Sabtu, 09 Agustus 2014

A Sad Story In My Month, August









“A Sad Story In My Month, August”
Oleh : Ayy Dara

Masih dalam posisi setengah sadar, aku meraih ponsel yang kuletakkan di atas meja disamping tempat tidurku sebelum aku tidur dua jam yang lalu. Sakit di kepala ini hampir membuatku melewatkan kewajiban Maghribku kalau saja adikku yang nakal itu tidak berteriak-teriak membangunkanku untuk menunaikan shalat Maghrib. “Yaaa, terimakasih dek, sudah membangunkan kakak. Tapi gak harus gini juga caranya!”

Setelah ponsel berhasil kuraih, hal pertama yang kuliat adalah akun facebook. kulihat ada tiga notifikasi yang belum terbuka. Dengan satu sentuhan, terbukalah daftar dari notifikasi itu. Dari tiga notifikasi itu, mataku langsung tertuju pada salah satu notifikasi yang memuat fotomu. Yaa, salah satu dari teman kita telah menandai aku pada komentarnya, - di fotomu. Sedikit ragu aku membuka notifikasi itu. Tapi karena prosesnya lumayan lama, aku jadi teringat bahwa aku belum shalat Maghrib, jadi kuputuskan untuk shalat terlebih dahulu.

Tiga rakaat berlalu dengan cepat, - sangat cepat. Selain karena memang aku tidak sanggup berlama-lama berdiri karena sakit kepala ini, juga notifikasi facebook yang belum terbuka itu membuatku tanpa sadar memilih surat pendek - yang peling pendek - untuk kubaca dalam dua rakaat pertama Maghrib itu.

Masih dalam posisi berdiri, kembali kuraih ponselku. Kini layar ponselku dipenuhi oleh foto close up-mu sambil memegang selembar kertas. Perlahan kudekatkan ponsel itu ke wajahku berharap tulisan yang ada di kertas itu akan terlihat semakin jelas. - Tapi ternyata tidak -. Tulisannya tetap terlihat kabur. Jempolku mulai menggeser layar ponselku ke bawah agar komentar – komentar yang ada di foto itu terlihat. Namun tiba-tiba tubuhku kaku, saat kubaca komentarmu yang mengatakan bahwa besok jam 8 pagi kau akan berangkat ke seberang samudra untuk mengejar cita-citamu mengabdi di sebuah pondok pesantren kecil disana. Dan saat itu baru kusadari bahwa kertas yang kau pegang difoto itu adalah tiket pesawatmu.

Sebuah tetesan bening tiba-tiba saja jatuh membasahi mukenah yang masih terpasang di tubuhku. “Kau akan pergi? Tanpa memberitahu aku?” hatiku mulai membatin dengan perasaan iba yang teramat sangat. Aku memang pernah mendengar bahwa kau akan pergi mengejar cita-citamu ke sebuah pulau kecil di provinsi tetangga kita, tapi aku tidak menyangka bahwa semua akan terjadi secepat ini, di saat ini, ketika aku sudah mulai merasakan ada getaran lain di hatiku ketika aku didekatmu.

Aku benar-benar tidak menyangka kau akan meninggalkan aku setelah semua yang kita lewati dan – tanpa memberitahu aku?? Aku tidak mengerti mengapa kau tidak memberitahukan secara langsung kepadaku tentang kepergianmu ini. Apa ada yang salah dengan aku? Dengan kita??   Yaa, aku tidak akan mengatakan bahwa empat bulan yang telah kita lalui bersama ini adalah moment yang indah. Karena memang kita berdua lebih sering menghabiskan waktu dengan bertengkar daripada terlihat akrab. Tapi disitulah letak kesalahanku. Aku selalu berusaha membohongi hatiku sendiri dan membunuh perasaan yang mulai hadir diantara kita. Aku yang tak pernah jujur. Tentang hatiku, tentang kekagumanku kepadamu, tentang betapa tidak inginnya aku berpisah denganmu.

Kini aku sadar, cintaku sedang ada diujung tanduk. Terhitung tujuh jam dari sekarang kau akan benar-benar pergi, - untuk sementara, atau mungkin untuk selamanya. Aku kembali mengutuk diriku dalam sunyinya malam ini. Kini kudapati diriku benar-benar sendiri. Jangankan bulan dan bintang, binatang malam seperti jangkrik pun enggan menemaniku. Mungkin di suatu tempat persembunyiannya, dia sedang menertawaiku sebagai pecundang paling hebat di dunia karena sebentar lagi aku akan kehilangan separuh jiwaku, bahkan mungkin juga seluruh hidupku.

Tidak seperti bulan dan bintang yang bersembunyi menertawakanku semalam, pagi ini matahari terlihat sangat gagah memancarkan sinarnya. Sinar keangkuhan yang semakin membuatku merasa tersudut dan menjadi orang paling bodoh di dunia. Dengan congkak sang mentari berkata padaku “Hahaha... Lihat dirimu sekarang Dara... Bahkan untuk menahan waktu sementara kau mencari cara agar dia tetap disini saja kau tidak bisa! Kau sudah kalah Dara! Kalah oleh keegoisan dirimu sendiri! Dan sekarang terimalah hadiah terindah yang telah dipersiapkan Tuhan untukmu! Kebersamaan itu pilihan, tapi perpisahan ini adalah nyata Dara! Hahaha....” kupejamkan mata menghindari cemoohan sang mentari yang tanpa sadar telah kubenarkan di dalam hatiku. Memang benar ini adalah kesalahanku, - keegoisanku. Jadi aku berhak menerima hukuman ini, bahkan di hari ketiga sebelum hari ulang tahunku. Sudah dapat kupastikan, ini adalah ulang tahun terburuk dan kado yang tak kan terlupakan di sepanjang hidupku. Di ulang tahunku yang ke 22, hadiah yang harus kuterima adalah kehilangan seseorang bahkan sebelum ia benar-benar kumiliki. – Menyedihkan.

Aku sendiri tidak menyadari sudah berapa lama aku duduk mematung di tepi jendela seperti ini. Satu jam? Dua jam? Ahh, baru aku ingat. Aku sudah duduk disini sejak aku selesai melaksanakan shalat Subuhku tadi. Bahkan mukenah putih ini masih terpasang di tubuhku. Namun hatiku belum ingin beranjak dari tempat ini. Aku masih ingin menikmati pagi ini, disini, - seperti ini -. Aku tersentak ketika kudengar suara pesawat dengan sangat keras melintas di atas rumahku. Aku dapat melihat pesawat itu bergerak ke arah Tenggara. “Ohh, apakah itu???!” aku segera melompat mencari ponsel yang aku sendiri lupa meletakkannya dimana. Meja, tempat tidur, lemari, aku tidak menemukan benda kecil itu. “Dimana aku meletakkannya??!” Batinku mulai mungutuk diriku kembali, untuk kesekian kalinya.

Aku tertunduk, terduduk lesu disamping tempat tidurku. Samar-samar kulihat sebuah benda yang sangat kukenal berada tidak jauh dari tempat aku duduk. – Ponselku -. Aku meraihnya. Aku sedikit berfikir bagaimana benda ini bisa ada di lantai. Padahal selama ini aku sangat berhati-hati meletakkannya. “Ahh, mungkin ponsel ini terjatuh saat aku melamun sangat lama di tepi jendela tadi”. Perlahan kubuka kunci layar ponsel itu, terlihat fotoku yang kau ambil ketika kita melakukan perjalanan ke sebuah air terjun menjadi wallpapernya. Selain itu aku juga melihat empat buah angka yang menghiasi layar ponsel itu, 08.20. Tiba-tiba hatiku perih. Menyadari bahwa mulai saat ini aku akan benar-benar kehilanganmu, mungkin sementara, mungkin juga untuk selamanya. Lalu sebuah butiran bening jatuh membasahi mukenah putihku.

Dalam kekecauan fikiranku saat ini, sebuah kalimat yang sering kau ucapkan tiba-tiba melintas di ingatanku. Sebuah kalimat yang sering kau ucapkan sebelum kau menutup pintu ruangan kerjaku bila kau hendak pulang setelah puas mengangguku di kantor. “Ada yang tinggal gak yaa???” Dulu, setiap kali kau menyanyakan itu, aku selalu memberi jawaban “meskipun kau pergi, kau tetap akan meninggalkan jejakmu, bayanganmu, dan segala keusilanmu!” Namun mulai saat ini berhentilah menanyakan apakah jika kau pergi kau akan meninggalkan sesuatu, karena sesungguhnya kau tidak meninggalkan apapun. Bahkan kau telah membawa segalanya, - hatiku, hidupku -.

2 komentar:

  1. katanya tak galau lagi..... nyatanya ?? :D

    BalasHapus
  2. sebenarnya gak benar2 galau sc,,
    karena kemaren lagi mood nulis, jadi dipaksain galau biar dapat feelnya..
    lagian itu bukan kisah nyata koq, hanya imajinasi belaka,,, :D

    BalasHapus