Oleh : Ayy Dara
Masih dalam posisi setengah sadar, aku meraih
ponsel yang kuletakkan di atas meja disamping tempat tidurku sebelum aku tidur
dua jam yang lalu. Sakit di kepala ini hampir membuatku melewatkan kewajiban
Maghribku kalau saja adikku yang nakal itu tidak berteriak-teriak
membangunkanku untuk menunaikan shalat Maghrib. “Yaaa, terimakasih dek, sudah
membangunkan kakak. Tapi gak harus gini juga caranya!”
Setelah ponsel berhasil kuraih, hal pertama
yang kuliat adalah akun facebook. kulihat ada tiga notifikasi yang belum
terbuka. Dengan satu sentuhan, terbukalah daftar dari notifikasi itu. Dari tiga
notifikasi itu, mataku langsung tertuju pada salah satu notifikasi yang memuat
fotomu. Yaa, salah satu dari teman kita telah menandai aku pada komentarnya, -
di fotomu. Sedikit ragu aku membuka notifikasi itu. Tapi karena prosesnya
lumayan lama, aku jadi teringat bahwa aku belum shalat Maghrib, jadi kuputuskan
untuk shalat terlebih dahulu.
Tiga rakaat berlalu dengan cepat, - sangat cepat.
Selain karena memang aku tidak sanggup berlama-lama berdiri karena sakit kepala
ini, juga notifikasi facebook yang belum terbuka itu membuatku tanpa sadar
memilih surat pendek - yang peling pendek - untuk kubaca dalam dua rakaat
pertama Maghrib itu.
Masih dalam posisi berdiri, kembali kuraih
ponselku. Kini layar ponselku dipenuhi oleh foto close up-mu sambil memegang
selembar kertas. Perlahan kudekatkan ponsel itu ke wajahku berharap tulisan
yang ada di kertas itu akan terlihat semakin jelas. - Tapi ternyata tidak -.
Tulisannya tetap terlihat kabur. Jempolku mulai menggeser layar ponselku ke
bawah agar komentar – komentar yang ada di foto itu terlihat. Namun tiba-tiba
tubuhku kaku, saat kubaca komentarmu yang mengatakan bahwa besok jam 8 pagi kau
akan berangkat ke seberang samudra untuk mengejar cita-citamu mengabdi di
sebuah pondok pesantren kecil disana. Dan saat itu baru kusadari bahwa kertas
yang kau pegang difoto itu adalah tiket pesawatmu.
Sebuah tetesan bening tiba-tiba saja jatuh
membasahi mukenah yang masih terpasang di tubuhku. “Kau akan pergi? Tanpa
memberitahu aku?” hatiku mulai membatin dengan perasaan iba yang teramat
sangat. Aku memang pernah mendengar bahwa kau akan pergi mengejar cita-citamu
ke sebuah pulau kecil di provinsi tetangga kita, tapi aku tidak menyangka bahwa
semua akan terjadi secepat ini, di saat ini, ketika aku sudah mulai merasakan
ada getaran lain di hatiku ketika aku didekatmu.
Aku benar-benar tidak menyangka kau akan
meninggalkan aku setelah semua yang kita lewati dan – tanpa memberitahu aku??
Aku tidak mengerti mengapa kau tidak memberitahukan secara langsung kepadaku
tentang kepergianmu ini. Apa ada yang salah dengan aku? Dengan kita?? Yaa,
aku tidak akan mengatakan bahwa empat bulan yang telah kita lalui bersama ini
adalah moment yang indah. Karena memang kita berdua lebih sering menghabiskan
waktu dengan bertengkar daripada terlihat akrab. Tapi disitulah letak
kesalahanku. Aku selalu berusaha membohongi hatiku sendiri dan membunuh
perasaan yang mulai hadir diantara kita. Aku yang tak pernah jujur. Tentang
hatiku, tentang kekagumanku kepadamu, tentang betapa tidak inginnya aku
berpisah denganmu.
Kini aku sadar, cintaku sedang ada diujung
tanduk. Terhitung tujuh jam dari sekarang kau akan benar-benar pergi, - untuk
sementara, atau mungkin untuk selamanya. Aku kembali mengutuk diriku dalam
sunyinya malam ini. Kini kudapati diriku benar-benar sendiri. Jangankan bulan
dan bintang, binatang malam seperti jangkrik pun enggan menemaniku. Mungkin di
suatu tempat persembunyiannya, dia sedang menertawaiku sebagai pecundang paling
hebat di dunia karena sebentar lagi aku akan kehilangan separuh jiwaku, bahkan
mungkin juga seluruh hidupku.
