Kamis, 13 November 2014

Mengikuti Angin 1



Mengikuti Angin
Oleh : Ayy Dara

“Happy Birthday to you… Happy Birthday to you…..” Lagu itu kunyanyikan dengan penuh semangat. Hari ini genap sudah 23 tahun usiamu. Sejak semalam tak hentinya kupanjatkan doa kepada Tuhan untuk kebaikanmu, kesehatanmu, kesuksesanmu, kebahagiaanmu.

Tepat jam 7 malam kau tiba di kafe kecil yang aku pilih untuk merayakan ulang tahunmu ini. Sedangkan aku sudah tiba 20 menit sebelumnya. Ketika melihatmu untuk pertama kalinya setelah hampir satu tahun kita tidak bertemu, jantungku terasa berdegup kencang. Melihatmu menghampiriku membuat seluruh tubuhku membeku, - kaku tak kuasa untuk bergerak walau sedikit. Aku terlalu bahagia dapat bertemu denganmu lagi, dapat melihat senyum itu kembali.

“Kadonya mana?” Katamu setelah meniup lilin berlambang 23 yang tertancap di kue tart itu. Ahh... Iyaa. Aku lupa mengeluarkan kado spesial yang telah kupersiapkan untukmu.

“Sebentar” Ucapku lalu menunduk mengambil kado yang kuletakkan di dalam tasku di bawah meja. Ketika aku kembali mengangkat kepalaku, tanpa sengaja tanganku menyenggol seorang pelayan yang sedang lewat disampingku. Aku mendengar suara gelas terhempas ke lantai dan pecah berserakan.

Ketika aku terkejut dan tersentak, aku malah menyadari hal yang berbeda. Tak ada pelayan yang mulai mengomel disampingku. Juga tak ada gelas yang pecah berserakan di lantai. Tapi aku melihatmu berdiri di depanku, - dengan tatapan aneh.

Astaga!!! Semua itu hanya khayalanku. Nyanyian selamat ulang tahun, gelas pecah, semua itu hanya imajinasiku. Tapi kau? Kau benar ada di depanku saat ini. Berdiri, - mematung. Entah sudah berapa lama aku melamun. Entah sudah berapa lama kau datang dan berdiri menatapku seperti itu. Aku benar-benar tidak menyadarinya.

“Apa-apaan ini semua?” Tanyamu sebelum aku mengembalikan kesadaranku sepenuhnya.

“Hahh?” Aku menjawabnya dengan wajah bingung.

“Untuk apa kau mempersiapkan ini semua?” Kau masih berdiri di depanku.

“Aku hanya ingin merayakan ulang tahunmu. Itu saja!” Jawabku.

 Kuperhatikan raut wajahmu belum berubah. Kau masih menunjukkan ekspresi tidak suka dengan apa yang telah kulakukan saat ini. Yaa, mungkin kau memang tidak suka dengan rencanaku merayakan ulang tahunmu ini. Atau kau tidak suka bertemu denganku. Atau mungkin juga kau memang tidak pernah menyukaiku.
Aku ingat bagaimana sulitnya aku membujukmu untuk bertemu denganku hari ini, - disini.

“Aku sibuk, Dara. Memangnya ada apa kau ingin bertemu denganku?” Jawabmu ketika aku mengajakmu bertemu.

“Tidak apa-apa kalau kau sibuk, aku akan menunggumu. Datanglah kesana jika kau sudah tidak sibuk lagi!” Aku mulai pasrah. Hanya dua kalimat itu yang berhasil kukatakan sebelum akhirnya air mataku menetes. Aku menangis lagi. Entah yang keberapa kalinya sejak aku mengenalmu. Karena sibuknya aku mengatur suaraku agar tak terdengar seperti orang yang sedang menangis, membuatku tidak bisa mendengar kata-katamu saat itu.

“Yasudah. Aku harus pergi. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Kau juga harus bekerja kan? Sampai jumpa besok jam 7 malam yaa..” Aku memutuskan sambungan telepon. Namun ada setitik harapan di dalam hatiku agar kau menghubungiku kembali. Namun hanya setitik. Aku tidak berani mengharapkan lebih. Dan seperti biasa. Kau tidak menghubungiku kembali. Aku kembali menangis. Menyadari hal yang sebenarnya sudah kuketahui akan terjadi.

“Pulanglah Dara! Ini sudah malam.” Suaramu menarikku kembali dari lamunanku. Kulihat kau sudah duduk di depanku. Tanpa menghiraukan kata-katamu aku mengambil korek api dan menghidupkan lilin berlambang 23 yang telah kuletakkan di atas kue di hadapan kita.

“Happy Birthday to you.. Happy Birthday to you….” Lagu itu kunyanyikan dengan suara pelan. Sangat jauh berbeda dengan bayanganku  tadi. Kulihat kau hanya terdiam menungguku selesai menyanyikan lagu itu.

