Kisah
Ini Harus Dimulai
oleh : Ayy Dara
Matahari siang itu
benar-benar menunjukkan keangkuhannya. Hingga sebagian orang memilih untuk
berdiam diri di rumah atau kantor mereka agar tidak tersengat oleh
keganasannya. Nara duduk di depan komputernya sambil memperhatikan satu persatu
daftar temannya di facebook yang berbagi status tentang panasnya siang itu.
Kemudian ia menoleh ke arah jendela yang menghadap ke barat. “Ahh, iyaa. Hari
ini benar-benar panas!” gumamnya.
Setelah cukup lama menatap
kosong ke luar jendela, Nara mengalihkan pandangannya ke bawah. Ke arah pintu
gerbang sebuah Sekolah Dasar. Terlihat disana beberapa pedagang menjajakan
dagangan mereka dibawah payung yang terbentang. Tiba-tiba saja ia menghembuskan
nafasnya dengan berat.
“Kenapa Ra?” sapa Irma,
rekan kerja Nara.
“Ahh, gak ada apa-apa!
Cuma lagi buktiin status-status orang di facebook yang bilang kalau di luar
panas banget!” jawabnya sambil tersenyum menunjuk layar komputernya.
Irma sudah membuka mulut
hendak menjawab, tapi tiba-tiba ponselnya berbunyi.
“Hallo,....................Aku
di kantor....................Apa? Mau mampir?.......................Oh, yaudah,
Mampir aja!” setelah menutup ponselnya, ia melihat ke arah Nara. “Fahri,
katanya dia mau mampir sebentar!” Jelasnya tanpa Nara perlu bertanya.
Degg, seketika senyum di
wajah Nara memudar. Fahri?? Laki-laki itu lagi! Sebenarnya ia tidak suka
bertemu dengan orang itu. Karena setiap bertemu dengannya, Nara tidak bisa
berkonsentrasi dalam bekerja. Apapun yang dikerjakannya selalu berantakan. Dia membenci
orang itu.
Tapi di sudut hati yang
lain, hal yang berbeda tengah terjadi. Ada semangat baru yang tiba-tiba muncul.
Meluap dan tampak terlihat jelas di kedua matanya. Hingga tanpa ia sadari hal
itu sudah melengkungkan senyum kecil di wajahnya yang teduh.
“Hey Ra, kamu kenapa?”
Tanya Irma begitu melihat sahabatnya itu menjadi melamun.
“Ohh, gak apa-apa. Aku ke
toilet dulu yaa!” tanpa menunggu jawaban dari Irma, Nara telah melesat
meninggalkan sahabatnya itu yang masih terdiam dengan wajahnya yang bertanya-tanya.
Lima menit kemudian Nara kembali ke ruangannya. Tapi ia heran, karena tak
melihat Irma disana.
“Kemana anak itu?”
bisiknya lebih kepada diri sendiri.
Nara kembali duduk di
tempatnya dan melihat beberapa notification yang sudah mengisi layar facebooknya.
Saat tengah asik
berkomentar di status temannya, Nara mendengar sebuah langkah yang semakin
mendekat. Sebelum ia sempat mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang
datang, orang tersebut sudah lebih dulu bersuara.
“Irma kemana?” terdengar
suara berat yang sangat dikenal oleh Nara. Bukan, bukan karena sudah lama
saling mengenal maka Nara bisa tahu siapa pemilik suara berat itu. Tapi karena
diam-diam hatinya memberi tempat kosong untuk laki-laki itu singgah dan menetap
di dalamnya.
Mau tidak mau, Nara
mengangkat kepalanya sambil meng-klik halaman data di komputernya. “Kayaknya
lagi keluar sebentar” Ucapkan datar. Sangat datar.
Laki-laki yang baru
dikenalnya kurang dari sebulan itu masuk dan mengambil kursi di depan tempat
duduk Nara. Kini mereka hanya dipisahkan oleh sebuah monitor. Dan kesadaran
Nara bahwa di ruangan itu hanya ada mereka berdua membuatnya mulai berkeringat
dingin.
Laki-laki itu mulai
mengeluarkan ponsel dan headset dari tasnya. Menghubungkan keduanya dan
meletakkan headset ke telinga. Kemudian hening. Tak ada satu kata pun yang
keluar dari keduanya. Mereka seperti diselimuti oleh es yang begitu tebal.
