Mengikuti Angin
Oleh : Ayy Dara
Oleh : Ayy Dara
“Happy Birthday to you… Happy
Birthday to you…..” Lagu itu kunyanyikan dengan penuh semangat. Hari ini genap
sudah 23 tahun usiamu. Sejak semalam tak hentinya kupanjatkan doa kepada Tuhan
untuk kebaikanmu, kesehatanmu, kesuksesanmu, kebahagiaanmu.
Tepat jam 7 malam kau tiba di
kafe kecil yang aku pilih untuk merayakan ulang tahunmu ini. Sedangkan aku
sudah tiba 20 menit sebelumnya. Ketika melihatmu untuk pertama kalinya setelah hampir
satu tahun kita tidak bertemu, jantungku terasa berdegup kencang. Melihatmu menghampiriku
membuat seluruh tubuhku
membeku, - kaku tak kuasa untuk bergerak walau sedikit. Aku terlalu bahagia
dapat bertemu denganmu lagi, dapat melihat senyum itu kembali.
“Kadonya mana?” Katamu setelah
meniup lilin berlambang 23 yang tertancap di kue tart itu. Ahh... Iyaa. Aku lupa mengeluarkan kado spesial yang
telah kupersiapkan untukmu.
“Sebentar” Ucapku lalu menunduk
mengambil kado yang kuletakkan di dalam tasku di bawah meja. Ketika aku kembali
mengangkat kepalaku, tanpa sengaja tanganku menyenggol seorang pelayan yang
sedang lewat disampingku. Aku mendengar suara gelas terhempas ke lantai dan
pecah berserakan.
Ketika aku terkejut dan tersentak,
aku malah menyadari hal yang berbeda. Tak ada pelayan yang mulai mengomel
disampingku. Juga tak ada gelas yang pecah berserakan di lantai. Tapi aku
melihatmu berdiri di depanku, - dengan tatapan aneh.
Astaga!!! Semua itu hanya
khayalanku. Nyanyian selamat ulang tahun, gelas pecah, semua itu hanya
imajinasiku. Tapi kau? Kau benar ada di depanku saat ini. Berdiri, - mematung.
Entah sudah berapa lama aku melamun. Entah sudah berapa lama kau datang dan
berdiri menatapku seperti itu. Aku benar-benar tidak menyadarinya.
“Apa-apaan ini semua?” Tanyamu
sebelum aku mengembalikan kesadaranku sepenuhnya.
“Hahh?” Aku menjawabnya dengan
wajah bingung.
“Untuk apa kau mempersiapkan ini
semua?” Kau masih berdiri di depanku.
“Aku hanya ingin merayakan ulang tahunmu. Itu saja!” Jawabku.
Kuperhatikan raut wajahmu belum berubah. Kau
masih menunjukkan ekspresi tidak suka dengan apa yang telah kulakukan saat ini. Yaa, mungkin kau memang tidak suka
dengan rencanaku merayakan ulang tahunmu ini. Atau kau tidak suka bertemu
denganku. Atau mungkin juga kau memang tidak pernah menyukaiku.
Aku ingat bagaimana sulitnya aku membujukmu untuk bertemu denganku hari
ini, - disini.
“Aku sibuk, Dara. Memangnya ada
apa kau ingin bertemu denganku?” Jawabmu ketika aku mengajakmu bertemu.
“Tidak apa-apa kalau kau sibuk,
aku akan menunggumu. Datanglah kesana jika kau sudah tidak sibuk lagi!” Aku
mulai pasrah. Hanya dua kalimat itu yang berhasil kukatakan sebelum akhirnya
air mataku menetes. Aku menangis lagi. Entah yang keberapa kalinya sejak aku
mengenalmu. Karena sibuknya aku mengatur suaraku agar tak terdengar seperti
orang yang sedang menangis, membuatku tidak bisa mendengar kata-katamu saat
itu.
“Yasudah. Aku harus pergi. Ada
pekerjaan yang harus aku selesaikan. Kau juga harus bekerja kan? Sampai jumpa
besok jam 7 malam yaa..” Aku memutuskan sambungan telepon. Namun ada setitik harapan
di dalam hatiku agar kau menghubungiku kembali.
Namun hanya setitik. Aku tidak berani mengharapkan lebih. Dan seperti biasa.
Kau tidak menghubungiku kembali. Aku kembali menangis. Menyadari hal yang
sebenarnya sudah kuketahui akan terjadi.
“Pulanglah Dara! Ini sudah
malam.” Suaramu menarikku kembali dari lamunanku. Kulihat kau sudah duduk di depanku. Tanpa menghiraukan
kata-katamu aku mengambil korek api dan menghidupkan lilin berlambang 23 yang
telah kuletakkan di atas kue di hadapan kita.
“Happy Birthday to you.. Happy
Birthday to you….” Lagu itu kunyanyikan dengan suara pelan. Sangat jauh berbeda
dengan bayanganku tadi. Kulihat kau
hanya terdiam menungguku selesai menyanyikan lagu itu.
“Sekarang ayo make a wish dulu, sebelum tiup lilinnya!”
Pintaku padamu.
“Tak perlu seperti ini, Dara!” Jawabmu.
“Apanya?” Aku balas bertanya.
“Kita bukan anak ABG lagi yang
ulang tahunnya harus dirayakan seperti
ini! Kita sudah dewasa, jadi
seharusnya……”
“Jadi seharusnya aku bagaimana?
Diam saja melihat orang yang aku cintai mulai menjauh? Atau membiarkan kau
benar-benar pergi jauh dan melupakan aku?” Aku memotong kalimatmu dan mulai menyeka
air mata di sudut mataku.
“Bukan begitu Dara. Tapi…”
“Tapi apa?”
“Aku merasa kita memang tidak akan
pernah bisa
bersama” Ucapmu pada akhirnya yang ketika mendengarnya membuat air mataku jatuh. “Aku tidak bisa
terus-menerus membuatmu bersedih seperti
ini. Kau pantas untuk bahagia Dara”
“Kalau begitu, buatlah aku
bahagia!” Aku mendengar suaraku sendiri yang begitu
menyedihkan.
“Aku sudah berusaha, Dara. Selama
dua tahun ini aku sudah berusaha membuatmu bahagia. Tapi aku tidak bisa. Seperti hari ini, aku kembali membuatmu
menangis dan meneteskan air mata. Maafkan aku Dara!” mendengar kata-katamu, air
mataku semakin deras mengalir.
“Lalu mengapa dulu kau hadir
dikehidupanku? Membuatku membunuh cinta yang lain hanya untuk mempertahankanmu?
Apa maksudmu saat kau mengatakan bahwa aku adalah awan dan kau adalah angin
yang akan selalu mengarakku
kemanapun kau pergi? Apa maksud dari semua itu?” tangisku pecah. Akhirnya
kalimat-kalimat yang selama ini hanya kupertanyakan dalam hati itu terucapkan
kepadamu.
Kau terdiam sambil menatapku
dengan pandangan dingin yang masih tergambar jelas di raut wajahmu.
“Jika begitu, berhentilah kau menjadi awan, agar kau tidak perlu lagi bergerak
mengikuti angin. Dan biarkanlah aku tetap
menjadi angin, yang dapat pergi kemanapun aku ingin pergi” Ucapmu pada akhirnya
sebelum kau berdiri dan beranjak dari hadapanku, - berlalu dan meghilang di
balik pintu besar itu.
Kudapati diriku yang terdiam
mematung di tempatku semula. Terlalu kaget dengan apa yang kau katakan. Cukup
lama aku hanya bisa duduk dan memandang nanar pada cahaya lilin yang mulai
meleleh di atas kue tart di hadapanku.
“Bahkan aku belum mengucapkan
selamat ulang tahun untukmu!” Bisikku pada diri sendiri.
Sekali lagi, aku menyeka air
mataku. Kemudian aku berdiri dan memandang lilin yang hampir mencair seluruhnya diatas kue tart itu.
“Selamat ulang tahun!” Perlahan
aku melangkah meninggalkan tempat yang telah kududuki selama lima jam terakhir. Ketika aku mencapai pintu
besar itu, sekali lagi aku menoleh ke meja bernomor 13 di sudut ruangan. Meja yang sengaja kupilih sesuai dengan tanggal ulang
tahunmu, 13 November. Terlihat lilin yang berada di atas kue itu sudah mencair dan padam. Disampingnya ada sebuah
box bersampul kertas berwarna biru, warna kesukaanmu. Box itu berisi hadiah ulang tahunku yang tidak sempat
aku berikan padamu.
Kuhembuskan napas dengan berat.
“Baiklah, kau bisa saja memintaku untuk melupakanmu, tapi kau sendiri lupa. Aku
adalah awan dan kau adalah angin. Seperti layaknya awan, aku akan selalu
bergerak mengikuti angin”
***
“Selamat
Ulang Tahun yang ke 23... semoga segala cita-cita dan harapanmu tercapai dan
kau selalu sehat serta bahagia selamanya dalam hidupmu. Maafkan aku yang selama
dua tahun ini dengan sengaja memelihara kenangan tentangmu di benakku. Aku
bahagia meski hanya hidup bersamamu dalam kenangan. Dan kau, teruslah berjuang
menggapai segala impianmu dalam hidup ini. Setinggi dan sejauh apapun itu,
ingatlah doaku akan selalu bersamamu. Suatu saat nanti bila kau lelah dan
terjatuh, datanglah ke tempat ini. Karena aku tak kan pernah bergerak
sedikitpun. Aku akan selalu menunggumu kembali. Karena aku hanyalah sebongkah
awan yang selalu menunggu angin membawaku pergi”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar