Karena Aku Yang Lebih Dulu Mencintaimu
Oleh : Ayy Dara
Kisah ini berawal ketika kita masih tercatat sebagai
mahasiswa semester empat di sebuah Universitas Negeri di kota kelahiranku,
Pekanbaru. Perkenalan yang singkat, pembicaraan yang hangat membuat kita
semakin hari semakin dekat. Hingga suatu hari aku mengajakmu bertemu. Dengan
sedikit terpaksa, kau setuju dengan permintaanku, tapi dengan syarat aku yang
harus datang ke tempatmu. Aku sungguh sangat tidak keberatan. Kenapa? Mungkin
karena aku yang lebih dulu mencintaimu.
Yahh, kau adalah seorang mahasiswa fakultas teknik yang
mempunyai jadwal kuliah cukup padat. Selain kuliah dan hobimu merakit robot,
kau juga selalu menyempatkan diri untuk berolahraga. Dan jadilah aku
dinomorsekiankan olehmu. Tapi aku sungguh tidak keberatan. Kenapa? Mungkin karena
aku yang lebih dulu mencintaimu.
Sedangkan aku? Aku adalah seorang mahasiswi fakultas
hukum yang mempunyai jadwal kuliah cukup santai. Malah boleh dikatakan sangat
santai. Aku memiliki benyak waktu luang setiap hari. Selain kuliah dan
tugas-tugas yang tidak seberapa, aku selalu menghabiskan waktu dengan browsing
di kamarku dan ..... –
memikirkanmu - . Memangnya
apalagi yang akan aku lakukan di waktu senggangku selain memikirkanmu?? Kenapa?
Mungkin karena aku yang lebih dulu mencintaimu.
Suatu hari kita bertemu –tentu saja aku yang saat itu
datang menemuimu, ke tempatmu-. Saat itu kita duduk di teras fakultasmu dengan
perdebatan-perdebatan hangat yang biasa kita lakukan. Dan seperti biasa kau
tidak mau mengalah sedikkitpun kepadaku.
Katamu waktu itu, “Jangankan kalah, imbang aja aku nggak mau!” -
Egois – tapi tak mengapa. Aku dengan sangat rela mengalah demi kamu. Kenapa?
Mungkin karena aku yang lebih dulu mencintaimu.
Namun tiba-tiba tawa yang ada diantara kita ketika itu
lenyap. Kenapa? Apa mungkin karena aku mencintaimu? Mungkin juga, tapi
entahlah. Saat itu aku hanya bertanya. “kita udah sebulan dekat, tapi sampai sekarang enggak jelas status
kita apa. Sebenarnya kamu anggap aku ini apa?”
Kau terdiam. Tak terlihat sedikitpun dari garis wajahmu
ingin menjawab pertanyaanku. Setelah sekian lama hening menyelimuti kita,
akhirnya kau bertanya, “kenapa nanya gitu?”
Ahh, entahlah, yang jelas aku hanya bertanya. Hanya itu
saja. Jika pertanyaan itu mengganggumu, maka anggap saja aku tidak pernah
menanyakannya.
“Kok nggak jawab?” tanyamu lagi.
Lho, tadi kan aku udah jawab! Ahh, ternyata tadi itu
hanya kukatakan di dalam hati. Aku tidak benar-benar berani mengatakannya.
Kudengar kau menghela nafas dengan berat. Lalu kau mulai
berkata. “Sebenarnya begini, aku hanya merasa kita masih sangat muda untuk
mengikat diri. Lagipula, aku bukan tipe orang yang suka diikat. Aku adalah
orang yang bebas!”
Degg, hatiku ngilu mendengar jawabanmu. Mungkin lebih
baik kau tidak menjawabnya daripada kau harus mengatakan ini padaku. Seketika
rasanya mataku berat. Bukan, bukan aku mengantuk karena menemanimu mengerjakan
tugas hingga jam tiga subuh tadi. Tapi karena tiba-tiba aku merasakan ada
bendungan yang akan jebol di balik mataku. Aku hanya menunduk. Tak berani untuk
benar-benar menantangmu dengan tatapanku. Aku hanya takut air mata yang sudah
mendesak ingin keluar ini akan tumpah di hadapanmu.
Untuk beberapa lama kita hanya terdiam. Sibuk dengan
fikiran kita masing-masing. Mungkin kau sibuk dengan perasaan bersalahmu. Dan
aku sibuk dengan perasaan kecewaku. Namun waktu tetap berlalu, meski diam yang
menyesakkan ini masih menyelimuti kita.
“Aku harus masuk kelas. Sebentar lagi dosenku masuk!”
ucapmu.
Aku masih tak bergeming. Tak tahu apa yang harus aku
lakukan. Menahanmu dan menumpahkan segala air mata ini atau membiarkanmu pergi.
“Ayoolah, kan sudah kukatakan, kita masih terlalu muda
untuk mengenal cinta. Aku tak mau nanti bila kau mencintaiku, maka aku akan
menyakitimu!” Kau berusaha menjelaskan.
Bukankah sudah kau lakukan! Kau sudah menyaitiku tanpa
kau sadari!
“Pergilah, nanti kau terlambat!” Akhirnya kutemukan juga
suaraku yang tiba-tiba menghilang. Dan tanpa memandangmu, aku bangkit dari
tempat dudukku dan mulai berjalan –menjauhimu-.
“Mau langsung pulang?” tanyamu.
“Iya, ada tugas yang harus aku selesaikan. Besok harus
dikumpul”. Aku berbohong. Tak peduli kau percaya atau tidak. Aku hanya ingin
cepat pulang dan menumpahkan segala air mata yang sudah tak tertahankan
lagi.
“Hati-hati!” ucapmu pada akhirnya sebelum aku melihat
dari ekor mataku kau berbalik dan berlari menuju kelasmu.
Aku melirik jam di tanganku, pukul 13. 10 menit. Yaahh,
mungkin kau sudah benar-benar terlambat masuk ke kelasmu. Kubalikkan badanku
memastikan bahwa kau benar-benar sudah tak ada lagi disana. Aku berjalan gontai
menuju asramaku sambil memegangi dada. Terasa sangat sakit. Pedih seperti
ditusuk-tusuk. Kenapa rasanya saperti ini? Apa mungkin karena aku yang terlebih
dulu mencintaimu.
Setelah kejadian itu, kau mulai menjauh dariku. Dengan
berbagai alasan kau tak mau lagi menjawab telfonku. Kau juga hanya sesekali
membalas smsku. Aku benar-benar kehilanganmu. Bersusah payah aku meyakinkan
dirimu bahwa aku tidak apa-apa. Aku bisa mengerti dengan apa yang kau jelaskan
waktu itu. Aku bisa menerima bahwa kau belum bisa membentuk ikatan antara kita
berdua. Sungguh, sudah kuyakinkan dirimu bahwa aku bisa menerimanya. Meskipun
sebenarnya hati ini sangat tak bisa menerima. Dan aku berbohong lagi kepadamu.
Saat itu aku hanya takut kehilanganmu. Kenapa? Mungkin karena aku telah sangat
mencintaimu.
Hari-hari berikutnya kita lewati tanpa berbicara tentang
cinta. Biarlah cinta itu hanya ada di hatiku , bukan di hatimu. Tak mengapa,
aku bisa terima. Selama kau berada di dekatku, aku jamin hatiku akan baik-baik
saja. Karena hatiku hanya butuh kau. Tak peduli status kita seperti apa.
Kenapa? Ahh, haruskah kuulangi sekali lagi bahwa aku mencintaimu.
Perlahan, kita benar-benar mulai saling menjaga jarak.
Kau memberi alasan karena kau ingin fokus dalam kuliahmu. Dan aku juga ingin fokus
pada tugas akhirkku. –tentu saja aku berbohong-. Sebenarnya aku mulai letih
menjaga hati ini sendiri, mencintai sendiri, setia sendiri! Aku sudah tidak
ingin lagi menyakiti hatiku. Mungkin jika hatiku dapat berbicara, ia akan
bertanya kesalahan apa yang telah ia lakukan hingga aku selalu menyakitinya.