Tanpa tahu cara mencairkannya.
Nara meliriknya sejenak.
Dilihatnya mata laki-laki itu terpejam. “Memangnya darimana anak ini? Mengapa
ia tampak begitu lelah.” Batinnya. Kemudian ia berfikir, haruskah ia bertanya?
Lalu bagaimana jika tidak dijawab? Bagaimana kalau ia terkesan ikut campur
dengan urusan laki-laki ini. Ahh, hanya untuk bertanya saja ia harus mengalami
konflik batin begini. Apakah jatuh cinta selalu begini? Membingungkan.
Meragukan.
Ketika sudah diputuskannya
untuk bertanya, ia segera membuka mulut. Namun tiba-tiba Irma masuk dan membuat
Nara mengurungkan niat untuk bertanya.
“Hey, darimana aja Ri?”
tanya Irma sambil mencabut sebelah headset Fahri yang terpasang ditelinganya.
Membuat laki-laki itu terbangun dan menoleh kearah Nara dan berganti ke arah
Irma.
“Sorry, kamu nanya apa
tadi?” tanya Fahri sambil membenarkan posisi duduknya.
“Kamu dari mana?” Ulang
Irma sambil memeriksa notification di fabebooknya.
“Ohh, dari
keliling-keliling nganterin undangan rapat. Karena diluar panas, boleh kan aku
istirahat sebentar disini?” tanya Fahri sambii menoleh ke Irma, tapi yang
dipandang tidak menoleh. Ia masih asik dengan layar facebooknya. Kemudian
laki-laki itu beralih melihat ke arah Nara, dan Nara – juga tengah menatapnya.
Untuk kesekian kalinya tatap mereka bertemu. Hanya beberapa detik. Setelah
memberikan sebuah senyum, Nara kembali memusatkan pandangannya kepada layar
yang ada dihadapannya, - layar yang memisahkan mereka berdua.
Beberapa menit hening.
Irma kembali sibuk dengan laporan keuangan yang sudah dikerjakannya sejak
beberapa jam yang lalu. Nara kembali menatap layar kosong di depannya, namun
sesungguhnya hati dan fikirannya tidak berada disana. Hati dan fikirannya
sepenuhnya berada pada seseorang yang berada tepat dihadapannya saat ini. Tapi
orang itu? Ahh, nampaknya ia tertidur. Duduk bersandar di kursi dengan kedua
tangan terlipat dan sepasang headset yang tergantung di telinganya. Pemandangan
itu benar-benar membuat Nara beku. Jika ia tidak ingat bahwa di ruangan itu
bukan hanya ada mereka berdua, pastilah Nara sudah dengan senang hati hanya duduk
bertopang dagu menatap laki-laki yang telah mencuri seluruh hati dan fikirannya
itu. Tapi ia sadar ia tak boleh melakukannya. Disana juga ada Irma yang
sewaktu-waktu dapat menoleh ke arahnya dan menangkap basah apa yang sedang ia
lakukan.
Dengan hati-hati Nara
hanya memuaskan hatinya dengan melirik laki-laki itu dari atas layar
komputernya. Ahh, baginikah rasanya jika sedang jatuh cinta??? Bahkan hanya
memandangnya saja hati ini sudah bahagia?!
* * *
Fahri merasakan gerah yang
amat sangat siang itu. Matahari benar-benar tengah menunjukkan kekuatannya.
Berada seharian di bawah teriknya, cukup membuat Fahri lelah. Ia sadar saat ini
ia butuh istirahat sebentar. Dengan cepat ia mengeluarkan ponsel di saku jeansnya.
“Hallo, Ir kamu
dimana?...................... Aku boleh mampir sebentar? ..............................
Oke, aku kesana sekarang!” Dengan sedikit senyum ia kembali meletakkan ponsel
ke dalam saku. Ia tersenyum bukan karena baru saja dapat tempat untuk berteduh.
Lebih dari itu ia ingin sekali melihat seseorang yang beberapa hari ini ia
rindukan. – Nara - Gadis itu adalah rekan kerja Irma yang baru satu bulan ini masuk.
Fahri mengenalnya sebulan yang lalu ketika ia berkunjung ke kantor Irma.