“Sekarang ayo make a wish dulu, sebelum tiup lilinnya!” Pintaku padamu.

“Tak perlu seperti ini, Dara!” Jawabmu.

“Apanya?” Aku balas bertanya.

“Kita bukan anak ABG lagi yang ulang tahunnya harus dirayakan seperti 
ini! Kita sudah dewasa, jadi seharusnya……”

“Jadi seharusnya aku bagaimana? Diam saja melihat orang yang aku cintai mulai menjauh? Atau membiarkan kau benar-benar pergi jauh dan melupakan aku?” Aku memotong kalimatmu dan mulai menyeka air mata di sudut mataku.

“Bukan begitu Dara. Tapi…”

“Tapi apa?”

“Aku merasa kita memang tidak akan pernah bisa bersama” Ucapmu pada akhirnya yang ketika mendengarnya membuat air mataku jatuh. “Aku tidak bisa terus-menerus membuatmu bersedih seperti ini. Kau pantas untuk bahagia Dara”

“Kalau begitu, buatlah aku bahagia!Aku mendengar suaraku sendiri yang begitu menyedihkan.

“Aku sudah berusaha, Dara. Selama dua tahun ini aku sudah berusaha membuatmu bahagia. Tapi aku tidak bisa. Seperti hari ini, aku kembali membuatmu menangis dan meneteskan air mata. Maafkan aku Dara!” mendengar kata-katamu, air mataku semakin deras mengalir.

“Lalu mengapa dulu kau hadir dikehidupanku? Membuatku membunuh cinta yang lain hanya untuk mempertahankanmu? Apa maksudmu saat kau mengatakan bahwa aku adalah awan dan kau adalah angin yang akan selalu mengarakku kemanapun kau pergi? Apa maksud dari semua itu?” tangisku pecah. Akhirnya kalimat-kalimat yang selama ini hanya kupertanyakan dalam hati itu terucapkan kepadamu.

Kau terdiam sambil menatapku dengan pandangan dingin yang masih tergambar jelas di raut wajahmu.

“Jika begitu, berhentilah kau menjadi awan, agar kau tidak perlu lagi bergerak mengikuti angin. Dan biarkanlah aku tetap menjadi angin, yang dapat pergi kemanapun aku ingin pergi” Ucapmu pada akhirnya sebelum kau berdiri dan beranjak dari hadapanku, - berlalu dan meghilang di balik pintu besar itu.

Kudapati diriku yang terdiam mematung di tempatku semula. Terlalu kaget dengan apa yang kau katakan. Cukup lama aku hanya bisa duduk dan memandang nanar pada cahaya lilin yang mulai meleleh di atas kue tart di hadapanku.

“Bahkan aku belum mengucapkan selamat ulang tahun untukmu!” Bisikku pada diri sendiri.
Sekali lagi, aku menyeka air mataku. Kemudian aku berdiri dan memandang lilin yang hampir mencair seluruhnya diatas kue tart itu.

“Selamat ulang tahun!” Perlahan aku melangkah meninggalkan tempat yang telah kududuki selama lima jam terakhir. Ketika aku mencapai pintu besar itu, sekali lagi aku menoleh ke meja bernomor 13 di sudut ruangan. Meja yang sengaja kupilih sesuai dengan tanggal ulang tahunmu, 13 November. Terlihat lilin yang berada di atas kue itu sudah mencair dan padam. Disampingnya ada sebuah box bersampul kertas berwarna biru, warna kesukaanmu. Box itu berisi hadiah ulang tahunku yang tidak sempat aku berikan padamu.

Kuhembuskan napas dengan berat. “Baiklah, kau bisa saja memintaku untuk melupakanmu, tapi kau sendiri lupa. Aku adalah awan dan kau adalah angin. Seperti layaknya awan, aku akan selalu bergerak mengikuti angin”

***

“Selamat Ulang Tahun yang ke 23... semoga segala cita-cita dan harapanmu tercapai dan kau selalu sehat serta bahagia selamanya dalam hidupmu. Maafkan aku yang selama dua tahun ini dengan sengaja memelihara kenangan tentangmu di benakku. Aku bahagia meski hanya hidup bersamamu dalam kenangan. Dan kau, teruslah berjuang menggapai segala impianmu dalam hidup ini. Setinggi dan sejauh apapun itu, ingatlah doaku akan selalu bersamamu. Suatu saat nanti bila kau lelah dan terjatuh, datanglah ke tempat ini. Karena aku tak kan pernah bergerak sedikitpun. Aku akan selalu menunggumu kembali. Karena aku hanyalah sebongkah awan yang selalu menunggu angin membawaku pergi”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar