Rasa Yang Tertinggal
Oleh : Ayy Dara
Tahukah kau apa yang paling
tega di dunia ini?
Penjahat? Bukan. Perampok?
Bukan. Ibu tiri? Bukan.
Yang paling tega di dunia ini
adalah waktu. Tahukah kau mengapa? Karena ia akan tetap berjalan, meskipun kau
berteriak padanya untuk berhenti. Ia akan terus berlari, walaupun kau memohon
padanya untuk kembali. Karena waktu, ada sebuah harapan yang harus terkubur sebelum
ia benar-benar tumbuh. Dan karena waktu, ada sebuah rasa yang terpaksa harus
tertinggal di masa lalu.
* * *
Langit mulai menurunkan
butir-butir rahmatnya secara perlahan. Mendung yang sedari dari menggelayut
manja mungkin sudah tidak tahan untuk menumpahkan beban yang sejak petang tadi
dipikulnya. Tetes demi tetes gerimis jatuh membasuh jalanan yang tidak begitu
ramai di hadapanku.
Tetesan hujan yang jatuh
membentuk bulatan-bulatan bergelembung di depan cafe berhasil mencuri
perhatianku. Kupandangi gelembung itu lamat-lamat. Entah apa yang menarik, tapi
bagiku pemandangan itu sangat indah. Perlahan kuusap kaca besar yang memisahkan
aku dengan teras cafe ini, menghapus embun yang semakin memudarkan pandanganku
untuk menatap gelembung-gelembung kecil diluar sana.
“Maaf, aku terlambat. Udah
lama nunggunya?” kualihkan pandangan untuk menatap seseorang yang baru saja
menyapaku. Ia masih berdiri di tempatnya. Sebagian bajunya basah. Pasti ia
kehujanan dalam perjalanan kesini.
“Gak apa-apa, aku udah terbiasa
menunggu kok,” Jawabku sebelum kembali menatap ke luar jendela. Kini kaca besar
didekatku kembali dipenuhi embun yang menghalangi pandanganku menatap tetesan air
hujan yang turun di luar sana.
“Maafkan aku karena telah
membuatmu menunggu terlalu lama,” Katamu.
Kalimatmu itu berhasil
menarikku untuk kembali menatapmu. Kulihat kau masih berdiri di tempat semula. Tak
ada senyum di wajahmu seperti biasa. Yang tergambar disana hanyalah garis-garis
keseriusan. Aku mulai bertanya pada diriku sendiri apa yang telah terjadi
denganmu. Hari ini kau berbeda, tak seperti kau yang biasa.
“Dara, malam ini sibuk
tidak?” Katamu saat kau menelponku tadi siang.
“Memangnya ada apa Yan?”
Jawabku.
“Bisa kita bertemu di cafe
malam ini jam 7? Aku mau...”
“Ohh, boleh. Aku juga mau
liatin sama kamu bukuku yang udah terbit itu. Kita ketemu jam 7 di cafe biasa
yaa,” kataku memotong kalimatmu. Aku tidak begitu peduli dengan tujuan awalmu mengajak aku
bertemu. Karena aku fikir kau memang ingin melihat buku yang pernah kujanjikan
padamu agar kau adalah orang pertama yang melihatnya setelah buku itu terbit.
Dan kau hanya meng-iyakan kata-kataku, tanpa membantahnya atau berusaha
menjelaskan kembali kalimatmu yang kupotong sebelumnya.
“Hey, ada apa sih? Serius
banget! Ayo duduk dulu!” kataku sambil menarik lengan kemejamu yang lembab
terkena hujan saat diperjalanan tadi.
Kau tersentak, tersadar dari
lamunan dan kemudian menatapku dengan memaksakan sedikit senyum. Sungguh, kau
semakin terlihat aneh malam ini. Perlahan kau duduk di depanku dan melepaskan
ransel yang sejak tadi bertengger di pundakmu. Kemudian kau mengambil beberapa
helai tisue dan berusaha mengeringkan kemejamu yang terlihat masih sedikit
basah. Aku hanya menatapmu tanpa bertanya apapun hingga kau mengangkat wajahmu
dan membuat pandangan kita bertemu.
“Mau kupesankan cappucino
hangat?” tanyaku, yang hanya kau jawab dengan anggukan kepala.
Aneh! Semua ini benar-benar
aneh. Kau bukan seperti Aryan yang aku kenal 5 tahun lalu. Kau terlihat seperti
orang lain, seseorang yang tidak kukenal. Sambil membawa segelas cappucino
hangat untukmu, aku kembali duduk di tempatku.
“Ini, diminum dulu biar lebih
hangat!” ucapku sambil meletakkan gelas itu di hadapanmu.
“Terima kasih,” jawabmu.
Singkat. Padat. Dan membuatku tidak percaya. Tidak biasanya kau menjawab
kata-kataku sesingkat itu. Tapi aku hanya membiarkanmu meneguk cappucino itu
tanpa bertanya. Lalu beberapa detik kemudian kau melihat ke gelas yang ada di hadapanku.
Gelas yang hanya
berisi setengah, karena setengah lagi telah kuminum sejak setengah jam yang
lalu. “Itu?”katamu menunjuk cappucino dingin milikku.
“Tadi waktu aku datang belum
hujan begini, makanya aku pesan cappucino dingin!” jawabku.
“Ohh,” lalu kembali senyap.
Hanya terdengar detakan high heels dari
karyawan cafe yang berlalu lalang mengantar pesanan.
Tiba-tiba aku teringat
sesuatu dan membuka tas tangan yang aku letakkan di kursi samping tempat
dudukku. “Ini, sesuai janjiku. Kamu adalah orang pertama yang aku liatin buku
ini!” ucapku sambil memberikan buku bersampul biru itu padamu. Kau mengambilnya,
dan untuk beberapa saat kau hanya memperhatikan cover buku yang bergambar seorang peri di atas bulan sabit dan
seorang laki-laki di dalam sebuah gedung. Keduanya terlihat sama-sama tengah
bersedih. Entahlah, aku tak tau apa yang menarik dari cover buku itu hingga kau lama sekali menatapnya.
Aku kembali mengaduk-aduk
cappucino di hadapanku ketika kudengar kau memanggilku, “Dara...” katamu.
“Yaa?” jawabku sambil
mengangkat kepala. kulihat kau masih manatap cover buku yang tadi kuberikan padamu.
“Kamu masih ingat janjiku
beberapa bulan yang lalu?” katamu. Aku berusaha mengingat janji yang kau maksud
hingga kudengar kau kembali bersuara, “Yang kubilang ada sesuatu yang ingin
kusampaikan padamu!” kau melanjutkan.
Aku hanya diam, menunggu kau
melanjutkan kalimatmu. Namun lebih dari tiga menit tak juga kudengar kau bersuara. “Jika kamu belum ingin memenuhinya
sekarang, jangan dipaksakan!” kataku.
“Dara, kamu masih ingat tentang kisah
yang pernah kuceritakan padamu? Tentang seorang laki-laki yang diam-diam
menyukai perempuan tapi tidak berani untuk mengatakannya. Akhirnya setelah
bertahun-tahun mereka bersahabat, perasaan itu belum juga pernah terungkap. Apa
kamu masih ingat?” tanyamu,
masih dengan tatapan menerawang.
Aku hanya mengangguk tanpa
mengatakan apapun. Aku tak yakin kau melihat aku mengangguk meng-iyakan
pertanyaanmu, tapi kudengar kau kembali melanjutkan kalimatmu, “Laki-laki itu
aku, Dara!” ucapmu sebelum hening beberapa saat diantara kita berdua. Kini yang
terdengar hanya alunan musik dari pendengar suara cafe. “Maukah kau tau siapa
perempuan itu?” kau bertanya dengan setengah berbisik hingga akupun nyaris tak
bisa mendengarnya.
“Siapa?” aku bertanya ragu-ragu.
Takut jika tiba-tiba kau tertawa dan menyadarkan aku bahwa sejak tadi kau hanya
berpura-pura serius untuk menjahiliku, seperti yang biasa kau lakukan.
“Perempuan itu adalah kamu,
Dara!” jawabmu seraya menegakkan kepala.
Degg. Aku terkejut. Aku hanya
terdiam dan tak mampu melakukan apapun. Kali ini kulihat pandanganmu
benar-benar serius, tak ada sedikitpun tanda-tanda sedang bercanda disana.
Sementara tatapan kita bertemu, kurasakan ada getaran hangat yang mengalir
memenuhi dadaku. Dan jantungku terasa berdegup lebih cepat dari biasanya.
Ujung-ujung jemariku terasa kaku. Perasaan seperti ini, sepertinya aku pernah
merasakannya. Yaa, aku pernah merasakannya dua tahun yang lalu.
Perjalanan singkat itu telah
berhasil menumbuhkan
sesuatu di hatiku. Aku tak tau pasti apa namanya. Yang kutahu sejak itu aku
merasa nyaman ketika berada di dekatmu. Aku selalu mencari dimana keberadaanmu.