Tanpa membuang waktu,
Fahri segera melajukan motornya ke sebuah gedung berlantai dua yang terletak
tidak jauh dari tempat kini ia berada. Setelah memarkir motornya, Fahri segera
menyusuri anak tangga gedung itu dan mencari sebuah ruangan yang sudah sangat
ia kenal.
Dari depan pintu Fahri
dapat melihat seseorang yang sangat ia rindui itu sedang duduk di meja kerjanya
sambil menatap komputer. Sesekali ia berkomat-kamit mengucapkan barisan kalimat
– yaa, ia selalu begitu. Mengeja kalimat sebelum ia tuliskan di komputernya.
Lalu gadis itu tersenyum setelah kalimat itu berhasil ia tulis. Berulangkali
Fahri hanya menyaksikan tingkah gadis itu dari depan pintu yang tidak tertutup
rapat. Mengeja lagi, menulis lagi dan – tersenyum lagi.
Jika ia tidak segera sadar
bahwa mulai ada orang yang melihatnya dengan tatapan aneh karena hanya mematung
di depan pintu, mungkin ia sanggup berdiri lebih lama untuk memperhatikan gadis
itu. Sungguh ia sangat suka melihat gadis itu. Senyumnya mampu menghapus lelah
yang ia kumpulkan setengah hari ini. Perlahan diberanikannya untuk membuka
pintu. Tapi gadis itu – masih sibuk dengan komputernya. “Apa dia tidak dengar
aku masuk?” Bisik Fahri pada dirinya sendiri.
“Irma mana?” Ucapnya ketika
menyadari bahwa disana hanya ada gadis itu sendiri. Spontan gadis itu
mengangkat kepalanya dan dengan gerakan cepat ia menutup halaman facebook yang
dari tadi ditatapnya menjadi halaman data.
“Kayaknya lagi keluar
sebentar” Jawab gadis itu datar. Lalu kembali menatap komputernya. Fahri masih berdiri
di posisinya. Belum bergerak sedikitpun. “Apakah aku sudah mengganggunya?”
Bisik Fahri dalam hati.
Kemudian Fahri menuju satu
kursi yang biasa ia tempati jika berkunjung ke tempat ini. Satu kursi dimana ia
bisa dengan puas menatap orang yang mulai berarti di hatinya.
Beberapa menit hening
mengikat mereka berdua. Gadis itu tetap sibuk dengan komputernya. Sesekali
Fahri dapat mendengar suara tawanya, dan ketika Fahri meliriknya ia melihat
gadis itu – tersenyum. Senyum yang sangat indah. “Siapa orang yang telah
membuatmu larut dalam dunia maya itu, hingga kau tak melihat seseorang yang
nyata ada di depanmu saat ini? Disini!” Hati Fahri mulai membatin menyaksikan apa
yang dilihatnya saat ini.
Tapi ia segera membuang
segala firasat buruk yang datang merasuki logikanya. Segera ia duduk dan
mengambil ponsel serta headset yang ada di dalam tasnya. Mendengarkan lagu-lagu
favoritenya seringkali mampu mengubah moodnya menjadi lebih baik. Perlahan
ditutupnya mata, tapi suasana masih terasa mencekam dirinya. Cukup lama dia
menikmati suasana dingin yang menyelimuti mereka berdua hingga akhirnya Irma
datang dan mencabut headset yang tergantung di telinga kirinya.
Fahri mulai membuka mata,
lalu menoleh ke Nara. Tapi yang dilihat tidak menatapnya. Kemudian Fahri
beralih memandang Irma. Irma mengeryitkan dahi dan Fahri tahu bahwa itu
pertanda bahwa Irma sedang menunggu jawaban.
“Sorry, kamu nanya apa
tadi?” Tanya Fahri sambil membenarkan posisi duduknya.
“Kamu darimana?” Ulang
Irma. Kali ini tanpa menatap Fahri, karena ia sudah sibuk menatap layar
komputernya.
“Ohh, dari
keliling-keliling nganterin undangan rapat! Karena diluar panas, boleh kan aku
istirahat sebentar disini?” Fahri menjelaskan. Dipandangnya Irma menunggu
tanggapan, tapi yang dipandang tidak menoleh. Masih asik memperhatikan layar
komputernya. Ragu-ragu Fahri mengalihkan pandangannya pada Nara, dan – gadis
itu juga tengah menatapnya. Untuk beberapa detik Fahri merasa waktu berhenti.
Tatapan mereka saling beradu. Tenang, damai. Kemudian dilihatnya – gadis itu
tersenyum – sebelum akhirnya kembali menundukkan wajahnya menatap komputer.
Ahh, begini saja sudah
cukup. Bahkan ia hanya perlu datang ke ruangan ini, duduk di kursi yang sedang
ia duduki, dan sesekali melirik ke arah gadis itu. Jika kebetulan ia dapat
bersitatap dengannya, apalagi jika ia tersenyum, - itu adalah bonus dari usahanya
dalam mencintai. Cinta ini, sangat sederhana. Bahkan hanya melihatnya tersenyum
saja hati ini sudah bahagia.
* * *
Panas. Itulah kata yang
paling sesuai untuk menggambarkan suasana hari ini. Karena itu Irma sudah
berkali-kali mengatur suhu AC di ruangannya agar terasa lebih sejuk. Ketika
Irma hendak menanyakan pendapat Nara tentang suhu yang baru saja diaturnya,
Irma malah melihat sahabatnya itu melamun sambil melihat keluar jendela.
“Kenapa Ra?” Sapa Irma
mengurungkan niat awalnya untuk bertanya tentang suhu ruangan kerjanya.
“Ahh, gak ada apa-apa!
Cuma lagi buktiin status-status orang di facebook yang bilang kalau di luar
panas banget!” jawab Nara sambil tersenyum menunjuk layar komputernya. Irma
sempat melirik sedikit ke arah yang ditunjuk Nara, tapi karena posisinya
berdiri cukup jauh dari Nara, ia tidak bisa melihat dengan jelas tulisan di
komputer itu. Dan ketika ia sudah membuka mulut hendak menjawab, tiba-tiba
ponselnya berbunyi.
“Hallo,....................Aku
di kantor....................Apa? Mau mampir?.......................Oh, yaudah,
Mampir aja!” ia menutup ponselnya lalu melihat Nara. Yang dilihat hanya
terdiam. “Fahri, katanya dia mau mampir sebentar” jelasnya lebih dulu sebelum
Nara bertanya.
Tiba-tiba dilihatnya raut
wajah sahabatnya itu berubah - tegang dan cemas. Sebenarnya Irma tidak perlu
bertanya apa yang telah terjadi. Karena ia sudah paham benar apa yang tengah
terjadi pada sahabatnya itu. Meskipun Nara tidak pernah menceritakan apapun
kepadanya, namun Irma tahu bahwa Nara diam-diam menyukai Fahri. Dan Fahri,
sepertinya laki-laki yang sangat cuek itu juga menyukai Nara. Karena itulah
Irma mengizinkan Fahri untuk mampir ke kantornya. Padahal ia tahu bahwa
pekerjaannya yang menumpuk tidak memungkinkan bagi dirinya untuk menemani Fahri
bercerita panjang lebar hari ini. Ia hanya ingin membuat mereka berdua memiliki
waktu untuk bertemu dan – melepaskan rindu.
“Hey Ra, kamu kenapa?”
Tanya Irma begitu melihat sahabatnya itu masih melamun.
“Ohh, gak apa-apa. Aku ke
toilet dulu yaa!” Irma hanya melihatnya sambil tersenyum.
Sementara Nara masih di
toilet, Irma memutuskan untuk pergi ke ruangan sebelah. Ia tahu pasti sebentar
lagi Fahri datang. Ia hanya ingin memberikan waktu untuk mereka berdua. Tentu
saja tidak lama, karena tugasnya sudah menumpuk harus segera diselesaikan.
Dari pintu ruangan tempat
ia berdiri, ia bisa melihat Nara kembali ke ruangan mereka setalah pergi ke
toilet tadi. Tidak lama setelah itu, Fahri pun terlihat sudah berdiri di depan
pintu. – cukup lama.
“Ngapain lagi anak bodoh
itu cuma berdiri di pintu? Bukannya masuk!” Gerutunya dalam hati. Hampir saja ia
keluar dari tempat persembunyiannya untuk menunju anak bodoh yang sedang
berdiri di depan pintu ruangannya itu, ketika ia melihat Fahri mulai melangkah
dan masuk ke ruangannya. “Dasar bodoh!