Tidak hatiku, kau tidak melakukan kesalahan. Hanya saja saat ini waktu tidak
mengizinkanmu untuk melakukan satu hal -mencintainya-
Ternyata menyembuhkan luka yang tidak terlihat itu
benar-benar jauh lebih sulit daripada menyembuhkan luka yang terlihat. Jika
luka di tubuh kita ketika ia sembuh akan berbekas, namun kita tidak akan lagi
marasakan sakit. Maka lain halnya dengan luka di hati. Meski tak terlihat
bekasnya, tapi ia akan tetap sakit. Karena kapan saja dan dimana saja, luka itu
bisa kembali terkoyak dan sakit itu akan kembali datang.
Jika kau bertanya bagaimana aku bisa mengetahuinya, akan
aku jelaskan. Sebelumnya maaf, karena aku tidak dengan mudah dapat melupakanmu.
Setelah kita memutuskan untuk saling menjauh, sejujurnya aku tidak benar-benar
berusaha menjauhimu. Aku masih dengan setia membuka akun facebookmu meskipun
hanya dari akun facebookku. Karena kita tidak pernah saling bertukar password
facebook kita. Saat itu aku hanya ingin melihat kau sedang apa, apa yang kau
lakukan, apakah kau baik-baik saja. Selain itu aku juga masih sering menikmati
indahnya kenangan mengenalmu dengan membaca ulang semua pesan yang kita kirim
melalui akun facebook. Konyol memang! Tapi apakah aku bisa melakukan hal lain
untuk menebus rindu ini selain hanya mengenang masa-masa indah kita? Berkenalan
melalui facebook, bertemu, bercanda, hingga kau mencuri seluruh hati dan
hidupku.
Suatu hari pernah, - aku benar-benar rindu kepadamu. Aku
sangat ingin menikmati malam yang sejuk karena hujan yang sangat deras itu
dengan mengenangmu. Malam itu, kuputuskan untuk membuka pesan facebook yang
pernah kita kirimkan. Tapi tahukah kau bagaimana terkejutnya aku saat aku tidak
mendapati namamu di daftar inboxku? Aku panik. Apakah sudah waktunya untukku
benar-benar kehilanganmu? Mungkin juga iyaa. Karena saat kubuka akun
facebookmu, barulah aku sadari bahwa kau telah menghapus akunku dari pertemanan
facebookmu. Tidak hanya itu, aku juga menemukan satu akun yang mengomentari
statusmu, dan dia memanggilmu dengan sebutan itu. - Sebutan yang biasa
kulakukan padamu, - dan kau – juga memanggilnya dengan sebutan yang sama dengan
yang kau sebut padaku dulu! Tidakkah kau merasa bersalah saat itu ketika – ia –
memanggilmu dengan sebutan yang dulu ku gunakan padamu? Tapi aku hanya terdiam,
menangis, mendapati diriku benar-benar sudah kehilanganmu. Bahkan di depan
mataku sendiri – saat ini. Apakah harus sesakit ini hanya karena aku yang lebih
dulu mencintamu?
jika kau ingin tahu apakah saat ini aku sudah berhasil
menyembuhkan luka itu? Belum. Belum sepenuhnya! Tapi kau tidak perlu merasa
bersalah. Karena ini sama sekali bukan salahmu. Kenapa? Bukankah sudah
kukatakan dari tadi, mungkin semua ini terjadi karena aku yang terlebih dulu
mencintaimu.
Dan inginkah kau tahu? Bahwa malam ini aku sedang ingin
merindukanmu. Mengenang kisah-kisah yang pernah kita lalui bersama. Tidak, hari
ini tidak ada sakit dan air mata. Aku hanya ingin memberi sedikit ruang di
hatiku untuk merindu tanpa cerita-cerita duka kita. Dengan membiasakan diri
mengingatmu, aku akan belajar memaafkan diriku. Memaafkan waktu yang tak
mengizinkan kita untuk bersama. Karena hanya dengan memaafkan, aku dapat
kembali mengenangmu tanpa luka, tanpa air mata.
Dan kau, bisakah kau memaafkan aku karena telah lebih
dulu mencintaimu???
Salam Rindu,
Dari : Seseorang yang lebih dulu mencintaimu.
Pekanbaru, 05 Juni 2014 : 23.30 WIB

Tidak ada komentar:
Posting Komentar