Tidak seperti bulan dan bintang yang
bersembunyi menertawakanku semalam, pagi ini matahari terlihat sangat gagah
memancarkan sinarnya. Sinar keangkuhan yang semakin membuatku merasa tersudut
dan menjadi orang paling bodoh di dunia. Dengan congkak sang mentari berkata
padaku “Hahaha... Lihat dirimu sekarang Dara... Bahkan untuk menahan waktu
sementara kau mencari cara agar dia tetap disini saja kau tidak bisa! Kau sudah
kalah Dara! Kalah oleh keegoisan dirimu sendiri! Dan sekarang terimalah hadiah
terindah yang telah dipersiapkan Tuhan untukmu! Kebersamaan itu pilihan, tapi
perpisahan ini adalah nyata Dara! Hahaha....” kupejamkan mata menghindari cemoohan
sang mentari yang tanpa sadar telah kubenarkan di dalam hatiku. Memang benar
ini adalah kesalahanku, - keegoisanku. Jadi aku berhak menerima hukuman ini,
bahkan di hari ketiga sebelum hari ulang tahunku. Sudah dapat kupastikan, ini
adalah ulang tahun terburuk dan kado yang tak kan terlupakan di sepanjang
hidupku. Di ulang tahunku yang ke 22, hadiah yang harus kuterima adalah
kehilangan seseorang bahkan sebelum ia benar-benar kumiliki. – Menyedihkan.
Aku sendiri tidak menyadari sudah berapa lama
aku duduk mematung di tepi jendela seperti ini. Satu jam? Dua jam? Ahh, baru
aku ingat. Aku sudah duduk disini sejak aku selesai melaksanakan shalat Subuhku
tadi. Bahkan mukenah putih ini masih terpasang di tubuhku. Namun hatiku belum
ingin beranjak dari tempat ini. Aku masih ingin menikmati pagi ini, disini, -
seperti ini -. Aku tersentak ketika kudengar suara pesawat dengan sangat keras
melintas di atas rumahku. Aku dapat melihat pesawat itu bergerak ke arah
Tenggara. “Ohh, apakah itu???!” aku segera melompat mencari ponsel yang aku
sendiri lupa meletakkannya dimana. Meja, tempat tidur, lemari, aku tidak
menemukan benda kecil itu. “Dimana aku meletakkannya??!” Batinku mulai mungutuk
diriku kembali, untuk kesekian kalinya.
Aku tertunduk, terduduk lesu disamping tempat
tidurku. Samar-samar kulihat sebuah benda yang sangat kukenal berada tidak jauh
dari tempat aku duduk. – Ponselku -. Aku meraihnya. Aku sedikit berfikir
bagaimana benda ini bisa ada di lantai. Padahal selama ini aku sangat
berhati-hati meletakkannya. “Ahh, mungkin ponsel ini terjatuh saat aku melamun
sangat lama di tepi jendela tadi”. Perlahan kubuka kunci layar ponsel itu,
terlihat fotoku yang kau ambil ketika kita melakukan perjalanan ke sebuah air
terjun menjadi wallpapernya. Selain itu aku juga melihat empat buah angka yang
menghiasi layar ponsel itu, 08.20. Tiba-tiba hatiku perih. Menyadari bahwa
mulai saat ini aku akan benar-benar kehilanganmu, mungkin sementara, mungkin
juga untuk selamanya. Lalu sebuah butiran bening jatuh membasahi mukenah
putihku.
Dalam kekecauan fikiranku saat ini, sebuah
kalimat yang sering kau ucapkan tiba-tiba melintas di ingatanku. Sebuah kalimat
yang sering kau ucapkan sebelum kau menutup pintu ruangan kerjaku bila kau
hendak pulang setelah puas mengangguku di kantor. “Ada yang tinggal gak yaa???”
Dulu, setiap kali kau menyanyakan itu, aku selalu memberi jawaban “meskipun kau
pergi, kau tetap akan meninggalkan jejakmu, bayanganmu, dan segala keusilanmu!”
Namun mulai saat ini berhentilah menanyakan apakah jika kau pergi kau akan
meninggalkan sesuatu, karena sesungguhnya kau tidak meninggalkan apapun. Bahkan
kau telah membawa segalanya, - hatiku, hidupku -.

katanya tak galau lagi..... nyatanya ?? :D
BalasHapussebenarnya gak benar2 galau sc,,
BalasHapuskarena kemaren lagi mood nulis, jadi dipaksain galau biar dapat feelnya..
lagian itu bukan kisah nyata koq, hanya imajinasi belaka,,, :D