Udah dikasih kesempatan malah disia-siain!” Ia masih mengomel sendiri di belakang
pintu dengan tangan yang terkepal.
Dua puluh menit berlalu,
ia pun menjadi penasaran apa yang telah terjadi pada dua sahabatnya itu.
Diintipnya mereka dari luar ruangan. Tapi apa yang dilihatnya? Nara, tengah
sibuk memperhatikan status-status yang tersusun di beranda facebooknya. Dan
Fahri? Dia hanya duduk di kursi tepat di depan Nara. Terpejam. Tertidur? Ahh,
tidak mungkin. Ia pasti tidak tidur. Irma sangat kenal sahabatnya yang satu
itu. Ia pasti tidak tahu cara untuk memulai pembicaraan dengan Nara. “Idiot!
Gitu aja gak bisa!” lagi-lagi dia mengomeli sahabat yang telah dikenalnya
bertahun-tahun lalu itu.
Dengan sedikit menahan
emosinya, ia masuk ke dalam ruangan yang sepi itu. Ia berjalan melawati Fahri
yang masih terpejam, sambil mencabut satu headset yang tergantung di telinga
Fahri.
“Hey, darimana aja Ri?”
tanyanya yang membuat laki-laki itu terbangun dan menoleh kearah Nara lalu
berganti ke arah Irma. Saat itu Irma hanya mendengus kesal. Kenapa yang pertama
dilihat Fahri adalah Nara? Jelas saja dia yang bertanya, bukan Nara. Tapi
setelah ia ingat apa yang tengah terjadi pada dua sahabatnya itu, logikanya
segera memaklumi. “Ahh, bahkan cinta bisa membuat orang secuek kamu terlihat
sangat rapuh teman” hati Irma berbisik dengan tulus sembari menatap Fahri.
“Sorry, kamu nanya apa
tadi?” tanya Fahri sambil membenarkan posisi duduknya.
“Kamu dari mana?” Ulang
Irma setelah ia duduk di meja kerjanya sambil memeriksa notification di
fabebooknya.
“Ohh, dari
keliling-keliling nganterin undangan rapat. Karena diluar panas, boleh kan aku
istirahat sebentar disini?” tanya Fahri sambii menoleh ke arahnya. Tapi ia
masih asik membuka satu persatu notification yang masuk ke facebooknya. Ketika
akhirnya Ia mengangkat kepalanya untuk bertanya kepada Fahri, ia melihat
sahabatnya itu tengah bersitatap dengan Nara. Entah sudah berapa lama, ia pun
tidak tahu. Setelah melemparkan sedikit senyum kepada Fahri, pandangan Nara
kembali pada layar komputernya.
Beberapa menit hening.
Meskipun Irma telah membuka kembali lembar kerja yang sudah dikerjakannya sejak
beberapa jam yang lalu, namun keheningan ini terasa begitu tidak nyaman
untuknya. Diliriknya Nara yang duduk di sebelahnya, - melamun lagi. Matanya
memang tertuju kepada komputer di depannya. Namun tatapan itu kosong. Yang
terlihat malah tatapan itu seakan menembus layar komputer dan jatuh pada
seseorang yang sedang duduk bersandar sambil kedua tangan terlipat di dada dan
headset di kedua sisi telinganya. Dia tertidur?! Ahhh, tidak. Irma tahu itu
hanya cara Fahri untuk menutupi kegelisahan hatinya. Gelisah menyimpan rindu
dan cinta, untuk gadis yang kini tengah duduk di hadapannya, - menatapnya.
Yahh, Irma tahu betul semua itu.
Irma hanya geleng kepala
melihat dua sahabatnya itu.
“Kenapa kalian menyiksa
diri kalian begini? Bukankah yang perlu kalian lakukan hanyalah berterus terang
dan jujur dengan perasaan kalian sendiri. Bahagia itu sudah ada di depan mata,
tapi bagaimana kalian bisa melihatnya jika kalian terus memejamkan mata.?!”
Setelah menuliskan kalimat
itu, Irma segera mencari dua kontak di ponselnya. Nara. Fahri. Lalu kirim!
“Kisah cinta ini harus dimulai!” Bisiknya dalam hati.
* * *

Tidak ada komentar:
Posting Komentar