauh dan melupakan aku?” Gadis itu memotong
kalimatku dan kulihat dari sudut matanya mulai mengalir dua tetes air mata yang
dengan cepat segera dihapusnya.
“Bukan begitu Dara. Tapi…”
“Tapi apa?” Ia mengangkat
wajahnya dan tatapan kami bertemu untuk pertama kalinya di malam ini. Sinar matanya
memancarkan cahaya yang memilukan. Aku melihat ada rasa lelah yang teramat
sangat di bola matanya. Dan kenyataan itu semakin membuatku merasa bersalah
pada dirinya dan pada diriku sendiri.
“Aku merasa kita memang
tidak akan pernah bisa bersama. Aku tidak bisa terus-menerus membuatmu bersedih
seperti ini. Kau pantas untuk bahagia Dara” Kalimat itu mengalir begitu saja
keluar dari bibirlku. Betapa menyesalnya aku ketika kulihat gadis itu
benar-benar meneteskan air matanya, meski ia coba untuk menghapusnya beberapa
kali.
“Kalau begitu, buatlah aku
bahagia!” Ucapnya dengan tatapan penuh harap. Kini air matanya sudah memenuhi
kedua pipi berlesung itu. Ingin sekali aku mengangkat tanganku dan menghapus air
mata yang mengalir begitu deras di pipinya lalu berkata, “Kau tenang saja,
mulai saat ini tidak akan kuizinkan pipi ini basah oleh air mata walau hanya
setetes!”
Tapi lagi-lagi yang
terjadi sebaliknya. Kuhindari tatapan gadis itu dan berkata, “Aku sudah
berusaha, Dara. Selama dua tahun ini aku sudah berusaha membuatmu bahagia. Tapi
aku tidak bisa. Seperti hari ini, aku kembali membuatmu menangis dan meneteskan
air mata. Maafkan aku Dara!”
Mendengar jawabanku,
tangis gadis itu semakin memilukan hatiku. Air matanya semakin deras mengalir.
Disela isakan tangisnya ia berkata, “Lalu mengapa dulu kau hadir dikehidupanku?
Membuatku membunuh cinta yang lain hanya untuk mempertahankanmu? Apa maksudmu
saat kau mengatakan bahwa aku adalah awan dan kau adalah angin yang akan selalu
mengarakku kemanapun kau pergi? Apa maksud dari semua itu?”
Kali ini aku yang
dibuatnya terdiam. Kehabisan kata-kata untuk sekedar menjawab pertanyaannya.
“Jika begitu, berhentilah
kau menjadi awan, agar kau tidak perlu lagi bergerak megikuti angin. Dan
biarkanlah aku tetap menjadi angin, yang dapat pergi kemanapun aku ingin”
Jawabku pada akhirnya yang satu detik setelah itu segera kusesali. Aku mulai
memaki diriku sendiri yang terlihat sangat bodoh malam ini.
Kulirik gadis di depanku.
Ia masih tertunduk, mungkin kaget dengan kata-kataku. Tapi kulihat air matanya
masih terus mengalir. Kini suasana menjadi hening. Aku tidak bisa mendengar
apapun. Bahkan isakan dari gadis yang hanya dipisahkan oleh sebuah meja
didepanku, aku tidak bisa mendengarnya.
Perlahan aku bangkit dari
tempat dudukku, namun gadis itu tetap mematung di tempatnya dan tidak bergerak
sedikitpun. Kumulai melangkahkan kakiku menuju sebuah pintu besar di tengah
ruangan. Dalam hati aku berharap gadis itu akan memanggilku. Jika benar begitu,
maka sudah kuputuskan untuk menarik segala yang kukatakan padanya tadi. Jika
benar ia memanggilku, aku akan segera berbalik dan berlari kepadanya. Jika
semua itu terjadi, aku berjanji akan menggenggam tangannya dan menariknya
kedalam dekapanku. Lalu akan kukatakan, “Maafkan aku. Lupakan saja semua
kata-kataku tadi. Mulai saat ini kau hanya perlu mengingat satu hal, aku
mencintaimu”.
Namun seperti yang terjadi
sebelumnya, harapan dan kenyataan tetap saja berbeda. Hingga pintu besar itu
berhasil kuraih, tidak kudengar suara gadis itu memanggilku. Ketika aku
berbalik untuk melihatnya, ia masih berada pada posisinya semula, - menunduk,
menangis.
Hampir satu jam aku duduk
di sebuah bangku panjang di teras kafe. Merenungi betapa jahatnya aku pada gadis
yang sangat mencintaiku itu hingga kulihat ia keluar dari kafe. Sepertinya ia sudah
tidak menagis lagi. Dan kulihat ia
hanya membawa sebuah tas tangan kecil di tangan kanannya. Aku memperhatikannya
begitu lekat hingga ia berbelok dan hilang dari pandanganku.
Aku bangkit dari bangku
panjang itu hendak pulang. Ketika aku melintasi pintu besar kafe, aku melihat
kue dan sebuah box bersampul kertas berwarna biru masih berada di atas meja
nomor 13. Akhirnya kuputuskan untuk masuk kedalam kafe dan segera menuju dua
benda yang ditinggalkan Gadis itu. Kue tart yang tadinya begitu cantik kini
terlihat menyedihkan. Terdapat bercak merah dan putih bekas lilin yang mencair
di atas kue tersebut. Kemudian pandanganku beralih pada box biru disampingnya.
Perlahan kubuka kertas pembungkus box dan aku menemukan sebuah syal rajutan
bertuliskan “Dinda Sayang Kanda”. Mungkin ini adalah hasil rajutan gadis itu
sendiri. Dan kenyataan itu semakin membuatku tersudut.
Setelah hampir setengah
jam aku memperhatikan syal dan kue yang ada di meja itu silih berganti,
akhirnya kuputuskan untuk membawa pulang keduanya.
“Terima kasih Dara, untuk semua yang telah kau
berikan padaku selama ini, termasuk hadiah ulang tahun ini. Jika aku diberi
satu kesempatan lagi untuk bertemu denganmu, maka dengan sepenuh hati akan
kuminta kau untuk tetap menjadi awan, awan yang selalu mengikuti angin”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar