Jumat, 13 November 2015

Mengapa Kamu Kembali?




Mengapa Kamu Kembali?
Oleh : Ayy Dara

               -November-
               Hujan lagi. Sudah lebih dari seminggu ini hujan selalu hadir menemani sang sore. Aku merapatkan jaket dan bergabung diantara puluhan orang yang sedang berteduh di sebuah halte di depan kantorku. “Ahh, hujan seperti ini selalu menyesakkan!” aku menghembuskan nafas dengan berat.

               Tiga puluh menit sudah aku berdiri di sini, sedang orang-orang disekelilingku telah berganti sejak tadi. Ada yang memilih untuk pulang menaiki bus meski harus berdesak-desakan di dalamnya. Ada juga yang lebih memilih taksi untuk mengantarkan mereka pulang. Namun aku masih mematung. Tanpa peduli terang ini akan segera berganti gelapnya malam. Aku masih ingin berada disini, -sebentar lagi.

               Hujan, dulu aku sangat menyukainya. Setiap tetes yang dijatuhkannya di bumi, aku selalu merasa bahagia. Bahkan tak pernah sekalipun aku melewati hujan tanpa menari di bawah deraiannya. “Ahh, masa lalu yang indah!” Sekali lagi aku menghembuskan napas dengan berat, berusaha menghalau segala beban yang ada didalamnya.

               Perlahan kutangkupkan sebelah tanganku di bawah deraian hujan dan aku berusaha menggenggamnya dengan erat. –Dingin- Tapi aku terus melakukannya. Bahkan sesekali aku melakukannya sambil memejamkan mata. 

               “Hai Dara!” Aku tersentak, mendengar seseorang memanggil namaku.

               “Masih suka hujan?” Ucapnya sambil tersenyum ramah.

               Namun aku masih tak bergeming. Otakku masih sibuk berfikir bagaimana mungkin seseorang di sampingku ini dapat tersenyum seramah itu tanpa rasa bersalah sedikitpun setelah apa yang dia lakukan padaku selama ini.

               “Hei, kamu baik-baik saja kan?” Tanyanya sekali lagi.

               “Menurutmu, apa aku baik-baik saja?”Jawabku.

               Kali ini ia terdiam. Sibuk memainkan air hujan di telapak tangannya.

               -Dia- seseorang yang pernah aku cintai dengan sepenuh hatiku. Dia yang sekuat tenaga aku pertahankan meski setiap inchi dunia ini tak pernah memberi restu. Dia yang pernah berjanji akan menjagaku, berjanji tidak akan pernah menggenangkan sedikitpun air mata di pipiku.

               Namun pada akhirnya, ketika seisi dunia tak memberikan jalan untuk kami bersama, dia menyerah. Pergi, berlari jauh meninggalkanku sendiri. Tanpa sebuah kata pisah, ataupun janji akan kembali lagi. Dan kini, setelah tahun berganti ia benar-benar datang kembali. Membangkitkan semua ingatan yang telah sekuat tenaga coba untuk aku lupakan.

               “Dara…!” Aku kembali mendengar suaranya, kali ini ia benar-benar lekat menatap mataku. Namun aku segera mengalihkan pandangan, membuang jauh-jauh perasaan yang tiba-tiba kembali muncul di sudut hatiku.

               Kali ini ia terdiam cukup lama. Mungkin kehabisan kata untuk mengajakku berbicara ataupun sekedar mencairkan suasana. Kulirik jam dipergelangan tanganku, 17.30. Aku membuka tas dan mengaduk-aduk isinya, mencari suatu benda yang aku yakin telah membawanya. Setelah menemukan payung lipat itu, aku segera mengeluarkannya dan bersiap untuk menembus hujan sore ini.

Namun laki-laki itu kali ini ia berhasil menghentikan gerakanku setelah ia menahan payungku yang ingin aku kembangkan.

“Biar aku yang mengantarmu pulang. Bukankah kita dulu sering menghabiskan waktu di bawah hujan seperti ini?” Ucapnya.

“Tidak. Aku sudah tidak menyukai hujan!” Jawabku sambil menarik payung dari genggaman tangannya.

Ia terdiam sejenak sebelum kembali bersuara.

“Apa kamu juga sudah tidak menyukaiku, Dara?” Bisiknya pelan, namun terdengar sangat jelas di telingaku.

Mendengar pertanyaannya, aku menegakkan kepala dan menatap tepat di matanya. “Mengapa kamu kembali? Setelah sekian lama kamu menghilang dan meninggalkan aku sendiri tanpa kepastian. Mengapa sekarang kamu datang? Setelah bertahun-tahun kamu pergi tanpa sekalipun berjanji untuk pulang. Sekarang jawab pertanyaanku, mengapa kamu kembali?”

Laki-laki itu kembali terdiam, kemudian tanpa kata-kata perlahan ia menundukkan kepala. Aku kembali menghembuskan nafas dengan berat, membuang segala sisa kekesalan di hatiku.

Aku menarik payung dan mulai mengembangkannya. Langit sudah mulai gelap dan aku tahu bahwa sudah saatnya aku harus pulang. Ketika aku bersiap untuk mulai berjalan, aku kembali mendengar laki-laki itu bersuara.

“Hujan masih sangat deras, tunggulah sebentar lagi dan biarkan aku yang mengantarmu nanti!” Ucapnya.

“Tidak. Sudah kukatakan aku tidak suka berlama-lama berada di bawah hujan seperti ini. Aku membencinya!” Jawabku.

“Apakah kamu juga membenciku?” Ucapnya sekali lagi.

“Sayang sekali aku tidak bisa. Meskipun ingin sekali aku untuk melakukannya!”

Hujan masih sangat deras, namun hujan di mataku lebih deras mengalir. Aku terus berjalan cepat menembus dinginnya sore itu. Pertemuan dengannya tadi semakin membuat hatiku kelu. Meski bukan sore ini pertemuan kami pertama kali setelah bertahun-tahun berpisah. Sebelumnya aku sempat bertemu dengannya beberapa kali sejak tujuh bulan yang lalu, tapi sampai detik ini belum juga kutemukan alasan sebenarnya mengapa dia kembali.

* * *


Tidak ada komentar:

Posting Komentar