Janjimu
Dihapus Air Mata
Oleh :
Ayy Dara
“Tiara....”
Aku mendengar seseorang memanggil namaku. Perlahan kucoba untuk membuka mata, –
Berat. Aku tahu telah terjadi sesuatu padaku. Ini bukan pertama kalinya aku
mengalami hal seperti ini. Sejak kecelakaan itu, aku merasa hidupku berubah.
Sakit dan Rumah sakit adalah sahabatku.
Aku
membuka mata perlahan. Kulihat Tanteku, - Tante Lara - duduk disampingku. Ia
menggenggam tanganku erat, seolah ia tidak ingin melepaskannya. “Tantee...” Aku
memanggilnya dengan sisa tenaga yang kumiliki.
Aku
melihat Tante Lara mengangkat kepalanya, “Kamu udah sadar sayang? Syukurlah!
Tante panik sekali!” Yaa, aku bisa melihat kepanikan itu dari sinar matanya.
“Tiara
kenapa Tante?” Ahh, aku benar-benar tidak perku menanyakannya. Tentu saja tadi
aku tiba-tiba tidak sadarkan diri dan membuat Tante Lara panik, kemudian ia
segera membawaku kesini. Sungguh sebenarnya aku sudah tahu semuanya.
“Tadi
kamu jatuh, terus gak sadarkan diri. Makanya Tante langsung bawa kamu kesini.
Gimana perasaan kamu sekarang?”
“Tiara baik-baik aja kok Tante. Terus
dokter bilang apa?”
“Kata
dokter kamu harus dirawat, sayang!” kulihat Tante Lara terseyum.
“Tapi
Tante...”
“Udah, sekarang kamu
istirahat dan jangan mikirin yang lain dulu. Yang penting kamu sembuh. Tante
mau pulang sebentar, kamu gak apa-apa kan Tante tinggal?”
“Iya Tan,
Tiara gak apa-apa kok!” Jawabku pada akhirnya sebelum kulihat Tante Lara keluar
dari ruanganku.
Tante
Lara benar. Aku harus sembuh, demi Tante dan demi cita-cita orang tuaku yang
menginginkan aku untuk menjadi dokter.
Kini hari
demi hari berganti, tapi aku masih terbaring lemah disini tanpa memiliki daya
untuk melakukan apapun.
Suatu
hari aku merasakan suatu malam yang panjang. Sayup kudengar suara Tante Lara
memanggilku. Aku mencoba menggapainya, tapi tanganku tidak bisa meraih
tangannya. Perlahan aku dapat merasakan tetesan air membasahi tanganku. Ada apa
denganku? Apa yang terjadi? Apa aku harus pergi sekarang?
Tapi
seketika semuanya
menjadi senyap. Sunyi tanpa suara. Aku merasakan genggaman tangan Tante Lara.
Perlahan kubuka mata, lalu kulihat Tante memelukku dan menangis di bahuku.
Namun aku masih terdiam, tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi.
Satu
persatu orang yang berada di ruanganku keluar. Dokter, perawat, mereka tersenyum
padaku. Aku semakin yakin telah terjadi sesuatu padaku. Kemudian aku menoleh
kearah pintu, disana berdiri seorang laki-laki yang juga tengah menatapku sambil tersenyum. Aku kembali
terdiam. Mencoba mengingat siapa laki-laki itu. Apa mungkin aku mengenalnya?
Ahh tidak, aku tidak mengenalnya. Lalu mengapa dia ada di ruanganku?
Berselang
beberapa jam aku kembali membuka mata dari tidurku. Aku mengarahkan pandangan
ke seluruh ruangan mencari Tante
Lara, tapi aku tidak melihatnya. Tiba-tiba aku tersentak karena melihat
laki-laki di pintu tadi duduk di sofa yang terletak disudut ruangan. Pandangan
kami bertemu, kemudian dia berdiri menghampiriku.
“Kamu
haus? Mau aku ambilkan minum?” Kudengar suara laki-laki itu bertanya.
Aku
menggeleng, lalu kemudian kulihat dia tersenyum. “Kamu siapa?”
Dia
menarik kursi kemudian duduk disamping tempat tidurku. “Namaku Putra. Aku
diminta Tantemu untuk jagain kamu karena dia pergi ke ruangan dokter sebentar.
Kamu Tiara kan?”
“Iya,
kamu yang dipintu tadi kan?”
“Iya”
Jawabnya sambil tersenyum.
“Kenapa
kamu di pintu kamarku tadi? Kamu kasihan yaa sama aku?”
“Aku....”
Kulihat ia menjadi gugup. Mungkin tidak menyangka aku akan bertanya seperti itu
padanya.
Kali ini
aku yang tersenyum, “Aku gak perlu dikasihanin. Karena sebentar lagi aku juga
bakalan pergi dari dunia ini!”
“Kamu gak
boleh ngomong gitu Tiara!”
“Aku
benci dengan hidupku yang selalu menyusahkan orang lain!”
“Kamu gak
pernah menyusahkan Tante kok sayang. Tante sayang sama kamu!” Tiba-tiba saja
Tante Lara datang dan menyambung pembicaraanlu dengan Putra. Kemudian Tante
Lara memelukku dan kulihat Putra tersenyum. Senyum yang seolah-olah memberikan
aku semangat untuk menjalani hidup ini.
Sejak
saat itu Putra sering datang menjengukku. Dia selalu memberiku semangat untuk
hidup.
Pada
suatu malam Putra kembali datang menjengukku.
“Kita
jalan-jalan yuk Ra!” Ucapnya tiba-tiba.
“Gimana
caranya Put?”
“Tunggu
sebentar yaa,” Ia
berlari keluar dan tidak lama kemudian ia kembali dengan membawa sebuah kursi
roda. Aku tersenyum melihatnya. Ia yang selalu berhasil membuatku merasa tidak
sendiri melalui masa-masa sulitku ini.
“Kamu
duduk disini yaa!” Putra memapahku untuk bangkit dan duduk di kursi roda yang
dibawanya. Perlahan ia mendorong kursi roda itu menuju lantai paling atas dari
rumah sakit. Disana aku bisa melihat seluruh kota yang sangat indah dengan
hiasan lampu berwarna-warni. Kemudian aku mengadahkan kepalaku melihat langit.
Tidak kalah indahnya. Bintang bertaburan menerangi malam ini.
“Wow, indah banget Put!” Aku
bersorak melihat pemandangan yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Kulihat
Putra berlutut di hadapanku. “Makanya kamu harus sembuh, supaya kamu bisa lihat
keindahan lainnya!” Ucapnya dengan seulas senyum yang terkembang di wajahnya.
“Tapi
Put, aku gak kuat!”
“Coba
deh, kamu lihat bintang yang disana!” Putra menunjuk sebuah bintang yang
tersudut, tidak ada bintang disekitarnya. “Bintang itu kecil, tapi indah.
Bintang itu kesepian, tapi ia tetap bersinar. Harusnya kamu bisa seperti
bintang itu! Kamu gadis yang cantik. Walaupun kamu sakit, bukan berarti kamu
harus nyerah kan?”
Aku
terdiam mendengar kata-katanya. Di satu sisi hatiku membenarkan, namun di sisi
lain aku merasa aku tidak akan sanggup untuk melakukannya.
“Darimana
kamu tahu ada tempat seindah ini di rumah sakit ini Put? Aku mencoba
mengalihkan pembicaraan.
“Aku tahu
tempat ini setahun yang lalu, saat adikku dirawat di rumah sakit ini. Suatu
malam aku mengajaknya kesini untuk melihat bintang. Suasana malam itu sangat
indah, sama seperti malam ini. Tapi...” Putra menghentikan ceritanya. Air matanya
mengalir. Sinar matanya memancarkan
cahaya kesedihan yang mendalam.
“Tapi
kenapa? Kamu kok nangis?”
Putra
tetap diam sambil menghapus air matanya. Aku tidak tahu mengapa ia menghentikan
ceritanya lalu menangis. Aku berusaha menebak fikirannya dengan suara pelan.
“Apa itu
malam terakhir bagi adikmu?”
Putra menatapku. Sepertinya ia terkejut dengan tebakanku. Aku menunduk
menghindari sinar matanya yang menakutkanku. Saat aku kembali meliriknya,
kulihat Putra kembali menangis.
“Putra,
ada apa?” Aku mencoba menenangkannya.
“kamu
benar Ra, malam itu adalah malam terakhir baginya. Saat aku sedang menceritakan
sebuah dongeng tentang bintang, ternyata adikku sudah tidur untuk
selama-lamanya”
“Maafin
aku Put! Bukan maksudku buat kamu sedih!”
“Gak
apa-apa kok Ra. Mungkin setahun yang lalu aku gagal menyelamatkan adikku.
Sekarang aku akan mencoba menyelamatkan semangatmu dari putus asa!” Kali ini
kulihat Putra kembali tersenyum.
“Aku gak
yakin Put!”
“Kamu
pasti bisa Tiara!” Putra kembali menyemangatiku.
“Kalau
ternyata nasibku sama seperti adikmu gimana?”
“Kamu gak
boleh ngomong gitu. Kamu harus sembuh demi orang-orang yang kamu sayangi!”
“Maksud
kamu?”
“Yaa,
kamu harus sembuh demi kedua orang tua kamu!”
“Buat apa
aku sembuh. Meskipun aku sembuh,
mereka juga gak akan hidup lagi untuk nemenin aku. Mereka udah ninggalin aku
karena kecelakaan itu!”
“Jadi
orang tua kamu udah meninggal?”
“Ya,
sekarang aku tinggal sama tanteku. Makanya aku benci sama air mata. Karena air
mata itu ngingetin aku sama mereka!” Putra hanya terdiam mendengar celotehanku.
Tiba-tiba
dadaku sesak. Aku menggenggam tangan Putra erat dan membuat dia terkejut.
“Kamu
kenapa Ra?” Tanya Putra panik.
“Aku gak
apa-apa kok Put!”
“Kita
masuk yaa!”
“Tunggu
Put, kamu mau janji dua hal gak sama aku?”
“Apa Ra?”
“Kamu
harus janji, apapun yang terjadi kamu gak akan nangis lagi di depan aku dan
malam besok kamu harus ngajakin aku lihat bintang lagi yaa!”
“Oke, aku
janji!”
Putra
mengantarku ke kamar, lalu dia pulang.
* * *
Sebelum
jam delapan pagi Putra telah berada di kamarku kembali.
“Kamu gak
kuliah Put?” Tanyaku setelah melihatnya.
“Aku gak
bisa tenang Ra. Aku ingat kamu terus. Kamu baik-baik aja kan? Entah kenapa aku
rindu banget sama kamu. Aku mau nemenin kamu disini, boleh kan? Kita keluar
yuk! Hari ini cuacanya cerah,”
Aku hanya
tersenyum melihat tingkahnya yang berlebihan itu. Putra kembali mendorong kursi
rodaku. Kali ini ia mengarahkannya ke sebuah taman.
“Nah,
disini kamu bisa lihat bunga-bunga yang indah sambil nikmatin matahari pagi
Ra!”
Kuhirup
udara dalam-dalam. Tenang, damai kurasa dalam hatiku. Apalagi karena ada orang
sebaik Putra disampingku.
“Kamu
liat deh, tadi aku beli ini di toko depan rumah sakit ini. Gambarnya bintang.
Aku harap bintang ini bisa jadi penyemangat kamu!” Putra memperlihatkanku
sebuah kalung berliontin bintang yang sangat indah. Kemudian Putra memasangkan
kalung itu di leherku.
“Put, aku
mau tiduran!” Putra membantuku untuk duduk di kursi taman, lalu kusandarkan
kepalaku di pundaknya.
Perlahan
aku merasakan tubuhku ringan. Melayang dan kemudian terbang. Tanpa rasa sakit
aku keluar dari jasadku. Kutatap mata laki-laki yang masih mebelai rambutku.
“Ra, kamu
udah makan?” Putra bertanya pada jasadku yang hanya diam.
“Kamu
ngantuk yaa? Memangnya semalam kamu tidur jam berapa?”
Putra
kembali melanjutkan pertanyaannya, tapi tetap tanpa jawaban dariku. Ia mencoba
membangunkanku. Tapi jasadku tetap diam. Putra mulai panik. Ia merasakan denyut
nadiku, lalu wajahnya berubah. Air matanya jatuh. Ia menangis setelah menyadari
bahwa yang ada di dekatnya hanyalah sebuah jasad tanpa nyawa. Putra berteriak
memanggil namaku sambil tetap menangis.
Aku
menatapnya dengan penuh benci. Ia melanggar janjinya untuk tidak menangis di
depanku. Aku benci dengan air matanya yang terus membasahi jasadku yang kaku.
Aku harus pergi menjauhi orang yang telah melanggar janjinya itu. Tapi saat aku
berbalik, aku melihat dua orang yang sangat kukenal telah berdiri di depanku.
Mereka adalah mama dan papa. Mereka mengajakku pergi, tapi aku menolaknya. Aku
masih ingin bersama Putra. Aku berteriak memanggil Putra, namun ia tidak
mendengar. Kini aku harus pergi untuk selamanya. Aku pergi membawa janji dari
Putra. Janji yang telah dihapus oleh air mata.
* * *

sedih
BalasHapusaku hanyut
ketika janji dihapus oleh air mata
@guru5seni8
http://hatidanpikiranjernih.blogspot.com