Bila kau tak ada, aku merasakan ada titik-titik rindu yang memenuhi hati ini.
Seringkali jika aku teringat dengan kisah perjalanan kita empat hari itu, aku
marasakan ada aliran yang terasa hangat menyergap hatiku. Dulu aku tak tahu
harus disebut apa yang aku rasakan. Dan hari ini, rasa yang pernah kulupakan
itu mulai kurasakan kembali. Namun kali ini aku tetap tidak tahu harus kusebut
apa perasaan ini.
Aku kembali tersadar. Kulihat
kau hanya memandangi gelas cappucino milikmu. Entah sudah berapa lama kita
menghabiskan waktu dengan berdiam diri seperti ini.
“Aku tau!” ucapku, sambil
menatap kosong ke luar jendela. Hujan sudah mulai reda. Hanya satu-satu rintik
gerimis yang masih membasahi jalanan di depan cafe. Kulihat dari ekor mataku
kau menegakkan kepala. menungguku mengalihkan pandangan ke arahmu.
“Kau tau?” tanyamu.
“Ya, setiap orang pasti bisa
merasakan jika ada seseorang yang menyukainya. Dan aku bisa merasakannya,”
jawabku dengan pandangan masih tertuju ke luar jendela.
“Maafkan aku Dara, baru
berani mengakuinya sekarang!” ucapmu, sebelum kulihat kau kembali menunduk.
“Kenapa dulu kamu
menyukaiku?” aku bertanya.
Kulihat kau kembali
menegakkan kepala, lalu ikut menatap ke luar jendela, “Karena aku merasa nyaman
dengan kamu,” jawabmu.
“Setelah sekian lama, lalu
mengapa sekarang kamu mengungkapkannya?” tanyaku lagi.
“Aku hanya ingin
menyampaikannya. Aku hanya ingin kamu tau bagaimana perasaanku dulu. Tapi
ternyata kamu sudah tau,”
Aku hanya tersenyum. Tidak
tau lagi harus menjawab apa atau berkata apa kepadamu.
“Kenapa kamu pura-pura tidak
tau?” tanyamu.
“Aku hanya takut kau menjauh
jika kau tau bahwa aku sudah tau tentang perasaanmu padaku. Aku tidak mau
kehilangan kamu
sebagai sahabatku!”
“Kamu benar Dara, lagian
lebih baik begini kan? Kita bersahabat saja,” ucapmu dengan sebuah senyum yang
biasa kulihat terbingkai di wajahmu.
“Iya,” jawabku, juga dengan
sebuah senyum.
“Tapi Dara, bolehkah aku
bertanya sesuatu?”
“Apa?”
“Bagaimanakah perasaanmu
waktu itu? Apakah kamu juga menyukaiku?”
Pertanyaanmu sontak membuatku
beku. Butuh waktu lama untuk dapat mengembalikan kesadaranku. Bagaimanakah perasaanku? Ahh, mengapa
kau harus menanyakannya.
“Aku bingung bagaimana
menjelaskannya. Aku juga tidak tau harus mulai darimana,” ucapku sebelum
terdiam sejenak. “Aku hanyalah seorang pemimpi. Aku hidup dalam empat sisi
ruang sempit yang penuh dengan khayalan. Dan hal yang paling aku takutkan adalah kenyataan.
Dulu, aku pernah melihat kita diantara empat sisi dunia yang kuciptakan. Namun
dua detik kemudian aku segera menepisnya. Kau mau tau kenapa? Mungkin karena
aku takut jika semua itu hanya ada di dalam mimpiku, dan tidak akan pernah
menjadi nyata. Aku terlalu takut jika aku terus menumbuhkan rasa, aku akan
bertemu kembali dengan deraian kecewa. Sedangkan kecewa yang lalu belum
sepenuhnya mampu kuhapus dari ingatan. Jika sekarang kamu bertanya bagaimana
perasaanku waktu itu, akupun tak dapat memahaminya,”
Aku menjawab pertanyaanmu
sambil menatap kosong ke luar jendela. Kulihat kau pun begitu, kita melakukan
hal yang sama. Kita hanya terdiam, sibuk dengan fikiran kita masing-masing. Entah apa yang
kau fikirkan, aku tidak tau. Bahkan apa yang aku fikirkan, aku sendiri pun
tidak mengerti. Satu kalimat terakhir yang tadi kukatakan padamu masih
menari-nari di kepalaku. “Bagaimakah perasaanku waktu itu? akupun tak dapat
memahaminya!”
Yaa. Hingga saat ini aku
masih belum dapat memahaminya.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar